
BRUG
Jingga terjingkat kaget saat pintu kamar di tutup dengan kasar oleh Langit. Pria itu tampak menyeramkan, raut wajahnya menegang, rahangnya mengeras dengan mata memerah.
Tatapan mereka bertemu, dengan pelan Jingga mendekat. Memberanikan diri memeluk Langit yang masih tampak marah.
"Jangan seperti ini, mas. Aku takut.." lirih Jingga.
Langit memejamkan matanya, berusaha menekan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. Ia tak mau melakukan kesalahan yang sama, menyakiti Jingga karena kesalahan orang lain.
Dengan bergetar tangan pria itu terangkat, membalas dekapan Jingga seraya menghembuskan nafas panjang. "Maaf, sayang.." ucapnya.
__ADS_1
"Kamu terlihat menakutkan, mas. Apa semuanya baik-baik saja? Siapa perempuan itu?" tanya Jingga. Ia melonggarkan dekapannya, namun kedua tangannya masih melingkar di pinggang pria itu. Jingga mendongak, menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari suaminya. Kenapa Langit terlihat sangat marah?
"Violet, ibumu." Jawab Langit, sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang, jangan sampai Jingga yang menerima imbasnya lagi.
Jingga tampak sangat terkejut, bahkan belitan kedua tangannya di pinggang Langit mulai ia lepas perlahan. "Ibuku? Kenapa kamu tidak mengatakannya?"
"Kenapa? Apa kamu ingin menemuinya?" Tanya Langit, ia menatap Jingga penuh selidik, seolah menatap tersangka yang kedapatan melakukan kesalahan.
Entahlah, perasaannya tak karuan. Ia sendiri bingung dengan apa yang saat ini ia rasakan. Rasa kecewa, rasa benci, entah rasa apalagi yang membuat Jingga ingin berteriak sekencang-kencangnya. Karena Violet, Langit sempat membencinya. Membuat ia kehilangan calon putranya karena menanggung kebencian dari Langit atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
"Sayang.." ucap Langit dengan suara berat, ia nyaris membuat Jingga takut lagi saat perempuan itu mengatakan ingin menemui Violet.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja mas, benarkan? Aku kuat, dia bukan siapa-siapa. Aku adalah putri ayah dan ibu, aku bukan putrinya."
Jingga terus meracau, air matanya deras mengalir. Biar pun mulut berkata demikian, tapi hati kecilnya tak dapat di bohongi. Kenyataan bahwa Violet adalah ibu kandungnya tak bisa hatinya sangkal meski mulutnya terus menolak.
"Kamu punya aku," lirih Langit. Ia kembali mendekap istrinya dengan erat, menyalurkan ketenangan dan kekuatan untuk perempuan itu. Melihat Jingga seperti itu, hatinya sakit. Tapi ia juga masih tak bisa memaafkan Violet, karena sudah terbukti perempuan itu lah dalang di balik pembunuhan Bantu dan Senja.
Langit tak meneruskan kasus ini karena sebelumnya ia fokus mengejar maaf dari istrinya. Dan melihat keadaan Jingga sekarang, ia semakin tak tega memenjarakan Violet.
Karena meski Jingga tak ingin mengakui Violet sebagai ibunya, ia yakin Jingga akan terluka jika melihat Violet menderita di dalam penjara. Sejahat-jahatnya Violet, perempuan itu tetap ibu kandungnya Jingga. Ada ikatan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata di antara ibu dan anak. Sekuat apapun menyangkal ikatan tersebut, tetap saja tak akan bisa.
"Jangan tinggalkan aku, mas. Aku membutuhkanmu, aku sangat membutuhkanmu.."
__ADS_1
"Iya, sayang. Kita akan terus bersama.."