Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 45. Hutang Piutang


__ADS_3

Masih seperti hari-hari yang lalu, Tata menyiapkan sarapan pagi sebelum Al berangkat ke kantor.


Siang ini Bunda dan Watik akan kembali ke rumah, Tata harus membereskan rumah agar terlihat bersih dan rapi. Baru setelah itu dia akan menunggu Al, untuk pergi ke rumah Paklek.


"Ingat, jangan pergi sebelum saya pulang." Ucapnya usai menyelesaikan sarapannya.


"Iya Pak."


"Dya, Papa berangkat kerja dulu ya Nak." Pamitnya kepada putri kecilnya.


"Iya Papa, hati-hati dijalan." Jawabnya menggemaskan.


"Pak Al." Panggil Tata saat Al akan memasuki kendaraannya.


Al menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap wanita yang mengekor di belakangnya.


"Terimakasih." Hanya itu yang dia ucapkan.


Al tidak menjawab dan segera berlalu dari hadapannya.


"Terkadang memang tidak bisa ditebak, apa maunya Pak Al." Gumamnya sendiri.


"Assalamu'alaikum Cantik." Sapa Mbak Watik yang tiba-tiba muncul dari pintu gerbang.


"Mbak Watik, sudah sampai. Katanya siang ?"


"Iya, Alhamdulillah semua sudah beres. Pengen cepet-cepet ketemu kamu, kangen." Jawabnya bercanda.


"Bisa saja. Tapi kok Mbak watik jalan kaki ?"


"Iya, ban motornya bocor tadi Mbak, jadi saya tinggal di bengkel. Nanti mau diantar ke sini." Ucapnya menjelaskan.


Berkali-kali handphond Tata berdering. Dari layar tertulis nama Astrid yang memanggil.


"Kenapa Mbak ? Kelihatannya Mbak Tata cemas begitu ?" Tanya Mbak Watik.


"Gakpapa Mbak, cuma sepupu saya nelfon-nelfon terus." Jawabnya tanpa memberikan penjelasan.


"Kenapa gak diangkat Mbak, takutnya penting." Saran Mbak Watik.


"Iya Mbak, kemaren juga dia ke sini sama Bulek saya. Sebenarnya hari ini saya diminta datang ke rumah."


"Lah, kenapa gak minta izin saja sama Mas Al ?"


"Itu dia Mbak, Pak Al gak mengizinkan kalau saya pulang sendirian."


"Lalu ?"


"Pak Al minta saya untuk menunggunya nanti siang."


"Malah bagus dong Mbak, jadi Mbak lebih aman dibandingkan ke sana sendiri. Mendengar cerita Mbak dari Bu Ranti waktu pada maen ke rumah singgah saja, saya sudah gak respect sama Bulek Mbak Tata. Lagaknya sok kaya, kadang memelas minta dikasihani, tapi juga gak tahu diri." Ungkapan kekesalan Mbak Watik sembari membungkam mulutnya sendiri.


"Apa saya pergi sendiri saja ya Mbak ?" Tanya Tata meminta pertimbangan.


Risih rasanya ditelfon telfon terus sama Astrid.


"Lebih baik menunggu Mas Al saja Mbak, atau Mbak Tata coba hubungi Mas Al. Kalau saya sih, mending nurut apa kata Mas Al."


'Mungkin sebaiknya aku hubungi Pak Al.' Pikirnya dalam hati.


Tutt ... tutt ... tutt ...


Terdengar nada panggilan masuk, namun belum ada jawaban dari Alfatih.

__ADS_1


"Mbak Watik, kelihatannya Pak Al sedang sibuk. Lebih baik saya berangkat ke rumah Paklek sendiri." Kata Tata tidak sabar menunggu.


"Tapi Mbak, nanti kalau Mas Al tanya bagaimana ?"


"Bilang saja kalau saya sudah berangkat. Pak Al tidak perlu ke sana, biar saya selesaikan sendiri." Jawab Tata sembari berkemas.


"Mama mau kemana ?" Nindya bertanya, berharap akan diajak jalan siang ini.


"Dya sayang, Mama minta izin ke tempat Paman Mama sebentar ya. Paman Mama sedang sakit, Dya main dulu sama Mbak Watik ya ?" Bujujnya.


"Mama gak lama kan ?"


"Tidak sayang, kalau urusan Mama sudah selesai, Mama akan segera pulang."


"Iya Mama, hati-hati dijalan."


"Mbak, titip Dya ya ?"


"Iya sudah, kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Pak Al."


Tata mengangguk, mengerti sekali tentang kekhawatiran Mbak Watik. Tapi apa mungkin dia bisa menghubungi Alfatih untuk urusan pribadinya. Secara, sudah banyak hal yang Al lakukan untuknya.


***


"Terimakasih Mas." Ucapnya sesampainya di gang kecil arah ke rumah paklek Arman, sembari memberikan ongkos kepada abang ojol yang setia mengantar pelanggannya.


"Sama-sama Mbak, jangan lupa kasih bintang." Jawabnya. Sama seperti abang ojol yang lain, meminta imbal balik atas pelayanan yang dia berikan.


Tata menyatukan ujung jari telunjuk dengan ibu jarinya, sebagai pengganti jawaban oke atas permintaan sang abang ojol.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Nduk masuk Ta."


"Ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga." Seru Astrid ketus.


"Apa kabar Ta ?" Sapa Andri yang sudah terlebih dahulu ada di tempat itu.


Tidak hanya sendiri, dia datang bersama dua orang laki-laki. Tata mengenal seorang di sebelah kanan Andri adalah Pak Johan, Ayahnya Andri. Tapi seorang lagi tidak dia kenali.


"Alhamdulillah, baik Mas." Jawabnya.


"Masih juga kamu bermanis-manis kepada wanita murahan ini, setelah apa yang dia lakukan sama kamu !" Maki Pak Johan terdengar marah.


Entah apa yang Beliau maksud.


Wanita murahan ?


Siapa yang disebut wanita murahan ?


Tata membelalakkan mata mendengar makian Pak Johan.


"Bapak, sudah, jangan bikin keributan." Kata Andri setengah berbisik.


"Tolong jaga biacara anda Pak Johan. Keponakan saya bukan perempuan seperti itu." Kata Paklek membela. Suaranya bergetar menahan amarah.


"Apa maksud Pak Johan berkata seperti itu ?" Tanya Anita tak sabar.


"Perlu kamu tahu, saya sebenarnya tidak setuju kalau anak saya berhubungan dengan gadis miskin seperti kamu !" Kata Pak Johan mengawali penjelasannya.


Tata masih diam menahan emosinya. Meskipun telinganya sudah panas mendengar cacian Pak Johan untuknya.


"Tapi karena permintaan anak kesayangan saya, apapun yang dia minta saya turuti." Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Dia minta saya buatkan minimarket demi kamu, dia mohon kepada saya untu menampung mu tinggal di salah satu kos-kosan saya, saya juga turuti. Bahkan dia juga minta saya kasih tambahan gaji untuk mu, saya juga turuti !


Tapi apa yang kamu lakukan pada anak saya, setelah habis kamu poroti duitnya, kamu tinggal begitu saja. Malah kamu bikin onar, seolah anak saya laki-laki tidak benar !"


"Tapi saya_"


"Tunggu, saya belum selesai bicara !" Potong Pak Johan sebelum Tata mengutarakan pembelaannya.


Begitu panjang dan lebarnya makian Pak Johan, hingga Tata hampir tidak kuat mendengarnya.


"Tuh Pak, dengarkan itu apa kata Pak Johan. Bapak bepa terus saja keponakan kesayangan Bapak." Komentar Bulek ikut campur.


"Saya yakin, Tata tidak seperti itu Bu." Kata Paklek kekeh dengan pendiriannya.


"Terus, terus saja dibelain."


"Dan kamu tahu, apa yang membuat saya harus bikin perhitungan dengan Paklekmu kali ini ?" Pak Johan bicara lagi, kali ini jari telunjuknya menunjuk persis di depan wajah Tata.


"Paklekmu punya hutang yang belum terselesaikan. Dan atas permintaan anak kesayangan saya, sebenarnya dia minta untuk tidak mengungkit hutangnya lagi. Tapi karena saya marah dengan kelakuanmu yang tidak tahu berterima kasih, saya tagih semua beserta bunga-bunganya."


Itulah inti permasalahan yang akan mereka bahas sebenarnya. Tata sendiri tidak tahu kapan dan untuk apa Paklek berhutang kepada Pak Johan.


"Apakah saya sudah boleh bicara ?" Tanya Tata datar.


"Ya, katakan kapan kamu bisa membayarnya ? Atau kalau tidak rumah dan isinya akan kami sita !"


Entah itu gertakan atau benar adanya, Tata sendiri tidak tahu.


"Berapa Paklek berhutang ?" Tanya Tata kepada Paklek Arman.


"Hutang Paklekmu dua ratus juta, itu belum bunganya." Sela Pak Johan.


"Tidak Nduk, Paklek tidak pernah punya hutang sebanyak itu kepada Pak Johan." Kata Paklek menyangkal.


"Ya mana Paklekmu tahu, wong waktu itu dia sedang koma." Sanggah Bulek ikut bicara.


"Bagaimana bisa, Paklek tidak merasa berhutang, tapi Pak Johan menagih sebesar itu ?" Tanya Tata heran.


"Hei, bocah kemaren sore ! Bulek yang berhutang untuk biaya pengobatan Paklekmu waktu terbaring tak berdaya di rumah sakit, wira-wiri perjalanan dari luar jawa ke sini. Kamu pikir gratisan apa !" Kata Bulek tak kalah ketusnya.


"Bukankah semua memang gratis Bulek ?"


Tata tahu, biaya pengobatan dan transport semua ditanggung Alfatih. Lalu bagaimana bisa semua itu dipakai alasan untuk Bulek menyalahkan keadaan Paklek.


"Kamu pikir, kami tidak butuh biaya untuk hidup ! Selama Paklekmu lumpuh, apa kamu berpikir bagaimana nasib kami !"


"Tapi uang sebanyak itu ? Padahal sudah ada tambahan bulanan dari perusahaan Paklek bekerja."


Perdebatan sengit, antara Bulek dan Tata.


"Saya tidak mau tahu, yang penting sertifikat rumah ini sudah di tangan saya. Kalau sampai minggu depan tidak ada pelunasan, silahkan kosongkan rumah ini." Kata Pak Johan menghentikan perdebatan Bulek dan Tata.


"Ibu, bagaimana ini ? Astrid tidak mau keluar dari rumah ini." Rengek Astrid seolah dibuat-buat.


"Beri kami waktu untuk menyelesaikan Pak." Pinta Paklek.


'Kemana saya akan mencari uang sebanyak itu ? Meskipun rumah ini tidak akan mungkin aku tempati, tapi setidaknya masih ada kenangan yang tersisa dari peninggalan Almarhum ayah dan Ibu.' tangisnya dalam hati.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2