
Bagi Tata, berat rasanya meninggalkan rumah ini. Rumah yang penuh dengan kenangan. Kenangan masa kecil yang menyenangkan, saat masih ada Ayah dan Ibunya.
Meskipun hampir seratus persen semua berubah. Barang - barang miliknya sudah berpindah tangan.
Kasih sayang dan rasa nyaman yang dulu pernah dia rasakan, semua hilang begitu saja tanpa sisa.
Masih jelas sekali pada ingatan Tata kecil, yang selalu mengalah dan rela kehilangan apapun dari dirinya.
*Flashback On :
"Bu, aku mau tidur di tempat tidur milik Mbak Tata itu." Begitu rengek Astrid kecil yang menginginkan ranjang tidur milik Tata.
"Iya, nanti Ibu siapkan di kamarmu ya." Jawab Ibunya.
"Jangan Bulek, itu milik Tata." Pinta Tata kecil memelas.
"Sekarang ini milik Astrid, jadi kamu tidak boleh membantah. Atau kamu mau Bulek taruh di panti asuhan !" Ancam Bulek waktu itu.
Tata kecil yang selalu takut akan bayang - bayang kehidupan di panti, selalu diam jika Bulek mengancam akan menaruhnya di sana.
Pada akhirnya dia harus rela jika semua barang-barang miliknya berpindah tempat.
'Ayah, Ibu, Tata kangen. Tata gak bisa tidur, kasur Tata keras. Tata rela tidur di dipan yang keras ini Ibu, karena Tata takut dibuang ke panti. Kata Bulek, panti itu tempat serem buat anak-anak.' Keluh Tata kecil sembari memeluk foto Ibunya.
*Flashback Off
Ya, hanya foto Almarhum Ayah dan Ibunya inilah yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Dia peluk kembali di iringi derasnya air mata. Sebelum akhirnya dia masukkan ke dalam tas pakaiannya. Usai berkemas, dia jinjing tasnya keluar dari kamar.
Di luar, sudah berdiri Astrid dengan tangan berkacak pinggang. Sedangkan Bulek duduk si kursi ruang makan, yang nantinya akan Tata lewati sebelum keluar.
"Ingat ya, jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi." Ancam Astrid penuh kebencian.
Tata hanya diam tanpa perlu menjawab ancaman sepupunya.
"Tata pamit dulu Bulek." Ucapnya sembari mengulurkan tangan sebagai tanda hormat kepada orang tua.
Namun, dengan angkuhnya Bulek Rukmini menolak uluran tangan keponakannya. Perlahan Tata, berjalan keluar meninggalkan rumahnya.
"Hus hus sana." Ejek Astrid merasa menang.
'Sebenarnya, aku juga tidak mau ini terjadi. Apa kata Mas Arman nanti, jika dia tahu aku usir keponakannya dari rumah ini.' Sesal Bulek dalam hati.
Tapi rasa - rasanya, itu bukanlah sebuah Penyesalan. Itu hanya rasa takut disalahkan. Apalagi jika suaminya tahu akan hal ini nanti. Pasti dia akan marah besar.
'Ah sudahlah, yang penting anakku bahagia. Apalagi jika Astrid benar-benar bisa mendapatkan hati Andri, pasti kita akan hidup berkecukupan. Secara, Andri kan anak orang kaya.' Gumam Bulek Rukmini sembari senyum-senyum sendiri.
"Ibu kenapa sih, senyum - senyum sendiri seperti itu." Tanya Astrid heran.
"Iya, sekarang kan Tata sudah pergi jauh dari rumah ini. Jadi, kamu bisa deketin Andri lagi." Jawab Bulek memberikan dukungan kepada anaknya.
"Iya Buk, pasti." Jawabnya gembira.
__ADS_1
Din ... din ...
Sebuah mobil dengan bak terbuka memasuki halaman rumah Bulek Rukmini.
"Siapa yang datang Bu ?" Tanya Astrid sembari mengintip dari balik kelambu, memperhatikan siapa orang yang ada di balik kemudi mobil pickup itu.
"Gak tahu, kok bawa sepeda gitu." Komentar Bulek ikut penasaran dibuatnya.
"Itu, itukan sepeda Mbak Tata Bu, jangan-jangan_"
"Andri ?"
Pucuk dicinta ulampun tiba. Yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba menampakkan batang hidungnya.
Sesuai dengan apa yang Bulek Rukmini katakan, memang Andri yang ada di dalam mobil pickup tersebut.
"Ibu, baju Astrid gimana Bu, jelek gak ? Wajah Astrid sudah kelihatan cantik belum ?" Tanya Astrid jadi salah tingkah.
Dia bolak balik menuju depan kaca rias untuk merapikan rambut dan riasan wajahnya.
"Sudah, cantik, anak ibu pasti selalu cantik." Puji Bulek kepada anak gadisnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Andri berjalan menuju pintu rumah, dengan menuntun sepeda milik Tata yang kemarin sempat dia bengkelkan.
"Eh, Nak Andri. Mencari Astrid ?" Sapa Bulek kepada tamunya.
"Tata gak ada. Dia sudah pergi." Jawab Astrid ketus.
"Pergi ? kemana ?" Tanya Andri ingin tahu.
"Cari saja sendiri." Jawab Astrid berlalu begitu saja.
"Astrid, maaf ya Nak Andri, Astrid agak sensi hari ini. Gak tahu kenapa. Yang jelas dia kecewa dengan sikap sepupunya Tata, yang memutuskan untuk pergi dari rumah." Kata Bulek berbohong.
"Padahal, Astrid sudah merayunya dan memintanya untuk tetap tinggal. Tapi Tata nekat ingin pergi. Mungkin dia sudah punya pacar dan ingin hidup bebas di luar sana." Imbuhnya lagi.
Andri menggaruk-garuk anak rambutnya sendiri. Seolah tidak percaya dengan sikap Tata yang demikian.
'Rasa-rasanya ada yang aneh. Mana mungkin Tata seperti itu.' Pikir Andri dalam hati.
"Bulek tahu kemana Tata pergi ?" Tanya Andri mencari informasi.
"Bulek juga tidak tahu Nak, Tata hanya mengemas baju-bajunya dan pamit pergi begitu saja."
"Apa dia sudah lama perginya ?"ā Masih dengan nada seperti detektif.
"Tadi, pagi-pagi sekali dia pergi." Kata Bulek berbohong.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bulek. Ini sepeda Tata, yang kemaren rusak, sudah saya perbaiki."
__ADS_1
"Oh ya, terimakasih Nak. Hati - hati dijalan ya." Kata Bulek yang terdengar manis kalau ada maunya.
Setelah kepergian Andri, Bulek Rukmini pergi mencari keberadaan anak gadisnya yang tadi sempat ngambek.
"Kamu disini rupanya."
Sapa Bulek yang melihat Astrid duduk di sofa menggonta ganti canel dengan remot TV sesuka hatinya.
"Astrid, kamu ini kenapa !" Bentak Bulek, karena yang diajak bicara hanya diam mematung.
"Apa dia sudah pergi ?" Tanyanya datar.
"Aneh kamu ini, mau mendapatkan hatinya kok gak bisa merayu malah merajuk." Nasehat ibunya. Kali ini lebih halus dan terarah.
"Ibu setuju kalau kamu dekat sama Nak Andri, tapi kamu harus bisa merubah sikap kekanak-kanakanmu itu." Nada Bulek kali ini terdengar jengkel lagi.
"Suka - suka aku sajalah." Omel Astrid.
"Anak ini, susah kalau dibilangin. Tadi kamu sendiri yang menggebu-gebu ingin lebih dekat dengan Andri, sekarang kamu sendiri yang putus asa. Sudah sana terserah apa maumu saja, Ibu capek mikirnya." Kata Bulek sambil berlalu pergi.
"Belum lagi kalau sewaktu-waktu Bapakmu datang, menanyakan keberadaan Tata. Apa yang akan Ibu katakan !" Teriak Bulek dari dalam.
"Tau ach." Omel Astrid lagi, sambil masih memainkan remote control di tangannya.
***
"Kamu kemana Ta, ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba pergi begitu saja." Gerutu Andri sepanjang jalan sambil tolah toleh, berharap bisa menemukan Tata kembali.
"Ibu, maaf. Pernah melihat cewek yang ada di foto ini tidak ?"
Sesekali dia turun dari dalam mobil pickup nya, dan menanyakan kepada setiap orang yang lewat, siapa tahu ada yang pernah bertemu dengannya.
"Maaf, tidak lihat mas."
"Baik, terimakasih Bu."
"Kemana mau Ta, disaat aku ingin mengenalmu lebih jauh, kenapa kamu malah menjauh dariku." Gumamnya sendiri.
Sebenarnya sudah lama Andri mengincar gadis itu. Namun sikapnya yang pendiam dan lugu membuat Andri harus berhati-hati mengenalnya.
Dia mencoba pendekatan melalui adik sepupunya, namun itulah awal dari permasalahannya.
Astrid yang dipercaya bisa mengenalkan dia dengan Kakak sepupunya, ternyata malah jatuh hati kepada Andri.
Andri kembali melajukan mobilnya menyisir pinggiran kota.
"Aaarrggghhh...!" Teriaknya meluapkan emosi. Dia pukul - pukul kemudinya sendiri.
"Dimana kamu Tata, padahal kamu tidak punya siapa-siapa di kota ini." Keluhnya dengan geram.
____________________
____________________
__ADS_1
____________________