MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
TOLONG PAPI..


__ADS_3

Mega tengah memasak saat ponsel yang ia simpan di atas meja makan berdering. Ia menoleh, lalu mematikan kompornya.


Mengira yang menghubunginya Alex, ia pun melangkah dengan cepat, tak ingin membuat sang suami menunggunya.


Keningnya mengkerut saat ternyata nomor tak di kenal lah yang menghubunginya, "Nomor siapa ini?" Gumamnya.


Ia pun menggeser tombol berwarna hijau agar telponnya tersambung, "Hallo.." sapa Mega lebih dulu.


"Hallo sayang.."


DEG


Matanya membulat, jantungnya berdegup dengan kencang saat ia mendengar suara seseorang yang sudah lama tak ia dengar.


"Si-siapa ini?" Tanyanya dengan suara terbata.


"Jangan berpura-pura tidak mengenalku, apa aku harus kembali mengingatkan malam indah kita?"


Mega menegang, sebelah tangannya meremas dress rumahan yang ia pakai, sebelah tangannya yang lain semakin erat memegang ponsel yang masih bertengger di telinganya. "Apa mau mu? Jangan mengganggu ku lagi!"


"Kamu tidak berubah sayang, cerdas. Kamu pasti tahu apa mau ku. Dan kenapa aku tidak boleh mengganggu mu? Apa kehidupan mu sudah bahagia sekarang?"


"Jangan banyak bicara Allo! Katakan apa mau mu!"


"Kita bertemu di cafe biasa. Malam ini jam delapan!"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak bisa!"


"Oyah? Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi kalau kamu menolak. Suami bodoh ku itu akan tahu semuanya!"


"Allo!!" Sentak Mega, tapi sayangnya telpon terputus. Membuat Mega mengerang kesal dan nyaris melempar ponselnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya pada diri sendiri, "Tidak mungkin aku menemuinya saat suamiku ada. Ya Tuhan, kenapa dia datang lagi.."


Suara ponsel berdering membuat Mega terjingkat kaget, ia hendak mematikan ponselnya, tapi urung saat ternyata Alex lah yang menghubunginya. Ia memejamkan matanya sejenak, menenangkan jantung yang masih bergemuruh hebat.


"Hallo, mas.." sapanya sesaat setelah ia menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


"Hallo sayang, kamu sedang apa?" Tanya Alex dari seberang sana.


"Tentu aku sedang menunggu mu pulang, aku juga memasak makanan kesukaan mu. Cepatlah pulang.." pintanya. Ia tersenyum, setidaknya ia bisa sedikit tenang setelah mendengar suara suaminya.


Jika biasanya Mega akan merajuk saat Alex bekerja lembur, entah mengapa kali ini ia justru lega.


"Sayang, sepertinya kamu bahagia aku tidak segera pulang.." celetuk Alex.


Mega tergagap, ia menggeleng meski Alex tak mungkin dapat melihatnya, "Tidak seperti itu, mas. Aku justru ingin kamu cepat pulang, aku begitu merindukanmu.."


Alex terkekeh, "Aku juga merindukanmu. Ya sudah, aku tutup dulu ya sayang, aku harus segera pergi.."


"Hmmm, hati-hati mas. Aku mencintaimu.."

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu.."


Kalimat ungkapan itu menjadi kalimat penutup untuk percakapan mereka. Setelahnya, Mega berjalan cepat menuju ke kamarnya, ia harus segera bersiap-siap untuk menemui Allo. Jika tidak, rumah tangganya dengan Alex akan terganggu. Karena Mega tahu betul siapa Allo, ia sangat mengenal pria itu, pria gila yang bisa melakukan apapun demi tercapainya tujuannya.


***


Hujan turun begitu deras, mengguyur bumi membasahi tanah. Namun tak membuat pria tua berpakaian sedikit kacau mau beranjak mencari tempat untuk berteduh.


Sudah nyaris satu jam pria itu duduk di hadapan pusara putranya, berbicara sendiri seolah putranya mendengar keluh kesah yang ia ungkapkan. Beruntung air hujan menyamarkan air matanya, jika tidak, ia pasti akan terlihat sangat menyedihkan.


Matanya memerah, tubuhnya mulai menggigil kedinginan, namun pria itu tetap tak juga mau beranjak.


"Mami menghukum papi, nak. Dia mengatakan ingin berpisah, dia tidak memaafkan papi atas kepergian mu.."


Jeda, Langit kembali terisak. Rasa sesak di dadanya begitu terasa menghimpit, membuatnya harus beberapa kali menghela nafas dalam-dalam.


"Papi harus apa?" lirihnya. Ingin rasanya ia berteriak, melepas semua beban perpisahan yang sepertinya tak bisa lagi ia hindari. Tapi ia masih mencoba berpikir waras.


"Tolong papi, nak. Katakan pada mami, kalau papi sangat mencintainya. Papi tidak akan bisa jauh darinya.."


Entah rasa sakit seperti apa yang saat ini Langit rasakan, ia baru merasakan sakit sesakit ini. Seperti di tikam ribuan belati, di sayat ribuan sembilu, dan di timbun batu besar yang membuat dadanya sesak.


Rasa sakitnya nyaris sama ketika Senja dan Banyu meninggalkannya, tapi saat ini lebih sakit lagi.


"Jingga.." lirihnya seraya terisak.

__ADS_1


Langit seakan mengerti bagaimana hancurnya hati Langit saat itu, seolah ikut menangis dengan menurunkan air hujan yang sangat deras.


__ADS_2