
Sinar mentari begitu cerah menyapa. Menghangatkan setiap kehidupan di muka bumi ini.
Entah dari mana datangnya perasaan senang di hati Anita pagi ini. Senyum itu begitu manis mengembang, menyejukkan setiap mata yang memandang.
"Aduh, anak Ibu kelihatan bahagia sekali." Sapa Bu Ranti saat melihat Tata bersolek sembari bersenandung.
"Iya Bu, Alhamdulillah Bos Tata suka dengan kue - kue buatan Tata. Dan Mbak Nia bilang, Beliau ingin memesan lagi dalam porsi yang besar." Jawabnya senang.
"Oh ya, syukur Alhamdulillah kalau begitu. Rezeki anak Sholehah." Komentar Bu Ranti megusap lembut kepalanya.
Tapi usapan lembut itu terhenti tatkala Tata kembali duduk termenung.
"Kenapa Nak ? Apa ada hal yang sedang kamu pikirkan ?"
"Iya Buk, Tata ingat paman. Sejak Tata keluar dari rumah, Tata tidak pernah tahu bagaimana kabar paman sekarang." Ucapnya tertunduk sedih.
"Kenapa Tata tidak pergi saja menjenguk Paman di rumah ?" Kata Bu Ranti memberi saran.
"Itu dia masalahnya Bu. Paman masih di luar jawa. Beliau mendapatkan kontrak kerja selama tiga tahun dari perusahaan tempat beliau bekerja."
"Ya sudah, Tata do'akan agar Paman selalu sehat dan dalam lindungan - Nya."
"Aamien."
Bu Ranti tidak banyak bertanya tentang Buleknya ataupun keluarga Tata selain Pamannya. Karena sedikit banyak, Tata sudah pernah cerita, bagaimana akhirnya dia sampai bertemu dengannya dan berada di tempat ini.
Sama halnya seperti Bu Ranti yang kehilangan kasih sayang anaknya. Entah karena lupa atau mungkin memang sengaja di tinggalkan di jalan.
Kalau diingat - ingat lagi, akan membuat hati terasa sakit. Tapi sebagai seorang Ibu, tetap mendoakan hal yang baik untuk anak-anaknya.
"Sebenarnya, saya juga kangen sama Astrid dan Bulek Bu. Tapi apa mereka mau menerima saya berkunjung ?" Tanya Tata meminta pertimbangan.
"Nak, apapun yang pernah mereka lakukan kepadamu, tetaplah sambung silaturahmi. Pergilah Nak, tunjukkan niat baikmu. Semoga dengan kehadiranmu yang sekarang, Bulekmu sadar dan mau menerimamu kembali pulang kerumah."
"Iya Bu, nanti usai bertemu dengan bos besar, Tata izin ke rumah Bulek ya Bu ? Tapi sebelumnya Tata akan pergi berziarah dulu ke makam Ayah dan Ibu. Baru setelah itu Tata berkunjung ke rumah Bulek."
"Iya, Ibu selalu mendukung apapun yang menurut Tata baik. Suatu hari nanti, ibu yakin Tata akan menjadi orang hebat." Doanya tulus.
"Amien, terimakasih doanya Bu."
Anita memeluk hangat wanita tua yang duduk disampingnya itu. Dari awal mereka bertemu, seakan sudah ada ikatan kasih sayang diantara mereka berdua.
"Tata berangkat kerja dulu Buk." Pamitnya sembari meraih tangan yang sudah mulai keriput dimakan usia itu.
"Hati-hati dijalan ya Nak."
"Iya Buk, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
'Semakin hari kamu semakin cantik Nak. Kesabaran dan keikhlasan membuatmu lebih tegar menghadapi kerasnya hidup.' Gumam Bu Ranti, sembari mengantar keberangkatan Anita dengan motor baru, hasil jerih payahnya, sampai lepas dari pandangan.
***
Siang itu, masih sama seperti hari-hari sebelumnya, Tata menjalankan tugasnya dengan tekun.
"Ta, hari ini Pak Al datang agak telat. Karena Beliau ada acara ke luar kota. Jadi Beliau meminta untuk bertemu besok atau lusa sebelum jam kantor usai." Kata Nia memberikan informasi.
Tata hanya mengiyakan apa yang disampaikan Nia. Sesuai dengan perintah bos nya.
__ADS_1
"Iyeesss !" Jawabnya spontan.
"Kenapa ?" Tanya Nia heran.
"Gak apa-apa Mbak, heheheh..."
'Aku bisa pergi lebih awal berkunjung ke makam ayah dan ibu hari ini.' Gumamnya.
'Namanya juga Bos, suka-suka dia mau ketemu kapan saja dengan bawahannya, apalagi bawahan paling bawah seperti saya.' Pikirnya dalam hati.
Sebuah kebetulan yang dinanti-nanti. Tata masih punya terlalu banyak waktu untuk pergi mengunjungi makam kedua orangtuanya.
Kali ini, Tata bisa berlama-lama mencurahkan isi hati di pusaran Ayah dan Ibunya. Seperti hari - hari yang lalu, sebelum dia beranjak dewasa.
Cuma bedanya, kalau dulu dia lebih banyak menangis. Tapi sekarang, Tata lebih banyak bersyukur dan tersenyum.
"Eh Cah Ayu, kok lama sekali tidak kelihatan Nduk ?" Sapa Mbah Jarwo, juru kunci pemakaman.
"Iya Mbah, sekarang Tata sudah bekerja." Tata mendekati laki-laki yang sudah mulai renta itu, saat keluar dari area pemakaman.
"Syukurlah Nduk, Mbah ikut senang mendengarnya."
"Oh ya Mbah, ini ada sedikit rezeki. Semoga Mbah berkenan menerima."
Sudah menjadi kebiasaan, setiap berkunjung ke makam Ayah dan Ibunya, dia selalu membawakan sesuatu untuk Mbah Jarwo.
"Alhamdulillah, terimakasih Nduk. Semoga dimudahkan segala urusan, dan dilapangkan rezekinya."
"Amien."
"Doa embah yang utama, semoga Allah segera mendekatkan jodoh Nduk Tata."
Tata mengamini doa Mbah Jarwo. Meskipun di dalam hati, dia sendiri tidak tahu, pria seperti apa sebenarnya yang dia suka.
"Kalau begitu, Tata pamit dulu ya Mbah."
"Iya Nduk, hati - hati di jalan. Salam bua Paklekmu Arman, lama sekali embah tidak ketemu." Teriaknya.
"Insyaallah Mbah." Tata hanya tersenyum dan tidak mau banyak bercerita.
"Ya sudah, keburu sore. Kelihatannya langit mendung, takutnya kalau turun hujan."
"Inggih Mbah, Tata pamit nggeh Mbah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Gini dia melanjutkan perjalanan menuju rumah Bulek. Rumah yang sebenarnya hak milik dia. Rumah penuh kenangan, peninggalan kedua orangtuanya.
Sesampainya disana, rumah yang terlihat tak terawat itu, begitu sepi.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamu'alaikum Bulek." Ketuknya sembari mengucap salam.
Namun suasana masih lengang.
"Assalamu'alaikum, Astrid." Tata mengulanginya sekali lagi, namun kali ini nama sepupunya yang dia panggil.
"Lo ... Nduk Tata."
__ADS_1
Tata menoleh, ada Bude Atun yang menyebut namanya.
"Inggih Bude, bade sowan Bulek, nopo sami tindakan nggeh ?" Tanya Tata dengan bahasa jawa yang halus dan sikap yang sopan.
"Waduh, Bude juga tidak tahu. Tapi kelihatannya begitu Nduk. Karena sudah tiga hari ini, Bulekmu gak kedengeran suaranya." Begitu terang Bude Atun.
"Oh, inggih Bude. Kinten-kinten tindak pundi nggeh Bude ?"
"Walah, kok Bude ora gatekne yo Nduk. Tur Bulekmu yo ora rasanan arep lungo ngandi." Jawab Bude Atun apa adanya.
"Sek - sek Nduk, coba tak takokne mbak Sri." Konsentrasinya beralih kepada sosok perempuan yang dia sebut mbak Sri.
"Sri." Panggilnya.
"Ngopo Bude."
"Sek to mandegko. Sebentar berhenti dulu."
Sesuai permintaan Bude, Mbak Sri menghentikan sepedanya.
"Ada apa Bude ?"
"Kamu dipamiti Bulek Rukmini tidak, dia mau pergi kemana ?" Tanya bude to the point.
"Bulek Rukmini ? Tidak itu Bude, tapi..." Dia mengingat - ingat.
"Eh, tapi waktu itu saya ketemu Bulek Rukmini sama Astrid pergi dengan membawa travel bag gitu."
'Travel bag ?'
Tata yang dari tadi hanya diam, mendengarkan percakapan mereka, kini ikut komentar di dalam hati.
'Mau kemana mereka ?' Bisik Tata dalam hati.
"Kamu tidak tanya, mereka mau kemana ?"
"Enggak." Jawabnya singkat.
"Yo wes, suwun yo."
"Enggeh Bude, mari Mbak Tata." Pamit Mbak Sri kembali mengayuh sepedanya.
"Inggih, monggo."
"Gak ada yang dipamiti itu Nduk." Kata Bude.
Ada rasa iba dari nada bicara Beliau.
"Inggih, gakpapa Bude. Kalau begitu, saya pamit dulu Bude."
"Iya Nduk, hati - hati di jalan ya."
Kedatangannya kali ini tanpa membuahkan hasil apa-apa. Entah pergi kemana Buleknya saat ini. Yang pasti, Tata akan tetap kembali suatu hari nanti.
____________________
____________________
____________________
__ADS_1