
Malam semakin larut, kicau penghuni malam semakin menampakkan taringnya. Rasa kantuk menyelimuti, namun mata tidak bisa terpejam.
Anita kembali mengambil handphone nya yang sejak tadi sudah dia letakkan di atas nakas. Hening, sepi, tanpa ada satupun dering yang terdengar.
'Apa aku lupa menyalakan nada dering, atau mungkin habis kuota, sehingga tidak ada tanda-tanda notifikasi atau pesan masuk di dalamnya.' Komentar sisi hatinya.
"Bahkan sehari ini, tidak ada kabar dari Mas Al." Lirih nya sembari melirik jam yang terpampang di pojok kiri atas handphonenya.
Tata mencoba mencari nama 'Reza' yang ada di kontak handphonenya. Sejak pagi tadi dia ingin menghubungi, namun selalu dia urungkan.
Tut ... tut ... tut ...
Tanda panggilan telah masuk, namun tidak ada jawaban dari yang bersangkutan.
"Reza juga tidak angkat telepon ku. Apa dia juga sedang sibuk, sama seperti Mas Al." Pikirnya.
Dengan menghela nafas panjang, Tata kembalikan handphonenya di atas nakas. Dia tarik selimutnya lebih dalam. Ingin rasanya melepaskan rasa penat yang ada.
Drrttt ... ddrrrrttt ...
Belum sempat dia pejamkan mata dengan benar, getar dari handphone mengganggu pendengaran nya.
"Reza." Lirihnya, yang tadi tak terjawab, kembali menghubungi.
"Hallo Pak Reza." Jawab Anita tanpa mengucap salam.
"Hallo Bu, ada yang bisa saya bantu ?"
"Iya Pak, maaf saya mengganggu istirahat Bapak." Ucapnya basa-basi.
"Tidak apa-apa Bu."
"Apa Pak Reza sedang bersama Pak Al ? Soalnya handphone Mas Al dari tadi tidak bisa dihubungi."
"Maaf Bu, saya sedang di rumah ini. Kebetulan ada pekerjaan penting di kantor yang tidak bisa diwakilkan kepada yang lain, jadi saya tidak bisa ikut serta bersama Pak Al." Jawab Reza panjang kali lebar.
"Tapi, apa Pak Reza tahu, Mas Al perginya sama siapa ? Dan kira-kira kapan Mas Al kembali."
"Kebetulan Pak Al sendiri Bu, mungkin lusa Pak Al sudah kembali. Dan masalah handphone, baru saja sebelum saya menghubungi Ibu, saya berkomunikasi dengan Pak Al, mungkin sekarang bisa Ibu coba hubungi kembali." Jawabnya tak kalah panjang.
"Oh ya sudah, terimakasih Pak."
"Sama-sama Bu."
Anita mengakhiri percakapan mereka. Seperti yang disarankan asisten pribadi suaminya, dia coba menghubungi Al kembali.
Tapi lagi-lagi tidak tersambung. Dengan berat Tata letakkan kembali handphonenya di atas nakas. Sembari memeluk buah hatinya, dia paksa matanya untuk terpejam.
***
Kling ...
Satu lagi pesan gambar dia terima. Sebuah foto yang menggambarkan betapa bahagianya suaminya bersenda gurau di tengah-tengah sarapan pagi bersama seorang perempuan.
Dan perempuan itu, orang yang sama seperti foto yang di kirimkan sebelumnya.
"Siapa dia, apa aku mengenalnya ?" Lirihnya.
Kling ...
"Bingung ya Bu, mau jawab apa ? Jangan khawatir, informasi yang saya berikan dijamin akurat." Seloroh si pengirim pesan, yang sempat membuat Tata merasa jengkel disela-sela kesibukan paginya mengurus Nindya.
"Mama kenapa ?" Tanya Nindya, saat melihat Mama Tata melemparkan handphonenya di atas karpet lantai kamarnya.
__ADS_1
"Hhhhmmmm ... Gakpapa sayang, Mama tidak sengaja menjatuhkan nya tadi." Jawabnya merasa bersalah.
"Dya sudah siap ?" Tanya Eyang dari dalam kamar.
"Iya Eyang." Teriaknya.
Sejak kelahiran Baby Dzaki, Nindya kembali diantar dan dijemput Eyang waktu sekolah.
"Tata."
"Inggih Bunda."
"Apa peneror itu masih menghubungimu Nduk ?"
"Tidak Bunda."
Tapi Bunda Arum tahu kalau anak menantunya itu sedang berbohong.
"Nduk, jujur sama Bunda. Jangan ada yang kamu tutup - tutupi dari Bunda." Tegas Beliau.
"Tadi pagi, Tata masih menerima pesan dari orang itu Bunda." Jawabnya terpaksa bicara apa adanya.
"Siapa sebenarnya dia, dan apa maunya." Gumam Bunda lirih.
"Dya sudah selesai Eyang." Kata Nindya, usai menyelesaikan sarapan paginya.
"Ayo kita berangkat, pamit dulu sama Mama." Ajak Beliau.
"Dya berangkat sekolah dulu Mama." Pamitnya sembari mencium punggung tangan Mama Tata.
"Kerapian cek, buku pensil cek, bekal dan minum cek." Kata Mama Tata.
"Beres Mama."
"Thank you Mama."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kesendirian si rumah membuat anita teringat kembali akan foto-foto yang dia terima. Satu persatu dia buka dan lihat dengan seksama.
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
Handphone nya bergetar, tertulis 'Suamiku' pada layarnya. Tapi Tata masih diam tanpa menggerakkan tangannya sedikitpun.
"Itu Mas Al yang telepon, kenapa tidak diangkat Mbak ?" Tanya Mbak Watik heran.
"Gakpapa Mbak." Jawabnya sambil berlalu ke dalam kamar.
Telepon rumah berdering, tidak berapa lama setelah Anita tak terlihat lagi dari balik pintu kamarnya.
"Assalamualaikum, kediaman Kamandanu." Ucap Mbak Watik mengangkat teleponnya.
"Ini saya Mbak."
"Mas Al."
"Mbak Tata ada ?"
"Ada Mas di kamarnya."
"Bisa minta tolong panggilkan Mbak, saya hubungi handphonenya tidak diangkat."
__ADS_1
"Oh itu, anu Mas, tadi_"
"Kenapa Mbak ?" Potong Al.
"Tadi Mbak Ata masih di meja makan waktu Mas Al telepon. Tapi Mbak Ata membiarkan saja handphonenya berdering." Terang Mbak Watik.
"Memangnya kenapa Mbak ?"
"Saya tidak tahu Mas, kelihatannya ada yang tidak beres."
"Ya sudah Mbak."
Tut ... tut ... tut ...
"Lah, dimatiin." Keluh Mbak Watik, dan segera berlari menuju kamar majikannya usai meletakkan kembali gagang telepon di tempat nya semula.
Tok ... tok ... tok ...
"Ya Mbak." Jawab Tata, sembari membuka pintu kamarnya.
"Anu Mbak Ata, tadi Mas Al telepon."
"Iya, terimakasih Mbak."
"Lah, belum selesai ngomong udah main tutup juga." Ucapnya lirih.
Sadar dengan apa yang dia ucapkan, dia bungkam mulutnya sendiri.
'Ada apa ya, benar-benar ada yang tidak beres ini.' Kata hatinya kepo.
***
Sedangkan di sisi lain, Bunda Arum mencari tahu tentang keberadaan dan kebenaran foto-foto yang dikirim ke nomor WhatsApp menantunya. Beliau memulainya dari Reza, asisten Alfatih.
"Jadi, perempuan di dalam foto ini, adalah Hanifa ?"
"Saya rasa begitu Bunda, saya mengenali dari pakaian yang dia kenakan. Dan lagi, saya juga ada di situ waktu kejadian itu. Saya dan Pak Al bertemu Mbak Hanifa yang sudah dalam keadaan mabuk. Jadi Pak Al mengantarkan dia ke penginapannya." Terang Reza panjang lebar.
"Lalu ini, bagaimana dengan foto ini ?"
"Kalau ini, saya kurang tahu Bunda. Karena untuk acara ini, saya tidak ikut serta bersama Pak Al. Mungkin ini hanya sarapan biasa sebelum meeting dimulai." Terangnya lagi.
"Apa kamu yakin ?"
"Saya yakin Bunda."
"Tidak ada hal yang kamu sembunyikan dari saya ?"
"Tidak Bunda."
"Baik, terimakasih Za."
Selesai urusan dengan Reza, Bunda kembali ke sekolah Nindya, karena sebentar lagi waktunya Nindya pulang sekolah.
Handphone Bunda bergetar, Beliau menerima panggilan masuk ketika masih berada di dekat pintu mobilnya.
"Iya, baik, terimakasih, kabarkan segera kalau ada perkembangan." Begitu kata Beliau sebelum menyudahi pembicaraannya.
Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi Bunda Arum masih cekatan dalam bertindak. Apapun yang Beliau lakukan, selalu menyelesaikan masalah, dan semua informasi yang Beliau dapat dari orang-orang kepercayaan nya, hampir sembilan puluh sembilan persen akurat.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________