
"Ya hallo."
"Iya, saya sendiri Pak."
"Iya Pak, baik, baik Pak."
"Terimakasih banyak Pak."
Hanifa tersenyum bahagia dan terlihat sangat sibuk usai menerima panggilan dari selulernya.
"Ma, Mama." Panggilnya kepada Oma Ratri.
Tangannya masih sibuk mengaduk-aduk isi lemari di kamarnya.
"Ada apa Ifa, kok teriak-teriak sampai ke belakang suaranya." Jawab Oma Ratri.
"Ifa di terima kerja Mu, dan posisinya lumayan bagus, sebagai kepala bagian pemasaran." Ucapnya girang.
Namun, Oma Ratri terlihat tidak suka dengan kabar gembira yang Hanifa berikan.
Dunia marketing adalah dunia Hanifa saat masih berstatus single. Tapi dunia itu seakan hanyut, sejak dia melepas masa lajangnya.
Dan sekarang, dia merindukan dunia itu kembali. Apalagi sejak meninggalnya sang suami, semakin hari rasa jenuh berdiam diri di rumah membuat jiwanya yang energik bergejolak ingin berkarya.
Dari situlah, perusahaan tempat dimana dia melamar pekerjaan, melihat prestasi yang pernah dia raih selama berkarya di dunia pemasaran, membuat sebuah perusahaan properti mengangkatnya sebagai kepala bagian pemasaran.
Itu artinya, Hanifa yang dulu telah kembali lagi dan siap berkecimpung pada keahliannya.
"Kamu yakin akan bekerja lagi Nak ?" Tanya Oma Ratri masih belum percaya dengan keputusan putrinya.
"Iya Ma, ini kesempatan bagus buat Ifa." Jawabnya, masih dengan kesibukannya memilih-milih pakaian mana yang pantas dia kenakan untuk mendatangi interview nanti.
"Tapi Fa, bagaimana dengan Regina, dia masih banyak butuh perhatian kamu." Protes Oma Ratri yang khawatir dengan kesibukan Hanifa jika dia sudah aktif kerja nanti.
Bukan tanpa alasan, semua berdasarkan pengalaman yang ada. Dulu, disaat dia masih bekerja di bidang yang sama, habis waktu dia untuk bekerja. Bahkan hampir tidak sekalipun Hanifa bisa mengikuti acara keluarga.
Oma Ratri takut, hal itu akan terulang lagi. Meskipun Hanifa sendiri menyadari, kalau Hanifa yang sekarang, bukanlah Hanifa yang dulu.
"Mama tenang saja, aku pasti bisa membagi waktuku untuk Regina." Jawabnya berusaha meyakinkan Ibunya.
"Mama harap juga begitu." Kata Oma Ratri yang sedikit kecewa.
"Tapi, Ifa minta maaf, karena lagi-lagi Ifa harus merepotkan Mama untuk menjaga Regina."
"Tidak apa-apa Nak, Mama senang kalau Gina bisa bersama Mama setiap hari. Meskipun, sebenarnya, Mama kurang setuju dengan keputusanmu untuk bekerja." Kata Beliau, masih dengan nada kecewa.
"Ma, semua Ifa lakukan demi Regina juga. Ifa hanya butuh do'a restu Mama, agar apa yang Ifa kerjakan berjalan lancar." Pintanya.
"Tentu Nak, tentu."
Ketulusan hati seorang Ibu memang tiada duanya. Terkadang, memang kita yang terlalu egois. Disaat sudah gugur kewajiban seorang ibu untuk merawat kita, tapi kita masih saja merepotkan Beliau untuk menjaga anak-anak kita.
__ADS_1
"Terimakasih Ma."
Oma Ratri mengangguk dan meraih tubuh putrinya, keduanya saling berpeluk saling melepaskan rasa kasih dan sayang.
"Oma, Mama, ada apa ?" Tanya Regina yang merasa heran dengan sikap Mama dan Omanya.
"Sini sayang, ada yang mau Oma sampaikan." Jawab Oma Ratri, sembari melambaikan tangan, mengajak Regina untuk bergabung.
Dengan langkah kecilnya yang setengah berlari, Regina melompat ke dalam pangkuan Oma Ratri.
"Gina, mulai besok Mama harus bekerja. Jadi selama Mama bekerja, Gina sama Oma ya." Kata Beliau memberikan pengertian.
"Bekerja ? Kenapa Oma ?"
"Semua orang di dunia ini memang harus bekerja Nak, begitu juga dengan Mama. Regina juga, nanti kalau Regina sudah besar, Regina juga akan bekerja."
Kali ini Regina terdiam, tanpa komentar. Oma sendiri tidak mengerti, apakah dia bisa menerima alasan kenapa Mamanya harus bekerja, atau memang sudah paham dengan keterangan yang Oma berikan.
"Mama kerjanya jauh gak ?" Pertanyaan kali ini dia tujukan untuk Mamanya.
"Enggak sayang, tempat kerja Mama, satu arah dengan sekolah Gina. Jadi, kita bisa berangkat bersama." Jawab Hanifa berusaha membuat anaknya senang.
"Kalau Mama kerja, Gina sama siapa ?" Keluhnya.
"Kan ada Oma sayang, Oma akan temani Gina." Jawab Oma sembari memeluk lembut cucunya.
"Gina, Mama lakukan semua ini buat Gina, buat masa depan Gina. Yang penting, Gina baik-baik sama Oma, gak boleh nakal, belajar yang biar pinter." Sambung Hanifa memberikan pengertian.
Melihat Regina terdiam untuk sesaat, Hanifa memeluk putrinya. Tak terasa butiran bening mengalir di pipinya.
'Maafkan Mama Nak, mungkin, jika Papa masih ada, Mama tidak akan kembali bekerja. Meskipun sebenarnya, apa yang Papa tinggalkan cukup untuk kita sehari-hari.' Keluh Hanifa dalam hati.
Sebenarnya, meskipun tidak kembali bekerja, Hanifa masih punya penghasilan dari apa yang suaminya tinggalkan. Tapi namanya manusia, terkadang masih belum merasa cukup, apalagi kalau bicara tentang kepuasan.
***
"Bye sayang, baik-baik ya di sekolah." Pamit Hanifa saat mengantar Regina ke sekolah.
Gina tidak menjawab, dengan malas, dia membalas lambaian tangan Mamanya.
"Ifa jalan dulu ya Ma."
"Hati-hati di jalan Fa, semoga semua berjalan lancar." Jawab Oma Ratri.
"Aamiin, makasih Ma."
Hanifa melajukan kendaraannya keluar gerbang sekolah, bersamaan dengan kedatangan kendaraan Anita.
"Gina." Panggil Dya saat menemukan sahabatnya.
"Dya."
__ADS_1
Keceriaan Regina telah kembali, saat bertemu Nindya.
"Mama, Dya ke dalam ya ?"
"No, no ,no ... Jangan berlari." Kata Mama Tata melarang.
"Iya Ma."
"Kerapian cek, bekal cek, PR sudah diselesaikan ?" Tanya Mama Tata kembali memastikan.
"Sudah semua Mama."
"Oke, sisanya have fun."
"Thank you Mama, emmuach."
"Emmuach ... Hati-hati ya Nak."
"Ayo Gina." Ajaknya menuju ruang kelas."
Tinggal Mama Tata dan Oma Ratri yang masih menunggu.
Sebenarnya, Regina dan Nindya sudah berani ditinggal sendirian. Tapi karena jarak dan waktu yang mengharuskan orang tuanya untuk menunggu.
"Oma, sehat Oma ?" Sapa Tata.
"Alhamdulillah, sehat Nak. Bagaimana kandungan kamu ?" Jawab Beliau kembali bertanya.
"Alhamdulillah, semua sehat Oma."
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh ya, Hanifa apa kabar, lama sekali tidak ketemu." Ucap Tata basa-basi, atau mungkin rasa penasaran dan
"Alhamdulillah, Ifa baik Nak. Mungkin kedepannya, dia akan sedikit sibuk. Jadi tidak bisa antar sekolah."
"Sibuk apa Oma ? Maaf, maksud saya, apa Hanifa ada kegiatan baru ?" Tanya Tata pemasaran.
"Iya Nak, mulai hari ini, Ifa bekerja. Dia kembali ke dunia pemasaran, seperti yang pernah dia kerjakan waktu masih single dulu." Jawab Oma.
"Oh, syukurlah Oma. Semoga apa yang menjadi harapan Hanifa terkabul." Komentar Tata.
"Aamiin, terimakasih Nak."
Mungkin memang Hanifa berhasil membuat hatinya terbakar api cemburu. Namun Anita lebih bisa menenangkan hatinya dan tetap bersikap baik kepada Hanifa dan keluarganya.
Tata yakin dan percaya kepada Al suaminya, kalau dia tidak akan mungkin berbuat hal yang akan menyakiti hatinya.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________