
Hari ini, hari ke sekian Baby A dirawat di rumah sakit. Dan hari ini pula, Dokter Dyah sudah mengizinkan untuk dibawa pulang. Karena kondisi kesehatannya sudah berangsur-angsur membaik.
"Kamu sudah siap ?" Tanya Al kepada istrinya.
"Aku sudah bosen di sini Mas, kangen suasana rumah." Jawabnya berkelakar.
"Aku tinggal sebentar tidak apa-apa ?"
"Gakpapa Mas."
"Ya sudah, aku tinggal urus administrasi dulu ya."
Anita mengangguk dengan senyum khasnya yang membuat rindu. Tak berapa lama Al keluar, segerombolan team medis datang memeriksa.
"Selamat pagi Ibu Anita." Sapa Dokter yang memeriksa pagi ini.
"Selamat pagi Dok."
"Wah...sudah siap kembali pulang ?"
"Alhamdulillah, saya sudah bosen terlalu lama disini Dok." Ucapnya lagi.
"Hahahaha, Alhamdulillah semua dalam kondisi baik ya. Sebentar lagi DeBay nya diantarkan ke sini." Kata Dokter.
"Terimakasih Dok."
Tidak sabar rasanya ingin menggendong dan menyusui langsung putranya. Selama dalam perawatan, Anita hanya bisa melihatnya dari balik ruang kaca. Memberikan asi juga melalui suster yang menjaganya.
"Assalamualaikum Mama." Sapa seorang Suster yang mengantarkan Baby A kepadanya, seperti yang Dokter janjikan tadi.
"Wa'alaikumsalam, Masya Allah kesayangan Mama."
Perlahan Tata menerima bayinya. Dia begitu kecil dan ringkih. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, persis seperti Papa Al. Tapi jika dilihat seksama, lebih cenderung mirip Mama Tata.
'Mama yakin kamu kuat Nak, sehat ya kesayangan Mama.' Ucapnya dalam hati.
"Ini semua perlengkapan Baby A ya Bu, tinggal menunggu Bapak masih bicara dengan Dokter, langsung bisa segera pulang." Kata Suster menjelaskan.
"Terimakasih Sus."
"Sehat-sehat ya Dek." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Ibu dan anak itu di ruang rawat inapnya.
***
Sedangkan di dalam kediaman keluarga Alfatih, sudah riuh dengan persiapan penyambutan kedatangan keluarga baru mereka.
Terutama Nindya, dia yang paling antusias dengan hadirnya adik bayi laki-lakinya.
"Eyang, Dya boleh gendong Dede' bayi enggak ?"
"Sayang, nanti kalau kamu sudah besar, adek bayi juga sudah kuat, baru boleh gendong."
"Ooo ... " Itu saja komentarnya.
Nindya paham, apa yang Eyang dan kedua orangtuanya larang, bukan berarti mereka tidak sayang, tapi Dya tahu kalau itu demi kebaikan dia juga.
Din ... din ... din ...
"Itu Papa Eyang." Teriak Nindya yang hafal betul bunyi klakson Papa Al.
Tanpa menunggu aba-aba dari Eyang nya, Nindya sudah berlari menuju sumber suara.
Banyak orang yang menyambut kedatangan mereka. Baik dari keluarga, maupun tetangga terdekat. Terlihat ada Bulek Rukmini dan Paklek Arman juga disana.
"Hati-hati Nduk, ayo segera bawa putramu ke dalam." Kata Eyang Buyut, yang juga hadir diantara keluarga besar Kamandanu.
"Mama !" Teriak Nindya.
"Dya, pelan-pelan, Mama kamu masih sakit !" Cegah Bulek Rukmini dengan ekspresi tegangnya.
"Gakpapa Bulek." Sahut Tata pelan.
__ADS_1
Nindya yang merasa sedang dimarahi, langsung berpaling dan berlari ke kamarnya.
"Dya, sayang." Panggilan Mama Tata tidak dia dengar.
"Sudah, biar Bunda yang bujuk." Kata Bunda yang lebih paham bagaimana membujuknya.
"Mas, susul Dya." Pinta Tata kepada Alfatih.
"Halah, kebiasaan kamu itu. Kalau gak dilatih dari kecil, nanti besarnya ngelamak." Oceh Bulek Rukmini, saat Al meninggalkan mereka untuk membujuk Nindya.
"Jangan samakan aku dengan Nindya Bulek." Jawab Anita.
"Samakan apanya, Bulek cuma mengingatkan kamu, didik dia dengan benar, agar tidak jadi anak manja."
"Tapi bukan dengan kekerasan dan kata-kata yang kasar Bulek." Bantah Anita.
"Kalau tidak dikasar, tidak ada yang dia takuti." Jawabnya kolot.
"Bulek tenang saja, saya tahu apa yang harus saya lakukan, dan saya tahu mana yang baik atau tidak untuk anak-anak saya." Bantah Tata lagi.
"Terserah kamu, Bulek hanya mengingatkan, kalau statusmu lebih kuat di rumah ini, dibandingkan bocah tadi."
Ingin rasanya Tata melanjutkan perdebatan mereka, tapi tiba-tiba terdengar seseorang menuju kamarnya.
Ceklekk ....
Mulut Bulek Rukmini serasa dibungkam, saat Al membuka pintu kamarnya.
"Bagaimana Dya Mas ?"
"Gakpapa, nanti juga tenang sendiri. Mungkin dia sensi karena ada adiknya." Jawab Al.
"Enggak Mas, Nindya tidak seperti itu. Dia ngambek karena Bulek mencegahnya tadi." Sanggah Tata.
Memang benar, tapi Al masih menjaga perasaan Bulek Rukmini yang masih ada diantara mereka.
"Gakpapa, namanya juga anak-anak." Jawab Al lebih bijak.
Mereka sedang menyiapkan acara tasyakuran akikah sekaligus menyambut kelahiran putra mereka.
"Terimakasih Bulek, saya bisa minta tolong Mbak Watik nanti." Jawab Tata tidak mau merepotkan.
'Bulek - bulek, sudah kebiasaan gak bisa dirubah.' Gumam Tata dalam hati.
***
Hari semakin gelap, tamu undangan semakin banyak berdatangan. Mulai dari saudara, tetangga sekitar sampai karyawan terdekat Alfatih, semua hadir untuk mendoakan.
Lantunan ayat suci Al-Quran diiringi sholawat, terdengar begitu menyejukkan. Lagi-lagi, air mata Mama Tata tak mampu dia bendung lagi.
"Selamat ya Mbak."
"Selamat Bu Al."
"Mbak Ata, selamat atas kelahiran baby nya."
Ucapan selamat dan do'a banyak dia terima.
"Masya Allah, ganteng sekali."
"Iya, mirip Papanya."
"Enggaklah anak cowok cenderung mirip Mama nya."
"Cowok kan, pasti Papanya dong."
Begitu komentar diantara mereka.
"Selamat ya Nduk, semoga menjadi putra yang sholeh." Kata Ibu Ranti yang datang bersama rombongan dari rumah singgah.
"Terimakasih doanya Yang Ti." Jawabnya.
__ADS_1
"Siapa namanya Nduk ?" Tanya Beliau kembali.
Nama ?
Kenapa aku sampai lupa ?
Siapa namanya ?
"Althaf Faisal Dzaki wijaya" Kali ini Al yang menjawab, di dalam kebingungan yang Tata rasakan.
"Subhanallah, nama yang indah." Komentar mereka sebelum akhirnya berpamitan, pergi meninggalkan kediaman keluarga besar Kamandanu.
Al membawa putranya, dia tidurkan di ranjang yang sudah mereka pesan sebelumnya. Ranjang khusus yang lebih hangat untuk tubuh mungilnya.
"Tidurlah sayang, sudah larut." Ucapnya tanpa menoleh ke arah istrinya.
'Terimakasih Mas, engkau selalu ada disaat aku membutuhkan. Meskipun terkadang kamu penuh dengan misteri, tapi aku tetap sayang kepadamu.' Kata Tata dalam hati dengan senyum manisnya.
Bukan hanya senyum yang tersungging di bibirnya, tapi ada mata yang berkaca-kaca menghiasi wajahnya. Pandangan kosong menatap wajah suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan ?" Tanya Al yang sudah berada tepat di hadapannya.
"Kamu." Jawabnya singkat, masih dengan tatapan tanpa arah.
"Ada apa denganku ?" Tanya Al dengan wajah heran. Al senang menggoda istrinya yang selalu melamun, seperti saat ini bicaranya tidak fokus.
"Kamu yang selalu ada di dalam pikiranku. Kamu harta yang paling berharga yang membuatku takut kehilanganmu." Gumamnya lirih tanpa sadar.
Cccuupp ...
Lembut tapi mantap, Al meraih bibir Anita.
"Mas Al." Protesnya.
"Apa ?"
"Kebiasaan ah..."
"Apanya ?"
"Ngagetin !"
"Bukannya dari tadi kita sudah bicara ?"
"Bicara apa ?"
"Tuh kan, jadi dari tadi aku bicara sendiri ?"
"Masak sih."
"Kamu yang kebiasaan, ditanya apa jawabnya apa." Gerutu Al.
Tata segera memeluk suaminya, disaat Al mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Love you Mas."
"Love you too."
"Love you three."
"Love you four."
"Love you more."
Balasan terakhir dari Tata menyudahi canda mereka.
Satu lagi kebahagiaan yang tak terkira di dalam hidup Anita. Suami tampan dan pengertian, kehadiran dua belahan hati yang menggemaskan.
____________________
____________________
__ADS_1
____________________