
•Anita POV
"Lempar kesini bolanya sayang." Seorang pria mengajarkan latihan ketangkasan kepada putrinya di dalam sebuah kolam renang.
"Mama, sini. Kita main bola bersama." Panggil seorang bocah yang tangkas dan ceria.
"Ayo sayang, jangan buat dirimu hanya jadi penonton." Teriak sang Ayah tak mau kalah dengan putrinya.
Sebuah gambaran keluarga yang harmonis dan bahagia. Jika suatu hari nanti, Allah memberikan ku seorang jodoh, aku ingin seperti mereka.
"Sudah siang sayang, matahari semakin terik. Kita istirahat dulu ya, Mama sudah siapkan makan siang kesukaan kalian." Jawab seorang wanita yang dia sebut dirinya 'Mama'.
"Tanggung Ma, masih asyik ini." Jawab Anaknya.
"Tidak sayang, kita sudah terlalu lama berenang. Segera mandi, bilas dengan air bersih di kamar mandi, setelah itu kita makan siang." Kata sang Ayah membujuk putrinya dengan penuh kesabaran.
"Ayo, sini Mama bantu." Kata sang ibu menyodorkan bantuan. Sang ibu pun ikut merayu.
"Hati-hati sayang, lantainya licin." Ucap sang ayah yang bagitu sangat perhatian.
Sesekali terlihat sang Ayah mengusap dan mencium perut buncit sang ibu. Dia begitu cantik dan anggun, penuh kesabaran dan kasih sayang membantu sang putri membersihkan diri.
Tapi rasa-rasanya, aku mengenali perempuan itu. Perempuan yang ada di hadapanku. Dengan perutnya yang buncit, dia melempar senyum manisnya untukku.
Wajahnya mirip seperti ku, tinggi tubuhnya tak jauh dariku. Dan pria itu ? Ya, aku juga mengenalinya. Pria yang selama ini selalu ada di saat aku membutuhkan dia.
Tapi, kalau itu aku, kenapa aku ada di sini saat ini ?
Berada di antara mereka. Aku hanya bisa menjadi penonton dan memperhatikan semua aktivitas nya.
Dari mulai pagi hingga pagi kembali. Semua tak luput dari pandangan mataku.
"Sayang, bangun sayang. Kita sholat bareng yuk." Ajak sang Ayah membangunkan.
Rasanya membuat hati tentram, bahagia dan sangat menyenangkan.
•Author POV
Nindya masih terlelap, saat Tata merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh lengannya.
"Kita subuh yuk." Bisik Al membangunkan.
Perlahan namun pasti, dia mulai membuka matanya.
'Jadi ini benar-benar bukan sebuah mimpi.' bisiknya dalam hati.
"Sudah adzan subuh, kita sholat bareng yuk." Al mengulangi nya kembali.
Tidak mau sang imam menunggu terlalu lama, Tata segera berlari mengambil air wudhu.
Assalamu'alaikum warahmatullahi ....
Terdengar tanda bacaan akhir sholat telah usai.
Tangan mereka berdua menengadah ke atas. Memohon sesuatu kepada Sang Khaliq. Berharap sebuah mimpi akan menjadi nyata.
__ADS_1
Tata mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Mengamini semua doa-doanya. Dan saat menurunkan usapan tangannya itulah Al sudah berbalik menghadapnya.
"Masya Allah." Ucapnya lirih, mengagumi kebesaran Allah.
Meskipun pagi belum terlihat sempurna, tapi wajah Al sudah nampak cerah sempurna. Senyumnya begitu manis mengembang. Seolah mengatakan, aku paling tampan.
"Kamu tidak mau mencoba mencium punggung tanganku." Kata Al bercanda, sembari menyodorkan tangan kanannya, membangunkan lamunan Tata.
Entah kenapa, Tata ingin meraihnya. Membayangkan mimpi semalam terasa begitu nyata. Jemari lentik Al masih terpampang jelas di hadapannya. Bukan seperti mimpi yang dia alami.
"Barokalloh." Ucap Al setelah adegan cium tangan selesai Tata lakukan.
"Apa Pak Al hanya ingin mengejekku ?" Tanya Tata menutupi rasa malu.
Al tersenyum penuh arti. Senyum itu yang tidak bisa dia lupakan sampai detik ini.
"Positif thinking, pagi-pagi tidak baik berburuk sangka." Jawab Al.
Jemari kanannya mulai berani usil mencubit hidung mancung yang bertengger sempurna di wajah anita.
Al berdiri meninggalkan Tata yang masih sibuk dengan pikirannya. Tak disangka, hal ini akan terjadi kepadanya. Tata hanya bisa tersenyum sendiri, membayangkan kejadian semalam, mimpi yang menyenangkan dan subuh yang penuh ilham.
***
Pagi ini, Dokter sudah mengizinkan Nindya untuk pulang. Kesehatan nya berangsur-angsur membaik, sejak kedatangan Anita.
Tidak tega rasanya, jika dia harus pergi meninggalkan Nindya yang sudah mulai nyaman dengan kehadirannya.
"Mama ikut pulang ke rumah Papa kan ?" Tanya Nindya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Tata belum bisa menjawabnya, dia pandangi wajah Al melalui sepion di atas dasboard. Dia yang biasa memberikan jawaban sebelum dia sempat menjawabnya.
"Insha Allah ya." Begitu dia menjawabnya.
Nindya terdiam, bibirnya manyun, seolah kurang puas dengan jawaban yang Tata berikan.
"Kenapa mukanya ditekuk begitu ? Sini Mama Tata peluk."
Dya menggeser tubuhnya lebih mendekat dan mulai bergelayut manja.
Al hanya memperhatikan kedua bidadari di belakang kemudinya itu dengan perasaan berbunga-bunga.
"Kita mau ke tempat Mama ya Pa ?" Tanya Nindya yang sudah hafal betul jalan menuju tempat dimana Mama Kinan disemayamkan.
"Iya, Mama Tata mau berkenalan dengan Mama Kinan." Jawab Al.
'Mama Kinan ? Jadi istri Pak Al namanya Bu Kinan.' Pikir Tata dalam hati.
Entah kenapa hati Tata terasa tidak tenang. Ada rasa cemburu bergelayut di dalam hatinya.
'Cemburu ? Apa benar ini perasaan cemburu ?' Ungkapan hatinya.
Tata membuang wajahnya keluar jendela, hanya untuk menyembunyikan perubahan raut wajahnya.
"Kita sudah sampai." Kata Al memberi tahu.
__ADS_1
'Makam ? Inikan area pemakaman ? Apa maksudnya ?' Pertanyaan itu memenuhi ruang pikirnya.
"Kita turun yuk Ma." Ajak Nindya.
Al sudah keluar membeli sesuatu di ujung jalan.
"Tunggu sayang, kata Papa tadi, kita mau ke rumah Mama Nindya ?" Tanya Tata ingin tahu.
"Ini rumah Mama Kinan, Mama ... Mama Kinan sudah bobok lama di sebelah sana." Jawabnya sembari menunjuk ke suatu arah.
Tok ... tok ... tok ...
Al mengetuk kaca pada pintu mobilnya, memberikan kode agar Tata dan Nindya segera keluar.
Tata hanya terdiam, bengong dan bingung harus ngapain. Saat ini yang harus dia lakukan adalah mengikuti kemana Al membawanya.
"Assalamu'alaikum Mama, Papa, Dya datang belkunjung."
Bibir mungilnya mengerucut memendam kesedihan.
Tata duduk bersimpuh di belakang gadis kecil itu.
"Ini Mama Tata Ma, Dya sayang Mama Tata." Ucapnya kemudian.
Jika tidak ada orang lain lagi, ingin rasanya Tata menangis.
"Sayang, kita berdoa untuk Mama sama Papa ya." Ajak Al.
Dengan fasih Al memimpin doa untuk Ayah, adik perempuannya dan adik iparnya.
Nindya dan Tata mengamini doa-doa yang Al lantunkan.
Sampai di situ, Tata masih belum berani menanyakan hal apa yang sebenarnya terjadi pada mereka dan apa hubungan Al dengan Nindya.
"Papa, Dya capek." Rengek Nindya saat mereka menyelesaikan ziarah kubur ke makam Eyang kakung, Mama dan Papanya.
Bagai di dalam sebuah ayunan, didukung semilirnya angin di siang hari itu, Nindya mulai tertidur dalam gendongan Al.
"Kamu tidak ingin bertanya, kenapa kita ke sini ? Dan siapa yang kita kunjungi ?" Tanya Al membuka suara.
"Sedikit banyak, saya sudah tahu Pak." Jawab Tata.
"Ya, itu makam kedua orang tua Nindya. Sekar Kinanti, dia adik perempuanku dan suaminya, juga almarhum Ayah kami yang meninggal dalam satu kecelakaan." Cerita Al sembari berjalan menuju tempat dia memarkirkan mobilnya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Ucapnya lirih.
"Nindya masih bayi waktu itu. Allah memberinya keselamatan. Dan aku sudah menganggap Dya seperti putriku sendiri, tapi tetap harus diberikan pengertian yang sebenarnya."
Kali ini Tata duduk di bangku depan sebelah kemudi. Al membaringkan Nindya di jok tengah dengan beralaskan car bed yang dirancang khusus untuk digunakan di dalam mobil.
"Kita langsung ke rumah ya, Bunda sudah menunggu." Kata Al.
"Iya." Jawab Tata pasrah dan menurut apa yang Al sampaikan.
__________________
__ADS_1
__________________
__________________