Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 78. Lari Pagi


__ADS_3

Hawa dingin terasa menusuk ulu hati. Masih dengan mata terpejam, Tata meringkuk, menarik selimutnya ke atas sampai batas leher. Namun, tebalnya selimut yang dia kenakan, masih bisa memberi ruang dingin, untuk menyusup ke dalam.


Melihat apa yang dilakukan istrinya, Al yang sudah terjaga sejak pukul tiga dini hari, kembali ke ranjang, berusaha memberikan kehangatan dengan sebuah pelukan.


Merasa ada sebuah kenyamanan, Tata menggeser tubuhnya, menyusup lebih dalam, merasakan sebuah kehangatan.


Hingga sebuah kecupan dia rasakan dingin di keningnya.


"Mas Al." Ucapnya ketika perlahan mulai membuka matanya.


"Selamat pagi bidadariku." Jawab Al lirih, menyanjung istrinya.


Sebuah senyuman manis tersungging pada keduanya.


"Eh, mau kemana ?" Tanya Al saat Tata berusaha untuk bangun dari tidurnya.


"Jam berapa ini, aku belum siapkan baju Mas untuk ke kantor." Ucapnya panik.


"Hari ini, aku akan di rumah sepanjang hari menemanimu." Jawabnya tersenyum.


"Jangan bercanda ah."


"Siapa yang bercanda, sudah, kita tidur lagi saja."


"Tapi Mas_"


"Ssattt ... tidak ada tapi-tapi." Ucap Al membungkam bibir istrinya.


'Jika aku boleh memilih, aku ingin terus dipelukmu setiap hari seperti ini Mas.' komentarnya di dalam hati.


Tok ... tok ... tok ...


"Mommy, Papa." Teriak Nindya membangunkan.


"Iya sayang." Jawab Al dari dalam.


"Ayo kita lari pagi Papa." Pintanya kembali.


Al melirik ke arah istrinya, seakan meminta persetujuan dari dirinya.


"Hayuk, mumpung cuaca sedang bagus." Jawab Mama Tata tak kalah lantang dari Nindya.


"Dya tunggu ya Ma."


"Iya sayang, Mama ganti baju dulu."


Masih dengan tatapan heran, Al memandangi wajah istrinya.


"Kenapa Mas ?" Tanya Tata ikut heran dengan tingkah suaminya.


"Yang diajak siapa, yang jawab siapa."


"Kenapa, memangnya gak boleh, aku ikutan joging ?"


"Ya bukannya gak boleh, tapi cuacanya sedang musim dingin lo ini." Kata mengingatkan.


Secara, Al tahu kalau Tata pernah mengalami sesak karena alergi dingin. Dan dia tidak mau hal itu terjadi lagi pada dirinya.


"Gakpapa Mas, dengan jalan-jalan, bisa meningkatkan suhu tubuh biar lebih hangat."


"Oke, berangkat." Jawab Al yang sudah lebih dahulu selesai berganti pakaian.


Di luar kamarnya, sudah ada Nindya yang bersiap untuk joging pagi ini. Dya begitu sangat antusias, apalagi ditemani Mama sama Papanya.


"Pelan-pelan sayang." Pinta Papa Al saat Dya mulai asyik berlari di sekeliling taman alun-alun.

__ADS_1


"Ayo Papa, kejar Dya." Tantangnya.


"Kasihan Mama dong." Tolak Papa Al.


"Gakpapa Mas, aku istirahat sebentar di sini. Mas ikutin Dya gih." Kata Mama Tata yang sudah mulai merasa lelah.


Tata memilih untuk beristirahat sejenak, duduk di kursi yang ada di taman, sembari menghirup udara segar.


"Kamu, gakpapa Mas tinggal sendiri ?"


"Gakpapa Mas, buruan gih, keburu Dya jauh larinya."


"Oke, wait in hear." Pinta Al sembari berlalu pergi mengejar Nindya.


Tata tersenyum melihat tingkah Al yang sesekali menengok ke belakang sembari berlari. Seolah tidak mau pandangan matanya lepas dari istrinya.


Sudah hampir jauh di balik sisi sebelah taman yang berseberangan dari tempat Tata menunggu, Al kehilangan putrinya.


'Dya, dimana kamu Nak ?' Resahnya dalam hati.


Pandangan mata Al menyapu seluruh sudut taman, tapi belum juga dia temukan putri kecilnya.


"Papa !"


Suara lantang Nindya terdengar nyaring di telinganya.


'Ya Allah Dya, bikin Papa khawatir.' Ucapnya dalam hati, saat dia temukan Nindya berada di area bermain yang ada di taman.


Tapi Dya tidak sendirian, ada banyak anak di sana. Mungkin mereka punya tujuan yang sama seperti Nindya saat ini. Ingin menghabiskan weekend bersama keluarganya.


Namun, ada seorang yang terlihat sangat menonjol diantara mereka. Al merasa tidak asing dengan anak itu, dan dia terlihat begitu dekat dengan Nindya.


'Apa dia teman sekolah Nindya ya ?'


Al mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat.


"Iya sayang, jangan jauh-jauh mainnya. Mama kan di taman sebelah sana." Kata Papa Al sembari menunjuk ke arah sebaliknya.


"Maaf Papa, tapi Dya ketemu Regina Papa. Ini Regina teman sekolah Dya." Ucapnya memperkenalkan.


'Regina ? Regina putrinya Hanifa ?' Lagi-lagi Al berusaha mengingat semua cerita tentang Regina.


Meskipun banyak hal yang dia dengar tentang Regina dan Mamanya, tapi Al belum pernah bertemu dengan putri mantan penggemarnya itu.


"Papa." Panggil Nindya membuyarkan lamunannya.


"Oh, iya sayang. Hallo Regina, apa kabar ?" Sapanya.


"Hallo juga. Salam kenal Papa Nindya." Jawabnya sopan.


'Persis seperti Mamanya." Gumam Al dalam hati.


"Gina sama siapa ?" Tanya Al kembali.


"Sama Mama Om, tapi ... "


Ucapannya terhenti, saat matanya menoleh kemana-mana dan tidak mendapati Mamanya disekitar sana.


"Hallo sayang, maaf ya, tadi Mama ketemu sama teman Mama sebentar." Suara seorang perempuan yang mendekati Regina.


Dia sebut 'Mama' dan suara itu sudah pasti Al mengenalnya.


"Mama, ada Nindya disini."


"Oh ya, mana ?" Tanya Hanifa sembari melihat ke arah pandangan mata putrinya.

__ADS_1


"Hallo sayang, Mama mana ?" Tanya Hanifa yang belum menyadari keberadaan Al di samping Nindya.


"Hallo Tante, Mama sedang istirahat di taman sebelah sana." Jawabnya menunjuk le arah berlawanan.


"Oh, jauh sekali. Dya sama siapa ke sininya ?"


Nindya menoleh ke arah Papanya yang masih diam berdiri di sampingnya.


"Al." Ucap Hanifa setengah menyapa.


"Hai." Balas Al singkat.


"Gina, ayo main prosotan lagi." Ajak Nindya.


"Boleh ya Ma ?"


"Iya, hati-hati ya Nak."


"Iya Mama." Jawab mereka serentak.


Kepergian Nindya dan Regina kembali bermain, seolah memberikan ruang untuk Hanifa bisa berbincang dengan Al.


'Kenapa jantungku berdetak kencang, perasaan apa ini.' Keluh Hanifa dalam hati.


"Apa kabar Al ?" Sapanya kembali mencairkan suasana.


"Alhamdulillah, baik."


Mereka berjalan ke sisi yang dekat dengan arena bermain, agar lebih mudah mengawasi putrinya. Entah siapa yang mulai terlebih dahulu, yang jelas, keduanya sudah duduk di sebuah kursi taman yang tersedia.


Jika diperhatikan, terlihat sebuah perbincangan diantara keduanya.


"Syukurlah, lama kita tidak bertemu. Kamu sudah banyak berubah." Kata Hanifa sedikit gugup.


Entah pujian atau ungkapan karena melihat keadaan, yang dia ucapkan.


"Berubah, tidak ada yang berubah. Aku masih sama seperti dulu." Komentar Al sembari tersenyum tipis.


"Beda denganku Al, banyak sekali perubahan yang aku rasakan dalam hidupku." Gumamnya sendiri.


Al hanya diam tanpa komentar. Dia sendiri bingung, apa yang akan dia katakan.


Masih terngiang dibenak Al, waktu Kinanti meminta untuk mengenal Hanifa lebih dekat, tapi Hanifa malah membuatnya tengsin dengan kedekatannya pada pria lain, sejak saat itulah rasa simpati di dalam hatinya sudah hilang.


Meskipun sebenarnya, Hanifa melakukan itu karena dia tahu bahwa sebenarnya Al lebih menyukai Kinanti dan demi sahabatnya itulah, Hanifa rela mengorbankan perasaannya sendiri.


"Aku sempat kaget, waktu pertama kali bertemu dengan istrimu. Aku pikir dia seperti Kinanti yang kembali." Kata Hanifa mengenai Tata, istrinya.


"Ya, semua orang bilang begitu." Komentarnya.


"Bukan hanya dari segi fisik Al, bahkan hatinya juga mirip dengan Kinan." Gumamnya lagi.


"Kamu sendiri, suamimu, apa kabar ?" Tanya Al mengalihkan pembicaraan.


"Aku, Aku janda Al. Papa Gina meninggal beberapa bulan setelah Kinan meninggal." Ucapnya lirih.


"Oh, maaf."


'Bodohnya aku, padahal Nindya pernah cerita waktu itu, kalau Papa Regina sudah meninggal.' Komentar Al dalam hati, waktu mengingat kembali rangkaian cerita tentang Regina.


Meskipun sedikit terlihat masih kaku, tapi lambat laun keduanya terlihat akrab. Bahkan, terkadang ada sedikit canda tawa, saat cerita di masa lalu terungkap kembali.


__________________


__________________

__ADS_1


__________________


__ADS_2