
Pagi ini semua orang di rumah kelihatan sangat sibuk. Ada yang menyiapkan rangkaian parcel ada pula yang sedang sibuk membuat kue-kue.
Tangan mereka tidak ada yang diam, begitu juga Tata yang membantu Mbak Watik membuat sebuah adonan kue.
"Eh ... calon pengantin jangan capek-capek masuk dapur." Goda salah seorang tetangga yang juga ikut membantu.
"Sudah terbiasa Buk." Jawabnya mengimbangi.
Calon pengantin, ya ... kesibukan ini untuk dia, gadis cantik yang baru saja dibilang calon pengantin.
Calon pengantin yang seharusnya dipingit di tempat lain, tapi tidak untuk Tata. Sebuah tradisi jawa yang harus dia langgar karena keterbatasan.
"Mbak Tata." Panggil seorang ibu yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
"Iya Buk."
"Mbak Tata dipanggil Bunda." Ucapnya.
"Oh, iya. Sebentar, saya cuci tangan dulu." Jawabnya, segera berdiri membersihkan kedua tangannya yang berbalut dengan adonan.
"Iya Mbak, Beliau ada di balai depan." Ucapnya lagi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Tata untuk kembali ke tugasnya.
Tata segera berdiri menghadap sang Bunda. Kapan lagi dapat kasih sayang lebih dari seorang ibu yang dia impikan sejak kecil.
"Assalamu'alaikum Bunda." Sapanya saat sampai di tempat yang tadi di informasikan.
"Wa'alaikumsalam, duduk Nak."
"Inggih, Bunda."
Ada Al yang sudah duduk manis bersama Bunda di sana.
'Ada apa ini ? Kelihatannya ada hal yang serius.' Pikir Tata dalam hati.
"Hari ini, hari terakhir sebelum kalian sah menjadi suami istri." Kata Bunda.
"Besok dan seterusnya, kalian bukan lagi seorang yang egois dengan kepentingan masing-masing. Tapi satu keluarga yang harus saling melengkapi kekurangan pasangan masing-masing." Kata Beliau lagi.
"Terutama kamu Al, kesampingkan sikap egomu, sayangi dan lindungi anak istrimu. Teladani mendiang Ayahmu yang tidak pernah membuat Bunda menangis." Menyebut kata ayah, Bunda tidak kuasa menahan tangis.
"Insya Allah Bunda, restu Bunda selalu kami harapkan." Jawab Al.
"Tentu Nak."
Seorang laki-laki yang bisa menghormati dan menyayangi ibunya, berarti dia juga akan menghormati dan menyayangi istrinya.
"Nduk, ini perhiasan turun temurun keluarga kita. Bunda mau kamu kenakan saat pernikahan nanti."
"Masya Allah, ini sangat berlebihan untuk Tata Bunda." Dia terima amanah dari Bunda.
"Pakailah, Bunda senang jika kamu mau pakai setiap hari."
Tata memang tidak terbiasa memakai perhiasan, tapi kali ini dia berusaha membiasakan kebiasaan baru, demi kebahagiaan keluarga Kamandanu yang nantinya akan dia jaga pula kehormatannya.
"Seharusnya kalian dipingit, tapi tidak apa-apa, keadaan yang mengizinkan kalian untuk bertemu dan berdampingan." Begitu pesan yang Bunda sampaikan.
__ADS_1
"Maafkan Tata Bunda, andai saja kedua orang tua Tata masih ada, mungkin tidak seperti ini jadinya."
"Ssssttt ... Jangan bicara seperti itu. Semua sudah menjadi kehendak-Nya. Mungkin jika kedua orang tuamu masih ada, belum tentu juga kalian akan bertemu." Kata Bunda bijak.
"Benar kata Bunda, syukuri semua yang kita miliki apapun keadaannya, semua sudah ada yang mengatur." Sambung Al.
'Alhamdulillah ...' ucapnya dalam hati.
Lagi-lagi Allah memberikan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
***
Malam ini begitu gerah, membuat Tata tidak bisa tidur, padahal sudah ada AC yang dia nyalakan, di luar sana, udara juga begitu dingin. Entah apa yang dia pikirkan, mungkin gugup, karena besok akad nikah dilaksanakan.
Begitu juga dengan Al, dia masih terjaga, berdiri mematung di balkon kamarnya. Mungkin, apa yang Tata rasakan, sama dengan yang Al rasakan saat ini.
"Kenapa malam-malam begini kamu di luar ?" Tanya Al yang menghampiri calon istrinya, saat dia lihat Tata berdiri dengan kedua tangan bersedekap sendiri di luar.
"Mas Al sendiri ngapain disini ?"
"Ditanya malah balik nanya."
"Gerah Mas, gak bisa tidur. Saya ambil air mineral tadi." Jawab Tata asal.
"Kamu gugup ya ?" Tanya Al yang mulai menempati kursi kosong di samping calon istrinya.
"Iya Mas, entah kenapa perasaanku tidak enak." Ucapnya lirih.
"Jangan terlalu berfikir negatif, positif thinking saja, biar hasilnya juga positif." Nasehat Al.
"Ada satu hal yang belum aku sampaikan kepadamu." Kata Al sembari meminta Tata untuk duduk.
"Ada apa Mas ?"
"Ada sesuatu yang belum aku kasihkan sama kamu."
Sebuah kotak perhiasan warna merah Al serahkan.
"Apa ini Mas ?" Tanya Tata heran.
"Buka saja."
Sesuai instruksi Al, Tata membuka kotak perhiasan yang Al berikan.
Sebuah perhiasan emas, tepatnya sebuah gelang yang sangat dia kenal.
"Gelang ini ?" Ucapnya lirih.
Tata menitikkan air mata. Masih lekat di dalam ingatannya, saat dia dirawat dan demi menghindari Al, Tata melarikan diri dari rumah sakit.
Dan gelang itu ?
Salah satu peninggalan ibunya, yang sempat dia jual untuk biaya rumah sakit.
'Mbak Wulan, apa mungkin Mbak Wulan yang memberikan gelang ini kepada Mas Al ? Karena waktu itu aku minta tolong Mbak Wulan untuk menjualnya.' Pikirnya dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa ? Kamu heran, bagaimana perhiasan itu bisa ada padaku ?" Tanya Al tepat di hadapan kekasihnya.
"Mbak Wulan yang memberikan ini pada Mas ?" Tanya Tata setengah menebak.
"Bukan, mana mungkin dia berani melakukan itu." Jawabnya tersenyum.
"Lalu ?"
"Reza yang membuntuti Wulan saat menjual perhiasan itu. Dan aku meminta dia untuk membelinya kembali."
Tata memperhatikan perhiasan yang ada di tangannya. Tidak disangka, dia akan mendapatkannya kembali.
Sangat berat rasanya merelakan perhiasan peninggalan ibunya untuk dijual waktu itu. Tapi keadaan yang mengharuskan Tata untuk menjualnya.
Dan saat ini, perhiasan itu kembali lagi kepadanya. Salah satu bukti kalau masih berjodoh dan dia lebih berhak memilikinya, daripada orang lain.
"Aku tahu, perhiasan itu sangat berarti buat kamu." Kata Al, sebelum berdiri meninggalkan Tata sendiri di tempat itu.
"Mas Al." Panggilnya lirih.
"Hhhhmmmm."
Belum sempat Al menoleh ke belakang, Tata sudah memeluknya dari belakang.
"Aaauuu..." Ucap Al mengangkat tangan.
"Terimakasih Mas, aku tidak tahu harus berkata apa lagi." Isaknya semakin menjadi.
"Sssatttt ... jangan menangis, nanti Bunda dengar." Ucap Al masih mengangkat tangan.
"Iya maaf, terus kenapa tangannya diangkat begitu ?" Tanya Tata heran.
"Belum muhrim, heheheh ... " Jawabnya cengengesan.
"Maaf, khilaf.' Ucap Tata. Dengan kasar dia mengusap pipinya yang terasa basah oleh air mata.
"Sudah terlalu larut, istirahatlah. Besok kamu harus bangun lebih awal. Jangan buat dirimu lelah di malam pertama kita." Bisik Al lirih, sembari menghapus sisa air mata di pipi bidadari cantiknya.
Tata tersenyum manis sebelum akhirnya dia berlari mendahului Al yang masih bengong melihat senyum manisnya.
'Senyum itu yang membuatku tidak bisa melupakanmu.' Gumam Al dalam hati.
Dia perhatikan pujaan hatinya sampai menghilang di balik pintu kamarnya, sebelum akhirnya dia sendiri kembali ke kamarnya.
'Alhamdulillah, akhirnya gelang ini kembali lagi kepadaku.' ucap Tata sebelum dia pejamkan matanya.
Tangan kanannya menggenggam erat pergelangan tangan kirinya, dimana dia kenakan perhiasan peninggalan sang Bunda.
Malam ini, malam terakhir dia hidup sendiri. Di dalam tidurnya, dia berharap bisa bertemu ayah dan Bunda.
___________________
___________________
___________________
__ADS_1