
"Kita obati dulu pipi kamu, baru kita bicara." Angkasa menarik tangan Esta, mengajak gadis itu duduk di sofa sesaat setelah mereka tiba di kamar. Beruntung rumah sepi, mereka tak bertemu Mega atau Alex.
"Gak usah, aku gak papa." Esta kembali beranjak, pergi ke ruang ganti untuk mengambil pakaian ganti lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Angkasa menghela nafas panjang, membiarkan gadis itu pergi adalah keputusan yang tepat saat ini. Esta belum bisa di ajak bicara, jika di paksakan, mungkin mereka akan kembali berdebat. Angkasa akan menunggu beberapa saat lagi.
Dengan tatapan sendu, Esta menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya memang membengkak, bahkan ujung bibirnya juga sedikit membiru. Seketika air matanya kembali menetes, "Apa karena aku orang gak punya? Kamu dengan mudah mengangkat tangan," lirihnya.
Esta semakin merasakan perbedaan yang jauh antara dirinya dan Angkasa. Banyak perbedaan membentang, apalagi strata sosial mereka yang memang sangat berbeda.
Dengan tangan bergetar, Esta menyentuh pipinya. Rasa sakitnya memang sudah berkurang, rasa kebasnya juga hilang, tapi rasa perih di hatinya masih enggan beranjak.
Lama berada di kamar mandi membuat tubuh Esta menggigil karena dingin. Ia segera berpakaian lalu keluar kamar, sepertinya ia harus beristirahat.
__ADS_1
Di dalam kamar sepi, Angkasa entah pergi kemana. Tapi itu justru bagus menurut Esta, ia bisa langsung beristirahat.
Dengan memeluk dirinya sendiri, ia mengambil bantal dan selimut yang biasa ia pakai. Ia membawanya ke sofa, tempatnya beristirahat sejak ia tinggal di rumah itu. Rasa dingin semakin menjalar ke tubuhnya, bahkan terasa sampai ke tulang, ia lalu membungkus dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya. Selain dingin, kepalanya pun terasa berat, mungkin karena ia terlalu lama menangis.
***
"Bawa apa nak?" Mega yang melihat Angkasa membawa baskom dan lap bertanya.
"Ini, aku bawa air es buat kompres," jawab Angkasa. Ia tak bisa berbohong.
"Aku mau kompres Esta, aku ke kamar dulu ya ma. Esta udah nungguin," Angkasa segera pergi, ia tak ingin Mega banyak bertanya dan pada akhirnya ia berbohong pada perempuan itu.
Baru saja Mega hendak berkata, tapi Angkasa sudah melesat jauh menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Anak itu, mama belum selesai ngomong udah main kabur aja," gerutu Mega, ia lalu melanjutkan niatnya untuk menyiapkan makan malam.
Angkasa tergesa-gesa menaiki anak tangga, lalu membuka pintu kamarnya. Ia menghela nafas panjang saat mendapati Esta sudah berbaring di sofa. Beralih menatap baskom di tangannya, sepertinya Esta memang tak ingin ia obati.
Padahal ia ingin sekalian mengajak gadis itu bicara, "Kamu marah banget ya ratu kentut?"
Esta yang belum tertidur mendengar pintu kamar terbuka, tapi ia diam saja. Ia juga tahu saat Angkasa melangkah mendekatinya, namun Esta tetap enggan bangun.
"Esta, kamu tidur?" Tanya Angkasa dengan pelan, "Kamu pasti tidur, kenapa aku masih tanya? Bodoh!" Angkasa bicara sendiri, ia menyimpan baskom yang masih di tangannya ke atas meja, kemudian membenarkan letak selimut yang Esta pakai. Tanpa sengaja punggung tangannya menyentuh pipi gadis itu, "Panas? Esta sakit?"
Untuk memastikan, ia lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Esta, memang panas. Angkasa panik, ia mengusap wajahnya dengan gusar dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Pria itu kembali beranjak, membawa baskom berisi air es itu kembali ke dapur. Ia akan menggantinya dengan air hangat untuk mengompres dahi Esta.
__ADS_1
"Maaf Esta, maaf. Karena aku kamu sakit."