
'Kue - kue, puthu ayu !" Teriaknya menawarkan barang dagangannya.
Hampir setengah hari dia berkeliling, namun belum satupun kue puthu ayu buatannya terjual.
Anita duduk termenung di sebuah kursi yang ada di taman kota. Pandangannya jauh menuju entah kemana.
"Puthu ayu ?" Tanya seorang ibu yang sempat membuyarkan lamunannya.
"Oh, eh, iya Ibu. Silahkan." Jawabnya ramah.
"Berapa, satunya ?"
"Seribu rupiah saja Bu."
Diambilnya sebuah kue puthu ayu untuk Beliau cicipi.
"Enak, manis, gurih, rasanya pas." Komentarnya.
"Alhamdulillah, iya Bu."
"Siapa yang buat ?"
"Saya sendiri Bu."
"Oh ya." Masih menikmati kue ditangannya.
"Kamu masih sekolah ?"
"Saya, saya sudah tidak sekolah sejak lulus sekolah dasar Bu."Jawabnya sedih.
"Kenapa ?"
"Karena, tidak ada biaya Bu."
"Orang tua kamu kerja apa ?" Ibu itu menghentikan gigitan pada kue di tangannya. Dia merasa iba dan ingin tahu lebih dalam.
"Kedua orang tua saya, sudah meninggal Bu. Saya diasuh dan dibesarkan oleh Paklek dan Bulek."
"Oh, maaf. Ibu tidak tahu."
"Tidak apa-apa." Ucapnya tersenyum.
"Berapa usiamu Nak ?"
"Usia saya delapan belas tahun Bu."
'Harusnya dia masih duduk di kelas tiga Sekolah Atas saat ini.' komentar Beliau dalam hati.
"Oh ya, itu masih berapa ?" Tanyanya kembali, sembari menunjuk kue di dalam keranjangnya.
"Masih utuh Bu, ada lima puluh kue."
"Hahh..." Komentarnya.
"Maksud saya, belum laku satupun Bu. Ibu mau berapa biji ?" Tanya Tata sembari menyiapkan sebuah kantong plastik.
"Ibu mau semuanya."
"Apa ? Semuanya ?" Tata mengulanginya kembali, hanya ingin memastikan pendengarnya.
Ibu yang baik hati itu mengangguk sembari tersenyum manis.
"Yang betul Bu ?"
"Iya betul. Tapi, Ibu bisa minta tolong ?"
"Iya Bu, apa yang bisa Tata bantu ?"
__ADS_1
"Nama kamu Tata ?"
"Eh, iya Bu. Nama saya Anita. Tapi biasa dipanggil Tata." Jawabnya ceria.
"Ayo, bantu Ibu membagikan kue puthu ayu ini di rumah singgah sebelah sana."
"Baik Bu." Jawabnya lebih antusias.
Tata berjalan beriringan mengikuti langkah kaki Ibu yang baik hati itu.
'Rumah singgah itu tempat apa ya ? Apa semacam panti ya ?' Tanya Tata dalam hati.
'Gadis ini sangat lugu, selain cantik dia juga energik dan pintar. Sudah lama aku memperhatikannya. Rasa-rasanya seperti dia kembali lagi.' Gumam Bunda Arum dalam hati, sembari menahan air matanya.
Ya, Ibu yang baik hati itu adalah Bunda Arum. Sudah beberapa hari ini, Beliau mengunjungi rumah singgah. Dan Beliau selalu meminta untuk diturunkan di sisi taman kota saat melewatinya.
"Apa tempatnya tidak jauh dari sini Ibu ?"
"Tidak sayang, hanya di sebrang jalan sana." Jawab Beliau menunjuk ke sebuah bangunan.
Di rumah itu banyak di tampung anak jalanan yang tidak punya keluarga lagi.
Disana juga diajarkan berbagai macam keterampilan dan ilmu pengetahuan.
"Kita sudah sampai." Kata Beliau.
'Oh...jadi seperti ini yang namanya rumah singgah ?' Gumamnya dalam hati.
"Ayo, bantu ibu membagikan ya."
"Iya Bu."
"Bunda..." Panggil anak-anak penghuni rumah singgah kepada ibu yang menuntunnya ke tempat itu.
'Jadi mereka memanggil ibu itu dengan panggilan Bunda.' Gumam Tata dalam hati.
"Selamat pagi Bunda." Jawab mereka hampir bersamaan.
"Perkenalkan, ini kakak Tata. Kak Tata akan membagikan kue puthu ayu untuk kita semua."
"Asyik, terimakasih kak." Ucapnya serempak.
Tata begitu bahagia, membaur bersama mereka. Bahkan dia sudah akrab dengan semua pengurus di rumah singgah itu. Terutama Mbak Wulan.
Kedekatan yang singkat itu begitu berarti baginya. Seolah dia menemukan keluarga barunya. Sampai - sampai dia lupa, kalau misinya saat ini hanyalah berjualan. Menambah pundi-pundi rupiah yang dia gunakan hanya untuk menyenangkan orang lain.
Hingga dia tersadar kalau hari mulai gelap.
"Bunda, mohon maaf, Tata harus pamit." Ucapnya kepada Bunda Arum.
"Oh, iya sayang. Bunda sampai lupa. Ini uang kue puthu ayunya."
Tata melongo saat Bunda Arum memberikan 10 lembar uang lima puluh ribuan.
"Ini terlalu banyak Bunda, cukup lima puluh ribu saja." Jawabnya sembari menarik satu lembar lima puluh ribuan.
"Tidak Nak, ambil semua. Ini Bunda berikan sebagai tanda terimakasih dan rasa sayang Bunda terhadap anak-anak Bunda, termasuk kamu."
Tak terasa air mata Tata mengalir dengan sendirinya. Sudah lama dia tidak mendengar kalimat - kalimat baik seperti itu.
"Ayo ambil sayang." Bunda Arum memaksa menaruh lembaran biru itu di tangannya.
Tata memandang ke arah mbak Wulan dan semua pengasuh yang ada di sana, semua mengangguk dan tersenyum sebagai isyarat mengiyakan permintaan Bunda.
"Apa Tata boleh main ke tempat ini lagi Bunda ?"
"Tentu boleh sayang, rumah ini selalu terbuka untukmu."
__ADS_1
"Terimakasih Bunda, kalau begitu Tata pamit dulu."
"Iya Nak, hati-hati di jalan ya."
"Iya Bunda, mari semuanya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka hampir bersamaan.
Sepanjang jalan, Tata meneteskan air mata, air mata bahagia.
'Alhamdulillah Ya Allah, ternyata masih ada kebahagiaan untukku di luar sana.' syukurnya dalam hati.
Kalau saja tidak ingat dengan caci maki Buleknya, ingin rasanya dia tetap disana, kebahagiaan yang dia rasakan begitu sangat melekat di hatinya.
Ciiiitttt...!
Mendadak dia rem sepeda pancalnya. Entah apa yang akan dia lakukan saat itu.
'Aku harus menyimpan sebagian uang ini, untuk aku tabung. Tapi dimana ? Uang saku dari Paklek saja sudah habis diambil Bulek.' Pikirnya dalam hati.
Entah dari mana datangnya inisiatif itu datang. Dia lipat enam lembar lima puluhan, dan dia selipkan di balik pakaian dalam atasnya.
'Semoga dengan begini, aku bisa menyimpan untuk keperluanku sendiri.' ucapnya dalam hati sembari tersenyum penuh harapan.
Seperti biasa, dia taruh pelan sepeda pancalnya. Tata masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Dia langkahkan kakinya pelan, berharap tidak membangunkan singa tidur yang ada di dalam.
'Alhamdulillah, aman.' pikirnya, saat di rumah terasa sepi.
"Dari mana kamu, jam segini baru pulang !" Maki Bulek mengagetkan.
"Anu Bulek, tadi_"
"Anu - anu ! Mbak ini gimana sih, pergi jam segini baru pulang. Mana di meja gak ada makanan lagi." Sela Astrid, sebelum Tata menyelesaikan alasannya pulang sore.
"Tadi, Tata_"
"Wah...semua kue nya habis Buk, pasti dapat uang dia." Selanya lagi.
Bulek ikut melihat ke dalam isi keranjang kue yang kosong.
"Mana - mana, kasih ke Bulek hasil jualan hari ini !"
"Tadi ada yang borong kuenya. Ini buat Bulek dan sisanya buat tambahan modal beli bahan kue lagi."
"Halah, sini ! Bulek yang ngatur."
Bermaksud memberikan separo, sisa dari uang yang tadi sudah dia simpan. Tapi Bulek lebih dulu menyambar dan mengambil semuanya.
"Wah, banyak sekali Buk. Bisa buat beli makan yang enak-enak ini." Komentar Astrid.
"Tapi bener cuma segini !" Bentak Bulek yang masih belum percaya dengan rezeki lebih yang dia dapat hari ini.
Tata hanya menganggukkan kepala. Takut jika tindakannya ketahuan Bulek dan sepupunya.
"Awas saja, kalau kamu ketahuan bohong." Ancamnya.
"Sudah Buk, kita keluar yuk. Astrid laper." Rengek Astrid manja.
Tanpa rasa belas kasihan lagi, Bulek dan sepupu perempuannya pergi menikmati hasil jerih payahnya hari ini.
'Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah, tidak seharusnya aku diam saja diperlukan seperti ini, aku harus lawan mereka.' pikirnya dalam hati.
Namun, apapun yang terjadi, Bulek adalah orang yang berjasa dalam hidupnya. Meskipun Beliau begitu sangat membencinya, dari lubuk hati Tata yang paling dalam, dia sangat menyayangi keluarga Paklek Arman.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________