
"Selamat pagi Mbak." Sapa Hanifa pada seorang perempuan yang duduk di belakang meja resepsionis.
"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa kami bantu ?" Jawabnya sopan setelah berdiri dari tempat duduknya.
"Saya Hanifa, bisa bertemu dengan Pak Anton ?"
"Mohon maaf Ibu, apa sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Anton ?"
"Sudah Mbak, saya mendapatkan panggilan dari kantor ini dan ada jadwal bertemu Beliau pagi ini." Jawab Hanifa sembari menyerahkan sebuah surat di dalam amplop coklat.
"Baik Ibu, mohon tunggu sebentar."
Kata perempuan yang di mejanya tertulis nama 'Winda' itu.
Selagi Winda menghubungi atasannya, Hanifa melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dia tempati.
Sebuah perusahaan yang lumayan besar. Meskipun tergolong baru, namun perusahaan ini sudah sangat terkenal dan terpercaya dalam pengerjaan interior dan eksterior kantor, hotel maupun gedung-gedung pertemuan.
"Iya Mbak, Ibu Hanifa Mbak, baik Mbak."
Begitu sekiranya kata-kata yang dia dengar saat Winda berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Winda menyebutnya 'Mbak', itu berarti bukan Pak Anton yang dia hubungi.
"Ibu Hanifa." Panggil Winda usai menutup teleponnya.
"Iya Mbak." Jawab Hanifa mendekati.
"Silahkan Ibu, Bapak Anton sudah menunggu."
Hanifa mengikuti langkah kaki Winda, menuju sebuah ruangan yang berada paling ujung di lantai dua.
"Selamat pagi Mbak Bella."
"Pagi Win."
"Ini Ibu Hanifa yang ada jadwal bertemu Pak Anton pagi ini Mbak."
"Oke, terimakasih Win. Bisa kamu tinggal."
"Baik Mbak, saya permisi."
Pamit Winda kepada seorang perempuan yang dia panggil Bella.
"Selamat pagi Ibu, perkenalkan saya Bella, asisten pribadi Pak Anton." Sapanya sembari mengulurkan tangan.
"Pagi Mbak, saya Hanifa."
"Iya, silahkan di tunggu sebentar Ibu, Pak Anton sedang menerima telepon dari klien."
"Baik, terimakasih Mbak."
Perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Bella ini, masih muda dan energik. Berparas cantik dengan kulit putih bersih, dan yang sangat menonjol, dia berwajah indo.
'Cantik, masih muda, usianya mungkin dibawahku sedikit.' Tebak Hanifa dalam hati.
Selagi menunggu, Hanifa iseng membuka profil kantor yang dia datangi saat ini melalui sebuah website di internet.
"Ibu Hanifa, silahkan." Kata Bella, yang tadi memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi Pak Anton.
Masih seperti tadi, Hanifa mengekor di belakang, menunggu sekretaris cantik ini mengetuk pintu ruang CEO.
ok ... tok ... tok ...
"Masuk." Jawab seseorang dari dalam.
Mungkin itu suara seseorang yang mereka panggil dengan nama Pak Anton.
Dari suara barito yang barusan dia dengar, terlintas bayangan seorang pria dengan tubuh yang tinggi, besar dan usianya mungkin sudah cukup matang.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak, ini Ibu Hanifa." Kata Bella memperkenalkan.
"Pagi, terimakasih Bella."
"Silahkan Ibu, saya permisi."
"Terimakasih Mbak."
Usai berkata begitu, Bella meninggalkan ruang kerja atasannya.
"Selamat pagi Ibu, silahkan."
"Terimakasih Pak."
Untuk sesaat Hanifa terpana dengan pria di depan matanya. Bayangan seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar, yang tadi terlintas di pikirannya, hilang seketika.
Usianya memang tidak muda lagi, tapi Pak Anton yang banyak mereka bicarakan, begitu tampan dan berkharisma.
Senyumnya manis mengembang, sangat mempesona. Membuat limbung setiap mata wanita memandang.
'Masya Allah, kok ada ya orang setampan ini.' Gumamnya di dalam hati.
"Bisa kita mulai kepada topik pembicaraan ?" Tanya Pak Anton membuyarkan lamunan Hanifa.
"Oh, iya Pak." Jawabnya gugup.
Banyak hal yang mereka bicarakan, tapi Hanifa tidak begitu fokus pada apa yang sedang mereka bahas. Sesekali Hanifa mencuri-curi pandang.
"Selamat bergabung di perusahaan kami." Begitu kata Pak Anton mengakhiri percakapan mereka.
"Terimakasih Pak, senang sekali bisa bergabung di perusahaan Bapak." Jawab Hanifa masih dengan berjabat tangan.
"Semoga betah." Ucapnya basa-basi.
"Semoga Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu Pak." Kata Hanifa menyudahi percakapan mereka.
"Siap Pak."
Hanifa meninggalkan kantor ini dengan perasaan senang, mulai besok dia akan tunjukkan seperti apa kepiawaiannya dalam bidang pemasaran.
Drrttt ... drrttt ...
Handphonenya bergetar, Oma Ratri memanggil.
"Ya Ma, hallo."
"Hallo Fa, apa kamu sudah selesai interviewnya ?"
"Sudah Ma, ini sudah di jalan."
"Oh, ya. Kebetulan sekali, Gina juga sudah pulang."
"Sudah pulang ? Tumben, ada acara apa Ma ?"
"Ibu guru mau menghadiri rapat, jangan lama-lama ya, Gina sudah bosen main sendiri." Jawab Oma Ratri sembari melihat cucunya yang mulai cemberut.
'Sebenarnya, aku masih mau mampir ke mall sebentar. Ada beberapa pakaian yang harus aku beli. Tapi, apa Gina gak ngambeg, kalau menunggu terlalu lama.' Pikir Hanifa dalam hati.
"Hallo Fa." Tegur Oma saat tidak terdengar suara Hanifa untuk sesaat.
"Oh, eh, iya Ma, ini Ifa sudah hampir dekat dengan sekolah Gina."
"Syukurlah, Mama tunggu ya."
"Iya Ma."
Tidak perlu menunggu terlalu lama, Hanifa sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah Regina.
"Mama."
__ADS_1
"Hallo sayang."
Regina berlari memeluk Mamanya. Sebuah pelukan kerinduan, seolah sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Kenapa sayang ?"
"Gina bosen, nunggu Mama lama. Semua teman-teman Gina sudah pada pulang." Rengeknya.
Memang benar, sekolah sudah sepi, tinggal Pak satpam saja yang masih setia menunggu di pos penjagaan.
"Maafkan Mama ya sayang, Mama gak tahu kalau Gina pulang lebih awal."
Regina mengangguk menahan tangis.
"Tadi sebenarnya, Tata menawarkan tumpangan untuk pulang. Tapi Mama tolak, karena takutnya kamu sudah jalan ke sini." Kata Oma Ratri menjelaskan.
"E ... gak tahunya lama." Sambung Beliau kembali.
"Maaf Ma, tadi Hanifa interviewnya lumayan lama."
Sebenarnya Oma memaklumi situasi dan kondisi yang ada. Tapi karena Oma sendiri tidak begitu suka dengan keputusan Hanifa untuk bekerja, jadi Beliau sedikit jengkel.
"Kita jalan yuk, sebelum pulang kita makan dulu, Gina mau makan apa ?" Tawarnya mencoba mencairkan suasana.
"Hhhhmmmm ... ayam goreng." Teriaknya senang.
"Oke, let's go."
Rasa kesal di dalam hati hilang seketika, Regina telah ceria kembali, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Pelan-pelan sayang, nanti jatuh." Teriak Hanifa melarang Regina berlarian di halaman sebuah restoran cepat saji.
"Iya Mama, Gina bisa jaga diri kok." Jawabnya menirukan orang dewasa.
Hanifa tersenyum melihat tingkah lucu putrinya. Dia cubit manja hidung dan pipinya.
"Regina !" Panggil seseorang dengan suara yang lantang.
Regina menoleh ke arah suara. Di pojok kanan, ada Nindya lengkap dengan Eyang, Mama dan Papanya.
"Nindya." Balasnya melambaikan tangan.
"Sini, sini !" Teriaknya kembali, meminta Regina untuk bergabung di mejanya.
Regina terlihat bengong dan memandang ke arah Mamanya.
"Mama, boleh ya. Gina duduknya di dekat Nindya." Pintanya.
"Jangan dong sayang, itu Dya kan sama keluarganya, tempatnya gak muat dong."
Mendengar jawaban Mama Hanifa, Regina cemberut dan masih memandang ke arah Nindya sembari mengikuti langkah kaki Mamanya menuju galery untuk memesan menu.
"Mama, Gina kenapa ? Gak boleh deketan kita ya makannya ?" Tanya Nindya kasihan melihat sahabatnya.
"Mama gak tahu sayang, mungkin Gina ingin makan bersama keluarga sendiri saja." Jawab Mama Tata memberi pengertian.
"Tapi, Gina kelihatan sedih Mama." Rengeknya lagi.
"Biar Eyang yang coba ajak ya."
Nindya mengangguk, berharap sahabatnya bisa makan siang bersama, meskipun pertemuan mereka secara kebetulan saja.
Namanya juga nenek, apapun akan Beliau lakukan agar cucunya tidak bersedih. Begitupun Eyang, yang segera turun tangan mengajak Oma Ratri untuk bergabung pada satu meja yang sama.
_________________
_________________
_________________
__ADS_1