
Obrolan asyik seputar anak-anak, metode belajar dan kenalan usia dini membuat Tata lupa untuk menanyakan tentang Kinanti kepada sahabat barunya. Apalagi, saat ini Hanifa lebih serius menceritakan mengenai kehidupan pribadinya.
Hanifa menikah selang beberapa bulan setelah Kinanti menikah. Namun usia kehamilan Kinanti dengan Hanifa hampir bersamaan. Sehingga lahirlah Nindya dan Regina yang hanya terpaut beberapa hari. Hampir semua kehidupan pribadinya dia ceritakan saat ini.
Namun, Hanifa belum sama sekali menceritakan mengenai sosok Kinanti. Kehidupan pribadinya bersama almarhum suaminya masih menjadi topik utama dengan episode yang cukup panjang.
Mulai perjalanan awal pertemuan dengan suaminya sampai terakhir kepergian suaminya untuk selamanya
Hingga detik ini, Tata masih setia menjadi pendengar utama.
"Sabar ya, pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa." Komentar Tata, disaat Hanifa mulai menitikkan air mata.
"Terimakasih Ta, sejak bertemu denganmu, rasanya, aku menemukan kembali sahabatku yang telah lama pergi." Ucapnya sembari menghapus air matanya.
Kalimat itu sebenarnya merupakan celah bagi Tata untuk bertanya. Tapi lagi-lagi, belum sempat Tata melontarkan pertanyaan, sebuah peristiwa membuat geger seluruh penghuni sekolah.
Gdubrrraakk ...
Sebuah jeritan kecil berhasil mengalihkan perhatian. Tak terkecuali dengan Tata dan Hanifa, keduanya bahkan sampai berdiri memastikan apa yang sedang terjadi.
"Mama !" Teriak Nindya sambil berlari.
"Kenapa sayang, ada apa ?"
"Gina Ma, Gina jatuh dari ayunan." Ucapnya terengah-engah.
Tanpa berpikir panjang lagi, mereka berlari ke arah sumber suara.
"Gina, Ya Allah, kenapa Nak ?"
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit terdekat Bu." Kata salah satu pengajar.
Gina pingsan, pada pelipisnya mengalir darah segar. Tata yang sedang hamil di masa rawan, tidak bisa berbuat apa-apa. Hanifa dan salah seorang ibu guru pengajar langsung melarikan Gina ke rumah sakit terdekat.
"Mama, Gina akan sembuh kan ?" Rengek Nindya, ikut bersedih melihat kondisi sahabatnya.
"Kita do'akan Gina segera sadar dan sehat kembali ya." Jawab Tata menenangkan.
Nindya hanya mengangguk, masih dengan air mata mengalir di pipinya. Pelajaran kedua dimulai kembali. Tata masih menunggu putrinya di sekolah, namun pikirannya tertuju pada keadaan Regina yang masih dalam penanganan.
"Hallo Mas, Mas jadi jemput Dya hari ini ?" Tanya Anita melalui sambungan selulernya.
"Maaf sayang, mendadak aku harus pergi ke luar kota. Ada hal yang harus aku selesaikan. Hari ini, dijemput Reza ya." Jawab Al dari jauh.
"Iya Mas, gakpapa."
__ADS_1
"Eits ... kenapa nadanya lemas begitu ?" Canda Al setengah khawatir.
"Gakpapa Mas, aku hanya sedikit khawatir dengan keadaan Gina." Jawabnya.
"Gina ? Gina teman Nindya ? Memangnya kenapa ?" Tanya Al memberondong.
"Iya Mas, barusan dia jatuh dari ayunan. Pelipisnya berdarah dan harus dilarikan ke rumah sakit." Ucapnya menjelaskan.
"Gakpapa, namanya juga anak-anak. Paling cuma butuh sedikit perawatan."
"Bukan begitu Mas, masalahnya dia dalam kondisi pingsan tadi, dan sampai saat ini belum juga kembali." Jawabnya khawatir.
"Jangan terlalu berpikir berlebihan, do'akan saja semua baik-baik saja. Atau sepulang sekolah, kamu ajak Reza mampir untuk besuk sebentar." Kata Al mengizinkan.
"Iya Mas, terimakasih."
Memang itu pada intinya yang Tata inginkan. Izin dari suaminya untuk pergi ke rumah sakit membesuk Regina. Tapi entah kenapa, bibirnya terasa keluh saat mau mengatakannya.
Sampai jam belajar usai, belum ada tanda-tanda kepulangan Regina. Bahkan, jbu guru yang mengantarkan juga belum kembali.
"Mama, Papa sudah jemput ?" Tanya Nindya yang keluar dari ruang kelasnya.
"Hari ini, kita dijemput Om Reza ya. Papa sedang ada acara ke luar kota." Jawab Tata sembari melayangkan pandangan mencari dimana keberadaan Reza.
"Eeehhhmmm ... tapi Dya mau tahu keadaan Regina Ma." Rengeknya meminta.
Reza baru datang, sesaat setelah mereka menunggu, meskipun sedikit terlambat dari jam pulang sekolah yang sudah ditentukan.
"Ayo sayang, Om Reza sudah datang." Ajak Mama Tata.
"Maaf, saya terlambat Bu. Tadi ada sedikit kendala di jalan." Ucapnya menjelaskan keterlambatannya.
"Tidak apa-apa, lagipula kami juga belum lama menunggu."
"Om Reza, kita mampir jenguk teman aku ya." Kata Nindya yang tidak sabar menunggu Mama Tata menyampaikan keinginannya.
"Iya Dya, tadi Papa Al sudah berpesan sama Om, buat antar Dya besuk sebentar." Jawabnya.
"Tapi ingat sayang, kita hanya sebentar ya. Dan kalau anak-anak tidak boleh masuk, Dya tidak boleh merajuk."
"Tapi kenapa Ma ? Kenapa anak kecil tidak boleh masuk ?" Tanya Nindya kritis.
"Karena di rumah sakit itu gudangnya virus, dan anak-anak seusia Dya, kekebalan tubuhnya masih belum sempurna, jadi rentan tertular penyakit." Jawabnya menjelaskan.
Terkadang memang kebanyakan orang tua khawatir dengan keadaan demikian. Tapi terkadang juga banyak orang tua yang abai, karena dirasa sudah memenuhi standard protokol kesehatan.
__ADS_1
"Kita ke UGD atau di mana Bu ?" Tanya Reza.
"Kita langsung menuju ke tempat parkir depan terlebih dahulu saja Pak."
Belum ada informasi apa-apa yang Tata terima dari Hanifa. Karena kondisi darurat, Hanifa lupa dan meninggalkan tas nya di ruang tunggu siswa di sekolah. Begitu pula dengan Bu Santi, ibu guru yang turut serta bersamanya.
Untuk sementara, tidak ada yang bisa dia mintai informasi, kecuali datang langsung ke bagian informasi yang ada di rumah sakit tersebut.
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya, Mama akan tanyakan terlebih dahulu ke dalam." Pinta Tata saat mereka sudah sampai di area parkir.
"Jangan lama-lama ya Ma, Dya mau ketemu Gina." Rengeknya.
Matanya berkaca-kaca, seolah bicara 'izinkan aku ikit Mama'.
Meskipun belum lama mereka berkenalan, tapi kedekatan mereka layaknya seorang dua anak yang sudah lama menjalin persahabatan.
Tidak tega rasanya membiarkan putrinya menunggu dengan wajah memelasnya.
"Bu Anita, biar saya yang masuk ke dalam. Ibu tunggu sebentar di sini." Kata Reza menawarkan bantuan.
Ekspresi mimik wajah Nindya yang membuat Reza ikut tidak tega melihatnya.
"Bilang Dokternya ya Om, Dya mau ketemu Gina." Pintanya lagi. Kali ini dengan lelehan air mata.
"Iya, Gina tenang saja."
Jawaban Reza membuat putri kecil Al tersenyum lebar.
Entah apa yang Reza sampaikan atau tanyakan di dalam. Yang jelas, dia benar-benar kembali dengan membawa kabar gembira.
Regina sudah dipindahkan ke ruang rawat inap khusus anak di gedung A. Dan itu berarti, Dya sudah boleh membesuknya, meskipun dengan batas waktu yang telah ditentukan.
"Beneran Om ?" Tanya Dya girang.
"Iya, beneran." Jawab Reza.
"Hore ... Dya bisa ketemu Gina Ma." Ucapnya antusias.
"Iya, ayo kita jalan Pak Reza."
Sesuai instruksi istri atasannya, Reza memutar mobilnya menuju gedung A dengan ruang VIP sesuai yang dia dapat pada bagiam informasi.
Tak sabar rasanya Nindya ingin segera bertemu dengan sahabatnya. Begitupun dengan Tata yang ikut cemas dan berharap tidak terjadi hal yang serius terhadap putri dari teman barunya.
_____________________
__ADS_1
_____________________
_____________________