
"Waaahhh...enak ya Buk, kalau banyak duit. Mau apa-apa tinggal tunjuk." Kata Astrid masih dengan kegembiraan hatinya.
"Iya dong, sering-sering saja begini. Ternyata Bos Bapakmu baik ya. Baru tadi pagi di kasih tunjangan kesehatan, ini ditambah lagi uang bulanan." Komentar Bulek tanpa menghiraukan kondisi suaminya.
"Bukan cuma baik Buk, gantengnya itu lo ... " angan-angannya mulai melambung tinggi.
Paklek hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan anak dan istrinya. Mereka memang benar-benar keterlaluan. Kalau ada duit saja matanya pada ijo, tapi giliran suami sakit tidak diperhatikan sama sekali.
"Pak, Bapak di rumah dulu ya. Mumpung ada yang jagain. Ibu sama Astrid mau keluar belanja dulu." Pamitnya.
Lagi-lagi Paklek hanya bisa diam tanpa menjawab izin dari istrinya.
'Ya Allah, tidak tega rasanya membiarkan Paklek diperlakukan seperti ini.'
"Paklek, sudah waktunya minum obat. Paklek makan dulu ya, biar Tata suapin."
Pak Arman hanya mengangguk lemas, masih melihat dari kejauhan, anak dan istrinya sedang melenggang hendak menghabiskan uangnya.
"Astagfirullah." Ucap anita saat di buka tutup saji di atas meja makan.
Tidak ada apa-apa di meja makan. Bahkan nasi putih pun sudah terlihat tidak layak untuk dimakan.
"Paklek tunggu sebentar ya, Tata belikan makan siang untuk Paklek." Pamitnya yang dijawab dengan titik air mata.
"Maafkan Paklek ya Nduk."
"Sssttt...Paklek gak boleh bicara seperti itu lagi. Tunggu sebentar ya, Tata tinggal sebentar."
Namun, belum sampai Anita sempat melangkahkan kakinya keluar rumah, ada seorang pria dengan pakaian khasnya yang mudah dikenali.
"Maaf Mbak, kediaman Bapak Arman ?" Tanya si abang ojek online.
"Iya, betul."
"Ini ada kiriman, untuk Mbak anita."
Tata mengernyitkan dahinya, karena dia merasa tidak memesan sesuatu.
"Maaf Mas, dari siapa ya ?"
"Saya kurang paham Mbak, saya hanya diminta untuk mengantarkan saja."
Anita membuka isi paket yang diantar si abang ojek online. Ada dua box nasi kotak, biscuit dan buah-buahan di dalamnya.
'Kalau dilihat dari nasi boxnya, ini dari restoran langganan Pak Al. Tapi, apa mungkin Beliau yang mengirimkan.' Gumamnya penasaran.
Kling ...
[Apakah paket sudah diterima ?] ✓
Ada pesan masuk dari seorang yang sangat dia hormati di kantor.
[Jadi benar dugaan saya, ini paket dari anda.]✓ Balas anita.
[Sudah, makan saja. Aku tahu kamu belum makan.]✓
Anita membiarkan pesan yang terakhir, cukup dia baca saja.
__ADS_1
'Apa dia masih memata-matai aku, sehingga dia tahu kalau aku perlu makanan saat ini.' Pikirnya.
'Ah sudahlah, yang penting makanan ini halal dan tidak mengandung racun.' Komentarnya sambil tersenyum.
"Kok cepat sekali Nduk ?" Tanya Paklek saat keponakan kesayangannya sudah kembali.
"Iya, tadi Tata belum sempat keluar, tapi Pak Al sudah mengirimkan makanan untuk kita." Jawabnya jujur.
"Kelihatannya, Pak Bos ada perhatian sama kamu Nduk."
"Iya, karena Tata juga karyawannya Paklek."
"Bukan begitu Nduk, yang Paklek lihat, Pak Al punya perhatian lebih sama kamu."
"Paklek ini bicara apa, mana mungkin Bos besar seperti Pak Al, perhatian sama cleaning servis seperti saya." Canda mereka di sela-sela makan siangnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin Nduk, kalau Allah sudah berkehendak, semua akan mudah bagi-Nya. Apalagi keponakan Paklek ini bukan hanya baik, pintar, tapi juga cantik luar dalam." Puji Pak Arman.
Wajah Anita merah merona karena malu, namun pujian itu harus dia tepis, mengingat siapa dirinya dan siapa orang yang sedang mereka bicarakan.
Sebenarnya usai makan siang dan menyiapkan obat untuk Pakleknya, Anita akan pamit pulang ke rumah singgah. Tapi dia tidak tega meninggalkan Pakleknya sendiri.
"Paklek, kenapa Paklek diam saja. Kenapa Paklek tidak mencegah Bulek untuk tidak pergi ? Bahkan Bulek pergi tanpa meninggalkan makanan sedikitpun di meja. Bagaimana jadinya kalau Tata tidak ada di sini ?" Kata Anita yang sedang mengupas buah untuk Pakleknya.
"Mungkin Bulekmu lebih senang melihat Paklek sakit. Karena dia yang akan menikmati uangnya. Biarkan saja Nduk, biar mereka menikmati apa yang mereka mau." Jawabnya dengan pandangan mata kosong.
Baru kali ini Tata melihat sikap pasrah dari Pakleknya.
"Coba kamu ambilkan kotak merah di atas lemari itu."
"Yang ini Paklek ?"
"Iya, sengaja Paklek simpan di tumpukan paling pojok, karena Paklek takut kalau disimpan di tempat yang lebih layak, malah ketahuan sama Bulekmu."
Anita memberikan kotak merah yang diminta Paklek setelah berhasil dia dapatkan.
"Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ayahmu memberikan ini kepada Paklek. Beliau meminta Paklek untuk menyerahkan ini kepadamu saat kamu sudah beranjak dewasa."
Perlahan, Anita mulai membuka kotak merah yang dia terima dari Pamannya. Di dalam kotak merah terdapat secarik kertas yang sudah lusuh dan sebuah kotak lagi berbentuk oval yang isinya perhiasan lengkap.
Tulisan itu, memang belum jelas dia kenali. Tapi tanda tangan yang tercantum di pojok kanan bawah ini, jelas-jelas tanda tangan Almarhum Ayahnya.
"Bagaimana Nduk ? Kamu sudah melihat apa isinya ?"
"Inggih Paklek."
"Itu milikmu Nduk, peninggalan kedua orangtuamu."
"Masya Allah." Komentarnya lirih.
"Cepat simpan, sebelum Bulekmu kembali. Jangan sampai Bulekmu tahu. Karena dia sudah mengambil semua perhiasan yang dikenakan Ibumu sebelum meninggal."
Anita yang paham betul sifat Buleknya, segera memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam tasnya. Dan dia rapikan kembali kotak merah ke tempatnya semula.
Hingga menjelang magrib, Bulek Rukmini dan Astrid baru kembali. Dan saat itulah Anita pamit pulang dari rumah Pamannya.
"Sudah hampir petang Nduk, apa tidak sebaiknya kamu menginap saja ?" Pinta Paklek.
__ADS_1
"Maturswun Paklek, lain kali mawon Tata mampir lagi."
Berbeda dengan Bulek dan sepupunya yang tidak suka berbasa-basi.
***
Tata berjalan sendiri di tengah rintiknya air hujan usai berteduh sebentar waktu Magrib tiba. Dia melangkah setengah berlari menuju sebuah ruko yang sudah tak bertuan.
Gerimis malam ini, cukup membuat udara dingin dan bulu kuduk merinding.
"Tata !" Panggil seseorang dari sebrang.
Lambaian tangan dia berikan setelah memastikan siapa pemilik suara yang menyapanya.
Andri. Meskipun sekitar area pertokoan itu tidak begitu terang, tapi dia sangat mengenal postur tubuh Anita yang sedang berjalan sendiri.
"Tunggu, aku ke situ !" Teriaknya dari sebrang.
"Gak usah Mas, masih gerimis." Balasnya.
"Gakpapa, tunggu di situ ya. Jangan kemana-mana !" Teriaknya lagi.
Membutuhkan waktu cukup untuk mendekat ke tempat Tata berteduh. Karena dia harus berputar arah terlebih dahulu.
"Ayo naik !" Ajak seorang pria dengan motor sport Ninja merah yang sama sekali tidak Tata kenal.
Rasa takut membuatnya mundur beberapa langkah untuk menjauh.
"Lekas, sebelum hujan semakin lebat." Ucapnya halus sembari membuka helmnya.
"Pak Al ?"
Lagi-lagi pria tampan ini menjadi pahlawan disaat dia membutuhkan.
"Pakai ini ?" Kata Al menyerahkan sebuah helm.
"Iya, tapi_"
"Apa perlu saya naikkan ?"
"I, iya."
Dengan sedikit keraguan, Anita naik ke boncengan motor Al, masih dengan memikirkan bagaimana jika Andri datang, tapi dia sudah pergi.
Dan benar saja, Andri datang disaat Al dan Tata mulai jalan.
"Ssiiittttt...siapa lagi laki-laki itu." Umpatnya geram.
'Apa dia laki-laki yang sama saat di toko buah tadi siang ?' komentar sisi hatinya.
Dua kali sudah Andri kalah telak dan harus pulang dengan hati hampa.
___________________
___________________
___________________
__ADS_1