
Tok .. tok .. tok ..
"Assalamu'alaikum."
Al merasa tidak sabar mendengar percakapan di dalam. Dia merasa harus segera bertindak sebelum hal buruk terjadi.
"Wa'alaikumsalam !" Jawab mereka hampir bersamaan.
"Siapa Trid ? Coba kamu lihat." Kata Bulek kepada anaknya.
Astrid segera keluar menuju ruang tamu.
"Oh Mas yang tadi ke sini kan ? Ada perlu apa ya ?" Tanya Astrid saat melihat Reza yang datang.
"Kami ingin bertemu kembali dengan Pak Arman. Ada yang yang tadi belum sempat kami sampaikan." Jawab Reza.
Astrid meneliti setiap jengkal pria yang berdiri di samping Reza.
'Iiwwaaoooo...yang ini saja ganteng, ini datang lagi yang lebih ganteng. Siapa dia ? Apa semua orang kaya ganteng-ganteng ya ?' Gumamnya dalam hati.
"Halo, Mbak. Bisa kami bertemu dengan Bapak ?" Tanya Reza kembali.
"Oh, iya, silahkan Mas duduk dulu. Saya sampaikan kepada Bapak." Jawabnya melenggang masuk dengan gaya menggoda.
"Siapa Nduk ?"
"Mas ganteng yang tadi kesini lagi Buk, tapi kali ini dia tidak sendiri." Jawabnya dengan nada gembira.
"Mas ganteng siapa ?" Tanya Bulek mengernyitkan dahinya.
'Pasti yang Astrid maksud Pak Al dan Pak Reza.' Komentar Tata dalam hati.
"Itu, yang tadi datang jenguk Bapak."
"Orang dari kantor, yang kasih santunan ke Bapak tadi maksudnya." Kata Bulek menegaskan.
"Iya, yang gantengnya sampai ubun-ubun. Tapi ini ada satu lagi yang lebih ganteng, lebih macho." Ceritanya menggebu-gebu.
"Kamu ini." Dijitaknya Astrid hingga dia mengaduh kesakitan.
"Maaf Nak, kok kembali lagi, ada perlu apa ya ?" Tanya Bulek setelah menemui kedua tamunya.
"Perkenalkan, ini Pak Al atasan kami. Beliau ingin bertemu langsung dengan Pak Arman." Jawab Reza.
"Oh, iya-iya. Suami saya pernah cerita tentang Pak Al. Sebentar ya Pak, saya sampaikan kepada suami saya."
Bulek segera masuk ke dalam, menyampaikan maksud kedatangan tamunya. Bersamaan dengan Astrid yang menyuguhkan dua gelas teh manis.
"Silahkan Mas, maaf ala kadarnya."
"Terimakasih." Reza yang menjawab.
Sejak tadi Al hanya diam tanpa ekspresi.
"Antar Paklek ke depan Nduk." Permintaan Paklek kepada Tata.
"Sini-sini, biar aku yang dorong Bapak." Rebut Astrid mencari perhatian.
"Assalamu'alaikum." Sapa mereka.
"Wa'alaikumsalam, Silahkan duduk Pak Al, Pak Reza. Mohon maaf rumah kami berantakan." Jawab Paklek mempersilahkan tamunya duduk kembali.
"Bagaimana keadaan Pak Arman ?"
"Alhamdulillah, saya sudah sedikit membaik Pak. Terimakasih atas semua bantuan Bapak. Apalagi setelah bertemu dengan keponakan saya kembali, rasanya sudah sembuh seperti sedia kala." Canda Paklek berusaha menutupi kesedihannya.
__ADS_1
Tata yang berdiri di sampingnya, hanya diam dan tertunduk tanpa Komentar.
"Maaf ya Pak, Bapaknya memang suka berlebihan. Baru tidak bertemu sebentar saja sudah khawatirnya minta ampun. Maklum keponakan saya ini pergi dari rumah ngikutin laki-laki sembarangan. Jadi ya begini deh, ngrepotin orang tua."
"Ibuk ini ngomong apa sih ?" Kata Paklek setengah membentak.
Perhatian Al tertuju pada teman pokok pembahasan yang Bulek ceritakan.
Tata hanya bisa membelalakkan matanya sembari menggeleng kecil.
"Maaf Pak, istri saya memang suka bicara sembarangan."
"Bapak saja yang selalu berlebihan kalau sama keponakan."
"Maaf Buk, maksud kedatangan kami hanya ingin menyampaikan apa yang menjadi kebijaksanaan Pak Al pribadi selaku pemilik perusahaan." Kata Reza memotong perdebatan suami istri tersebut.
"Sebagai rasa prihatin dan rasa welas asih dari keluarga besar 'Kamandanu Group', Pak Al ingin memberikan santunan bulanan selama Pak Arman masih dalam proses penyembuhan. Dan ini murni dari Pak Al pribadi, disamping gaji pokok yang akan tetap Bapak terima nanti." Kata Reza menjelaskan panjang kali lebar.
"Maksudnya, selain tetap menerima gaji pokok, Bapak juga dapat tunjangan dari Pak Al begitu ?" Tanya Bulek ingin tahu lebih jelas.
"Iya, betul. Dan besarnya dua kali lipat dari gaji pokok Pak Arman saat ini." Terang Reza lagi.
" Hhhaaaaa ... yang bener Pak, jadi setiap bulan suami saya mendapatkan tujuh juta lima ratus ribu rupiah begitu ?" Kata Bulek memperjelas.
"Iya, betul Buk."
"Uuuhhh...rezeki anak cantik itu Buk." Komentar Astrid girang.
"Pak Al, maaf. Bukan saya menolaknya. Tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan ?" Kata Paklek merendah.
"Bapak ini, namanya rezeki tidak boleh ditolak. Lagi pula, siapa sih yang mau dapat duit tapi harus sakit-sakitan seperti ini. Ya wajar sajalah, namanya juga perusahaan besar." Komentar Bulek yang takut bantuan itu akan ditarik kembali karena ulah suaminya.
"Benar kata Ibu Pak. Bapak terima ya, semoga uang yang tidak seberapa ini, bisa meringankan beban keluarga selama Bapak masih fakum bekerja." Jawab Al bijak.
Entah rasa malu atau rasa senang yang harus Paklek ungkapkan saat ini. Yang jelas Beliau bersyukur dengan apa yang Allah berikan.
Ide itu muncul, setelah beberapa menit Al mendengarkan apa yang ibu dan anak itu ucapkan kepada anita.
β’Flasback On
"Bagaimana Pak, apa kita perlu masuk sekarang ?" Tanya Reza.
"Sebentar Za, aku hanya ingin tahu, kemana arah pembicaraan mereka."
"Halah, sudah merepotkan, masih saja ceramah. Tu urus itu Paklekmu, apa lagi yang bisa dia andalkan dengan kondisi seperti itu !" Terdengar makian Bulek yang tidak ada sopan-sopannya kepada suaminya.
"Uang Za, kita berikan apa yang paling disuka istrinya Pak Arman."
"Maksud Pak Al ?" Tanya Reza belum paham.
"Berikan tambahan tunjangan dua kali lipat gaji pokoknya, selama Pak Arman cuti masa penyembuhan."
"Tapi Pak, ini sudah ada tunjangan kesehatan dan gaji pokok juga tetap diberikan setiap bulan."
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat bagaimana reaksi Ibu itu terhadap jerih payah suaminya."
"Baik Pak, saya paham maksud Pak Al."
"Tapi jangan keluarkan itu dari keuangan perusahaan, ingatkan saya jika waktunya tiba."
"Baik Pak."
β’Flashback Off
"Dan ini, tunjangan awal untuk bulan ini." Kata Al memberikan cash dari dalam sakunya.
__ADS_1
"Oh, terimakasih banyak Pak Al."
Disahutnya amplot coklat berisi uang lima juta itu dari atas meja.
Bukan hanya Bulek yang melotot saat melihat isi amplopnya, tapi juga si centil Astrid yang langsung merapat duduk di samping Ibunya.
"Terimakasih banyak Pak Al, maaf jika kami merepotkan." Kata Paklek menahan rasa malu.
"Sama-sama Pak, saya atas nama pribadi dan keluarga juga memohon maaf atas insident yang terjadi."
"Namanya juga kecelakaan Pak, tidak ada yang tahu. Semua kehendak ilahi." Sahut Bulek, sebelum Paklek sempat menjawab ucapan Al.
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Semoga Pak Arman segera diberikan kesembuhan."
"Sekali lagi, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Alfatih tersenyum, saat tanpa sengaja dia melihat tangan jail Bulek jatuh di pundak Paklek Arman.
"Anita, apa kamu tidak mau sekalian pulang bareng saya ?"
Tawaran Al membuat semua isi rumah bingung.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal ?" Tanya Astrid kepo.
"Saya juga bekerja di kantor Pak Al." Jawabnya singkat yang sempat membuat melongo Astrid dan Bulek Rukmini.
"Oh ya, bagaimana Paklek sampai tidak tahu Nduk."
"Saya bekerja sebagai office girl di 'Kamandanu Transport' Paklek." Terangnya.
"Uuppsss...ya iyalah, lulusan Sekolah Dasar mau minta jabatan apa ? yang paling tinggi juga cleaning servis lah." Ejeknya, meskipun lirih tapi pendengaran normal semua mendengar.
Al mengulang sekali lagi tawaran tumpangannya.
"Tidak Pak, terimakasih. Saya masih mau bersama Paklek terlebih dahulu."
"Oke, kalau begitu kami pamit dulu."
Bulek Rukmini dan Astrid kembali menghitung uang di dalam amplop coklat, sepulangnya Al dan Reza.
~
~
~
Hai Reader...π€
Masih tetap stay at home kah ? π€
Diam dirumah sambil baca novel π
Klik aplikasi NovelToon/MangaToon, Klik juga my profil, cek karya2 author ea...π
Jangan lupa like, vote n kritik & sarannya juga ditunggu...ππ»
Terimakasih...π miss u All...ππ₯°π
π
π
π
_____________________
__ADS_1
_____________________
_____________________