Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 35. Besuk Nindya


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Bunda."


Seperti biasa, Tata mencium punggung tangan Bunda Arum setiap mereka bertemu.


"Wa'alaikumsalam, apa kabar Nak ?"


"Alhamdulillah sehat Bunda."


"Lama sekali kita tidak bertemu, Bunda juga kangen sama kamu." Kata Beliau.


"Mama !" Teriak Nindya, saat dia mengenali pemilik suara yang menyapa eyangnya. Nindya langsung duduk dan merentangkan kedua tangannya lebar menyambut kedatangan perempuan yang dia panggil Mama.


Seperti mendapat sebuah hadiah besar, Nindya begitu gembira menyambut kedatangan Tata.


"Assalamu'alaikum Cantik, apa kabar sayang ?" Sapanya usai meletakkan barang bawaannya.


"Wa'alaikumsalam Mama, Dya kangen Mama."


"Oh ya, ini Mama Tata sudah di sini. Dya mau apa ?" Sambut Tata tak kalah gembira.


Ini kali pertama, Tata menyetujui panggilan 'Mama' dari Nindya.


Entah hanya sementara waktu disaat Dya sakit, atau mungkin untuk selamanya.


"Dya mau bobok dipeluk Mama." Ucapnya manja.


"Coba perhatikan mereka Al, Bunda melihat tidak ada kepura-puraan dari semua bahasa tubuh yang Tata berikan untuk Dya." Komentar Bunda yang duduk bersama putranya di sofa tunggu pasien.


Al masih diam tanpa Komentar.


'Sebenarnya, Al juga merasa begitu Bunda. Tapi entahlah ... ' Jawabnya di dalam hati.


Dia menghela nafas panjang dan masih tanpa komentar.


"Anak seusia Nindya, hati dan pikirannya sangat peka Al. Dia tahu mana yang benar-benar menyayanginya atau hanya pura-pura saja." Tambah Bunda.


"Apa kamu tidak punya pikiran yang sama seperti Bunda ?" Kali ini Bunda mencoba mencari jawaban dari Al.


Tapi sikap Al masih seperti patung hidup. Dia memperhatikan setiap gerak Tata dan Nindya yang sedang asyik bercanda di atas ranjang perawatan.


"Al, kamu tidak dengar apa yang Bunda tanyakan ?" Tanya Bunda kembali.


"Oh, iya, apa Bunda ?"


"Hahhh ... Percuma Bunda ngomong panjang lebar, tapi kamu malah perhatikan yang di sana." Canda Bunda memberikan kode dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak Bunda, bukan begitu. Al harus jawab apa ?"


"Ya mana kamu bisa jawab, orang pertanyaannya saja tidak tahu." Sindir Bunda kembali.


"Maaf Bunda." Jawab Al cengengesan.


"Hayu' tinggal satu kali lagi. Hhaammm...hebat anak Mama." Terdengar bujukan manja seorang ibu kepada putrinya.


Tata berhasil membujuk Nindya untuk makan dan minum obat.


"Mama bobok sini temeni Dya ya." Pintanya.


"E ... Mama_"


"Iya sayang, nanti Mama temeni Dya bobok di sini." Al yang menjawab, sebelum Tata selesai bicara.


Mata Anita sedikit melotot kepada Al, seakan tidak setuju dengan apa yang disampaikannya kepada Nindya.


"Holle, Dya sayang Mama." Kecupan sayang Dya berikan di keningnya.

__ADS_1


Siang itu Nindya tertidur pulas, setelah terkena sihir obat yang dokter berikan.


"Tata, Bunda minta tolong jagain Dya sebentar ya. Bunda mau pulang dulu, nanti sore Bunda kembali lagi." Pamit Bunda.


"Iya Bunda."


"Bunda istirahat saja di rumah, biar Tata yang jaga Nindya nanti malam." Kata Al lagi tanpa meminta persetujuan dari yang bersangkutan.


"Benar itu Nak ?" Tanya Bunda ingin meyakinkan pendengarannya.


"Insha Allah Bunda, tapi Tata belum bawa baju ganti juga." Ucapnya meminta pertimbangan.


"Nanti biar Al belikan." Lagi-lagi Al mengambil alih pembicaraan.


"Terimakasih banyak ya Nak, memang sejak awal Dya sudah merindukanmu."


Anita tersenyum penuh arti. Di dalam hati, ingin sekali rasanya dia menangis. Belum pernah dia rasakan kebahagian seperti yang dia rasakan saat ini.


Bunda Arum, meskipun Beliau hanya seorang yang tanpa sengaja dia kenal di jalan, tapi kasih sayangnya seperti telah bertahun-tahun mengenal sosok seorang Anita.


"Bunda mau Al antarkan ?" Kata Al menawarkan.


"Tidak usah Nak, kamu di sini saja temeni Nindya. Bunda sudah dijemput Pak Slamet di bawah."


Al dan Tata mengantarkan Bunda keluar dari ruang rawat inap Nindya.


"Bunda tinggal dulu ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Bunda." Jawab mereka sembari melambaikan tangan.


Setelah kepergian Bunda, Tata menunjukkan sikap acuh dan diam tanpa bicara.


"Kamu kenapa ?"


"Eeittsss.... kok nyolot."


Baru kali ini terdengar nada bercanda dari bibir Al.


"Kenapa Pak Al menyetujui permintaan Nindya sebelum tanya dulu kepada saya." Sungutnya kesal.


"Saya yakin, kamu pasti setuju dengan keputusan saya." Kata Al lebih percaya diri.


"Mana bisa begitu, memang Pak Al tahu saya mau atau tidak." Ketusnya.


"Kamu mau atau tidak, itu terserah kamu. Atau mungkin kamu maunya pulang, menunggu pacar kamu kembali lagi datang ke rumah dan membawamu pergi ?"


"Sembarangan." Komentar Tata menggelengkan kepala pelan.


"Ya sudah, kalau memang mau kamu begitu. Gakpapa saya antar kamu pulang. Pilih mana ?" Kata Al yakin merasa menang.


'Mungkin memang lebih baik aku terima tawaran Pak Al untuk bekerja menjadi pengasuh Nindya. Lagipula Dya anak yang menyenangkan. Aku juga sangat sayang kepadanya.' Pikirnya dalam hati.


'Di satu sisi, Tata tidak mau mengecewakan Bunda dan Nindya. Tapi di sisi lain, apa istri Pak Al menyetujui kalau aku bekerja di rumahnya ? Tapi ngomong-ngomong soal istri, dimana istri Pak al ?'


Pertanyaan itu yang Tata simpan sejak dulu. Pernah suatu ketika dia ingin menanyakan hal itu kepada Nindya, tapi tidak sampai hati.


'Apa lebih baik aku tanyakan langsung kepada Pak Al ?' Pikirnya lagi.


"Kenapa bengong ?" Tanya Al mengagetkan.


"Apa, saya boleh menanyakan sesuatu Pak ?"


Ucapnya memberanikan diri.


"Tanya saja, gak ada yang ngelarang." Jawab Al siap dengan tangan bersila di depan dadanya.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


"Permisi."


"Iya, silahkan."


Seorang suster datang membawa berkas-berkas kesehatan Nindya. Lagi-lagi Tata harus menunda pertanyaan yang akan dia lontarkan untuk Al.


"Ini hasil lab Ananda Pak, Alhamdulillah hasilnya bagus semua. Untuk keterangan lebih lanjut, Bapak diminta untuk ke ruang Dokter sekarang." Ucapnya sembari menyerahkan amplop coklat hasil cek kesehatan Nindya.


"Baik Sus, sebentar saya ke sana."


"Silahkan Pak. Mama Nindya ya ?" Pandangan mata suster tertuju pada gadis cantik yang sedang duduk di tepi ranjang Nindya.


"Iya Sus, Mama Nindya baru datang dari luar kota." Bahkan sampai saat ini pun, Al tidak memberinya kesempatan untuk menjawab pertanyaan Suster.


Dan seperti tadi, Tata hanya bisa tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Al.


"Baik, kalau begitu, saya permisi ya Pak, Bu."


"Terimakasih Sus." Kata Tata mengantarkan kepergian suster.


"Aku tinggal dulu ya ?" Pamit Al.


"Jangan lama-lama."


Al menghentikan langkah kakinya, saat mendengar jawaban Tata.


"Kenapa berhenti ?" Tanya Tata heran.


"Harusnya saya yang bertanya, apa kamu sadar dengan apa yang barusan kamu katakan ?" Tanya Al ingin memastikan.


"Pertanyaan yang mana ?"


"Yang tadi, sebelum saya melangkah ke luar."


"Yang mana, saya gak ingat." Kata Tata mencoba mengingat-ingat.


"Masih muda sudah pikun. Boleh saya ingatkan ?"


"Silahkan."


"Yang tadi kamu bilang, 'Jangan lama-lama'."


"Memangnya kenapa ?"


"Itu menandakan bahwa kamu sudah mulai takut kehilanganku." Kata Al menggoda.


"Idih, siapa takut, maksud saya jangan lama-lama karena banyak yang mau saya proteskan ke Bapak." Komentar Tata salah tingkah.


Wajahnya merah merona, memendam rasa malu.


"Sudah sana Pak, sudah ditunggu dokter." Kata Tata ingin menyudahi perbincangan yang entah kemana arahnya.


Ada perasaan aneh pada dirinya, setelah keluarnya Al dari ruang rawat inap Nindya.


'Ada apa denganku ?' Kenapa jantungku berdegup kencang saat Pak Al bercanda seperti itu.


'Bercanda ? Ya, Pak Al hanya bercanda. Hanya bercanda.' Kata hatinya memupuk rasa.


__________________


__________________


__________________

__ADS_1


__ADS_2