
Hari sudah hampir gelap, waktu Indonesia bagian barat, Al belum juga bisa dihubungi. Bahkan pesan yang Tata kirimkan, belum juga berubah warna.
Kali ini bukan hanya kerinduan yang tak terobati, tapi lebih dari rasa khawatir yang mendalam yang Tata rasakan.
'Tidak biasanya Mas Al begini.' Pikirnya.
Ketika berada di luar negeri saja, Al masih menyempatkan waktunya untuk menghubungi. Tapi entah kenapa, kali ini dia tidak punya waktu untuk menelfon, meskipun sebentar.
Apalagi menelfon, atau membalas pesannya, sekedar menyalakan datanya saja dia tidak sempat.
'Apa sebenarnya yang terjadi dengan Mas Al, tidak biasanya dia seperti ini.' Komentar sisi hatinya.
'Atau, jangan-jangan dia bertemu lagi dengan Bella.' Pengaruh sisi hatinya yang lain.
'Astaqfirullah, apa yang aku pikirkan. Mungkin memang Mas Al sedang sangat sibuk, jadi belum bisa menghubungi kami.' Dia coba menenangkan hatinya sendiri.
Malam semakin larut, tapi Tata masih pada tempatnya yang tadi. Duduk termenung di sofa yang menghadap ke arah balkon kamarnya.
Benda elektronik berukuran enam inci, yang dia gunakan sebagai penghubung itu masih erat pada genggaman tangannya. Sesekali dia buka sebuah aplikasi dan menutupnya kembali setelah sempat melihat isi di dalamnya.
"Kenapa lampu di kamar Tata masih menyala, apa dia belum tidur." Gumam Bunda Arum sendiri, saat kebetulan Beliau melihat kamar menantunya masih menyala terang.
Bunda berjalan pelan menuju kamar Nindya. Sekedar memastikan, kalau cucunya sudah merasa nyaman di ranjangnya. Benar saja, Nindya sudah terlelap di dalam mimpinya.
Kini giliran Tata yang menjadi sasaran Beliau. Bunda hanya ingin mengingatkan agar dia segera beristirahat.
Tok ... tok ... tok ...
Anita tersadar dari lamunannya, seketika dia beranjak dari tempat duduknya.
"Tata, apa kamu belum tidur Nak ?"
Suara khas lembut Bunda Arum, membuatnya buru-buru menghampiri.
"Iya Bunda, Tata tidak bisa tidur." Jawabnya setelah pintu terbuka dengan sempurna.
"Kenapa Nak, kamu sakit ?"
"Tidak Bunda."
"Lalu kenapa ? Apa ada yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Bunda ingin tahu.
"Entahlah Bun." Jawabnya, tidak berterus terang.
Dia urungkan niat untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan. Hanya takut kalau sampai Bunda ikut khawatir memikirkannya.
"Tidurlah Nak, sudah malam. Ingat pesan Dokter, apapun yang kamu pikirkan, berpengaruh pada janin yang ada di kandunganmu." Kata Bunda mengingatkan.
"Inggih Bunda."
Baru beberapa langkah, Bunda kembali berbalik dan bertanya.
"Apa Al sudah menghubungimu hari ini ?" Tanya Beliau memastikan.
"Belum Bunda, mungkin Mas Al masih sibuk, jadi belum sempat menelfon." Jawab Tata, tidak ingin membuat Bunda khawatir.
"Ya sudah, kalau begitu, Bunda ke kamar dulu ya."
"Inggih Bunda."
Apapun yang sedang Al lakukan di seberang sana, Tata yakin itu semua demi keluarga. Dia rebahkan tubuhnya kembali, setelah ingat pesan yang Bunda sampaikan.
__ADS_1
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
Handphonenya bergetar saat matanya mulai terpejam.
'Mas Al.' Pikirnya dalam hati.
Tanpa mengingat kalau dia sedang hamil, Tata langsung terbangun dan menyambar handphonenya di atas nakas. Tapi, untuk kesekian kalinya, dia merasakan kecewa.
Bukan nomor Al yang menghubungi, namun sebuah nomor tak dikenal yang muncul pada layar handphone.
"Nomor siapa ini ?" Gumamnya sendiri.
Bukan takut untuk mengangkatnya, tapi hanya tidak mau berurusan dengan orang iseng. Alhasil, Tata biarkan saja handphone itu bergetar.
Namun tidak berhenti sampai satu kali nada dering. Si penelepon masih nekat menghubungi. Dengan perasaan enggan, Tata menggeser tombol warna hijau.
"Assalamu'alaikum." Sapa seseorang dari sebrang, yang hanya dia jawab dalam hati.
"Hallo, sayang." Panggilnya lagi.
"Mas Al, ini benar Mas Al." Ucapnya penuh antusias.
"Iya sayang."
Tata segera beranjak dari tidurnya, demi mendengar lebih jelas suara suaminya dari sebrang.
"Mas Al kemana saja seharian, bikin aku khawatir." Rengeknya manja.
"Maaf, tadi Mas ada acara outbound bersama klien. Handphone Mas terjatuh ke dalam air dan masih diperbaiki." Terangnya.
"Terus, ini nomor siapa ?"
"Mas tahu, bagaimana aku khawatir memikirkan Mas. Sampai-sampai aku berfikir Mas melupakanku." Ucapnya mulai menitikkan air mata.
"Husss ... Mana boleh begitu."
"Habisnya, Mas tiba-tiba ngilang tanpa kabar." Rengeknya manja.
"Iya sayang, maaf. Habisnya Mas bingung mau kasih kabar. Reza juga seharian kebingungan menghubungi Mas." Terangnya.
Reza memang ikut serta bersama Al ke Bali, tapi dia tidak ikut acara outbound. Jadi, meskipun mereka dekat, mereka sama-sama mengkhawatirkan.
"Reza yang dekat dengan Mas saja khawatir, apalagi aku yang di sini." Suara Tata terdengar syahdu. Mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"Dya juga, seharian menanyakan Papanya."
"Iya, besok pagi biar Mas telepon langsung ke handphone Nindya."
"Memangnya besok Mas gak repot ?"
"Enggak, jadwal meeting Mas agak siang."
"Lalu, kapan Mas pulang ?" Tanya Tata tidak sabar ingin segera bertemu.
"Hhhhmmmm ... baru ditinggal sehari saja sudah kangen. Sekarang sudah lega kan, sudah mendengar suara Mas." Ucapnya bercanda.
"Tau ach." Jawab Tata dengan nada ngambeknya.
"Sudah malam sayang, bobok ya. Besok pagi Mas telepon lagi."
"Mas juga, istirahat ya."
__ADS_1
"Iya, love you."
"Love you too."
Tata bisa tidur nyenyak malam ini. Kerinduan dan rasa khawatir yang dia rasakan seharian, gini sudah terobati.
***
"Selamat pagi cinta."
"Pagi Mas."
Al menepati janjinya, menghubungi Tata di pagi hari. Bahkan lebih pagi dari yang dia janjikan.
Senyum bahagia dia rasakan, seiring dengan cerahnya sinar mentari pagi ini.
"Mbak Ata, kelihatan bahagia sekali. Beda sama kemaren." Sapa Mbak Watik yang memperhatikan perubahan sikap istri majikannya.
"Mbak Watik bisa saja, bukannya setiap hari saya juga bahagia Mbak." Jawabnya bercanda.
"Iya, tapi beda dengan kemaren."
"Apanya yang beda."
"Mama, Papa telepon." Teriak Nindya, disela-sela percakapan mereka berdua.
"Mana sayang."
Nindya memberikan handphonenya, benar saja, seperti yang Al sampaikan semalam. Dia juga menghubungi putri kecilnya.
"Assalamu'alaikum Papa."
"Wa'alaikumsalam sayang. Dya sehat Nak ?"
"Iya Papa, Dya kangen Papa. Papa kapan pulang ?"
"Papa juga kangen Dya. Kalau pekerjaan Papa sudah selesai, Papa segera pulang."
"Iya Papa."
"Dya gak boleh nakal ya."
"Iya Papa, Dya jagain Mama sama Dedek bayi." Ucapnya menggemaskan.
Suasana kembali ceria, saat keceriaan seorang Nindya kembali menghangatkan suasana.
"Bunda tahu, apa yang membuatmu tidak bisa tidur semalam." Tegur Bunda, saat melihat Tata sudah bisa tersenyum kembali.
Tata tersenyum malu mendengar apa yang Beliau sampaikan. Mungkin tadi Al sempat menghubungi Bunda dan bercerita mengenai perubahan sikap istrinya.
"Lihat Nindya, dia begitu menyayangi Papanya. Bagi Bunda dan Al, kalian berdua adalah harta yang paling berharga."
"Terimakasih Bunda. Maafkan Tata yang selalu membuat Bunda khawatir." Jawabnya sembari memeluk hangat Bunda Arum.
'Terimakasih Bunda, Bunda yang selalu menginspirasi hidupku, sehat selalu ya Bun.' Gumamnya dalam hati.
___________________
___________________
___________________
__ADS_1