
Hari ini, Langit meminta Alex untuk menemaninya ke makam Banyu dan Senja. Memang setiap akhir pekan ia rutin mengunjungi papa dan mamanya, tapi karena akhir-akhir ini banyak sekali kejadian tak terduga yang membuatnya terpuruk, sudah nyaris satu bulan ia tak mengunjungi mereka.
Tidak lupa juga Langit membeli sebuket bunga kesukaan sang mama, bunga Lily. Senja sangat menyukai bunga berwarna putih itu, bunga yang mempunyai filosofi kesucian, kemurnian dan kesopanan. Perempuan itu berharap bisa mengulang waktu dan tetap menjaga kesuciannya.
Langit juga ingin menceritakan banyak hal pada kedua orang tuanya, tentang Jingga, dan tentang semua yang sudah terjadi sejak ia menikahi Jingga, perempuan yang bisa mengubah hidupnya menjadi berwarna, perempuan yang berhasil mengenalkan cinta padanya, perempuan yang sebentar lagi akan memberikan keturunan untuknya. Perempuan yang ternyata putri kandung dari papanya.
Memarkirkan mobil di tempat biasa, Alex kemudian membukakan pintunya untuk sang Tuan. Pria itu tersenyum seraya memberikan kacamata hitam milik Langit, ia sendiri pun memakai kacamata yang sama dengan Langit, kacamata yang memang sengaja Langit belikan untuknya saat Langit melakukan perjalan bisnis ke Italy.
"Terima kasih, Alex. Sepertinya kamu terlihat sangat bahagia," goda Langit.
Seketika Alex berhenti tersenyum. Bibirnya kembali terkatup lalu berdehem, "Silahkan, Tuan." Ucap Alex mengalihkan pembicaraan, ia mengerti dengan godaan Langit, pasti tentang jatah ranjang yang sampai saat ini tak pernah ia rasakan.
Langit tertawa, ia hendak melangkah, namun dari tempatnya berdiri, ia melihat ada seseorang yang tengah berjongkok di pusara sang mama. Langit kembali membuka kacamatanya, "Handoko," lirihnya.
Entah mengapa dadanya tiba-tiba sesak, tangannya terkepal kuat, ia hirup udara sebanyak-banyaknya, agar rasa sesak itu sedikit berkurang.
Dari tempat parkir itu, pusara papa dan mamanya memang terlihat. Tempat parkir itu memang sengaja Langit beli khusus untuknya, karena dari sana, pusara Banyu dan Senja terlihat jelas dan tak terlalu jauh.
"Tuan, apa saya harus mengusirnya?" Tanya Alex, ia juga bingung harus berbuat apa, mengingat bahwa Handoko ternyata adalah papa kandung dari tuannya itu.
"Biarkan dia di situ, kita akan menunggunya pergi," ucap Langit.
Alex mengangguk, mereka terus menatap Handoko, memperhatikan gerak gerik pria tua itu. Sampai ketika Langit melihat Handoko menangis, ia berbalik dan kembali memasuki mobil. Alex sendiri masih berdiri di pinggir mobil, memperhatikan Handoko dan membiarkan Langit menenangkan dirinya.
Sampai tak berapa lama, Handoko selesai. Pria tua itu beranjak dan ternyata menghampiri Alex.
Di saat yang bersamaan, Langit memutuskan untuk keluar dari mobil dan menemui Handoko.
Handoko tampak terkejut melihat Langit, ia kira salah orang ketika ia melihat Alex. Ternyata ia tak salah.
__ADS_1
"Ternyata saya tidak salah melihat," komentar Handoko seraya tersenyum dan membuka kacamatanya.
"Sedang apa anda disini?" Tanya Langit dengan suara dinginnya.
Handoko tersenyum menyeringai, "Tentu saja untuk mengunjungi seseorang yang sudah tiada. Kamu pikir untuk bermain-main?"
Langit tersenyum kecut, ia malas meladeni Handoko. Ia juga tak mau terlalu lama berinteraksi dengan pria itu, hatinya sakit. Langit memutuskan untuk pergi saja.
"Lalu untuk apa anda kesini?" Tanya balik Handoko.
Menghentikan langkah Langit lalu pria itu menjawab tanpa menoleh, "Tentu saja untuk mengunjungi seseorang yang sudah tiada. Kamu pikir untuk bermain-main?" Langit mengembalikan ucapan pria tua itu, membuat Handoko tertawa meski Langit tak lagi menggubrisnya.
Handoko terus memperhatikan Langit, ia terkejut saat ternyata Langit mengunjungi makam yang sama dengan makan yang beberapa saat yang lalu ia kunjungi. Ia lalu merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
***
Ia panjatkan doa untuk kedua orang tuanya, lalu terdiam menatap nama Banyu Biru, nama yang juga tersemat di ujung namanya.
"Papa, aku tetap putra papa kan?" lirihnya. Dadanya sesak ketika mengingat bahwa ia bukanlah putra dari Banyu Biru, pria yang sampai saat ini ia banggakan.
Langit menunduk, dari bahunya yang tampak bergetar, sudah dapat di pastikan pria itu tengah menangis.
Alex yang berdiri di belakangnya hanya bisa mengusap pundak Langit untuk menguatkan. Baginya, kesakitan Langit adalah kesakitannya, kekecewaan Langit adalah kekecewaannya.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menangis di depan pusara mereka?"
Pertanyaan itu membuat Langit dan Alex menoleh. Mereka sedikit terkejut karena ternyata Handoko masih berada disana, di belakang mereka.
Langit berdiri, ia tak menjawab, hanya menatap Handoko dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Jawablah! Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Handoko lagi, karena yang ia tahu, Langit hanyalah orang yang membeli perusahaan Banyu Biru. "Ada hubungan apa kamu dengan mereka?"
"Bukan urusan anda, sebaiknya anda pergi. Anda tidak sopan tuan Handoko!" ujar Langit.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab dengan jujur, siapa kamu dan apa hubunganmu dengan mereka?"
Langit mengepalkan tangannya, kenapa ia begitu bodoh, ia lupa bahwa Handoko bisa saja mencurigainya. "Kenapa aku lupa bahwa dia masih disini, bodoh?" batinnya.
"Jawab aku!" sentak Handoko, pria itu itu mulai tak sabar. Beberapa saat yang lalu, ia menghubungi salah satu orangnya untuk mencari tahu tentang Langit. Ia pun hendak pergi, tapi saat melihat interaksi Langit dengan pusara Banyu dan Senja, Handoko mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia justru kembali mendekati Langit dan berdiri tak jauh dari Langit dan Alex. Ia dapat mendengar semua yang Langit ucapkan.
Yang Handoko tak mengerti adalah, kalimat Langit yang mengatakan bahwa pria itu masih putra Banyu Biru. Jika Langit putra Banyu Biru, itu artinya Langit adalah putranya. Tapi mana mungkin putranya setua itu, bahkan nyaris seusianya saat ini.
"Apa kamu putra Banyu Biru?" Tanya Handoko dengan suatu bergetar. Ia harus memastikannya.
"Siapa kamu berani bertanya padaku? Jangan campuri urusanku!" Sentak Langit.
Handoko tak perduli, ia bahkan tak takut dengan suara tegas Langit yang sedikit menyentaknya. "Langit Biru, apa itu nama aslimu? Putra Banyu Biru, itu artinya, apa itu artinya kamu.."
"Berhenti bicara omong kosong!" Sentak Langit lagi, ia tak mau jika Handoko mengatakan bahwa dia adalah ayahnya. Bagi Langit, ayahnya hanya satu, Banyu Biru.
"Aku tidak bicara omong kosong! Dengarkan aku dulu, aku yakin kamu putra Banyu Biru.." Handoko menghentikan langkah Langit yang saat itu hendak pergi. Sudah bertahun-tahun ia mencari tahu tentang keberadaan putra Banyu Biru yang selamat dari peristiwa naas itu. Putra Banyu Biru yang adalah putra kandungnya. Putra Banyu Biru yang hilang bagai di telan bumi..
Langit tak mau mendengar lagi, ia kembali melanjutkan langkahnya, begitu juga dengan Alex yang setia mengikutinya.
"Aku tahu sesuatu tentang kematian Banyu dan Senja! Aku tahu siapa dalang di balik pembunuhan mereka!"
Kalimat itu sontak menghentikan langkah Langit, ia berbalik, menatap Handoko dengan tajam. "Jangan main-main denganku!"
"Aku tidak pernah main-main, apalagi menyangkut seseorang yang aku cintai. Aku tahu siapa yang sudah membunuh mereka. Dia adalah.."
__ADS_1