
Tak terasa, malam semakin larut. Nindya sudah mulai lelap di dalam tidurnya.
Eerghemm ... Eerghemm ...
Entah mengapa tenggorokan Tata terasa kering. Rasa haus sudah tak terbendung lagi. Perlahan dia tinggalkan Nindya yang tangah pulas dalam mimpinya.
Langkah kakinya tertuju pada sebuah minibar yang ada di dekat ruang tengah. Dia tuang satu gelas air hangat untuk membasahi kerongkongan nya.
"Alhamdulillah." Ucapnya lirih.
"Loh, kok. Ruang kerja Pak Al lampunya menyala." Ucapnya sendiri, saat berjalan kembali ke kamarnya.
Tata berjalan menuju ruang yang tadi dia sebut, hanya untuk memastikan kalau tidak ada pencuri atau orang tak dikenal yang masuk ke dalam ruang kerja Alfatih.
"Tidak terkunci." Gumamnya sendiri, saat handle pintu dengan mudah terbuka.
Dia buka perlahan pintu ruang kerja Alfatih, yang tidak tertutup sempurna.
'Tidak ada orang.' Pikirnya dalam hati. Pandangan matanya bergerilya ke setiap sudut ruangan, tapi tidak seorangpun dia temukan ada kehidupan di dalamnya.
Aaarrggghhh !
"Ampun-ampun, saya orang baik, saya tidak macam-macam !" Teriaknya ketika seseorang menepuk pundaknya.
Seperti seorang yang latah dia teriak mohon ampun. Tata duduk setengah jongkok di ambang pintu. Tubuhnya yang tadi belum sepenuhnya masuk ke dalam ruang kerja Alfatih, gini mulai terdesak ke dalam oleh langkah kaki seseorang.
"Terus ngapain orang baik mengintip di sini ?" Tanya seseorang yang sudah pasti Tata hafal suaranya.
Refleks dia menoleh ke atas, benar saja, itu suara Alfatih majikannya yang sedang berdiri tegak, tepat di belakangnya.
"Pak Al, mengagetkan saja." Komentarnya dongkol.
"Harusnya saya yang kaget, ngapain kamu di sini !"
"Iya tadi, saya lihat ruang kerja Pak Al terang. Saya pikir ada maling atau orang asing malam-malam begini." Cerocosnya tanpa berani melihat lawan bicaranya.
Melihat ada segelas air putih di tangan nya, mungkin tadi sama seperti dia yang merasa kehausan saat tidur. Jadi Al meninggalkan ruangan nya untuk mengambil segelas air minum.
'Tapi, kenapa aku tidak melihat siapa-siapa di mini bar ?' Sanggah sisi hatinya merasa heran.
'Oh ... Mungkin tadi Pak Al ke toilet atau ke depan sebelum kembali ke ruang kerjanya.' Komentar sisi hatinya yang lain.
"Ya mana ada maling berani masuk ke ruang kerja saya. Yang ada kamu itu yang usil keluar masuk ruang kerja orang." Kata Al ngedumel sendiri.
"Idih gitu saja marah." Ucap Tata lirih, sembari berusaha kabur dari sisi Al.
__ADS_1
"Ngomong apa barusan ?" Gertak Al.
Tubuh kekar dengan kedua tangan yang kuat itu berhasil menahan Anita untuk tidak bisa menerobos keluar dari ruang kerjanya.
"Saya, saya, tidak ngomong apa-apa." Ucapnya mundur satu dua langkah ke belakang. Sehingga memudahkan Al untuk menutup pintu lebih rapat.
Bukan rasa takut yang Tata rasakan saat ini, tapi entah apa yang bergemuruh di dalam hatinya.
Apalagi setelah mengetahui jika Pak Al yang dia hormati, bukanlah suami orang. Melainkan seorang pria single yang pastinya menjadi idaman setiap wanita.
'Uuuffghhh... perasaan apa ini, kenapa dadaku berdegup kencang.' Keluhnya dalam hati.
Jika saja Al bisa mendengar gemuruh di dalam hatinya, pasti dia sudah menjadi bahan tertawaan saat ini.
Bbrrruuuuukkkk !
Langkahnya terhenti setelah pinggangnya terantuk sofa yang berjajar rapi di ruang kerja.
Hhhiiiissss !
Keluhnya meringis, seakan menyesali langkah mundurnya ke belakang.
Sedangkan Al dengan santainya bersandar pada pintu yang tertutup rapat. Kedua tangannya bersedekap, pandangan matanya nakal, senyumnya seolah menertawakan ketakutan yang Tata alami.
"Apa kamu sudah merasa berada di tempat yang aman ?" Tanya Al terdengar meledek.
"Semakin kamu bergerak semakin dalam, semakin mudah harimau akan memangsamu. Aaaarrrgggghhh ... !" Gertaknya.
Entah apa yang akan Al lakukan padanya saat ini. Namun yang jelas, tidak ada rasa takut di hatinya. Tata yakin, Al bukanlah orang yang suka memanfaatkan keadaan.
Merasa jiwanya sudah tidak terancam lagi, Tata melangkahkan kakinya lebih cepat setengah berlari dan berusaha membuka pintu.
Namun, lagi-lagi Al berhasil meraihnya.
"Ampun Pak Al, jangan." Rintihnya.
"Ahahahahah ... Memangnya apa yang akan aku lakukan, sehingga kamu minta ampun." Kelakarnya bercanda.
Al semakin terbahak saat Tata mulai ketakutan dan merunduk memegangi kepalanya.
"Ternyata, di balik jiwamu yang keras kepala, masih tersimpan rasa takut." Ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Dengan ragu, Tata meraih uluran tangan pria tampan di depannya. Tatapan mata Al yang tadinya acuh gini berubah menjadi lebih lembut.
Senyumnya yang sebentar-sebentar mengejek, gini berubah syahdu. Membuat terpesona setiap mata yang memandangnya.
__ADS_1
Tak terkecuali dengan Tata, gemuruh di dalam hatinya kian menjadi. Uluran tangan yang diharapkan bisa menopang tubuhnya, malah membuat langkah kakinya limbung.
Deg ...
Kembali tubuh mungilnya terjerambab di dalam dada bidang seorang Alfatih. Lama sekali mereka saling pandang, saling mengagumi satu sama lain.
'Ya Allah... makhluk apa yang ada di depanku saat ini ? Kenapa hatiku terasa bergetar saat memandang kedua bola matanya.' ucap Tata dalam hati.
Mungkin tangan Al yang menopang tubuhnya semakin merasa berat. Dia angkat perlahan, berharap bisa membantu Tata bisa berdiri kembali dengan sempurna.
Semakin dekat, semakin membuat Tata salah tingkah. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka, bulu kuduknya semakin merinding.
"Apa kamu lebih nyaman saya perlakuan seperti ini ?" Bisik Al membuat kesadaran Tata kembali.
Al melepaskan tangannya dari bahu yang tadi bersandar di tubuhnya. Tata yang berusaha merapikan pakaiannya, tidak bisa menyembunyikan rasa malu di wajahnya.
"Saya lihat Dya dulu Pak, takutnya terbangun." Ucapnya berusaha menghindar.
"Apa setelah itu, kamu akan kembali lagi ke tempat ini ?" Tanyanya menggoda.
Pintu yang tadinya tertutup rapat, gini mulai dia buka lebar-lebar. Tata berlalu tanpa harus menjawab pertanyaan Al.
"Selamat malam Nona." Candanya lagi.
"Malam Pak." Ucapnya sambil berlalu menuju kamar Nindya.
Hhaaaahhhh ....
Al merebahkan tubuhnya di sofa, saat Tata sudah menghilang dari pandangan matanya.
Dia tersenyum sendiri, saat mengingat kejadian yang baru saja mereka alami. Bagi Al, Tata bukanlah seorang pengasuh yang harus dia perlakuan seperti orang lain.
Tapi entah bagaimana seharusnya, dia sendiri tidak tahu. Terkadang ada perasaan lain yang membuat Al tidak bisa jauh darinya.
'Apa mungkin, dia juga punya perasaan yang sama denganku ?' Pikirnya dalam hati.
'Atau, bisa jadi pengamatanku keliru. Meskipun begitu, aku tidak bisa membuang nya dari pikiranku.' Keluh Al dalam hati.
Begitu pula dengan Anita, seperti seorang gadis yang sedang dimabuk asmara. Dia rebahkan tubuhnya, meskipun tidak bisa memejamkan mata.
'Apa sebenarnya yang terjadi di dalam batinnya ? Mengapa sinar matanya berubah saat begitu dekat dengan ku ? Ah, andai saja aku bisa membuka hatinya dan menjenguk apa yang ada di dalamnya.' Gumam Tata di antara sepinya malam.
________________
________________
__ADS_1
________________