
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
Getar handphone di tangannya membuat dia sadar dari sebuah lamunan.
"Hanifa ? Ada apa dia menelfonku ?" Gumamnya sendiri.
"Assalamu'alaikum." Sapa Tata menjawab panggilan seluler Hanifa.
"Wa'alaikumsalam Ta, hari ini Dya masuk kan ?"
"Iya masuk." Jawab Tata datar.
"Tadi aku bikinkan cake brownies kesukaan Nindya." Ucapnya lagi.
"Terimakasih, jadi merepotkan." Jawab Tata berusaha berbasa-basi.
"Oke, aku tunggu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
'Dia bilang akan menunggu, siapa yang dia tunggu. Padahal tadi dia tidak menanyakan sama sekali, apakah aku yang mengantarkan atau bukan.' Pikirnya.
Tata masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri, sambil memainkan handphone di tangannya.
"Mbak Ata." Panggil Mbak Watik mengagetkan.
"Disini rupanya, semua bahan untuk membuat browniesnya sudah saya siapkan. Mau kita bikin sekarang atau gimana Mbak ?" Tanya Mbak Watik memastikan.
'Brownies ? Bukankah tadi Hanifa bilang sudah membawakan kue brownies untuk Nindya. Tapi bukan hanya Dya yang suka brownies, Mas Al juga sangat menyukai cake legit dan manis itu. Dan tidak mungkin kalau Hanifa tidak mengetahui hal itu. Lalu untuk apa aku membuatkannya lagi.' Pikirnya dalam hati.
"Mbak Ata, hallo ?" Sapa Mbak Watik yang heran melihat istri majikannya dengan tatapan mata kosong.
"Gak jadi Mbak." Jawabnya tanpa ekspresi.
"Maksudnya, gak jadi apanya Mbak ?" Tanya Mbak Watik masih tidak mengerti.
"Bikin brownies Mbak, lain kali saja." Jawabnya masih tanpa ekspresi.
"Oh, iya Mbak Ata. Kalau begitu, saya ke belakang dulu ya Mbak." Pamitnya dengan memendam rasa penasaran. Karena tidak biasanya istri majikannya seperti itu.
'Ada apa dengan Mbak Ata, tadi dia sendiri yang antusias mau ngajak bikin brownies, tiba-tiba dia batalin begitu saja, setelah semua sudah aku siapkan.' Gerutunya dalam hati.
Mbak Watik masih melenggang ke ruang kerjanya di belakang, meskipun sebentar-sebentar masih melirik ke arah istri majikannya yang duduk termenung di depan.
'Atau mungil ini bawaan si jabang bayi ya, secara, aku kan belum pernah merasakan bagaimana rasanya ngidam dan mengandung.' Tepisnya dalam hati.
Kembali dia mengingat kisah hidupnya yang sudah menikah hampir sepuluh tahun, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Dengan begitu, dia memaklumi kondisi yang ada, tanpa harus banyak berpikir yang bukan-bukan.
***
Deru mobil dan bunyi klakson khas milik tuan rumah ini sudah terdengar nyaring sampai ke dalam. Tak lama, sapaan lembut seorang Al menyusul seiring berhentinya dengung dari kendaraan roda empatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Al, tumben sudah pulang ?" Jawab Bunda sekaligus bertanya apa alasan putranya pulang kantor lebih awal.
__ADS_1
"Iya Bunda, Al capek, ingin tidur lebih awal."
"Ya sudah, lekas bersihkan badanmu, makan lalu istirahatlah." Kata Bunda.
"Asyik sekali anak Papa, mamam apa ini, Mama mana ?" Tanya Al yang menyempatkan menyapa Nindya yang asyik dengan makanan di depannya.
Dia duduk manis ditemani Bunda Arum, tidak ada Mama Tata disekitarnya. Membuat Al bertanya, dimana gerangan istrinya berada. Biasanya, dimana ada Nindya, disitu pasti ada Mama Tata.
"Tata ada, di atas. Kelihatannya dia juga sedang kurang enak badan." Jawab Bunda yang juga melihat anak menantunya sedikit lemas hari ini.
"Enak Pa, Papa cicipi deh, pasti suka." Tawar Nindya saat Papa Al mendekati.
Tata yang saat itu sudah setengah turun dari anak tangga, terpaksa menghentikan langkahnya, saat Nindya menawarkan brownies yang sedang dia nikmati, kepada Papanya.
"Apa ini sayang ?" Tanya Al.
"Cake brownies kesukaan Papa." Jawabnya menggemaskan.
"Oh ya, cobain dong." Pintanya membuka mulut.
Nindya menyodorkan tangannya, memberikan satu suapan cake brownies yang tadi dia bawa dari sekolah.
Hanifa yang membuatnya, dia bikinkan sendiri khusus untuk Nindya.
"Hhhhmmmm, enak sekali."
Rasa cemburu terlintas di dalam hatinya, saat mendengar Al memuji brownies buatan orang lain. Orang lain yang pernah ingin meraih hatinya.
"Betul kan, Papa suka ?"
"Pasti Papa suka sekali, buatan Mama memang selalu pas di lidah Papa." Komentarnya bermaksud memuji istrinya, karena setahu Al, brownies ini buatan Tata dan Mbak Watik di rumah, yang sudah janji akan membuatkan.
Uhhuukkk ... uhhuukkk ... uhhuukkk ...
Mendengar nama 'Hanifa', entah kenapa rasa brownies kesukaan Al berubah jadi hambar. Bahkan membuat dia terbatuk tanpa sebab.
"Papa kenapa ?" Tanya Nindya. Melihat raut wajah Al, Nindya jadi takut Papanya kenapa-kenapa.
"Papa gak kenapa-kenapa, Dya lanjutkan makannya ya, Papa ke dalam dulu. Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur." Pamit Al menyembunyikan perubahan mimik di wajahnya.
Nindya mengangguk, masih dengan mulut penuh cake brownies, dia mengacungkan jempol ke arah Papa Al, menyetujui apa yang Papa Al sampaikan.
Sedangkan Tata, dia mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan putri dan ibu mertuanya, setelah melihat kedatangan Al dan terpaksa harus kembali ke kamar. Seperti biasa, sudah menjadi tugasnya untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Ceklekk ...
Al membuka pintu kamarnya dan memastikan istrinya ada di dalam.
"Assalamu'alaikum." Sapanya.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya sembari mencium punggung tangan suaminya.
Tanpa banyak bicara, Al melanjutkan aktivitasnya di dalam kamar mandi. Suasana sedikit canggung, entah sadar atau tidak, Al sudah bisa merasakan apa yang membuat istrinya seperti itu.
"Hhhhmmmm ... " Senyum Al mengembang. Memandang istrinya dari belakang. Dia lingkarkan lengan kekarnya hingga tidak ada lagi ruang diantara mereka.
__ADS_1
"Mas." Keluhnya risih diperlakukan seperti itu.
"Apa ?"
Tata terdiam, mencoba memberontak, berusaha melepaskan pelukan Al, tanpa memperdulikan pertanyaan suaminya.
Namun, semakin kuat dia berusaha, semakin erat Al memeluknya.
"Kamu kenapa ?" Tanya Al lagi.
"Gak papa." Jawabnya lirih.
"Tapi aku melihat ada yang berbeda." Ucapnya mencoba menebak.
"Enggak." Elak Tata dengan nada sedikit bergetar.
Al melonggarkan pelukannya, memutar tubuh Anita di hadapannya.
"Katakan, jika ada yang ingin kamu katakan. Tanyakan jika ada hal yang ingin kamu tanyakan. Jangan diam, karena diam itu menyakitkan." Kata Al dengan tatapan dalam.
Entah dari mana kata-kata itu dia dapat. Sebuah kalimat singkat dengan rangkaian yang tepat.
"Aku tidak apa-apa Mas." Ucapnya berusaha mengelak.
Tapi Tata tidak menyadari, kalau jawabannya merupakan sebuah ungkapan perasaan hatinya.
"Aku anggap kali ini kamu berbohong." Kata Al lagi.
"Aku hanya sedang tidak enak badan saja."
Kali ini dia tidak berbohong, karena apa yang dia pikirkan, juga berpengaruh dengan kondisi kesehatannya.
"Oh ya, tumben Mas pulang lebih awal ? Mas sudah makan ? Atau mau Tata bikinkan teh hangat atau kopi ?" Ucap Tata berusaha mengalihkan perhatian.
"Tidak, aku hanya ingin kamu temani." Jawab Al sembari merentangkan tangannya.
"Tapi, aku belum menidurkan Nindya." Elaknya.
"Tidak apa-apa, Nindya masih asyik dengan Bunda di bawah."
Dengan enggan, Tata melangkahkan kakinya naik ke atas ranjang.
Dia rebahkan tubuhnya di dalam pelukan Al. Teringat kembali sebuah komitmen awal yang dia jalin di rumah ini.
'Lebih baik, aku sampaikan apa yang aku pikirkan. Daripada aku memendam perasaan yang tidak ada ujungnya.' Pikir Tata dalam hati.
"Mas, Mas Al." Panggilnya lirih.
Dilihatnya Al sudah erat memejamkan mata. Mungkin rasa lelah membuat dia terlelap dalam hitungan detik.
Melihat suaminya sudah tertidur pulas, Tata kembali mengurungkan niatnya untuk bicara.
"Maafkan aku Mas, aku hanya takut kehilanganmu." Ucapnya lirih.
_____________________
__ADS_1
_____________________
_____________________