
Malam semakin larut, rintik hujan mulai menambah volumenya. Ritmik yang terdengar merdu mulai tak beraturan.
Jalanan kota terlihat sepi. Sudah banyak area pertokoan yang tak bertuan. Al masih melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Berharap masih ada banyak waktu untuk mengenal sosok di belakangnya itu lebih dekat.
Namun, percikan air hujan tidak lagi sejuk dirasakan. Perlahan tapi pasti, semakin tidak bersahabat.
"Pegangan, aku akan sedikit ngebut." Instruksi Al.
'Pegangan, kemana saya akan pegangan ?' Pertanyaan di dalam hatinya.
Begel belakang menjadi tumpuan kedua tangannya. Bukan rasa aman yang dia dapatkan, tapi semakin Al mempercepat spidometer nya, semakin limbung tubuh Anita diterpa angin.
Cciiiittt....
"Aaauuuu !" Teriaknya di tengah derasnya air hujan.
Kubangan jalan sempat menghambat lajunya kendaraan. Mau tidak mau tubuh mereka pun saling terantuk dan saling bersentuhan.
Al membiarkan tangan anita menyentuh pinggangnya. Bahkan dia mulai menarik satu persatu agar melingkar di perutnya.
"Jangan GeEr, ini darurat !" Teriaknya agar yang punya tangan mendengar.
'Idih, siapa juga yang GeEr. Ogah kali kalau sampai ada yang bilang saya pelakor." Gerutunya dalam hati, yang masih mengira kalau Al sudah beristri.
Jjddeeeerrrrr...!
Bunyi petir menggelegar membuat pelukan di pinggang yang tadinya renggang gini lebih erat mengikat.
"Aaarrggghhh." Keluh Al menahan sebah.
Tidak banyak yang tahu, kalau gadis cantik nan energik ini, pobia dengan kilat.
Biasanya, di saat-saat seperti ini, dia lebih tenang meringkuk di dalam selimut nya. Namun kali ini punggung yang bidang di depan matanya yang menjadi pelindung di tengah gelapnya malam.
Sepanjang perjalanan, dia sembunyi di balik punggung Al, hingga sama sekali tidak menyadari kalau sudah sampai di depan rumah singgah.
"Apa kamu lebih nyaman dengan memelukku, sampai-sampai tidak mau turun ?" Sindir Al menggoda.
Anita menarik tangannya dari pinggang Al.
"Ma, maaf Pak. Sa, saya, tidak sengaja." Jawabnya terbata, sembari turun dari jok belakang.
”Lekas masuk, keringkan badanmu dan istirahatlah.” Ucap Al sebelum meninggalkan tempat itu.
"Hujan semakin lebat, apa Pak Al akan nekat pulang dengan kondisi cuaca seperti ini ?"
"Apa boleh buat."
"Terimakasih Pak, sudah mengantarkan saya sampai rumah."
"Hhhmmmm..."
__ADS_1
"Kalau begitu saya ke dalam dulu Pak."
"Eh, tunggu !"
Al meraih jemari tangan anita yang terasa begitu sangat dingin. Wajahnya nampak pucat, bibirnya bergetar karena hawa dingin yang dia rasakan.
"Aku tunggu besok di kantor." Ucapnya kembali sembari melepaskan tangan sedingin es itu.
Tata berlari kecil dari pintu gerbang menuju rumah yang disediakan pihak pengelola rumah singgah. Tubuhnya basah kuyup, bahkan tas seisinya juga basah oleh air hujan.
Al segera melajukan kendaraannya kembali, setelah memastikan penumpangnya tadi sudah aman berada di dalam rumah.
"Apa Pak Al sudah sampai rumah ya ?" Gumam Anita sendiri, sesudah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan yang bersih.
Ha'ci ... !
Efek dari air hujan mulai terasa, kepalanya pening, hidungnya mulai tersumbat. Namun, Tata masih memikirkan Al dalam perjalanan, di saat tubuhnya sendiri kurang fit.
Kling ...
["Sudah tidur ?"] ✓
Satu pesan masuk dari seorang yang sejak tadi dia pikirkan.
Namun, jari-jarinya terasa lemas untuk mengetik sesuatu. Hingga pagi tiba, pesan dari Al tak terbalas.
***
"Tata, Nduk, apa kamu masih di dalam ?" Panggil Bu Ranti membangunkan.
Belum ada jawaban dari dalam. Sekali lagi Bu Ranti mengetuk pintunya. Tapi, lagi-lagi suasana masih lengang.
"Ada apa Bu Ranti ?" Tanya Mbak Wulan yang kebetulan lewat di depan kamar Anita.
"Ini Mbak Wulan, dari tadi pintu kamar Tata saya ketuk tidak ada jawaban."
"Atau, mungkin dia sudah jalan ?" Tanya Mbak Wulan lagi.
"Gak mungkin Mbak, ini sepatunya masih komplit.
'Iya juga ya, lagipula, kalau benar dia sudah berangkat pasti melewati gerbang utama. Sedangkan saya berada di sana sejak tadi.' Pikir Mbak Wulan dalam hati.
Bu Ranti mulai terlihat cemas, badannya panas dingin, khawatir dengan keadaan anak angkatnya di dalam.
"Bu Ranti yang sabar ya, biar saya ambilkan kunci serepnya."
Mbak Wulan segera berlari menuju kantor untuk mengambil apa yang dia butuhkan.
"Gimana Mbak ?" Tanya Bu Ranti beberapa saat setelah Mbak Wulan kembali.
"Ini, ada Bu." Jawabnya sembari berusaha membuka pintu kamarnya Anita.
Namun ada hal yang membuat kunci serep tidak berfungsi dengan benar. Mungkin karena masih ada kunci utama tergelantung di induk kuncinya.
__ADS_1
Kegaduhan yang tercipta di depan kamar anita, mengundang kedatangan semua pengurus rumah singgah.
"Mohon izin untuk dibuka paksa Bu ?" Tanya Pak Nur, satpam baru di komplek rumah singgah.
"Iya Pak, tidak apa-apa." Bu Nilam ikut cemas dengan kondisi pemilik kamar di dalam.
"Bismillah ... Satu, dua, tiga !" Kata Pak Nur mengambil posisi untuk membuka paksa pintu salah satu kamar di rumah singgah.
Bbraaakkk !
Pintu terbuka, nampak seorang yang terbujur kaku di atas ranjang.
"Tata !" Jerit tangis Bu Ranti membangunkan seisi penghuni rumah singgah.
Lebih parah dari kondisi semalam, wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan suhu badannya tinggi. Dia tergolek lemah tak sadarkan diri.
Mbak wulan bergerak cepat untuk memanggil ambulan. Tidak membutuhkan waktu lama, tubuh lemah itu segera dilarikan ke rumah sakit.
"Ada apa Bu Ranti, kenapa Tata sampai jatuh sakit seperti itu ?" Tanya Bu Nilam ingin tahu.
"Saya kurang tahu Bu. Yang jelas, semalam saya lihat Tata pulang dengan kondisi basah kuyup." Terangnya terbata-bata.
"Jadi ada kemungkinan kalau Tata sakit karena kehujanan ya Bu."
"Bisa jadi begitu Bu."
"Ya sudah, kita tunggu kabar dari Wulan. Bu Ranti siapkan saja keperluannya, jaga-jaga jika dia harus oknam."
"Inggih Bu."
Sedangkan di ruang gawat darurat, dokter sedang memeriksa kondisi kesehatannya.
"Keluarga saudara Anita." Panggil petugas kesehatan.
Wulan yang bertanggung jawab di situ, segera mendekat, berharap ada kabar baik yang akan dia dengar tentang gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
"Bagaimana kondisi adik saya Dokter ?" Tanya Wulan khawatir.
"Tidak apa-apa, pasien hanya mengalami hipotermia karena kondisi badan kehilangan terlalu banyak suhu panas, sehingga memberikan tekanan pada tubuh termasuk sistem imun yang menyebabkan peluang terinfeksi virus lebih besar. Ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya karena cuaca yang tidak menentu, kehujanan juga bisa."
"Iya Dok, memang semalam adik saya pulang dalam kondisi basah kuyup."
"Untuk sementara, kami sarankan agar pasien istirahat di sini untuk beberapa waktu, agar kami bisa memantau dan memastikan keadaan pasien baik-baik saja."
Begitulah kiranya percakapan mereka, dan diputuskan agar anita dirawat sampai kondisi tubuhnya benar-benar sehat.
Bu Ranti segera menyusul ke rumah sakit, setelah wulan mengabarkan kondisi kesehatan Anita.
________________
________________
________________
__ADS_1