
Malam sudah sangat larut, tapi Langit belum juga bisa menutup mata. Percakapannya dengan pak Lim sore tadi terus terngiang di kepalanya.
Tentang beberapa kali pak Lim pernah melihat sang mama bersama Handoko. Ada apa sebenarnya? Padahal saat itu usia Langit sudah cukup paham tentang keadaan di sekelilingnya, tapi sayang Langit terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Pria itu menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram dari lampu tidur di atas nakas. Ia terus berusaha mengingat-ingat apakah dulu ia pernah melihat Handoko, apalagi ketika pria tua itu bersama sang mama. Tapi tetap saja ia tak mengingat apapun.
Helaan nafas gusar terdengar berhembus dari bibirnya, ia bergerak gelisah, membuat Jingga yang tengah tertidur di sebelahnya terganggu. Perempuan itu melenguh, lalu perlahan membuka matanya. Jingga sedikit terkejut karena ternyata Langit belum tidur, “Mas, jam berapa ini? Kenapa kamu belum tidur?” Tanyanya dengan suara serak.
Langit juga sedikit terkejut karena Jingga terbangun, ia tersenyum, “Maaf sayang, kamu terganggu karena aku. Aku tidak bisa tidur..” ungkapnya.
“Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” Tanya Jingga, sejak pulang bekerja, Langit memang terlihat aneh. Pria itu lebih banyak diam. Tak biasanya juga pria itu tak meminta jatahnya malam ini. Langit justru memintanya tidur lebih dulu.
Langit terdiam, menimang apakah harus bercerita pada Jingga atau tidak. Tapi berkaca dari kejadian sebelumnya, sepertinya ia memang harus menceritakannya pada Jingga. Ia tak mau terjadi masalah lagi karena ia tak jujur. Mereka juga sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain. Tak saling menyembunyikan apapun meski masalah kecil sekalipun.
“Mas, kamu sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun lagi dariku, apa kamu akan mengulangi kesalahan yang sama? Aku mungkin tidak akan banyak membantu masalahmu, tapi setidaknya, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Menjadi teman saat kamu membutuhkan seseorang untuk bercerita dan berkeluh kesah.”
Langit mengangguk, ia kembali tersenyum, lalu menarik perempuan itu dan mendekapnya. “Tadi siang ada seseorang yang datang ke kantorku. Tanpa izin bahkan tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk ke ruanganku begitu saja,” Langit mulai bercerita. "Aku tidak menyukainya, dia tidak sopan."
__ADS_1
Jingga mengerutkan dahinya, ia mendongak menatap suaminya, “Siapa mas?”
“Namanya Handoko, dia mengaku sahabat dari mama dan papa. Tapi anehnya, aku belum pernah melihatnya sayang. Atau aku yang lupa, aku juga tidak tahu. Saat aku bertanya pada pak Lim, pak Lim mengatakan Handoko itu hanya pernah beberapa kali menemui papa, itu pun karena pekerjaan,” terangnya lagi.
“Itu artinya dia berbohong?”
Langit menghela nafas gusar, “Aku juga tidak tahu, sayang. Aku masih belum bisa menyimpulkan apa pun. Aku harus mencari tahu dulu, aku tidak mau gegabah. Dan pak Lim justru mengatakan dia pernah beberapa kali melihat Handoko menemui mama, tanpa papa. Semua itu semakin membuat aku bingung, sayang..”
Sejenak Jingga terdiam, lalu kembali berjata, “Apa mungkin kamu melupakan beberapa memori tentang kejadian di masa lalu karena trauma itu mas?”
Jingga mengerutkan dahinya, “Ayah?” Ulangnya. Jingga melupakan satu hal, ia lupa bertanya pada Langit dan ayah tentang hubungan mereka di masa lalu dan sejak kapan mereka saling mengenal dekat. Karena yang Jingga lihat, ayah begitu menyayangi Langit dan menghormatinya.
Langit mengangguk, “Ayah adalah sopir pribadi papa dan mama.”
Jingga tampak terkejut, jadi ternyata ayahnya itu memang sudah mengenal Langit dan keluarganya sejak dulu. Pantas saja ayah begitu yakin kalau Langit adalah pria yang baik yang akan bisa melindunginya dan membahagiakannya, nyatanya ayah memang bekerja untuk keluarga Langit. Mereka sangat pintar menyembunyikan fakta tentang hubungan mereka sebenarnya.
“Kamu terkejut?” Tanya Langit ketika ia melihat reaksi istrinya.
__ADS_1
Jingga mengangguk jujur, “Ayah tidak pernah menceritakannya mas, aku juga lupa bertanya. Kalian sangat pintar menyembunyikan semuanya.”
Langit terkekeh, “Maaf, sayang..”
“Kali ini aku maafkan, tapi tidak ada kebohongan lagi. Dan sayang, kenapa kamu mau menikahi salah satu putri ayah? Padahal kamu bisa memilih gadis-gadis kaya raya dan lebih cantik di luar sana, kenapa kamu memilih keluarga sederhana seperti keluargaku?”
Langit tersenyum lebar, ini pertama kalinya Jingga memanggilnya sayang. Dan efeknya luar biasa, ia seraya ingin terbang ke awang-awang karena bahagia. “Kamu mau tahu alasannya?”
Jingga mengangguk polos. Ia mengerjap beberapa kali saat Langit merubah posisinya, pria itu mendorong tubuh Jingga dengan pelan sampai perempuan itu berbaring sempurna.
“Karena kamu sudah membuat aku bahagia dengan memanggilku sayang, baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tapi setelah sedikit tayangan iklan,” ucapnya.
Jingga yang tak mengerti kemudian bertanya dengan kening berkerut, “Tayangan iklan?”
“Hemm, iklan yang panas..”
Mendengar jawaban pria itu, kini Jingga mengerti. Langit kembali meminta jatahnya, ia kira malam ini akan libur, ternyata tidak. Hanya waktunya saja yang bergeser beberapa jam dari waktu biasanya mereka bertempur. Jingga mengangguk, membiarkan pria itu melucuti pakaiannya dan mulai menjamah tubuhnya dengan begitu lembut dan memabukkan.
__ADS_1