
"Kenapa kamu repot-repot?" Ucap Alex saat Mega memberikannya pakaian ganti.
Mega menunduk, "Aku hanya menjalankan tugasku sebagai istrimu, ibu selalu melakukan ini pada ayah," jawabnya.
Alex menatap Mega dengan tatapan entah, Mega pun terus menunduk, ia tahu Alex tengah menatapnya.
"Maaf kalau aku lancang membuka lemarimu," cicit Mega.
"Bukan seperti itu Mega, aku hanya belum terbiasa di layani. Aku selalu melakukan apapun sendiri, karena itu aku merasa sedikit aneh. Tapi ya, terima kasih untuk pakaiannya."
Mega mengangguk, "Itu sudah tugasku," ucapnya.
Alex kemudian berbalik, kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Kehadiran Mega memang sedikit aneh untuknya, ia terbiasa sendiri, adik-adiknya pun tak pernah bisa sembarangan masuk ke kamar itu, dan kini ada orang asing yang tinggal satu ruangan dengannya.
***
"Mas, kamu punya hutang penjelasan padaku," ucap Jingga. Ia menarik selimut tebal berwarna putih yang menutup tubuhnya, ia apit selimut tebal di di ketiaknya agar tak merosot dan memperlihatkan dadanya.
Langit yang juga duduk di sebelah Jingga menoleh, "Hutang penjelasan apa sayang?" tanyanya.
Jingga mencebik, "Kamu lupa, atau pura-pura lupa sayang? Beberapa hari yang lalu, kamu mengacuhkan ku, lalu kamu membawakan aku banyak bunga mawar yang membuat aku pingsan. Saat itu aku tahu kamu sedang memikirkan banyak hal, apa kamu tidak ingin bercerita padaku?"
Langit sedikit terkejut mendengar ucapan Jingga. Ia kira Jingga sudah melupakannya, tapi ternyata perempuan itu masih mengingatnya. Dari mana ia harus memulai? Ia bahkan bingung harus bercerita atau tidak. Tapi Jingga harus tahu, ia juga sudah berjanji untuk tak menyembunyikan apa pun dari perempuan itu.
"Mas.." tegur Jingga saat Langit hanya diam dengan tatapan kosong.
"Ya?" jawab Langit.
"Kamu tidak ingin menceritakannya padaku?" tanya Jingga.
"Sayang, aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak malam ini."
__ADS_1
Jingga menghela nafas panjang, entah mengapa ia sangat kesal ketika Langit menolak bercerita. Pikirannya jadi buruk, bahkan Jingga berpikir Langit berselingkuh di belakangnya.
Perempuan itu memunguti semua pakaiannya kemudian memakainya, hendak beranjak ke kamar mandi tapi Langit menahan lengannya.
"Mau kemana, sayang?" tanya Langit, raut wajahnya tampak cemas.
"Kamar mandi," jawab Jingga.
"Aku ceritakan sekarang," ucap Langit dengan cepat. Melihat perubahan di raut wajah Jingga membuat Langit mengalah. Lagi pula ia juga tak mau membuat Jingga tertekan karena banyak yang perempuan itu pikirkan.
Jingga kembali duduk, ia menatap penuh wajah tampan suaminya, menunggu pria itu menceritakan semuanya. Entahlah, rasanya terlalu banyak rahasia, cerita masa lalu suaminya ternyata cukup menguras pikiran mereka.
"Ceritakan mas," ucap Jingga saat Langit hanya diam menatapnya.
"Berjanjilah untuk tak marah padaku," lirih Langit. Ia meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya.
Jingga mengangguk, entah mengapa jantungnya berdetak kencang mendengar ucapan Langit.
"Mas, anggap aku sahabatmu. Berbagilah denganku, apapun itu.." ucap Jingga dengan lembut. Ia menumpuk tangannya di atas tangan Langit yang masih menggenggam sebelah tangannya yang lain, senyum lembut terpatri dari wajah cantiknya.
"Sayang, dari sekian banyaknya kejadian menyakitkan di masa lalu ku, kenyataan ini lah yang paling membuat aku terluka dan terguncang. Aku, aku bukan putra kandung papa. Aku hadir karena kesalahan yang di lakukan mama dan pria lain, bukan papa.."
Langit menunduk dalam, meski tak ada tetesan air mata lagi dari kedua netranya, tapi Jingga tahu suaminya itu begitu terpukul.
"Mas.." Jingga bingung harus berkata apa, selain terkejut, ia juga takut setiap kata yang keluar dari bibirnya akan menyakiti pria itu tanpa sengaja.
"Aku bukan putra papa, sayang.." lirih Langit lagi. Ia mendongak, menatap lurus ke sembarang arah. Tatapan pria itu tampak kosong, "Handoko, dia lah papa kandungku, Jingga." ucapnya lagi.
Lagi-lagi Jingga terkejut, ia semakin tak bisa berkata-kata.
"Kamu masih ingat kan, aku pernah bercerita tentang pria yang masuk ke ruanganku dengan tidak sopan?" tanya Langit.
__ADS_1
Jingga mengangguk sebagai jawaban.
"Dia papa kandungku, orang yang mengaku sahabat papa dan mama, ternyata adalah papa kandungku."
Dari genggaman tangan Langit yang semakin erat, Jingga tahu perasaan seperti apa yang kini tengah Langit rasakan. Tapi sekali lagi, ia tak dapat berkata-kata. Jingga belum tahu, ada kenyataan yang lebih mengejutkan lagi dari ini.
"Aku malu, sayang. Aku begitu bangga menjadi putra dari Banyu Biru, aku selalu menyombongkan namaku karena dalam namaku tersemat nama papa. Tapi ternyata aku tidak berhak menyandang nama itu, ada seseorang yang lebih berhak menyandang nama Banyu Biru di akhir namanya, kamu tahu siapa sayang?" tanya Langit.
Jingga menggeleng, ia memang tak tahu apa-apa.
"Kamu.."
DEG
Jingga mengerutkan dahinya, tingkat keterkejutannya naik berkali-kali lipat. Ia masih mencoba mencerna pernyataan yang baru saja keluar dari bibir suaminya.
"Kamu putri kandung papa, yang papa titipkan pada ayah. Papa ingin melindungimu dari ibu kandungmu, karena itu papa menitipkan kamu pada ayah dan ibu.." jelas Langit lagi.
Jingga menggeleng beberapa kali, tenggorokannya terasa tercekat, lidahnya terasa kelu, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Apa yang Langit rasakan kini Jingga rasakan.
Tak berbeda dengan Langit, Jingga pun merasa malu karena ternyata ia bukanlah putri kandung dari ayah dan ibunya. Apa perubahan sikap Mega juga ada kaitannya dengan kenyataan ini? Karena dulu Mega sangat menyayanginya, sampai akhirnya sikap sang kakak berubah tanpa alasan yang jelas.
"Kamu bohong," bisik Jingga. Suaranya seolah menghilang, seiring dengan tingkat kepercayaan dirinya yang juga menghilang.
Langit menggeleng, "Aku mengatakan yang sebenarnya, sayang. Karena itu aku memintamu untuk tidak marah," lirih Langit.
Jingga tak percaya, rasanya bagai mimpi. Ternyata ia bukanlah putri kandung Hardi dan Yaya.
"Kenapa ayah membohongiku?" lirih Jingga lagi.
"Tidak Jingga, ayah tidak salah. Dia hanya terseret paksa ke dalam skenario yang papa Banyu buat. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, ayah sangat menyayangimu. Kamu juga pasti bisa merasakannya, merasakan kasih sayang ayah dan ibu padamu. Jangan menyalahkan mereka, atau menyalahkan dirimu sendiri, kamu hanya korban dari kejadian di masa lalu orang tua kita. Begitu juga dengan ayah dan ibu, mereka hanya mencoba menjalankan peran mereka dengan baik. Sampai akhirnya mereka benar-benar menyayangimu," jelas Langit.
__ADS_1
Tanpa terasa, tetesan air mata Jingga semakin deras mengalir. Kenyataan ini benar-benar membuatnya terkejut.