Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 26. Melati Nomor Tiga


__ADS_3

"Pak Al." Sapa seseorang yang keluar dari pintu ruang rawat inap nomor satu.


"Pak Anton ? Siapa yang sakit ?" Tanya Al yang mengurungkan niatnya untuk mengikuti Bunda besuk ke ruang rawat inap melati nomor tiga.


"Anak saya Pak, habis dioperasi. Tangannya patah, karena jatuh dari sepeda."


Al menyempatkan waktunya untuk membesuk putra Pak Anton.


Pak Anton adalah salah satu pemilik biro perjalanan wisata, yang juga partner kerja di perusahaan Al.


"Pak Al sendiri, besuk siapa ?" Tanya Pak Anton ganti.


"Oh, itu, saya cuma antar Bunda. Besuk teman Beliau." Jawabnya ragu.


Karena dia sendiri juga belum tahu siapa yang ada di dalam kamar rawat inap nomor tiga.


"Lekas sembuh ya Nak." Ucap Al memberi semangat, sembari menyisipkan beberapa lembar ratusan ribu di balik bantal yang ditiduri putra Pak Anton.


"Terimakasih banyak Pak Al, sudah menengok anak kami. Terimakasih juga atas doanya." Kali ini istri Pak Anton yang menjawab.


"Sama-sama Ibu, kalau begiti saya permisi dulu Pak Anton. Takutnya Bunda nyariin saya." Pamitnya.


"Inggih, monggo. Salam kagem Bunda Pak Al."


"Wa'alaikumsalam, Insha Allah saya sampaikan."


Al kembali berjalan berbalik arah, menuju ruang yang menjadi tujuan utamanya datang ke rumah sakit ini.


Dari luar samar-samar sudah terdengar percakapan antara Bunda dan entah siapa.


"Assalamu'alaikum."


'Ya Allah, suara itu.' Bisik Tata dalam hati.


Entah kenapa, detak jantunnya berdegup kencang, bahkan kepalanya terasa berat setelah mendengar suara salam dari luar.


"Wa'alaikumsalam." Jawab seisi ruangan serentak.


"Al, kamu kemana saja tadi ? Bunda pikir kamu pergi karena ada urusan mendadak." Tanya Bunda Arum, yang sempat sebentar tadi kehilangan putranya.


Pandangan mata Al langsung fokus tertuju pada suara Bunda yang sedang bertanya.


"Maaf Bunda, tadi di ruang sebelah ada Pak Anton, partner kerja Al."


"Kok di ruang sebelah ? Dia sakit ?"


"Bukan dia, tapi anaknya. Baru selesai di operasi karena tangannya patah setelah jatuh dari sepeda."


Anita masih diam mendengarkan percakapan mereka berdua. Sedangkan Bu Ranti, hanya bisa tersenyum, karena tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan.


Al baru menyadari, kalau dia belum menyapa tuan rumah di ruangan ini, usai menyudahi percakapannya dengan sang Bunda.


"Maaf, saya_"


Ucapnya terhenti setelah pandangan matanya beralih kepada sosok gadis yang sedang duduk di atas ranjang pasien.

__ADS_1


"Anita ?"


Yang disapa hanya tersenyum manis sembari menganggukkan sedikit kepalanya.


'Masya Allah, senyum manis itu.'


Seketika bibir Al keluh tak dapat bicara. Dia sendiri bingung, pertanyaan apa yang akan dia sampaikan.


Meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di pikirannya.


'Sakit apa dia ?'


'Bagaimana bisa dia sampai oknam ?'


'Sejak kapan ?'


Diamnya Al, membuat suasana semakin kaku. Bahkan mereka hanya bisa saling pandang. Terutama Al, yang tidak tahu lagi harus berkata apa


"Kamu juga Al, masak karyawan sendiri sakit, kamu tidak tahu." Tegur Bunda mencairkan suasana.


"Iya, mana Al tahu kalau Al tidak dapat laporan Bunda." Jawabnya membela diri.


"Lain kali, kamu harus lebih banyak perhatian dengan karyawan. Terutama bagian operasional. Pekerjaan mereka berat, tapi kadang penghargaannya lebih ringan." Pendapat Bunda.


Kalau sudah Bunda Arum berbicara, Al hanya bisa diam mendengarkan. Tidak berani untuk berkomentar lebih jauh, apalagi membantah omongan Beliau.


"Kok malah jadi ngomongnya kemana-mana." Kata Bunda, seolah ada nada penyesalan di dalamnya.


"Oh ya, Bu Ranti sudah makan ?" Tanya Bunda Arum.


"Iya, tadi, su_"


"Maksud saya, tadi sudah disuruh makan dulu sama Nduk Tata. Tapi masih belum lapar." Jawabnya asal.


"Ya sudah, kalau begitu temani saya makan siang di kantin ya Buk."


Memang pada dasarnya, Bu Ranti sudah lapar. Jadi tidak menutup kemungkinan bagi Bu Ranti untuk harus menerima tawaran Bunda Arum.


Entah apa tujuan Bunda. Yang pasti, kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Al mengambil posisi duduknya pada pinggiran ranjang pasien yang sedang Tata duduki.


Posisi mereka saat ini berhadap-hadapan. Tata merasa risih diperhatikan seperti itu.


'Ya Allah, kenapa aku merasa sangat takut.' Keluh hatinya.


Entah ketakutan yang seperti apa yang sedang dia rasakan. Ketakutan yang bersumber dari dirinya sendiri. Sebab saat seperti inilah, Tata tahu benar kelemahan hatinya.


"Sejak kapan kamu sakit ?"


Pertanyaan pertama Al lontarkan.


"Kemaren malam." Jawab Tata singkat tanpa berani memandang orang yang bertanya.


"Lalu kenapa sampai oknam ? Apa diaknosa dari dokter ?"


Kini berpindah ke pertanyaan kedua dan ketiga.

__ADS_1


Bagai seorang detektif yang sedang menginterogasi buruannya. Al begitu teliti mengamati setiap jengkal perubahan mimik wajah lawan bicaranya.


"Cuma, cuma flu saja." Jawab Tata mulai gugup.


"Kamu pikir, aku anak kecil yang bisa dibohongi." Komentar Al.


Hari ini Tata banyak merunduk, hanya untuk menghindari pandangan dengan Al. Resah dan gelisah pun mulai dia rasakan.


Memang, dia juga sadar bahwa menghindari keresahan itu bukan dengan cara menghindar dari orang yang bersangkutan, tapi dengan membuang keresahan dari dalam hatinya sendiri, meskipun itu tidak sangatlah mudah.


"Kenapa diam ?" Tanya Al memecah kesunyian.


Tata menelan ludah, berusaha membuat rileks tubuhnya dengan membasahi kerongkongan nya sendiri.


'Huufff...Bunda sama Bu Ranti kemana lagi.' Keluhnya sembari mengusap peluh di keningnya.


Melihat tingkah Tata, tanpa bertanya lebih lanjut, Al menekan bel darurat yang tertuju ke ruang suster jaga.


"Permisi Pak ? Apa ada masalah ?" Tanya suster jaga yang tiba-tiba masuk ke dalam karena panggilan melalui bel darurat.


Tata tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang dia tidak membutuhkan apa-apa saat ini.


"E ... Ti_"


"Iya Sus, saya minta pasien di pindahkan ke kamar VIP, yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC." Sela Al memotong pembicaraan.


"Baik Pak, akan kami urus."


"E ... Tunggu Sus, Pak Al itu tidak perlu. Saya sudah sehat, sebentar lagi sudah diizinkan pulang." Cegah Tata.


"Hhhhmmmm." Komentar Al sembari melihat ke arah suster, meminta jawaban atas pernyataan yang Tata berikan.


"Belum bisa secepat itu Ibu, kami team medis belum bisa memastikan kapan Ibu anita diizinkan pulang. Karena hasil lab juga belum keluar." Jawab suster apa adanya.


Anita memandangi suster dengan mimik setengah melotot.


"Hahaha ... Sudah sus, tolong siapkan apa yang saya minta tadi." Kata Al mengulangi.


"Baik Pak, akan kami urus terlebih dahulu."


Usai berkata begitu, Suster jaga keluar meninggalkan mereka berdua di dalam perdebatan yang rumit.


"Pak Al tidak bisa berbuat seenaknya seperti itu, memutuskan apa yang bukan menjadi hak Pak Al." Protes anita.


"Seenaknya kamu bilang ?" Al tertawa sinis.


"Bicara soal hak, saya juga punya hak memutuskan. Apalagi bersangkutan dengan kesehatan karyawan." Jawab Al tegas.


"Tapi apa yang sudah saya dapatkan, ini lebih dari cukup Pak. Tidak perlu dipindahkan ke kelas yang lebih atas. Karena ini sudah yang terbaik menurut saya." Masih kekeh menolak.


"Sudahlah, saya tidak mau berdebat dengan kamu. Sekarang kamu diam dan nurut apa yang saya katakan."


Al bergeser tempat sedikit menjauh. Dia mengambil posisi duduk dengan kedua tangan bersilang di atas dada dan kedua mata fokus ke depan, melihat tingkah aneh bidadari tanpa sayap yang suka melawan.


___________________

__ADS_1


___________________


___________________


__ADS_2