
Jingga sempat menggerutu saat Langit menyita ponselnya sebelum akhirnya perempuan itu pergi. Pria itu benar-benar tak mau ada seorang pun yang mengganggu waktunya dan sang istri. Bagaimana tidak, dua bulan lebih ia berpuasa, mana bisa ia menyia-nyiakan waktu lagi. Jika bisa, mungkin ia sangat ingin menerkam Jingga dari pagi tadi, sayangnya pekerjaan mereka tak mengizinkan itu.
Pria itu juga berpesan pada semua pelayan agar tak ada yang mengganggunya dan Jingga. Tak main-main, ancamannya potong gaji. Pegawai apapun akan menciut jika ancamannya seperti itu.
Sejak beberapa menit yang lalu pria itu mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia tengah menunggu sang istri yang masih berada di kamarnya. Tapi perempuan itu tak kunjung muncul juga. Apa Jingga tak tahu, satu menit saja serasa menunggu satu jam. Dan pada akhirnya, Langit menutuskan untuk menyusul Jingga di kamarnya.
Dengan tak sabar ia mengetuk pintu, taka da sahutan dari dalam sana. Sebelah kakinya bahkan tak mau diam saat menunggu pintu terbuka.
“Sayang, buka pintunya..” ucapnya dengan sedikit berteriak. Ia mencoba membuka pintu, sayangnya pintu terkunci dari dalam. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam sana. Bodohnya, ia sama sekali tak ingat bahwa semua ruangan di rumah itu masing-masing mempunyai kunci duplikat yang pak Lim simpan.
“Tuan, apa anda memerlukan ini,” ucap pak Lim dari belakangnya.
Langit menoleh, ia sedikit terkejut. Tak tahu sejak kapan pak Lim berada disana, bibirnya mengulas senyum lebar saat melihat benda yang pak Lim sodorkan, “Kamu pintar pak Lim,” ucap Langit.
“Belajar dari anda, tuan..”
Entah mengapa, kalimat itu Langit anggap sindiran untuknya. Padahal pak Lim memang tulus mengatakan itu.
“Jangan menyindirku, aku ingat kamar ini mempunyai kunci duplikat, hanya saja aku sedikit malas untuk mengambilnya.” Sangkal Langit, membuat pak Lim mengerjap bingung tapi tak berani mengatakan apapun.
Dengan cepat Langit mengambil kunci itu dari tangan pak Lim, lalu membuka kamar istrinya dengan wajah berseri-seri. Akhirnya pintu pun terbuka, ia lalu masuk kemudian menutup pintunya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali membuka pintu, mendapati pak Lim yang masih berdiri disana, Langit berdecak.
“Ck, apa pak Lim ingin mengintip?” sindirnya.
Pak Lim tergagap, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Mana berani ia mengintip, apalagi mengintip adegan dewasa. Ia yang sudah lama menjomblo tak akan mungkin berani menanggung resiko. Apalagi pak Lim sangat anti bersolo karier.
Andai saja istrinya tak berselingkuh dulu, mungkin pak Lim akan bahagia dengan banyak anak, tapi karena perselingkuhan itu ia jadi trauma untuk kembali jatuh cinta dan memulai hubungan yang baru. Pria tua itu memilih mengabdikan dirinya pada Langit meski seumur hidupnya ia akan terus sendirian.
“Pergilah, pak Lim bisa beristirahat sekarang..” ucap Langit.
“Tapi tuan, ini masih pukul tujuh, masih terlalu dini untuk tidur,” jawab pak Lim.
“Aish, beritahu pada semua pelayan untuk pergi ke paviliun belakang, tanpa terkecuali. Aku membebasakan mereka malam ini, jangan ada yang berani masuk ke rumah utama sampai aku memberi intruksi selanjutnya, mengerti?”
Pak Lim mengangguk, tapi ia masih melontarkan pertanyaan, “Tapi anda dan nyonya belum makan malam, Tuan..”
“Aku makan malam nanti saja. Bubarkan semua pelayan, dan katakan pada mereka bahwa malam ini akan ada perang dahsyat di rumah utama. Jadi mereka harus bersembunyi di kamar masing-masing. Apa sampai disini kamu masih belum mengerti?”
Pak Lim menelan ludahnya dengan susah payah, kepalanya mengangguk, “Baik Tuan, saya permisi.”
__ADS_1
“Good, selamat beristirahat pak Lim..”
“Selamat berperang juga untuk anda, tuan..” setelah mengatakan kalimat itu, pak Lim terburu-buru pergi. Tentu saja ia tak mau mendapat amukan dari sang tuan karena sudah berani menggodanya.
“Astaga, pria tua satu ini. Berani sekali dia menggodaku,” gumamnya.
Selesai menggerutu, ia menutup pintu kamar. Pandangannya mengedar, pantas Jingga tak menyahut, perempuan itu tak ada disana. Dari suara gemericik air yang terdengar dari kamar mandi, sudah dapat ia tebak bahwa Jingga tengah berada di kamar mandi. Mungkin perempuan itu tengah membersihkan diri dan menyiapkan diri untuk pertempuran malam ini.
Membayangkan pertempuran yang sudah di depan mata, Langit kembali berbalik, ia mengunci pintu kamar itu lalu melemparkan kuncinya entah kemana.
“Kamu tidak akan bisa kabur lagi sayang,” gumamnya seraya menyeringai.
Apakah semua pria memang seperti itu? Baru kemarin Langit menyesali perbuatannya, murung dan jarang tersenyum. Tapi saat ia sudah mendapat kesempatan kedua, sikapnya sangat berubah. Jiwa nakalnya mulai kembali muncul, Langit jadi lebih berani kembali menunjukan taringnya. Ibarat di kasih hati minta jantung, ketika sudah di beri maaf pria itu meminta lebih.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, Jingga muncul setelahnya. Dengan bersenandung kecil ia lalu duduk di kursi meja rias, kedua tangannya sibuk menggosok rambutnya yang basah. Jingga belum menyadari keberadaan Langit yang sengaja duduk di sofa yang terletak di pojok dekat pintu masuk kamar.
Pria itu bersiul nakal, “Witwiiiw..” pasalnya, Jingga hanya mengenakan jubah handuk sebatas lutut saja. Tentu suara siulan itu membuat Jingga terkejut, sotak Jingga menoleh.
“Mas? Sejak kapan kamu disini? Dan kenapa kamu bisa masuk? Bukankah tadi pintunya terkunci dari dalam?”
“Aku doraemon, aku bisa masuk dari pintu kemana saja. Kamu tidak tahu? Aku mempunyai kantong ajaib,” jawab Langit dengan asal.
Pria itu beranjak menghampiri istrinya, berdiri di belakang perempuan itu lalu ia gosok rambut basar Jingga dengan lembut, “Aku bantu keringkan,” ucapnya tak kalah lembut.
Jingga tersenyum, ia tatap suaminya lewat pantulan kaca cermin, pria itu balas tersenyum. Senyuman yang sama-sama penuh arti.
“Biar aku saja,” ucap Jingga. Ia berdiri dan mengambil alih handuk di tangan Langit. Tapi pria itu justru menarik pinggangnya dan mengangkat tubuh rampingnya ke atas meja rias.
Jingga memekik pelan, “Mas..” tegurnya.
Langit tersenyum, ia mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangan kekarnya. Lalu menatap perempuan itu dengan begitu dalam, “Kamu wangi,” ucapnya.
Jingga tersenyum malu, memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Mungkin ini saatnya, begitu pikirnya.
Perlahan Langit mendekat, ia tak bisa menunggu lagi. Dengan sedikit agresif Langit mulai memagut bibir manis istrinya. Jingga pun membalas, sama halnya dengan Langit, Jingga juga merindukan pria itu.
Semakin dalam pagutan bibir Langit, Jingga semakin terdorong hingga punggungnya menyentuh cermin. Beberapa barang yang terletak di sana bahkan berjatuhan karena terdesak.
Dengan nakal tangan pria itu menyingkap jubah handuk yang Jingga kenakan di bagian pahanya. Lalu ia menyentuh paha perempuan itu dengan lembut, sangat lembut.
__ADS_1
Begitu dahsyat efek yang di ciptakan oleh sentuhan itu, seketika tubuh Jingga menegang. Merespon dengan kuat atas setiap pergerakan tangan sang suami. Rasanya seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, belum apa-apa tubuh perempuan itu di buat bergetar.
Mungkin karena keduanya sudah lama tak melakukan kegiatan panas itu, tubuh mereka sama-sama saling menginginkan dan merespon kuat.
Jingga bahkan tak dapat menahan suaranya, ia mulai melenguh saat tangan suaminya terus meraba naik ke daerah sensitifnya.
"Mas.." lirihnya. Ia sedikit menjauh, tatapan keduanya tampak sayu berselimut kabut gairah.
"Sayang, jangan menghentikan ku lagi," pinta Langit dengan suara serak.
"Jangan disini, cermin di belakangku bisa pecah karena dorongan mu," kata Jingga.
Langit menoleh, benar, cermin di belakang istrinya itu bisa pecah jika ia terus menekan tubuhnya pada Jingga.
Pria itu lalu menutup kembali jubah handuk istrinya, lalu menggendong tubuh ramping perempuan itu ke atas ranjang. Ia lekas membuka tali jubah di pinggang sang istri, meski belum ia buka, tapi Jingga sudah merasa malu. Pipi perempuan itu memerah seperti tomat. Sangat cantik dimata Langit.
"Bisakah kamu membuka topengmu ini?" Tanya Jingga seraya mengusap pipi suaminya. Bulu-bulu ini membuatku geli," ucapnya dengan jujur.
Langit terkekeh, ia lalu mengangguk. "Tentu nyonya Langit, apapun untukmu."
Dengan cepat Langit membuka topengnya, menampilkan wajah mudanya yang sangat tampan.
Kemudian pria itu memulai kembali kegiatannya. Kali ini ia sudah menyingkap jubah mandi yang Jingga kenakan, menampakkan tubuh putih istrinya tanpa sehelai benangpun. Meski malu, tapi Jingga juga menginginkan Langit.
Jangan di tanya tentang Langit, pria itu bahkan sudah melepaskan semua pakaiannya tanpa Jingga minta.
IKLAN
Dah tuh, sampai situ aja. Selebihnya bayangin masing-masing aja ya 🤣🤣
Atau lanjutin aja??🤔🤔
Ngomong-ngomong kalian udah baca novel Mak yang lain belum? Cung yang udah baca? ☝️☝️Kalian bisa klik profil Mak kalau mau tahu novel apa aja yang Mak publish di sini.
Jawab di komen yah, ada dua pertanyaan tuh. Mau lanjut adegan anu-anu?
Udah baca novel Mak yang judulnya apa aja?
Mpok Neti say, "Si Mak dari kemaren bilang mau adegan anu-anu gak? Sekalinya up malah di gantung terus suruh bayangin sendiri. Kan jadi gedek!"
__ADS_1
Maafin lah....😜🤣