
"Ifa, kenapa kamu belum siap ? Sudah jam berapa ini ?" Tanya Oma Ratri kepada Hanifa.
"Ifa, tidak usah berangkat ya Ma." Jawabnya lirih.
"Gak berangkat bagaimana, gak bisa begitu dong Nak, ini kita diundang langsung lo sama Bunda Arum. Gak enak kan kalau harus nolak." Kekeh Oma Ratri.
"Tapi, Ifa merasa gak enak badan Bunda." Rintihnya memohon.
"Sebentar saja, gak akan lama. Selesai makan malam kita pulang." Pinta Oma tak kalah kekeh.
"Ayo Mama, Gina sudah siap."
"Iya Nak, Mama siap-siap dulu ya."
"Nah, gitu dong. Lagian tumben kamu malas-malasan gitu, biasanya paling semangat kalau mau ketemu Al." Canda Oma Ratri.
'Mama tidak tahu, apa yang sedang aku rasakan saat ini.' Keluhnya menghela nafas panjang.
Oma Ratri dan Gina meninggalkan Hanifa yang masih bersiap di kamarnya.
"Ada acara apa di rumah Al, kenapa hatiku merasa tidak tenang ?" Ucapnya lirih.
Entah ketakutan apa yang sedang Hanifa rasakan.
'Apa sebaiknya aku tidak datang, tapi bagaimana dengan Mama dan Gina, mereka pasti akan ribut sendiri.' Gundahnya dalam hati.
"Mama, ayo buruan, Dya sudah menunggu." Teriak Regina dari luar.
"Iya sayang, ayo berangkat."
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Alfatih, Hanifa hanya diam tanpa bicara sedikitpun. Kelihatan sekali ada kegelisahan pada raut wajahnya.
"Ifa." Panggil Oma Ratri mengagetkan.
"Hhmmmm." Jawabnya tanpa membuka mulut.
"Ada apa ? Apa ada masalah ?" Tanya Oma melihat kegundahan pada diri putrinya.
"Hah, enggak, gak ada apa-apa Ma." Jawabnya gugup.
"Tidak biasanya kamu seperti ini. Apa benar cuma karena gak enak badan saja ?" Selidik Oma Ratri.
"Iya Ma, Ifa hanya kecapekan saja. Lagi banyak pekerjaan di kantor, bikin pusing." Ocehnya sendiri.
"Ya sudah, untuk kali ini saja, jangan pikirkan pekerjaan. Kita bersenang-senang seperti acara-acara sebelumnya." Pinta Oma Ratri.
"Iya Ma."
Hanya jawaban 'iya' yang bisa membuat Mama Ratri berhenti bertanya. Dengan jawaban itu, Mama Ratri cukup tenang dan tidak terlalu khawatir lagi.
***
__ADS_1
•Kediaman Keluarga Alfatih
Bukan hanya Hanifa yang gelisah, Anita juga. Bahkan dia merasa lebih sakit dibanding sakit yang tadi diutarakan Hanifa kepada Ibunya.
'Apa yang Bunda rencanakan, kenapa tiba-tiba Beliau mengadakan jamuan makan malam mendadak seperti ini.' Tanya anita dalam hati.
Memang, sengaja Bunda tidak memberi tahu perihal acara yang Beliau adakan malam ini. Bukan bermaksud mengabaikan, tapi semata-mata tidak ingin membuat menantunya kerepotan.
"Sayang, undangan Bunda sudah banyak yang hadir, kita segera turun yuk ?" Ajak Al sembari merapikan kancing kemejanya.
Tata tidak menjawabnya, matanya tajam menatap suaminya dari cermin rias yang ada di hadapannya saat ini.
'Bahkan, Mas Al tampak begitu bahagia.' Rintihnya dalam hati.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, hhmmm ... ?" Ucapnya tepat di dekat telinga Anita.
"Gakpapa, malam ini Mas kelihatan sangat tampan." Pujinya menutupi kegelisahan hatinya.
'Ya, Mas Al memang selalu memukau. Tidak heran jika banyak kaum hawa yang terlena.' Kata hatinya, yang membuat sesak di dada.
"Kamu juga cantik, lebih cantik dari semua perempuan yang ada di dunia ini." Balasnya Al sembari menatap lekat wajah istrinya.
'Bahkan, sekarang kamu pandai menggombal Mas.' Komentar hatinya.
"Mbak Ata, tamu-tamu sudah banyak yang datang." Teriak Mbak Watik dari luar.
"Iya Mbak, sebentar lagi kami turun."
Entah apa tujuan Beliau, tapi bagi Anita hal itu terdengar sangat tabu. Namun, apapun itu Tata harus tetap menyuguhkan senyum manisnya.
"Jeng Ratri, Hanifa, selamat datang. Mari silahkan-silahkan." Terdengar sapaan Bunda begitu sempurna.
"Terimakasih Jeng Arum, maaf kami datang sedikit terlambat." Jawab Oma Ratri.
"Tidak masalah, yang penting Jeng Ratri bisa hadir."
Obrolan Bunda masih seperti yang dulu, selalu semangat jika bertemu teman-teman nya. Begitupun dengan Nindya yang sudah larut di tempat favoritnya bermain dengan Regina pada ruang yang berbeda saat ini.
Namun ada yang berbeda. Hanifa yang biasanya lebih dulu menyapa dan banyak bicara, kali lebih memilih untuk diam.
"Hai Fa, apa kabar ?" Sapa Tata mendahului.
"Oh, hai... baik-baik, kamu sendiri, apa kabar ?" Jawabnya membalas sapaan Anita.
"Yah, seperti yang kamu lihat."
"Ah, syukurlah. Lama kita tidak bertemu." Kata Hanifa basa-basi.
Obrolan mereka berdua pun terdengar canggung.
Terkadang ada perasaan geram di dalam hati Anita, jika mengingat kembali beberapa foto yang pernah dia terima.
__ADS_1
'Jika tidak menjaga kehormatanku sebagai tuan rumah, mungkin aku sudah hilang kendali.' Teriaknya dalam hati.
"Ifa, lama sekali kita tidak berjumpa ya." Kali ini Bunda Arum yang menyapa, disela-sela perjamuan makan malam mereka.
"Oh, iya Bunda."
"Bagaimana, pekerjaan mu ? Lancar ?"
"Alhamdulillah, lancar Bunda." Jawab Hanifa mulai resah. Akhir-akhir ini, hatinya sedikit sensitif jika membicarakan pekerjaan.
'Ada apa dengan Bunda ? kenapa Bunda begitu perhatian dengan Hanifa.' Komentar sisi hati Anita.
"Kalau senggang, sering-sering ajak Gina main seperti dulu lagi." Lanjut Bunda, setelah melihat keakraban cucunya.
"Iya Bunda." Jawab Hanifa singkat.
'Bunda apaan sih.' Protes Tata dalam hati.
Acara demi acara sudah berjalan lancar. Beberapa tamu undangan juga mulai berpamitan satu persatu.
"Jeng Arum, kami pamit dulu ya. Terimakasih atas undangannya." Kata Oma Ratri.
Terlihat jelas pada raut wajah Hanifa yang merasa lega di dalam hatinya.
'Cuma seperti inikah, repot-repot Bunda mengadakan acara ?' Lagi-lagi sisi hati Anita menggerutu.
"Tunggu Jeng, ada yang ingin saya sampaikan." Jawab Bunda mencegah.
"E, tapi, Gina sudah mulai ngantuk Bunda." Kata Hanifa memotong pembicaraan Mamanya.
"Tidak apa-apa, biar Watik jaga mereka dulu. Lagipula bukankah mereka sudah terbiasa tidur bersama." Jawab Bunda Arum.
"Ada apa Jeng Arum, apa ada yang penting yang akan Jeng Arum sampaikan ?" Tanya Oma Ratri penasaran.
"Ya, ini sangat penting. Karena menyangkut harga diri dan martabat kita sebagai orang jawa." Jawab Bunda tenang.
Hanifa sudah merasakan panas dingin pada dirinya.
"Maksud Jeng ?" Tanya Oma Ratri masih belum mengerti.
Tanpa banyak bicara, Bunda meminta Reza, asisten pribadi Al untuk memutar video dan foto-foto yang hampir menjadi boomerang di dalam hidupnya.
Oma Ratri membungkan mulutnya sendiri, entah kisah apa yang sedang dia lihat saat ini. Yang jelas, perasaan marah, geram dan emosi campur aduk di dalam hatinya.
'Ternyata diam-diam, Bunda merencanakan ini untukku. Sebuah perangkap untuk menyelesaikan hirup pikuk kecil di dalam rumah tanggaku.' Kata hati Anita.
__________________
__________________
__________________
__ADS_1