
Malam semakin larut, tatkala mata seorang Anita tak lagi bisa terpejam. Dia buka pintu kaca balkon kamarnya. Semilirnya angin malam terasa lembut membelai pori-pori di wajahnya.
Namun, malam yang semakin larut takkan pernah benar-benar hening. Berbagai macam nyanyian penghuni malam, semakin merdu terdengar.
Entah kenapa, Tata ingin sekali menikmati indahnya malam meskipun tanpa taburan bintang-bintang. Mungkin itu cara dia menyampaikan keluh kesahnya yang mendalam.
Terdiam, sendiri, berbicara dengan alam. Meskipun dia sendiri tidak paham, apa hal yang sedang dia pikirkan.
Sesekali dia sentuh layar selebar enam koma lima inci di dalam genggaman tangannya. Terpapar jelas, waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit.
Bahasa tubuhnya terlihat seolah sedang menunggu seseorang. Memang benar, dia menunggu seseorang. Seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Seseorang yang sudah menorehkan warna baru di dalam lembaran kertas putihnya.
'Mas Al belum pulang, apa dia menginap ?' Keluhnya di dalam hati, masih dengan tatapan kosong jauh menyusuri gelapnya malam.
Ceklekk ...
Samar-samar terdekat handle pintu kamar pelan terbuka. Berharap tidak ada kebisingan yang akan mengganggu penghuninya. Namun Al harus membelalakkan mata, saat tidak dia temukan istrinya di atas ranjang kamarnya.
'Dimana dia, apa sedang berada di kamar mandi ?' Gumamnya dalam hati.
Dia langkahkan kakinya menuju ruang dua kali dua meter yang pintunya sedikit terbuka.
Namun ruangan itu kosong, bahkan lantainya terlihat kering tanpa ada bekas aliran air membasahi.
"Malam-malam begini, apa yang kamu lakukan di luar ?" Tanya Al saat mendapatkan istrinya sedang duduk sendiri, bersandar pada sofa di balkon.
"Mas Al, kapan pulang ?" Jawabnya balik bertanya.
Entah sadar atau tidak, namun Tata tidak menyadari kedatangan suaminya sejak tadi.
Dia berdiri meraih tangan suaminya. Dia cium punggung tangannya, berharap keberkahan selalu bersamanya.
"Sudah larut malam, kenapa tidak istirahat ?" Kata Al kembali bertanya.
"Aku ... Aku, tidak bisa tidur Mas." Jawabnya terbata.
'Ada apa dengan Tata, tidak biasanya dia seperti ini.' Pikir Al yang melihat perubahan pada diri istrinya.
Al meraih tubuh anita, dia rengkuh ke dalam pelukannya. Dia kecup kening istrinya berkali-kali. Dengan begini, Al berharap istrinya mendapatkan rasa nyaman dan aman di dalam pelukannya.
"Mas ..." Ucapnya lirih.
"Hhhhmmmm."
__ADS_1
Namun tidak ada kelanjutan dari ucapannya. Tata hanya mempererat pelukannya dan semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang suaminya.
"Tidur ya, sudah malam." Ajak Al.
Tata menurut, perlahan dia lepas pelukannya, saat Al menutup kembali pintu kaca balkon kamarnya.
'Ah ... mungkin ini hanya perasaanku saja. Atau mungkin ini juga bawaan si jabang bayi.' Kata hati Al menepis kejanggalan di dalam hatinya.
Dalam hitungan menit, Tata sudah larut di dalam mimpi. Dekapan hangat suaminya, membuat dia merasa lebih aman dan nyaman tanpa ada rasa takut akan kehilangan.
***
"Pagi Bunda." Sapa Al kepada Bunda Arum. Seperti biasa, kebersamaan mereka terasa lebih lama di atas meja makan. Selebihnya hanya sebatas sapaan saja.
Apalagi Al, yang begitu banyak menghabiskan waktunya dengan kesibukan kerjanya.
"Pagi sayang, jam berapa semalam kamu pulang ?" Tanya Bunda.
"Sudah cukup malam Bunda, tepatnya hampir tengah malam." Jawab Al setengah bercanda.
"Al, kalau pekerjaan kamu harus selesai sampai larut malam, kamu bisa menghubungi rumah untuk mengabarkan kalau akan pulang telat. Atau lebih baik menginap, daripada membuat Bunda khawatir." Maki Bunda, karena kebiasaan Al yang malas menyentuh handphonenya di saat bekerja.
Namun disamping itu ada kebiasaan baik yang Al lakukan, yaitu selalu menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah meskipun sudah larut malam.
Berbeda dengan seorang istri, yang selalu menunggu kedatangan suaminya, meski selarut apapun. Kecuali kalau sudah disiapkan lebih awal, berapa hari yang dia butuhkan untuk pergi.
Dalam hal ini, Tata tidak mau berkomentar. Entah kenapa, lagi-lagi dia terlihat pendiam. Lebih tenang, seperti anak kecil yang masa bodoh dengan urusan orang lain.
"Iya Bunda, tapi selama Al masih mampu, pasti Al akan pulang." Jawab Al, sembari melirik ke arah istrinya yang masih pada posisi semula, diam dengan pandangan tertunduk, fokus pada makanan di depannya.
"Iya, Bunda tahu. Terserah kamu saja, kamu juga lebih tahu bagaimana kondisi fisikmu sendiri." Kata Bunda menyerah.
Untuk sementara waktu, mereka menikmati sarapan paginya, tanpa ada suara apapun kecuali gesekan sendok piring yang sesekali terdengar nyaring.
"Oh ya Al, acara makan siang Bunda kemaren berjalan lancar, sayangnya kamu tidak ada di rumah." Kata Bunda kembali, di sela-sela kegiatan tangan dan mulutnya.
"Oh, syukurlah." Komentar Al singkat.
"Kamu dapat salam dari Tante Ratri dan Hanifa. Kapan-kapan, ganti mereka yang akan undang kita, tapi kamu harus ikut hadir, tidak boleh ada alasan." Kata Bunda menyampaikan.
Uhhuukkk ... uhhuukkk ... uhhuukkk ...
Entah apa penyebabnya, tiba-tiba Tata terbatuk.
__ADS_1
"Minum sayang." Kata Al menawarkan air putih di tangannya. Bukannya Dia raih, tapi malah mengambil gelas air putih lain di mejanya.
Satu, dua teguk sudah cukup membuat tenggorokannya kembali lega.
"Pelan-pelan Nak." Komentar Bunda.
Semakin hari perasaannya semakin sensitif, seiring dengan usia kehamilannya yang membesar.
Tanpa Bunda sadari, apa yang Beliau sampaikan telah menggelitik hatinya. Tata teringat kembali, percakapan yang pernah dia dengar antara Bunda dan Oma Ratri tempo hari.
Percakapan yang menyampaikan sebuah harapan yang tak tersampaikan.
'Apa ini cara Allah mempertemukan kembali mereka berdua, setelah sekian tahun mereka terpisahkan.' Galau hati Anita.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Jaga kandunganmu, jangan lupa minum vitamin dan istirahat cukup." Pesan Al sebelum berangkat ke kantor.
Tata yang masih belum mau banyak bicara itu hanya membalasnya dengan seutas senyuman manis.
"Dya berangkat ya Bun." Pamit Nindya juga.
"Iya sayang, baik-baik di sekolah ya, gak boleh nakal." Jawabnya seperti hari-hari yang lalu.
Sejak usia kandungannya semakin membesar, Bunda yang mengambil alih menemani Nindya ke sekolah. Bahkan terkadang Bunda menunggu di sekolah, hanya sekedar untuk berbincang dengan sahabat lamanya yang baru bertemu.
Disaat itulah, terlintas pikiran buruk di hati anita, yang mengkhawatirkan suaminya akan mengalami CLBK.
Karena sampai saat ini, dia hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi di masa lalu, tanpa mencari tahu bagaimana kejadian sesungguhnya antara Hanifa dengan Alfatih.
Seperti saat ini, formasi komplit, ada Bunda yang ikut satu mobil dengan Al untuk mengantarkan Nindya ke sekolah.
'Apa Bunda sengaja, ikut mobil Mas Al, agar Mas Al bisa bertemu kembali dengan Hanifa.' Kata sisi hatinya yang buruk.
'Enggak, tidak mungkin Bunda seperti itu. Bunda kan sangat menyayangiku.' Sanggah sisi hatinya yang lain.
'Iya, tidak mungkin itu terjadi. Lagipula Al sudah memilihmu. Itu artinya tidak ada perempuan lain di hatinya.' Komentar sisi hatinya yang baik.
Untuk sementara waktu Tata bisa tersenyum lega, meskipun tanpa ada bukti kuat yang mendukung ungkapan hatinya barusan.
___________________
___________________
___________________
__ADS_1