Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 93. Pulau Dewata


__ADS_3

Bali, itulah tujuan liburan yang Al rencanakan. Bulan madu kesekian yang belum sempat Al wujudkan. Hari ini dia penuhi, lengkap dengan hadirnya buah hati tercinta.


"Papa, ini kan yang sering Dya lihat di laptop Mama." Celetuk Nindya, saat melihat icon-icon Pulau Bali.


"Oh ya, memangnya ada apa saja di laptop Mama ?" Tanya Al memancing.


"Banyak Papa, ada patung seperti itu, ada topeng seperti itu juga, terus ada tulisannya 'Dream of going to Bali Island'." Tunjuknya pada sebuah gambar sembari mengingat kalimat yang tertulis pada laptop Mama Tata dengan fasih.


Al melirik ke arah seseorang yang sedang mereka bicarakan.


Memang, sejak mereka menikah, Tata ingin sekali bisa berbulan madu ke Pulau Dewata ini. Namun karena kesibukan suaminya, membuat dia tidak berani menyampaikan keinginannya.


"Eeehhhmmm... sekarang Dya tanya Mama, Mama senang gak Papa ajak berlibur ke Bali ?" Pinta Papa Al.


"Mama, senang gak diajak Papa berlibur ke Bali ?" Tanya Nindya menirukan.


"Iya senang." Jawab Tata singkat, malu-malu.


"Kata Mama, senang Papa." Ucap Nindya menirukan lagi.


"Kalau Dya, senang gak ?"


"Senang dong, Dedek Dzaki juga senang. Bude Watik senang enggak ?" Jadi semua orang dia tanya.


"Senang banget Mbak Dya, seumur-umur, baru kali ini Bude pergi jauh ke tempat wisata yang mahal." Jawab Mbak Watik dengan logat medoknya.


"Sayangnya, Eyang enggak ikut." Rengeknya.


"Oh ya Mas, bukannya Bunda di Bali juga ya." Tanya Anita memastikan.


"Iya, besok kita juga ketemu dengan Bunda."


"Hore, ada Eyang. Dya kangen Eyang." Soraknya bergembira.


Satu jam dua puluh menit sudah perjalan mereka ke Bali melalui udara. Beberapa orang sudah stanby menjemput keluarga Alfatih di Bandara Ngurah Rai.


"Itu Om Reza." Teriak Nindya kepada seorang pria yang berdiri pada pintu penjemputan.


"Reza, itu beneran Reza Mas ?" Tanya Tata ingin memastikan.


"Iya." Jawab Al singkat.


"Kok, dia sudah sampai disini ?" Tanya Tata kembali penuh rasa heran.


"Apa sih yang enggak buat Reza." Canda Al.


"Selamat sore Bu Anita, Pak Al. Silahkan, kami akan mengantar Bapak dan Ibu ke penginapan." Ucap Reza berlagak formal.


"Makasih Za."


"Kita mau kemana Pa ?" Tanya Nindya.


"Kita langsung ke villa ya, Dya capek kan ?" Jawab Papa Al balik bertanya.


"Iya capek, tapi seneng." Jawabnya riang.


Memakan waktu hampir dua jam perjalanan untuk sampai ke sebuah villa pribadi milik Alfatih, yang dibangun di atas tanah seluas empat ratus lima puluh meter persegi di sekitar area wisata pantai Kuta. Lengkap dengan berbagai fasilitas dan kolam renang pribadi.


"Mama, Dya boleh berenang ?" Tanya Nindya sesampainya di villa.


"Istirahat sebentar Dya, baru boleh berenang." Jawab Mama Tata sembari merapikan barang bawaannya.

__ADS_1


"Sebentarnya berapa lama Mama ?"


Anita berbalik, dipandanginya bocah lucu menggemaskan yang mulai banyak bertanya itu.


"Sebentar menunggu Mama selesai merapikan barang bawaan Nindya, oke." Kata Mama Tata lembut.


"Oke Mama." Bisiknya diiringi sebuah kecupan di pipi Mama Tata.


Mama Tata kembali dengan aktivitas nya.


"Ada yang bisa Watik bantu Mbak ?" Tanya Mbak Watik menawarkan bantuan.


"Oh, iya Mbak, minta tolong ini nanti dibawa ke belakang. Sama sekalian steam semua dot Dede' ya ?"


"Iya Mbak."


Mbak Watik segera mendekat dan melaksanakan apa yang istri majikannya minta.


"Loh, Dede' mana ?"


"Dede' ada sama Bapak Mbak."


"Oh, gak bobok dia ?"


"Tadi sih enggak Mbak, lagi mainan sama Pak Al."


"Mama, sekarang ya !" Teriak Nindya gak sabar.


"Sebentar lagi ya Nak."


"Ih, Mama lama."


"Kenapa Dya ?" Tanya Al yang melihat putrinya cemberut di sofa.


"Berenang sama Papa ya, Papa bobokan Dede' dulu."


"Asyik, berenang sama Papa." Teriaknya senang.


"Bobok Mas ?"


"Iya, habis ketawa-ketawa, minum susu sebentar langsung tidur."


"Sini, biar aku bobokan."


Si bungsu sudah berpindah tangan. Berganti si kakak yang minta perhatian.


Bermain air memang menjadi kegemaran semua anak, begitu pula dengan Nindya. Tapi tidak hanya sekedar bermain air, Al juga mengajarkan bagaimana teknik berenang yang baik untuk anak-anak.


***


"Malam ini ? Ya, oke."


Itulah sepenggal kalimat yang Tata dengar, saat melihat suaminya menerima telepon dengan wajah serius.


"Ada apa Mas ?" Tanya Tata ingin tahu.


"Maaf sayang, untuk malam ini kalian makan malam sendiri dulu ya." Kata Al.


"Tapi_"


"Reza sudah pesan untuk makan malam kita nanti, private room di resto depan." Kata Al lagi, memotong ucapan istrinya sembari berlalu ke kamar mandi.

__ADS_1


'Ada apa dengan Mas Al, aneh gitu.' Pikir Tata dalam hati.


"Mas."


"Hhmmm."


Rasa gelisah menyelimuti hati Anita, ketika Al menjawab panggilannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.


"Sini, Mama bantu." Ucapnya sembari mengambil alih pekerjaan tangan suaminya yang sibuk mengenakan dasi.


"Kenapa sayang ?" Bisik Al saat melihat perubahan ekspresi wajah istrinya.


"Harusnya aku yang bertanya, ada apa Mas ?"


"Ahahahaha ... Cantiknya istriku kalau lagi ngambek." Cubit Al manja di pipi ranum Anita.


"Jangan bercanda ah." Tepisnya.


"Aku serius sayang."


"Terus kenapa gak dijawab, kenapa Mas selalu bikin aku merasa khawatir." Rengek Tata meneteskan air mata.


"Sini-sini, biar Mas jelasin."


Al menarik istrinya ke dalam pangkuan.


"Mas sering seperti ini, buru-buru, spontan pergi begitu saja, tanpa mau cerita ada apa. Aku takut Mas." Isaknya makin menjadi.


"Takut kenapa ?"


"Takut kejadian yang lalu terulang lagi." Jawabnya setengah berbisik.


Tidak heran, rasa takut itu selalu menghantui. Trauma hampir kehilangan Al pernah dia rasakan. Saat dia merasa cuek dan kurang perhatian dengan pekerjaan suaminya.


"Tidak akan sayang, aku masih punya otak waras, tidak mungkin aku akam meninggalkan anak dan istri ku demi hal yang bukan duniaku." Jawab Al meyakinkan.


"Terus, ini Mas mau kemana ?" Tanya Anita lagi.


"Dengar ya, liburan kita ke Bali kali ini, bukan tanpa rencana. Tapi Mas sudah agendakan jauh-jauh hari. Karena apa ?"


Tata menggeleng belum mengerti apa yang Al tanyakan.


"Karena kebetulan ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan, tapi selain itu, Mas juga ingin membuat anak dan istri Mas bahagia."


Pandangan mata Al tak luput dari wajah cantik istrinya. Senyum Tata yang manis membuat Al tak sabar ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan menikmati bibir ranum di depan matanya.


"Mas berangkat dulu ya."


Satu kecupan di kening turun ke bibir dia hadiahkan untuk istrinya.


"Sisanya nanti malam." Bisik Al.


"Apaan sih." Jawab Tata malu-malu.


"Pyu pyu pyu." Goda Al sembari menyilangkan ibu jari dengan jari telunjuknya.


"Is is is, udah sana berangkat."


Didorongnya tubuh kekar Al keluar dari kamar. Sesi inilah yang paling Al suka, membuat istrinya malu-malu dengan pipi merah merona.


__________________

__ADS_1


__________________


__________________


__ADS_2