MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
RAHASIA


__ADS_3

"Apa ini? Kenapa rasanya hanya pedas saja?" Pekik Langit, ia mengambil air minum yang sudah Alex siapkan, asistennya itu tampak menahan tawa. Membuat Langit geram dan menatapnya dengan tajam.


"Aku mau tahu gejrot, kenapa kamu membelikan aku rujak cabai, hah?" ucap Langit dengan sengit.


"Tuan, itu yang namanya tahu gejrot. Di gerobaknya pun tertulis nama makanan itu," Alex membela diri, tidak mungkin ia salah beli, karena bahkan ia sudah memastikannya beberapa kali, bahwa di gerobak itu bertuliskan TAHU GEJROT SET*N.


"Habiskan! Aku sudah kenyang," Langit beranjak dari sofa, kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Tapi Tuan, saya.."


"Alex.." ancam Langit dengan suara mendayu-dayu.


Alex sontak mengangguk, "Baik tuan, lagi pula pedas adalah makanan favorit saya." Ia segera duduk di sofa, menatap makanan di hadapannya. Entah mengapa, ia begitu sulit menelan ludah, belum sempat memakannya tapi keringat sudah mulai bercucuran. "Tuan, akan saya bawa ke ruangan saya. Saya makan disana, tidak enak jika mengganggu Tuan disini.."


Belum sempat Langit menjawab, Alex kabur lebih dulu. Mana sanggup ia memakan makanan pedas itu, lebih baik ia berikan pada orang lain.


***


"Bu, apa saya boleh minta tolong," Jingga menghela nafas panjang, entah mengapa kepalanya begitu pusing.

__ADS_1


"Tentu saja, nyonya. Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Bu Rika.


"Kepala saya sangat pusing, Bu. Apa ada obat sakit kepala? Kalau tidak ada, bisa tolong belikan?" ucap Jingga. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, televisi yang semula mati ia nyalakan. Saat ini, Jingga tengah berada di ruang keluarga.


"Maaf nyonya, sebaiknya di periksa dokter saja. Saya tidak berani membelikan nyonya obat tanpa resep dokter. Tuan juga tidak akan mengizinkannya." Jawab Bu Rika, ia tak mau ambil resiko, Langit bisa marah padanya jika ia salah melangkah.


Jingga menghela nafas panjang, ia paling malas ke dokter. Jika dulu ia sakit, ia bahkan hanya mau meminum obat warung saja. Ke dokter pun harus di paksa jika ia merasa sakitnya parah. Itu memang tidak di anjurkan, bagaimana pun, pemeriksaan dokter itu penting untuk mengetahui suatu penyakit dan menentukan obat yang tepat.


"Apa, anda mau saya menghubungi tuan?" Tanya Bu Rika lagi.


Jingga menggeleng, ini masih siang, Langit pasti masih sibuk bekerja. Jingga tak mau mengganggu suaminya itu, "Tidak usah Bu. Saya tidur saja, mungkin setelah saya bangun, sakit kepala saya akan sembuh."


Jingga mengangguk, matanya mulai terpejam. Tidak biasanya kepalanya terasa sakit, mungkin karena setiap pagi ia harus mencuci rambutnya, begitu pikirnya.


***


Langit menatap beberapa lembar berkas yang Alex berikan padanya. Keningnya berkerut tajam, di atas kertas itu bertuliskan beberapa informasi tentang Handoko yang beberapa hari lalu ia minta pada Alex.


"Jadi, hubungan papa dan Handoko itu memang hanya sebatas rekan kerja?" Gumamnya. Di kertas itu juga berisi tentang nama perusahaan Handoko, alamat kantor, alamat rumah beserta informasi keluarganya. Juga beberapa skandal yang pernah Handoko lakukan.

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya anda juga menanyakan hal ini pada ayah mertua anda. Mungkin saya beliau tahu tentang Handoko," saran Alex.


Langit tampak berpikir, "Kamu benar juga. Ayah adalah salah satu orang terdekat papa, mungkin saja ayah tahu tentang Handoko," jawab Langit, "Antar aku kesana sekarang," pintanya.


Alex menelan ludahnya dengan susah payah. Itu artinya, ia akan kembali bertemu dengan Mega yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya. Tapi jika menolak, Langit bisa menggantungnya di pohon palem di halaman kantor. Tidak ada pilihan lain, "Baik tuan," ucapnya dengan pasrah.


Tak ingin membuang-buang waktu, akhirnya Langit dan Alex pun pergi ke rumah Hardi.


***


"Handoko," gumam Hardi. Ia menatap sebuah foto di dalam berkas yang Langit berikan padanya. Padahal ia belum melihat informasi apapun tentang pria di foto itu, tapi rupanya Hardi masih mengenal Handoko.


Hal itu sontak membuat Langit bertanya, "Ayah mengenalnya?"


Hardi mengangguk, ia menutup kembali berkas itu dan menyimpannya di atas meja, "Kenapa kamu mencari tahu tentang Handoko, nak?" ia balik bertanya.


"Karena beberapa hari yang lalu Handoko datang ke perusahaan, dia masuk begitu saja ke ruanganku ayah," jelas Langit.


Hardi terkejut, ia tampak menimang, haruskah ia mengatakan rahasia besar yang ia tutup rapat-rapat sejak lama pada Langit?

__ADS_1


__ADS_2