
Kabar kehamilan Jingga di sambut bahagia oleh keluarganya. Hardi dan Yaya bahkan nyaris setiap hari datang ke rumah Langit untuk menemani Jingga yang entah kenapa menjadi manja. Jingga jadi selalu ingin makanan yang di masak langsung oleh sang ibu, makanan yang pelayan siapkan untuknya tak pernah ia makan.
Wanita hamil memang kerap melakukan hal yang sedikit aneh. Hal yang tadinya wajar menjadi tak wajar. Dan yang tak wajar menjadi wajar. Mungkin karena hormone yang belum stabil, juga menurut sebagian kepercayaan, ada yang menyebutkan keanehan ibu hamil kerap di kaitkan dengan bawaan si bayi.
Ternyata bukan hanya Jingga yang merasakan keanehan itu, tapi juga Langit. Bahkan pernah suatu malam Langit menginginkan bubur kacang hijau yang di buatkan Alex. Padahal Alex sama sekali tak bisa membuatnya. Beruntung saat itu Jingga berhasil membujuk Langit agar minta di buatkan bubur kacang hijau oleh ibunya Alex saja, bukan Alex. Jingga mengatakan bahwa Alex tak dapat membedakan mana garam dan mana gula. Jika Alex yang membuat buburnya, bisa saja rasanya menjadi asin karena Alex memasukan garam ke dalam buburnya, bukan gula.
Alex yang memang tak bisa membuat bubur itu pun hanya mengangguk pasrah mengiyakan ucapan Jingga. Ia tak mau ambil resiko dengan membuat makanan itu terasa aneh. Apalagi jika sampai Langit marah padanya, seperti biasa, ancaman sang tuan adalah gaji bulanannya.
Dan keanehan itu pun terjadi pagi ini. Langit dan Jingga tengah menikmati sarapan yang ibunya Jingga siapkan. Keluarga Jingga memang menginap disana sejak kemarin, termasuk Mega. Langit yang tiba-tiba menghentikan sarapannya membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
“Kenapa, mas?” Tanya Jingga.
Langit menggeleng, ia menatap makanan di piringnya kemudian menatap Hardi yang juga tengah menatapnya.
Membuat Hardi mengerutkan kening dan bertanya, “Ada apa nak? Apa makanan yang ibumu buatkan tidak enak?”
Langit kembali menggeleng, “Enak, seperti biasa makanan yang ibu buatkan memang selalu enak,” ucapnya.
Ibu tersenyum mendengar pujian menantunya, “Kalau begitu habiskan, nak. Tambah kalau perlu, pekerjaanmu setiap hari pasti sangat melelahkan, kamu butuh makan banyak agar energy dalam tubuhmu tetap seimbang,” ucapnya.
Langit mengangguk, tapi ia masih tak menyentuh makanannya. Padahal yang lainnya sudah kembali melanjutkan makan. “Ayah..” panggil Langit tiba-tiba.
Hardi menoleh, begitu pun dengan Jingga, ibu dan Mega. Mereka kompak menatap Langit.
__ADS_1
“Ada apa nak?” Tanya Hardi lagi.
“Bolehkah, ayah menyiapiku?” Tanya Langit dengan suara pelan. Ia menunduk seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada ayahnya. Terlihat menggemaskan tapi juga menyedihkan.
Bukan hanya Hardi yang terkejut mendengar permintaan Langit, tapi juga Jingga, ibu dan Mega. Mereka saling menatap kemudian kembali menatap Langit yang masih menunduk. Bayangkan saja, Langit seperti anak kecil dengan wajah tuanya. Jenggotnya yang memutih membuatnya terlihat semakin tua, tapi sikapnya seperti anak kecil yang benar-benar membutuhkan kasih sayang dari kedua prang tuanya.
Hardi lalu beranjak, meninggalkan makanan miliknya yang masih tersisa setengahnya, ia duduk di sebelah kiri Langit. Karena di sebelah kanan pria itu ada Jingga yang terlihat iba pada suaminya. Mungkin Langit tengah merindukan kedua orang tuanya. Suasana di meja makan itu berubah hening, pak Lim, bu Rika dan para pelayan yang berjajar tak jauh dari meja makan hanya bisa menunduk menahan iba. Karena mereka tahu, sebenarnya Langit tak suka di kasihani. Tapi permintaan sang Tuan benar-benar membuat mereka merasa iba pada pria itu.
“Ayah akan menyuapimu, jangan khawatir, ayah disini,” ucap Hardi menahan haru. Ia tahu betul bagaimana perasaan Langit, ia menjadi salah satu orang yang menjadi saksi bagaimana pertumbuhan Langit tanpa kedua orang tuanya sejak pria itu baru beranjak remaja.
Jingga yang memang menjadi sangat sensitive bahkan sudah meneteskan air matanya, apalagi ketika Langit membuka mulutnya saat ayah mulai menyuapi makanan padanya. Tatapan sendu Langit membuat hatinya ikut terasa sakit.
Ibu menghampiri Langit, berdiri di antara Langit dan Jingga. Dengan lembut perempuan paruh baya itu mengusap pundak menantunya, lalau merangkul bahu Jingga yang memeluk pinggangnya.
Sementara Mega, gadis itu hanya diam lalu menunduk saat Alex baru saja datang. Intensitas pertemuan mereka meningkat sejak Jingga mengandung dan mereka sering mengunjungi rumah itu untuk menjaga Jingga. Tapi meski sering bertemu, mereka tak pernah bertegur sapa. Hanya sesekali ketika mereka terpaksa bicara.
***
"Makanan ini jadi terasa lebih lezat, ayah.." ucap Langit dengan mata berkaca-kaca. Ia tersenyum, lalu kembali membuka mulut saat Hardi kembali menyuapinya.
"Kalau begitu habiskan makanan ini, nak.." ucap Hardi.
Langit mengangguk beberapa kali, pria itu terlihat bersemangat. Ia menoleh pada Jingga, perempuan itu tersenyum dan mengusap pahanya, usapan di tempat yang salah karena menimbulkan getaran aliran listrik yang sejenak membuat Langit berhenti mengunyah.
__ADS_1
Langit memang sensitif, apalagi burung perkututnya. Bahkan hanya dengan sentuhan seperti itu saja burungnya bereaksi.
"Hoeeeeekk.."
Suara itu membuat semua orang terkejut, mereka menoleh. Bukan Jingga yang terdengar muntah, tapi Mega. Gadis itu beranjak dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari dapur.
Ibu dan Jingga menyusul Mega, mereka tampak cemas. Sedangkan Langit dan Hardi masih duduk dengan kening berkerut penuh tanya.
Dan tanpa di duga, Alex pun reflek berlari menyusul Mega. membuat Ibu dan Jingga menoleh menatapnya. Tapi untuk saat ini, mereka hanya mencemaskan Mega.
"Mbak, mbak tidak apa-apa?" Tanya Jingga seraya mengetuk pintu.
"Sayang, buka pintunya nak.." timpal ibu. Yaya tampak cemas, memang akhir-akhir ini putri sulungnya itu sering mengalami gangguan lambung dan memuntahkan makanannya tiba-tiba. Ia bahkan sudah mencoba mengajak Mega ke dokter untuk memeriksakan diri, tapi Mega bersikeras menolak. Mega hanya mengatakan asam lambungnya naik atau ia tengah masuk angin.
"Bu, apa mbak Mega sering seperti ini?" Tanya Jingga.
Ibu mengangguk, "Beberapa hari ini mbakmu sering muntah tiba-tiba. Ibu sudah mengajaknya ke dokter, tapi mbakmu menolak.." jelas ibu.
Penjelasan yang membuat Alex memutar ingatannya pada malam dimana ikat pinggang dan resleting celananya terbuka. Tiba-tiba jantungnya bergemuruh, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bu, bolehkah aku membujuknya dan mengajaknya ke dokter?" ucap Alex memberanikan diri.
Ibu dan Jingga menatapnya, ibu tampak mengangguk ragu, "Tentu nak, cobalah.."
__ADS_1
"Terima kasih Bu, aku akan coba membujuknya," ucap Alex lagi.
Ibu hanya mengangguk, kemudian saling menatap penuh tanya dengan Jingga. Mungkin mereka bertanya-tanya, sejak kapan Mega dan Alex dekat? Bertegur sapa saja tidak pernah, tapi Alex berani menawarkan diri untuk mengajak Mega ke dokter.