
Malam ini Jingga tak bisa tertidur. Meski sudah mencoba berbagai cara dan berbagai posisi, matanya tetap tak mau terpejam.
Fakta yang Langit ceritakan padanya beberapa jam yang lalu sangat mengganggu pikirannya. Rasanya waktu begitu lama bergulir, matahari tak kunjung muncul, Jingga ingin menemui ayah dan ibunya.
Entah mungkin merasakan kegundahan ibunya, perutnya terasa sangat sakit. Bahkan menegang membuatnya sulit bergerak. Jingga meringis, mengusap perut datarnya agar kembali normal. Tapi sayang justru semakin terasa sakit.
Suara rintihan Jingga membuat Langit terusik. Pria itu perlahan membuka matanya, terkejut saat melihat Jingga tengah kesakitan, "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya dengan cemas.
"Aku tidak tahu, mas. Perutku sangat sakit.." jawab Jingga di akhiri ringisan menahan sakit.
Langit bingung harus berbuat apa, ia berusaha untuk tenang meski sangat mencemaskan istri dan calon anaknya. Perlahan tangan Langit terulur, mengelus perut Jingga dengan begitu lembut.
"Sayang, jangan membuat mami sakit. Kasian mami kamu, tenanglah.." bisik Langit seraya sedikit menunduk lalu mengecup perut datar istrinya.
Jingga terharu melihat pemandangan itu, ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang semakin terasa. Tapi setelah itu, perutnya kembali normal. Rasa sakit itu perlahan menghilang, "Mas.."
"Masih sakit?" Tanya Langit lagi, "Lebih baik kita pergi ke rumah sakit saja ya sayang. Aku mencemaskan mu, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian," ucap Langit.
"Tidak mas, rasa sakitnya sudah menghilang. Perutku juga tidak menegang lagi, tangan kamu benar-benar ajaib mas.."
__ADS_1
"Apa benar begitu? Benar tidak sakit?" Tanya Langit memastikan.
Jingga mengangguk, ia tersenyum meski matanya masih membengkak karena menangis. "Aku tidak apa-apa, sepertinya anak ini akan sangat menurut padamu."
Langit tersenyum lebar, melihat Jingga yang juga tersenyum membuatnya tenang. Awalnya ia takut Jingga akan marah padanya karena cerita masa lalu mereka. Tapi ternyata Jingga tak marah meski awalnya perempuan itu menangis.
"Dia anakku," ucap Langit dengan bangga.
"Anakku juga mas," balas Jingga. Mereka lalu tertawa dan saling menatap dalam.
"Maaf sayang.." lirih Langit, ia terus mengusap perut datar istrinya meski Jingga tak merasakan sakit lagi.
"Karena di kehamilan anak kita ini, kamu menerima banyak tekanan juga rasa terkejut. Aku tahu, sekarang pun kamu pasti sedang memikirkan banyak hal, aku hanya minta padamu, jaga kesehatanmu dan anak kita. Karena aku sangat mencintai kalian," ucap Langit.
Jingga tersenyum, ia menggenggam tangan suaminya dengan erat, "Aku memang memikirkan banyak hal mas, tapi kamu tahu kan aku wanita yang kuat? Anak kita juga pasti akan sangat kuat, percayalah.."
Langit kembali tersenyum lalu mengangguk. Ia percaya sekuat apa istrinya itu, Jingga bahkan bertahan saat Langit tengah dalam masa yang sangat sulit sekali pun.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Langit mengantarkan Jingga ke rumah ayah dan ibu. Perasaan Jingga campur aduk saat itu, antara sedih, takut, malu, dan masih banyak lagi rasa tak nyaman yang ia rasakan sekarang.
Ia tak pernah menyangka sedikitpun bahwa ternyata ia bukanlah bagian dari keluarga Hardi. Semuanya seperti benang kusut yang perlahan terurai. Rahasia demi rahasia di kehidupannya dan Langit mulai terbuka. Entah masih ada yang lainnya ataukah sudah selesai, dan entah mengapa Jingga merasa masih ada rahasia yang lainnya yang masih belum terungkap. Hal itu membuatnya sangat takut, apalagi ia tahu mental suaminya masih belum sepenuhnya pulih. Jika terus di hantam dengan berbagai kejadian buruk yang terus terungkap, ia takut Langit tak akan kuat meski ia juga tahu Langit adalah pria yang kuat.
Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah Hardi. Jika sebelumnya Jingga sangat ingin cepat bertemu dengan ayah dan ibu, kini perempuan itu justru diam mematung dengan tatapan kosong dan raut wajah cemas.
Langit menyadari itu, ia meraih tangan dingin Jingga lalu ia genggam. Membuat Jingga menoleh dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau kamu tidak siap, lebih baik kita pulang. Kamu bisa menganggap kalau semuanya tidak pernah terungkap. Kamu putri ayah, dan selamanya akan tetap seperti itu," ucap Langit dengan lembut.
Jingga menunduk, kemudian menggeleng pelan, "Aku ingin mendengar langsung dari ayah dan ibu mas.."
"Sayang, kalau yang akan kamu dengar ini adalah hal yang akan menyakiti kamu, kamu tidak perlu memaksakan diri. Kamu cukup menegaskan diri bahwa kamu adalah putri dari ayah dan ibu, itu saja. Yang aku lakukan pun seperti itu."
Jingga terdiam, helaan nafas dalam Jingga hembuskan dengan gusar, yang Langit katakan memang benar, tapi entah mengapa ia masih ingin memastikan semuanya meski ia pun tahu Langit tak mungkin berbohong dengan pernyataannya tadi malam.
"Kita turun mas.."
Langit menghembuskan nafas dalam lalu mengangguk, ia mengerti dengan perasaan Jingga, karena ia pun merasakannya. Mereka sama-sama berada di situasi yang sama.
__ADS_1