
Ooeek ... ooeekk ...
Seperti biasa, Baby Dzaki terbangun di malam hari untuk memenuhi rasa laparnya. Cukup dengan menyusu sebentar, dia sudah tertidur kembali.
Din ... din ...
Bunyi klakson khas milik Alfatih, terdengar sampai ke kamar Anita. Tata berdiri, hanya untuk memastikan siapa yang datang, masih dengan putranya di dalam gendongan.
Dia sibak sedikit korden yang menghalangi pandangannya ke luar. Benar saja, Pak Slamet sedang membukakan pintu gerbang untuk suaminya.
'Mas Al pulang selarut ini, bukannya kemaren Pak Reza bilang, kalau jadwalnya selesai meeting baru besok siang ?' Pikirnya mengingat-ingat apa yang dia dengar dari asisten suaminya.
Perlahan dia kembali letakkan putranya yang sudah tertidur pulas. Tak berapa lama, Al sudah berada di ambang pintu. Sengaja dia buka pintu dengan pelan, agar decitnya tidak membangunkan putranya.
"Assalamualaikum sayang, belum tidur ?" Bisiknya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Tata, yang masih menyibukkan diri dengan membenahi letak tidur putranya.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dibenahi, tapi entah kenapa, kebiasaan lembut menyambut kedatangan suaminya, kali ini begitu hambar terasa. Apalagi jika dia ingat kembali, foto-foto yang pernah dia terima.
Al melirik jam yang masih rapi bertengger di dinding, waktu menunjukkan pukul tiga lebih empat puluh lima menit.
'Sebentar lagi subuh, mungkin pertanyaan yang aku lontarkan tadi salah, sehingga Tata tidak menjawab ucapanku.' Tebaknya di dalam hati.
"Mandi dulu Mas, jangan pegang Dzaki kalau belum bersih-bersih." Cegah Tata ketika Al hampir saja mau menengok keberadaan putranya di dalam box tidurnya.
'Ada yang aneh dengan sikapnya, tidak biasanya dia berkata begitu ketus.' Komentar sisi hati Al.
Al menurut apa yang istrinya katakan, tanpa membantah sedikitpun.
'Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud acuh kepadamu, tapi keadaan yang membuatku refleks bersikap seperti itu padamu.' keluhnya, saat dia tatap punggung suaminya yang hampir tak terlihat di balik pintu.
Adzan subuh mulai terdengar, saat Al baru akan meletakkan tubuhnya di atas ranjang. Tata segera berdiri, untuk mengambil air wudhu. Lagi-lagi Al merasa kalau istrinya menghindar darinya.
Bahkan sholat subuh yang biasanya berjamaah, Tata lakukan sendiri.
"Sayang." Panggil nya, saat Tata berjalan mendekati handle pintu kamar.
Tidak ada jawaban dari bibirnya, Tata hanya menoleh ke arah sumber suara.
"Mau kemana ?" Tanya Al tidak mau buang-buang waktu.
"Ke dapur." Jawabnya singkat, sembari berbalik berusaha menarik handle pintunya.
Namun Al lebih cekatan, dia tarik tubuh mungil istrinya, hingga berbalik arah tepat di hadapannya. Al mengapitnya, Tatapun tak mampu berbuat apa-apa, punggungnya terantuk pada dinding kamar. Entah sejak kapan Al berdiri di belakangnya, dan sekarang sudah mengunci tepat di hadapannya.
Pandangan Anita nanar kurang begitu jelas melihat wajah suaminya dibawah remangnya lampu kamar. Bibirnya bergetar, keluh tak mampu berkata apa-apa.
Jika pendengaran Al lebih peka dibandingkan pendengaran manusia pada umumnya, mungkin dia sudah mendengar betapa kerasnya detak jantung istrinya saat ini.
Perlahan tapi pasti, Al mendekatkan bibirnya, dia cium bibir mungil yang sudah terlihat ranum di pagi hari itu. Sejenak, Tatapun menikmatinya. Namun lagi-lagi bayangan kemesraan Al dengan wanita lain terlintas di pikirannya.
__ADS_1
"Cukup Mas." Lirihnya, sembari menghempaskan tubuh suaminya.
"Apa maksudmu ?" Tanya Al lebih lembut dan pelan.
"Bersihkan dulu tubuhmu, sebelum mendekatiku." Jawab Tata masih dengan tubuh terkunci.
Al semakin tidak mengerti dengan ucapan istrinya.
"Bicara yang benar Ta, aku tidak suka teka-teki." Kata Al mulai meradang.
"Haram hukumnya bagi seorang suami menggauli istrinya sesudah menggauli wanita lain." Ucapnya tertahan.
"Jaga bicaramu Ta, jangan bikin darahku mendidih. Atas dasar apa kamu bicara seperti itu." Kata Al masih menahan emosinya.
Tata menyingkirkan tubuh suaminya. Agak sedikit kasar, dia ambil handphone di atas nakas.
"Jelaskan padaku, tentang foto-foto ini." Tunjuknya kepada Al.
"Apa-apaan ini."
Dari nada komentarnya, Al merasa tidak tahu menahu tentang foto-foto itu.
"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api Mas." Jawabnya menahan kesedihan.
Usai berkata begitu, Tata berlalu meninggalkan suaminya yang masih meneliti, siapa pemilik nomor handphone yang sengaja mempengaruhi pikiran istrinya.
'Siapa yang melakukan ini.' Pikirnya memutar otak.
"Mbak Ata, tumben pagi-pagi begini sudah ke dapur, cie-cie .. Mas Al sudah pulang ya ?" Canda Mbak Watik yang belum bisa melihat situasi.
"Hhhhmmmm ... sudah Mbak." Jawabnya sedikit acuh dan masih menyibukkan diri dengan buah dan sayur di tangannya.
'Kenapa dengan Mbak Tata, gak biasanya cuek. Ini datar saja tanpa senyum.' kata hati Mbak Watik.
"Al sudah pulang Nduk ?" Kali ini ganti Bunda yang bertanya.
"Sampun Bunda." Jawabnya singkat.
"Bunda, hari ini Mbak Tata kelihatan banyak diam tanpa senyum sedikitpun." Kata Mbak Watik, saat Tata mulai menata hidangannya di meja makan.
Bunda tidak menjawab dan lebih banyak memperhatikan gerak-gerik anak menantunya.
'Mungkin, diamnya Tata sabagai bentuk protes atas apa yang baru-baru ini terjadi.' Komentar Bunda dalam hati.
Tata juga berlalu begitu saja, usai menyiapkan sarapan di atas meja makannya. Seperti biasa dia segera membantu Nindya berkemas ke sekolah. Hanya bedanya, kali ini benar kata Mbak Watik, wajahnya muram tanpa senyum.
"Pagi Bunda." Sapa Al yang sudah rapi, mendekati Bunda di meja makan.
Sikapnya biasa saja, seperti tidak pernah ada hal yang terjadi.
"Jam berapa kamu pulang ?"
__ADS_1
"Tadi jam empat sebelum subuh."
"Hari ini ada jadwal ke luar kota ?" Tanya Bunda ingin memastikan.
"Tidak, hanya ke kantor saja. Ada laporan yang harus saya cek selama saya tinggal pergi kemaren." Jawabnya di sela-sela suapan sarapannya.
"Baguslah, nanti Bunda susul. Ada yang harus Bunda bicarakan."
"Ya." Jawabnya singkat.
Al sedikit kaget dengan apa yang Bunda sampaikan.
'Apa ini ada hubungannya dengan kejadian pagi tadi ?' Pikirnya.
"Papa." Teriak Nindya girang melihat Papa Al sudah berada di meja makan pagi itu.
"Sudha cantik anak Papa."
"Eyang, Dya berangkat bareng Papa ya."
"Dya sama Eyang saja ya sayang." Tolak Eyang Arum.
"Gakpapa Bun, biar Dya bareng sama saya."
"Apa kamu gak kepagian kalau sekalian ngantar Nindya." Sanggah Bunda lagi.
"Gakpapa Bun, biasanya juga begitu kan ?" Tanya Al heran dengan semua orang di rumah ini yang cuek kepadanya.
Tapi dia maklum, semua karena hal yang belum jelas kebenarannya itu.
"Dya sama Eyang saja ya ?"
"Iya Eyang." Jawab Nindya menurut.
"Dya berangkat ya Ma."
"Belajar yang rajin ya sayang."
"Aku juga sekalian berangkat sayang." Pamit Al mengikuti.
"Hati-hati di jalan Mas."
Masih sama seperti hari-hari yang lalu. Tata yang selalu melemparkan senyum mengiringi kepergian suaminya. Meskipun ada sedikit luka di hatinya, namun tidak pernah dia perlihatkan di depan ibu mertuanya.
Begitupun Bunda, yang selalu ikut bahagia melihat kebersamaan mereka. Tapi Bunda juga bisa merasakan sakit hati seorang istri atas penghianatan suaminya. Walaupun belum bisa dipastikan kebenarannya.
___________________
___________________
___________________
__ADS_1