
Makan malam sudah Tata siapkan di meja makan. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, makan malam kali ini hanya Dia, Al dan Nindya saja.
Bunda masih berkutat dengan bisnisnya di luar kota. Sedangkan Mbak Watik masih dengan izin yang dia sampaikan tempo hari.
Suasana hening, hanya terdengar sendok dan piring yang saling beradu. Al telah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya. Dia segera berdiri dan entah kemana.
Sedangkan Tata, dia lebih santai, eolah tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka.
"Mama, Dya ke Papa dulu ya ?" Pinta gadis kecil itu usai menyelesaikan makan malamnya.
Tugasnya masih belum selesai, dia harus membereskan semua yang berserakan di dapur. Mumpung Nindya sedang asyik bermain dengan Papanya.
"Dya, minum susu dulu sayang." Panggilnya kepada gadis cilik yang masih bergelayut manja dengan Papa angkatnya.
Mendengar namanya dipanggil, Nindya segera turun dan menghampiri Anita. Berbeda dengan Al, yang langsung pergi ke teras teras depan saat melihat Tata datang menghampiri mereka berdua.
'Ada apa lagi dengan Pak Al ? Kenapa sikapnya begitu aneh.' keluhnya dalam hati.
Namun Tata menyadari posisi dia di rumah itu hanyalah seorang pengasuh.
'Mungkin lebih baik seperti itu, jadi tidak ada yang merasa tersakiti atau disakiti.' Pikirnya lagi.
***
"Saya hanya ingin bertemu dengan anita sebentar !" Terdengar teriakan seorang ibu menyebut namanya.
"Tapi ini sudah malam, Mbak Tata tidak menerima tamu malam-malam." Jawab Pak Slamet.
"Bilang saja, kalau saya Buleknya ingin bertemu !" Ucapnya ngotot.
"Mohon maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas saja. Lebih baik ibu kembali lagi besok pagi." Pinta Pak Slamet lagi.
Bbbrrrraaaakkkk !
Rasa kesal dan emosi membuat Bulek Rukmini dan anak gadisnya menendang pintu gerbang. Sakit sudah tidak dia rasakan lagi.
Suara gaduh tak terelakkan, membuat Al harus turun tangan.
"Ada apa ini ?" Tanyanya datar.
"Pak Al, Pak Al masih ingat saya ? Saya Buleknya Anita, saya ingin bertemu dengan keponakan saya. Ada hal penting yang harus saya bicarakan." Ucapnya meminta.
"Buka saja Pak." Perintah Al kepada Pak Slamet.
"Baik Pak."
"Dasar kacung ! Kamu belum tahu siapa saya sudah berani berlagak !" Umpatnya kepada Pak Slamet saat pintu gerbang mulai terbuka.
'Astaqfirullah ... Beda jauh dengan Mbak Tata yang halus, ini orang lebih tua tapi lebih judes, omongannya seperti orang tak berpendidikan.' Gumam Pak Slamet geram.
Kalau saja tidak ada Al sisihnya, mungkin sudah di tabok mulutnya yang pedas.
__ADS_1
"Silahkan tunggu sebentar, saya panggilkan Anita." Kata Al.
"Terimakasih Pak Al." Jawab Astrid genit.
Tak berapa lama, Tata sudah berada di pendopo bersama mereka.
"Bulek, Astrid, ada apa malam-malam begini ?" Tanya Tata heran.
"Ada apa, ada apa ? Bukannya kemaren saya sudah bilang sama kamu. Kenapa kamu tidak datang ke rumah !" Jawab Astrid ketus.
"Astrid, saya mohon jaga bicaramu. Ini sudah malam, lagipula kamu sedang bertamu di rumah orang." Kata Tata mengingatkan.
"Bulek hanya minta pertanggungjawaban darimu." Sela Bulek Rukmini.
"Pertanggungjawaban apa Bulek ?" Tanya Tata tidak mengerti kemana arah pembicaraan Buleknya.
"Andri datang ke rumah kami, kalau dalam jangka waktu dua minggu ke depan, kami tidak menyelesaikan hutang-hutang Paklek mu, dia akan sita rumah seisinya." Kata Bulek dengn nada tinggi dan mata melotot.
"Kenapa harus saya, lalu hutang itu untuk apa ?"
"Semua gara-gara kamu, karena kamu sudah mempermalukan Andri di tempat umum, jadi dia marah dan tidak mau lagi kasih tenggang waktu kepada kami." Kata Bulek lagi.
"Saya, saya tidak mengerti apa maksudnya ini Bulek."
"Sudah, jangan terlalu banyak tanya. Besok siang, saya tunggu kamu di rumah. Karena Andri dan keluarganya akan datang ke rumah." Kata Bulek tk henti-hentinya menyalahkan dia.
"Iya Bulek, besok saya akan datang ke rumah." Jawab Tata mengakhiri perdebatan ini.
"Ya sudah kalau begitu, saya pulang dulu."
"Awas kalau sampai besok jam 10, kamu tidak datang." Ancam Astrid.
"Mama." Panggil Nindya yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
Nama panggilan yang Dya berikan untuk Tata membuat Bulek Rukmini dan Astrid melongo dan menghentikan langkahnya.
Apalagi, setelah mereka benar-benar memastikan, kalau 'Mama' yang bocah kecil panggil tadi adalah Anita.
"Hei, anak siapa ini ? Kenapa dia memanggilmu Mama ?" Tanya Bulek penuh rasa curiga.
"Jangan-jangan, keponakan Ibu ini menjual diri, atau mungkin dia simpanan Pak Al Buk ?" Mulut ember Astrid mulai berulah.
"Huss ... Jangan ngawur kamu, mana mungkin dia sudah punya anak sebesar ini." Sanggah Bulek Rukmini
"Dya anak saya." Sela Al memotong.
"Eh, Pak Al. Maksudnya anak ini anak Pak Al ? Tapi kenapa memanggil keponakan saya 'Mama'." Tanya Bulek kepo.
"Itu tidak penting bagi kalian, yang jelas apapun yang menjadi urusan Tata, juga menjadi urusan saya." Jawab Al tegas.
Jawaban itu membuat keduanya melongo, sekaligus membungkam mulut mereka yang ember.
__ADS_1
Satu lagi ulah Al yang membuat Tata tidak bisa berbuat apa-apa.
'Kenapa Pak Al begitu rela masuk dalam kehidupan ku yang rumit ini.' Gumamnya dalam hati.
'Apa sebenarnya yang Pak Al inginkan dari saya ?'
Rasa bersalah dan hutang budi, itulah yang saat ini Tata rasakan.
Sejak pulangnya Bulek Rukmini dari rumah majikannya ini, Tata sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Dia keluar sekedar mencari angin malam. Dia tinggalkan Nindya yang sudah lelap dalam mimpinya.
"Kamu tidak bisa tidur juga ?" Sapa Al mengagetkan.
"Iya Pak, eh ... Pak Al sendiri, ngapain malam-malam begini di luar ?"
"Sama seperti kamu yang sedang memikirkan seseorang." Jawabnya penuh misteri. Pandangan matanya jauh menerawang di antara bintang yang bertaburan.
'Tapi, seseorang itu kamu Pak Al, bukan siapa-siapa. Berbeda dengan Pak Al, yang punya pujaan hati untuk dipikirkan dan diajak bicara bersama.' Pikir Tata dalam hati.
"Mungkin iya bagi Pak Al, tapi saya tidak Pak." Jawab Tata tak kalah dengan teka-teki.
'Apa kamu tidak pernah merasa, kalau yang sedang aku pikirkan itu kamu Tata.' Gumam Al dalam hati.
"Pak Al mau saya buatkan teh apa kopi mungkin ?" Tawarnya, menepis rasa canggung.
"Tidak, terimakasih."
Lama sekali mereka saling diam tanpa berbincang.
"Apa yang laki-laki itu perbuat dengan keluarga Pamanmu ?" Tanya Al memecah kebisuan.
"Saya belum tahu pasti Pak. Besok siang saya akan pergi untuk memastikan." Jawabnya.
"Jangan pergi sebelum saya pulang dari kantor."
"Maksud Bapak ?"
"Saya antar kamu ke rumah Pamanmu."
"Saya rasa, saya bisa sendiri Pak."
"Kamu tidak boleh keluar tanpa seizin dari saya." Jawab Al mempertegas.
"Dan satu lagi, selama berada di sana, jangan panggil saya Bapak. Kesannya saya terlalu tua." Omelnya sendiri.
Entah rencana apa yang akan Al lakukan di sana. Yang pasti, tugas Tata saat ini hanya menurut dan mengikuti instruksi saja.
________________
________________
__ADS_1
________________