MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
KEKACAUAN


__ADS_3

"Pak, kami tidak berbuat mes*m!" Angkasa terus menyangkal, yang dia katakan memang benar, ia dan Esta sama sekali tak berbuat aneh. Namun posisi mereka saat tertangkap warga benar-benar tak tepat.


"Iya pak, kami berani bersumpah," timpal Esta. Gadis itu tampak panik, bagaimana jika Bu'denya datang dan keadaan masih tak terkendali? Bu'denya akan malu, ia tak mau mempermalukan Bu'de.


"Halaah, sumpah sumpah, zaman sekarang sumpah udah di jadikan lalaban. Apalagi anak muda seperti kalian pasti lagi gila-gilanya. Seperti lagu pak haji, darah muda darahnya para remaja.." salah satu tetangga Esta yang hobi menyanyi justru menyanyikan lagu hits tersebut di tengah keadaan panas.


"Sudah, kalian menikah saja sekarang. Sudah berbuat mes*m kok masih nyangkal!" ucap ibu-ibu berdaster merah.


"Astaga Bu, harus berapa kali saya jelaskan, saya dan Esta tidak melakukan itu. Ini Jakarta Bu, bukan di kampung," Angkasa jadi emosi. Tak ada yang mau mendengarkannya, bahkan Esta sudah tampak menangis.


"Heh, jangan bahas kampung atau Jakarta anak muda! Meskipun kita tinggal di Jakarta, bukan berarti di lingkungan kami kamu bebas mes*m! Gak semua orang-orang di Jakarta acuh dengan hal seperti itu, di lingkungan kami masih mempunyai adab. Dan kamu harus mengikuti peraturan disini kalau kamu mau bertamu kesini!" Bapak-bapak berbaju batik yang katanya pak RT ikut bicara. Padahal dari tadi pak RT diam menyimak, mungkin pak RT mulai gerah karena kekacauan ini.


Angkasa mengusap wajahnya dengan gusar, ia mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi asisten dan papanya, tapi ponselnya justru di ambil paksa oleh ibu-ibu garang berdaster merah. "Jangan menghubungi siapa pun sebelum kamu menikahi dia!"


"Astaga ibu, anda tidak sopan! Kembalikan ponsel saya! Saya harus menghubungi orang tua saya!" Angkasa semakin kesal, sudah tak di beri kesempatan membela diri, kali ini ponselnya di ambil paksa. Keterlaluan!


"Sudah-sudah, sebaiknya panggil pak ustadz Umar, kita nikahkan saya mereka!" Kata pak RT lagi.

__ADS_1


Esta menggeleng beberapa kali, "Gak pak RT, saya mohon jangan. Kami benar-benar tidak melakukan itu, kami masih mempunyai moral," Esta memohon, namun pak RT hanya tersenyum meremehkan.


"Moral macam apa yang kamu punya? Kamu kan gadis kampung, harusnya tahu adab. Ini malah mes*m saat Bu'de kamu gak ada!" Entah siapa lagi yang bicara, Angkasa sudah pusing dan malas melawan.


Pria itu justru terfokus pada Esta, gadis polos yang kini menangis sesegukan. Gadis itu terlihat ketakutan, "Jangan bicara lagi! Saya akan menikahinya! Kalian puas?!" Sentak Angkasa, entah mengapa, melihat Esta menangis jiwanya tergugah untuk melindungi. "Jangan menghina Esta lagi, dia tidak bersalah!" Sentaknya lagi, ia tak suka Esta di pojokan dan di salahkan. Apalagi melihat tatapan orang-orang yang tampak menghina dan merendahkan Esta, Angkasa sungguh geram. Andai saya di rumah itu ada cctv, mungkin Angkasa tak usah repot-repot pakai urat untuk menjelaskan semuanya.


Mendengar kalimat itu, Esta justru semakin menangis. Ia tak mau menikah dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya.


"Pak, saya gak mau!" Tolak Esta.


"Esta dengarkan saya! Kita tidak punya pilihan, untuk membungkam mulut kejam orang-orang ini, kita harus menikah! Kita memang tidak bersalah, tapi siapa yang perduli? Semua orang-orang ini cuma bisa menyalahkan dan menghina kamu, kita akan menikah sekarang juga!"


"Ada apa ini ramai-ramai?" Bu'de yang baru saja tiba dari pasar berlari saat mendapati rumahnya ramai. Ia takut terjadi apa-apa dengan keponakannya. "Esta, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?"


Esta tak mampu menjawab, gadis itu hanya terus menangis dan memeluk sang Bu'de dengan erat.


"Pak Angkasa? Ada apa ini pak? Kenapa ada banyak orang disini?" tanya Bu'de lagi. Siapa tahu Angkasa bisa menjelaskan keadaan kacau di rumahnya.

__ADS_1


"Mereka berbuat mes*m!" Celetuk ibu-ibu berdaster merah.


"Apa?" Bu'de tentu terkejut, ia menatap pak RT meminta penjelasan. Dan pria berkaca mata itu mengangguk mengiyakan.


"Pak Angkasa, ini gak mungkin kan? Apa maksud semua ini pak?" Bu'de masih tak percaya, setahunya baik Esta maupun Angkasa tak mungkin melakukan itu.


"Kami bersumpah Bu, kamu tidak melakukan apa-apa. Ini hanya salah faham, tapi mereka gak percaya. Ibu tahu saya kan? Apalagi Esta, ibu pasti sangat tahu Esta, menurut ibu, apa mungkin kami melakukan hal seperti itu?"


Bu'de menggeleng, ia memang tak percaya. Tapi kenapa semua orang ngotot mengatakan mereka bersalah. Bahkan mereka meminta Angkasa dan Esta menikah.


"Sudah-sudah, jelaskan nanti saja. Lebih baik jemput ustadz Umar, biar mereka menikah dan gak mangkir dari tanggung jawab!" ucap pak RT lagi.


Bu'de hendak bicara, namun Angkasa menahannya. "Bu, sudahlah. Yang penting ibu percaya sama Esta, dia tidak bersalah!"


"Tapi pak, menikah bukan permainan. Esta.." Bu'de menghentikan kalimatnya, ia tak bisa menjelaskan bahwa ia cemas. Cemas jika suatu saat nanti Angkasa menceraikan Esta karena pria itu tak mencintai keponakannya. Apalagi dari segi strata sosial mereka sangat berbeda, bagaimana dengan keluarga Angkasa? Apa Esta akan di terima disana?


Dan Angkasa dapat mengerti dengan kecemasan wanita paruh baya itu, ia meraih tangan Bu'de lalu menggenggamnya, "Bu, tolong percaya padaku. Aku akan menjaga Esta," ucapnya.

__ADS_1


Bu'de memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk dan memeluk Esta. Ia tak menyangka, keponakannya satu-satunya akan menikah dalam keadaan seperti ini. Sungguh bukan waktu dan tempat yang indah, tapi jika takdir sudah bicara, siapapun tidak akan bisa menolaknya.


__ADS_2