
Tak putus asa, rupanya Violet tetap mengejar Jingga. Bahkan perempuan itu sengaja menunggu Jingga di gedung LaGroup. Dia harus menjelaskan sesuatu pada Jingga, dia tak mau putrinya itu membencinya. Selain itu, rasa rindunya pada Jingga sudah bukan lagi menggunung, tapi sudah memenuhi seisi dunianya.
Bagaimana tidak, sejak kecil ia mencari Jingga. Melakukan berbagai cara untuk bisa menemukan putrinya itu dan kembali merebutnya dari Banyu Biru.
Tapi semuanya nihil, sampai suatu ketika, hasutan seseorang membuatnya gelap mata dan mengambil jalan yang salah.
FLASHBACK
"Lihatlah mantan suamimu itu, dia bersenang-senang dengan keluarga barunya. Lalu bagaimana dengan dirimu? Berbanding terbalik bukan? Kamu bahkan tidak tahu keberadaan putrimu sendiri, Banyu pintar menyembunyikannya."
Violet menghela nafas gusar, karena pengkhianatan yang ia lakukan pada Banyu Biru, ia di pisahkan dengan putrinya.
"Jangan ikut campur," ucap Violet. Ia menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelasnya, lalu meneguknya hingga tandas.
Begitu lah kehidupan Violet, setelah Banyu mengetahui pengkhianatannya, Violet jadi sering mabuk-mabukan dengan dalih mengusir rindu pada putrinya. Apalagi pria yang menjadi selingkuhannya saat itu memang pria yang berasal dari dunia hitam, sudah barang tentu Violet pun terseret arus. Keadaan hatinya yang terluka karena kehilangan Jingga, semakin menjerumuskannya ke dalam lubang hitam.
"Aku hanya ingin membantumu, aku mempunyai informasi penting tentang keluarga Banyu," ucap pria itu lagi.
Violet berdecak, "Handoko, sudah berapa kali kamu membohongiku? Kamu sering memberikan informasi yang tidak berguna. Aku tidak mau lagi di bodohi, jika kamu mempunyai dendam sendiri pada Banyu, selesaikan sendiri. Jangan jadikan aku alat percobaan dendam mu itu, aku sudah muak berurusan dengan Banyu, lebih baik aku mencari putriku dengan caraku sendiri," ungkap Violet.
__ADS_1
Karena bukan kali ini saja Handoko memberikan informasi tentang Banyu dan Senja padanya, dan ia selalu termakan hasutan Handoko untuk mengganggu keluarga baru Banyu.
Kali ini tidak lagi, ia menyadari kelicikan Handoko, pria itu masih menginginkan Senja tapi tidak mau bertindak sendiri. Ia justru selalu menghasut Violet untuk mengganggu Banyu.
Handoko memang sangat licik, munafik dan picik. Di depan Banyu dan Senja, pria itu bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Handoko bahkan mengatakan tak akan mengganggu Senja dan putranya lagi, nyatanya pria itu menggunakannya sebagai ajang balas dendam.
"Yakin? Padahal aku ingin mengatakan bahwa besok adalah hari ulang tahun putraku. Aku yakin Banyu pasti akan mengundang putrinya juga, tidak mungkin acara penting itu Banyu melupakan putri kalian. Bukankah ini kesempatan bagus untuk menemukan putrimu? Bayangkan saja, kamu akan bertemu dengan putrimu setelah bertahun-tahun merindukannya."
Melihat Violet terdiam berpikir, bibirnya menyeringai. Itu lah kebodohan Violet, perempuan itu sangat mudah di hasut dan di bodohi.
"Jangan banyak berpikir lagi, ini kesempatan emas untuk menemukan putrimu. Jika kamu mau, aku bisa mengantarmu kesana besok. Acara itu di adakan di villa pribadi Banyu, gunakan kesempatan itu untuk menghancurkan mereka, emm maksudku untuk menemukan putrimu."
"Baiklah, antar aku kesana!"
Kalimat itu membuat Handoko tersenyum menang, ia tuangkan minuman ke gelasnya dan gelas Violet, lalu ia memaksa Violet untuk bersulang dengannya. Meski malas, tapi perempuan itu tak menolak.
"Aku pastikan semuanya akan berhasil, aku akanembantumu sampai akhir," ucap Handoko lagi. Ia tersenyum penuh arti, sudah banyak rencana yang ia siapkan untuk esok hari.
Keesokan harinya, tepat pukul tujuh pagi Handoko datang menjemput Violet. Meski harus menunggu sedikit lama karena Violet harus meminta izin terlebih dahulu pada prianya, tapi Handoko tak mengambil pusing. Ia sibuk membayangkan keberhasilannya nanti. Melalui tangan Violet, semuanya akan tuntas.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, hanya Handoko yang bicara, Violet hanya menanggapinya sesekali saja. Perempuan itu sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan putrinya. "Pasti kamu sudah besar, nak. Kamu juga pasti sangat cantik," batin Violet.
Menempuh perjalanan tiga jam lamanya, akhirnya mereka sampai di villa. Ternyata villa itu di jaga ketat, tidak sembarangan orang bisa masuk.
"Biarkan kami masuk," ucap Handoko pada penjaga yang menghampirinya.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa mengijinkan anda masuk."
Handoko berdecak, "Baiklah, saya akan melaporkan kalian pada Nyonya kalian. Bisa-bisanya saya tidak di beri izin masuk!"
Penjaga itu diam dan membiarkan Handoko menghubungi Senja. Handoko bahkan sengaja memperbesar volume suara telponnya.
"Halo, Senja aku tidak di beri izin masuk!" ucap Handoko sesaat setelah sambungan telponnya terhubung.
"Maaf Han, aku akan meminta izin dulu pada suamiku," ucap Senja dari seberang sana.
Karena Banyu menghargai ayah kandung dari Langit, Handoko pun di beri izin masuk. Banyu tak tahu jika kedatangan Handoko ternyata bersama Violet.
Kedatangan mereka juga lah yang menjadi awal peristiwa naas yang menimpa Banyu dan Senja. Awal kehancuran keluarga kecil Banyu, awal penderitaan bagi Langit yang meninggalkan trauma mendalam.
__ADS_1