
Matahari mulai menyembunyikan sinarnya. Udara dingin menyusup kian terasa.
"Sudah hampir jam tujuh, Pak Al belum datang juga." Gumamnya sendiri.
Tata mulai merasa suntuk, sendirian berjalan mondar-mandir tanpa teman. Nindya, yang sejak tadi asyik bercanda, sudah lelap di dalam tidurnya.
Seperti janjinya pada Bunda dan Nindya, malam ini giliran Tata yang menemaninya. Tanpa persiapan sebelumnya, hingga rasa gerah karena belum mandi dan berganti pakaian mulai melanda
Kerucuk ... kerucuk ...
Bahkan, cacing-cacing di dalam perutnya ikut demo karena ulahnya.
Ceklekk ...
Seseorang membuka pintu ruang rawat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya tersenyum ramah.
"Maaf, lama ya ?"
"Banget." Jawab Anita mulai akrab.
Sama halnya dengan Al, yang mulai terbiasa dengan kehadiran Anita di sekitarnya.
"Nindya sudah tidur ?"
"Sudah Pak."
"Hhhhmmmm...Ini, kamu mandi dan ganti baju dulu. Habis itu kita makan." Pinta Al.
"Oh iya."
Memang itu yang dia tunggu-tunggu sejak tadi, mandi dan makan. Hehehehh....
Tata menerima paper bag yang Al berikan. Ada satu setel piyama yang bisa dia pakai untuk istirahat malam ini.
"Ini, Bapak beli atau ... ?"
"Atau apa ? Sudah jangan kebanyakan tanya. Lekas mandi saya tunggu untuk makan malam."
'Maksud saya, apa piyama ini milik istri Bapak ?' Komentar nya dalam hati yang belum berani dia ucapkan.
Tidak membutuhkan waktu lama, Tata sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang Al berikan.
Pandangan mata Al tak luput dari dirinya. Merasa risih diperhatikan, Tata menyibukkan diri dengan membuat teh hangat dan menyiapkan menu makan malam yang Al bawa dari luar.
"Oh ya, tadi katanya ada hal yang mau kamu tanyakan, apa itu ?" Tanya Al di sela-sela makan malamnya.
"Selain itu, ada juga yang mau kamu utarakan sebagai protes. Apapun itu, saya sudah siap menunggu." Ucapnya lagi.
"Enggak ada Pak, enggak jadi, saya lupa." Jawabnya masih menikmati makanan di depan matanya.
"Atau mungkin ada yang mau kamu tanyakan mengenai penawaran yang saya berikan ?" Tanya Al lagi, memancing daya ingat Anita.
Anita menghentikan suapannya. Rasanya sudah hilang selera makan nya, kalau harus sambil mengingat tentang bagaimana jika istri Pak Al tidak menyetujui Anita jadi Mama asuh Nindya.
"Sebenarnya ada hubungannya juga dengan tawaran yang Pak Al berikan." Ucapnya memaksakan diri.
"Oh ya, apa itu ? Apa kamu mulai tertarik dengan tawaran yang saya berikan ?" Tanya Al, merasa sudah ada lampu kuning dari mangsanya.
__ADS_1
"Nanti saja Pak, Bapak nikmati dulu makan malamnya." Ucap Tata menyudahi suapan terakhirnya.
Sebungkus nasi padang sudah berpindah tempat. Gini tinggal saatnya Al untuk mendengarkan apa yang mau Tata sampaikan.
"Bapak mau pulang jam berapa ?"
"Kamu mengusirku ?" Tanya Al dengan ekspresi yang tidak lazim dia tunjukkan.
"Bukan, bukan begitu, maksud saya_"
"Sudah, aku sudah siap mendengarkan pertanyaan yang tadi sempat tertunda." Kata Al serius.
"Itu Pak, mengenai apa yang Bapak tawarkan kepada saya. Bagaimana komentar istri Bapak _"
Uhhuukkk ... Uhhuukkk ... Uhhuukkk ...
Entah sudah kebiasaan atau memang kebetulan saja, jika merasa kaget Al pasti akan tersedak.
"Pak Al kenapa Pak ? Saya belum selesai ngomong sudah tersedak begitu."
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja." Jawabnya mulai tenang.
"Maksud saya, apa istri Bapak sudah menyetujui kalau saya menjadi Mama asuh Nindya ?"
"Jadi itu yang sejak dulu ingin kamu tanyakan ?"
"Iya Pak, karena saya tidak pernah bertemu istri Bapak. Jadi saya takut kalau Beliau tidak setuju dengan keputusan Pak Al."
Al berdiri dan mengambil posisi duduk yang tadinya saling berhadapan terpisah oleh sebuah meja, sekarang berada persis di sebelah Anita.
'What ! Ada apa ini, kenapa Pak Al malah mendekat seperti ini ?' Komentar hati Anita merasa takut campur aduk.
Apalagi saat Al mulai berulah. Dia rangkulkan tangan kanannya ke bahu Anita. Dia tarik tubuhnya lebih mendekat, bahkan sudah tidak ada lagi jarak diantara mereka.
Meskipun perlakuan Pak Al lebih lembut, tapi tetap saja membuat hati terasa dibolak-balik.
"Apa aku sudah kelihatan tua dan tidak pantas lagi mendekati seorang perempuan ?" Bisik Al yang tidak hanya membuat Tata kaget, tapi juga merinding seluruh bulu kuduk.
"Bukan, tidak Pak." Ucapnya gugup.
"Besok kamu juga akan tahu, siapa dan dimana Mama Nindya." Jawab Al masih belum melepaskan pelukan di pundak anita.
"Sepulang dari rumah sakit, kita mampir sebentar, agar kamu juga paham siapa dan dimama Mamanya Nindya." Jawabnya lagi.
Sampai saat ini, masih menjadi teka-teki tak terjawab bagi anita. Al bukan saja ganteng, dia juga mempunyai sebuah pesona yang tidak dimiliki oleh orang lain.
"Saya temani Nindya dulu Pak." Ucapnya mencoba untuk menghindar.
Namun, disaat Tata mulai bisa berdiri tegak, Al menarik kembali tangannya, sehingga membuat tubuh mungilnya terjerambab ke dalam pelukan Alfatih.
Aaarrggghhh ...
Dia membungkam mulutnya sendiri, takut kalau sampai Nindya terbangun.
"Tidak adil namanya, jika aku juga belum bertanya sesuatu sama kamu." Bisik Al yang sudah mulai terbiasa dengan aku dan kamu.
"A, apa Pak ?"
Suhu tubuhnya tiba-tiba terasa naik, aliran darahnya mendidih, membuat suasana semakin panas dingin.
"Apa kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang ?"
__ADS_1
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat hati Tata meledak karena merasa terhina.
Dia mendorong kuat tubuh Al mencoba melepaskan diri.
"Bapak pikir, saya perempuan apaan ?" Sungutnya.
Tapi dekapan tangan Al lebih kuat dari emosi yang dia buat.
"Hei, jangan mudah tersinggung. Aku hanya tanya, apa benar kamu keluar dari rumah Pak Arman karena lebih memilih kekasihmu ?"
'Jadi iti yang dia maksud, ucapan Bulek dan Astrid yang menjadi pemicunya.' Komentar hati Anita.
"Itu bukan urusan Anda, dan saya tidak perlu menjawabnya."
Kali ini Tata benar-benar bisa melepaskan diri, dan ikut berbaring di ranjang rawat menemani Nindya yang masih lelap di dalam mimpinya.
Begitu pula dengan Al, dia mulai lelah dan berbaring di sofa. Sesekali dia pandangi tubuh mungil yang membelakangi dirinya.
'Apa aku terlalu keras tadi, sehingga membuatnya takut ?' Pikirnya dalam hati.
Al menepis prasangka buruknya, dan mulai menata hati dan fikiran untuk ikut larut dalam mimpi.
Namun, sesaat setelah dia memejamkan mata, terdengar isyak tangis tertahan, yang entah dari mana asalnya.
Dengan cekatan, Al berdiri memperhatikan situasi dan keadaan. Lorong rumah sakit sangat sepi, hanya terlihat satu dua suster jaga yang masih terjaga.
Tubuh Anita pun masih pada posisi yang sama. Namun saat Al mencoba menarik pelan pundaknya untuk memastikan bukan dia yang menangis, Tata menahan tubuhnya sendiri.
"Hei, jadi benar kamu yang menangis ?" Bisiknya lirih.
"Maafkan jika apa yang aku tanyakan, benar-benar menyakiti hatimu." Ucapnya lagi.
"Sudahlah Pak, biarkan saya sendiri. Kembalilah ke sofa dan segera tidur, sudah terlalu larut." Jawab Anita masih membelakangi.
Bukannya segera pergi, Al malah menarik kursi untuk dia duduki, tepat disamping ranjang, dibelakang tubuh Tata yang masih terbaring menyamping.
"Aku akan tetap di sini, menunggumu sampai tenang kembali."
Melihat perlakuan Al, Tata segera turun dari ranjangnya.
"Bapak yang membuat saya tidak tenang dan tidak nyaman menjaga Nindya." Ucapnya lirih sembari berlalu.
Dia ambil tas selempang nya dan baju kotor yang sudah dia masukkan ke dalam paper bag.
"Kamu mau kemana ?"
"Lebih baik saya pulang saja Pak." Pamitnya.
Al mencegahnya, dia peluk tubuh mungil Tata dari belakang sebelum sampai di ambang pintu.
"Maafkan aku, aku cuma ingin tahu saja. Tapi melihatmu semarah ini, aku sadar kalau aku salah." Bisik Al yang benar-benar Tata rasakan getaran nafasnya.
Entah apa yang akan dia sampaikan, bibirnya keluh tak mampu berkata apa-apa lagi. Pesona Al sangat melumpuhkan hatinya. Hingga dia luluh dan kembali ke pelukan Nindya.
Rasa canggung kembali menghantui keduanya. Terutama Anita, baru kali ini hatinya merasa bergetar oleh seorang pria.
Dia sendiri tidak tahu, apa ini namanya. Yang jelas, didalam keadaan yang masih bimbang, dia merasakan ada ketenangan di sana.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________