Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 64. Masih Dibakar Api Cemburu


__ADS_3

Matahari hampir terik, saat Anita masih duduk bersandar di sofa balkon rumahnya. Tadi dia tidak sendiri, ada Al yang menemani. Hari ini, Al memang sengaja tidak ke kantor. Dia berjanji akan mengajak Nindya jalan-jalan dan berenang siang ini.


"Sebentar sayang, Mas ke belakang dulu ya." Pamit Al meninggalkan Tata sendiri.


"Hhhhmmmm." Jawab Tata malas.


Rasa cemburu yang dia bawa sepulang dari kantor Al kemaren masih berlanjut. Dia tidak banyak tanya, tapi sedikit mempelajari bagaimana karakter suaminya.


Tiga bulan, bukanlah waktu yang lama untuk mengenal bagaimana suaminya. Tata sudah lama tinggal bersama dia di dalam satu atap, tapi sebelum Al menjadi suaminya, Tata tidak pernah peduli dengan apa yang majikannya itu lakukan.


"Mbak Tata jangan khawatir, Pak Al tidak mungkin meladeni perempuan seperti Mbak Bela." Kata Reza sebelum dia melajukan kendaraannya pulang kemaren.


'Memang, aku tak boleh menaruh curiga kepada suamiku sendiri. Apalagi Mas Al menunjukkan betapa dia sangat menyayangiku. Semua orang juga tahu, kalau pernikahan kami bukan berawal dari perjodohan, tapi sebuah pertemuan singkat yang membuat hati kami sama-sama merasakan jatuh cinta.' Kata hati Anita.


'Tapi, untuk apa perempuan itu datang lagi ke kantor suamimu ? coba pikir, buat apa coba !' Komentar sisi hati Tata.


'Sudah Ta, paling juga kebetulan lewat dan mampir saja. Atau kalau enggak, mungkin dia ada keperluan.' Sanggah sisi hatinya yang lain.


"Apaan sih, gak boleh su'udzon. Sabar Tata, sabar, harus tetap husnudzon." Gumamnya sendiri menyudahi lamunannya.


Tata berdiri hendak kembali ke kamarnya, memastikan kalau suaminya tidak akan kesulitan jika memerlukan sesuatu.


Namun, langkah kakinya terhenti, saat melihat handphond Al yang tertinggal di balkon menyala. Tidak ada nada suara, juga tanpa dering dan getar.


'Tumben-tumbenan Mas Al silent handphondnya.' Pikirnya curiga. Tata mencoba mengintip sedikit, sengaja untuk mengetahui siapa yang berada di balik layar handphone suaminya.


"Siapa yang nelfon, takutnya penting." Gumam Tata sendiri.


'Bella'


Muncul sebuah nama dari panggilan di layar kaca.


Dia tengok ke dalam, yang punya handphone belum juga keluar dari kamar mandi. Gatal rasanya tangan Tata ingin mengangkatnya. Namun kedip nyala lampu handphone itu telah terhenti, sebelum dia sempat mengangkatnya.


Tak berapa lama, ketip-ketip cahaya itu bersinar kembali. Kali ini bukan sebuah panggilan, tapi berupa pesan WhatsApp.


["Al, sudah di kantor kah ? Aku boleh mampir lagi ya ? Kangen ... "]


Isi pesan dari perempuan bernama Bella itu, yang kebetulan bisa terbaca dari luar.


Dari kalimatnya seolah Al selalu memberinya peluang untuk datang dan memberinya kesempatan untuk meluapkan rasa kangen.


Jijik rasanya Tata yang tanpa sengaja membacanya. Perasaan ingin berbaik sangka, berubah menjadi sebuah perasaan yang berburuk sangka.


'Ujian apa yang ingin Allah berikan kepadaku di usia pernikahan kami yang baru seumur jagung.' Keluhnya dalam hati.


'Maafkan aku mas, aku ingin berbaik sangka, tapi kenapa harus kulihat sendiri pesan itu. Ditambah lagi, tanpa nada dering, bahkan tanpa getar sedikitpun.'

__ADS_1


Emosi hatinya mulai meluap, ada rasa dongkol yang terpendam.


"Ada apa sayang ?" Tanya Al mengagetkan, disaat air mata Tata mulai mengintip melalui kelopak matanya yang indah.


"Tidak apa-apa." Jawabnya menyembunyikan perasaan hatinya.


'Tidak apa-apa ? Jawaban yang langka, dan sepertinya dia habia menangis.' pikir Al dalam hati.


"Benar, kamu tidak apa-apa ?" Tanya Al kembali memastikan.


"Iya, mungkin hanya sedikit kurang enak badan saja." Kata Tata mengelak.


Merasa ada yang aneh dengan istrinya, Al menarik pergelangan tangan Tata saat dia mencoba untuk menghindar dengan keluar dari kamarnya.


"Tunggu."


Tata terdiam dengan posisi membelakangi.


"Benar, apa yang kamu ucapkan ?" Tanya Al penuh selidik.


Kali ini Al merubah posisi, dia berada tepat di depan istrinya.


"Meskipun belum lama kita saling mengenal, tapi aku lebih mengenalmu, jauh sebelum kamu mengenalku." Ucapnya sembari mengangkat dagu ranum istrinya.


"Katakan, ada apa ?" Pinta Al sekali lagi.


"Maksud kamu ? kebohongan apa yang aku sembunyikan ?" Tanya Al yang belum paham dengan pertanyaan Tata.


"Kenapa Mas matikan nada dering di handphone Mas, bahkan getar sekalipun, tidak juga dinyalakan. Untuk apa Mas ? Agar aku tidak mengetahui kalau sewaktu-waktu Bella menghubungimu atau mengirim pesan untukmu ?" Ucapnya terdengar serak.


"Nada dering ? Bella ? Ada apa denganmu ?"


Al masih memegang pergelangan tangan anita, saat dia mencari keberadaan handphonenya.


Dia buka dan dia lihat ada tiga kali panggilan tak terjawab dan dua pesan dari satu orang yang sama, 'Bella'.


Al tertawa kecil melihatnya.


"Jadi ini, yang membuatmu uring-uringan tidak jelas ?" Tanya Al memastikan.


Tata masih berdiam diri dengan pergelangan tangan kanannya yang masih terkunci. Al menariknya pelan, dan meraihnya ke dalam pangkuannya.


"Kamu cemburu ?" Bisiknya.


"Aku senang melihatmu cemburu. Itu tandanya, kamu sudah benar-benar mencintaiku." Lanjutnya setelah tidak ada jawaban dadi lawan bicaranya.


"Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Tidak dengan siapapun, termasuk Bella sekalipun." Ucapnya meyakinkan.

__ADS_1


Kalimat yang Al ucapkan mampu menggugah hati nurani Tata yang tadi sempat muram. Perhatiannya mulai tertuju kepada pria di sisihnya.


"Jika suatu hari nanti, aku mangkir dari ucapanku, kamu boleh bawa aku ke psikiater atau duku sekalian." Ucapnya bercanda.


"Husss ! Pamali, gak boleh ngomong begitu." Kata Anita membungkam mulut Al.


"Habisnya kamu juga aneh, coba pikir. Aku lebih dahulu mengenal Bella, tapi kenapa aku lebih memilihmu ?" Tanya Al ingin tahu jawaban istrinya.


"Karena terpaksa mungkin ?"


"Enak saja kalau ngomong."


"Memangnya karena apa ?"


"Karena aku lebih sayang dan cinta sama kamu." Bisiknya mesra.


Tata memandang lekat wajah suaminya. Ada kejujuran di matanya. Dia mencoba untuk tetap percaya, meskipun masih ada segudang pertanyaan berkeliling di kepalanya.


"Lalu, kenapa dia masih menghubungi Mas ? Terus untuk apa Mas silent handphonenya." Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.


"Oh ... itu karena semalam, aku ingin menikmati tidur nyenyakku bersamamu, tanpa gangguan dering handphone. Dan pagi ini, lupa aku nyalakan kembali." Jawab Al apa adanya.


Memang, semalam Tata melihat sendiri Al mematikan nada dering handphonenya sebelum beralih memeluk tubuhnya hingga pulas tertidur sampai pagi.


"Lalu ?" Tanya Tata lagi masih merasa belum lengkap dengan jawaban yang Al sampaikan.


"Hhhhmmmm ... lalu apa ? Soal Bella menghubungiku ? Itu karena dia saja yang masih mengejar-ngejar aku terus. Sudah aku blokir nomornya, dia ganti lagi dengan nomor yang baru. Masih kurang percaya ? Tanya sama semua orang yang ada di kantor." Jawab Al panjang kali lebar.


"Apa lagi ?" Tanya Al kembali, saat melihat Tata masih bengong.


"Gak ada, aku percaya sama Mas." Ucapnya lirih.


Al yang merasa tertantang dengan bibir ranum Anita, kembali diraihnya, seperti seorang anak kecil yang menikmati permen lollipop.


Refleks tangan Tata merangkul leher Al, membalas dengan perlakuan serupa. Bukan hanya itu, tangan nakal Al mulai meraih satu persatu kancing baju anita.


Tok ... tok ... tok ...


"Papa, Mama, buluan, katanya mau belenang !" Teriak Nindya mengagetkan.


Membuat Tata seketika berdiri dan merapikan kembali kemejanya.


"Iya sayang, ini Mama baru siap-siap." Jawabnya sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Nindya.


____________________


____________________

__ADS_1


____________________


__ADS_2