
“Aku mohon terima lah..” Langit kembali memohon, kedua matanya tampak berkaca-kaca.
Jingga masih tampak bingung, terlihat jelas kegusaran di raut wajahnya. “Mas, kenapa harus seperti ini? Aku benar-benar tidak bisa.”
“Kamu pasti bisa, Jingga. Aku yang akan mengajarimu secara langsung..”
Helaan nafas dalam terdengar berhembus dari mulut perempuan itu, kedua tangannya bahkan terkepal dan terasa dingin. Ini bukanlah keputusan yang mudah untuknya, ribuan orang jadi taruhannya jika ia gagal nanti. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari uang gaji di perusahaan itu, Jika Jingga gagal, bukan hanya ia yang akan hancur, perusahaan juga nasib ribuan orang akan ikut hancur.
“Aku mohon..” lirih Langit.
“Mas..”
“Jingga, percaya lah padaku, kamu pasti bisa. Aku akan mengajarimu sampai kamu benar-benar bisa berdiri sendiri.
Jingga pejamkan matanya sejenak, ia harus apa?
“Wujudkan harapan papa, Jingga..” pinta Langit.
Hening, dalam waktu yang cukup lama mereka hanya diam saling menatap. Banyak pertimbangan yang membuat Jingga menggeleng, tapi tatapan memohon dari Langit membuatnya semakin bingung.
__ADS_1
“Apa tujuan kamu yang sebenarnya mas?” Jingga kembali bertanya, karena ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Langit, pria itu terlalu misteri untuk dapat ia tebak.
“Bahagia mu..” jawab Langit dengan tulus.
“Tapi aku benar-benar tidak bisa, aku takut. Tolong mengertilah..”
Langit tak putus asa, ia menghampiri Jingga. Jarak mereka semakin dekat, tatapan yang masih saling mengunci membuat jantung keduanya berdebar hebat. Tak dapat di bohongi, cinta yang mereka rasakan masih lah sangat besar, hanya saja kesalahan Langit masih menjadi kabut tebal yang menghalangi cinta itu.
Dengan lembut Langit meraih kedua tangan Jingga, menggenggamnya dengan erat seolah memberi kepercayaan diri dan keyakinan bahwa Jingga mampu menjalankan perusahaan dengan sangat baik bahkan lebih baik dari Langit. “Percayalah, kamu bisa Jingga.”
Jingga mengalihkan pandangan, kedua alisnya nyaris bertaut karena bingung.
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan mu mas, kalau kamu ingin seperti itu, baiklah. Aku akan menerimanya.” Ucap Jingga pada akhirnya.
Langit tersenyum lebar, ia selangkah lebih mendekat, merentangkan tangannya hendak memeluk Jingga. Namun melihat Jingga memundurkan langkah, pergerakannya terhenti, kedua tangannya perlahan kembali turun, ia tersenyum hambar, “Maaf, Jingga. Aku lupa..” lirihnya.
Jingga hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Maafkan aku sayang, aku pikir hanya inilah cara ku satu-satunya agar aku bisa tetap dekat denganmu. Aku akan mengajarimu memimpin perusahaan, dan selama itu, aku akan berusaha kembali mendapatkan cintamu. Mungkin ini perjuanganku yang terakhir untuk kembali mendapatkanmu, jika setelah ini kamu tetap sama, maka aku akan mundur asal kamu bahagia,” Langit membathin.
__ADS_1
***
Menjelang sore, Mega memasak seperti biasanya. Menyiapkan makan malam untuk suaminya meski sangat jarang Alex mau makan satu meja dengannya. Ia memasak udang saus pedas kesukaan suaminya.
Selesai memasak, Mega menaiki anak tangga, membuka pintu kamar Alex yang dulu juga menjadi kamarnya. Tempat mereka memadu kasih, berbagi segala hal dan membahas banyak hal. Tempat mereka merangkai impian di masa depan, merencanakan banyak hal untuk kehidupan mereka dan anak-anak mereka kelak.
Mega mengedarkan pandangannya, meneliksik seisi kamar yang beberapa hari terakhir menjadi tempat suaminya dan perempuan lain berbagi ranjang. Seketika dadanya sesak, air mata menggenang di ujung pelupak matanya. Hatinya sakit, semakin sakit saat foto pernikahan mereka di atas nakas sudah tak lagi terlihat, mungkin Alex membuangnya.
Ruangan itu masih sama, harum maskulin yang sangat ia sukai dari suaminya masih mendominasi. Meski pernikahan mereka belum berjalan lama atau belasan tahun, tapi banyak kenangan yang tercipta di kamar itu. Tentang kesabaran Alex menghadapinya, tentang cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu, juga tentang perlakuan manis Alex di setiap harinya. Tapi sayang, kini semuanya hancur dan benar-benar hanya akan menjadi kenangan dalam angan.
“Maafkan aku, mas. Aku sangat mencintaimu, karena itu aku tidak sanggup lagi untuk bertahan. Semakin besar rasa cinta yang aku rasakan untukmu, maka semakin besar juga rasa sakit yang aku rasakan saat kamu membagi hati. Aku memilih mundur, aku menyerah bukan karena tidak mencintaimu, tapi karena aku tidak ingin kita terus saling menyakiti. Mungkin kamu akan bahagia jika aku pergi, aku tidak akan lagi menjadi bebanmu. Dan ya, kamu tidak harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kamu lakukan mas. Aku akan menanggungnya sendiri, maaf karena aku sudah melibatkanmu..”
Seraya terisak, mega mengusap bantal yang kerap Alex gunakan. Di benda itu wangi khas rambut suaminya menguar tajam memasuki indera penciumannya. Hatinya semakin sakit, “Aku pasti akan sangat merindukanmu,” lirihnya. “Nak, kita akan pergi. Jangan mengharapkan papa lagi, kita akan hidup berdua dan saling menguatkan satu sama lain.”
Meninggalkan sepucuk surat di atas nakas, Mega akhirnya pergi. Membawa cinta, membawa luka, membawa rindu juga membawa kecewanya.
“Selamat tinggal, mas. Semoga setelah ini kamu bahagia dan hidup lebih baik..”
TIM LANGIT CUNGGGGG..☝️☝️☝️
__ADS_1