Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 56. Kabar Tentang Pak Arman


__ADS_3

Malam semakin larut. Satu persatu tamu yang datang mulai melangkahkan kakinya berpamitan. Suasana hening, sepi, tidak satupun terlihat kehidupan di sana.


Awan hitam mulai mendominasi langit biru. Bahkan, bintangpun enggan keluar. Agaknya rembulan juga berbisik untuk tidak datang malam ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?"


Suara merdu barito Al menyadarkan, bahwa dia tidak sendiri saat ini.


"Aku, tidak memikirkan apa-apa Mas." Jawabnya berbohong.


"Bohong jika kamu tidak sedang memikirkan sesuatu." Bisiknya lirih.


Al mulai mendekati bidadari yang terlihat lesu itu. Dia ikut berdiri di sampingnya, menatap langit hitam tanpa bintang.


"Aku tahu, apa yang sedang kamu pikirkan." Gumam Al sendiri.


"Aku, Aku hanya tidak habis pikir Mas. Kenapa Paklek tidak datang tadi."


Air mata Tata mulai berlinang. Al merengkuh tubuh mungil yang sudah sah menjadi miliknya itu ke dalam pelukannya.


"Kamu tenang saja, aku akan cari tahu besok. Apa yang terjadi dengan Pak Arman." Bisik Al menenangkan.


"Terimakasih Mas." Ucapnya lirih.


"Mulai sekarang, tidak ada lagi jarak antara kita, apapun masalahmu akan menjadi masalahku juga. Jangan pernah menangis, aku lebih suka melihatmu tersenyum."


Ucapan Al membuat hatinya lebih tenang. Dia balas pelukan suaminya lebih erat.


"Eh, sebentar Mas." Kata Tata melepaskan pelukannya. Seakan ingat sesuatu yang sempat terlupakan.


"Ada apa ?"


"Aku tengok Dya sebentar."


"Hhhuuuff ... Aku kira ada apa."


Si kecil Nindya, sudah tertidur lelap di dalam mimpinya. Seharian dia berlari-lari menikmati acara dengan sukacita. Tata kembali ke kamarnya, sesudah memastikan putri kecilnya terlelap dalam pangkuan malam.


"Mas, belum tidur ?" Tanya Tata saat dia kembali ke kamarnya. Dia dapati Al masih duduk bersandar di tepi ranjang dengan handphone di tangannya.


"Mas masih menunggumu." Jawab Al sembari meletakkan handphonenya di atas nakas.


"Apa Mas mau ... ?" Ucapnya tertahan.


"Mau apa ?" Tanya Al memperjelas.


"Mau itu, anu, apa ?"


"Apa ?"


Al mulai mendekati wanita yang masih berdiri tegak di depan pintu kamarnya. Semakin dekat, semakin tercium aroma wangi tubuhnya.


Tata masih merunduk dan terdiam. Bahkan dia tidak berani bergerak sedikitpun. Detak jantungnya berdegup kencang. Suhu tubuhnyapun mulai tak beraturan.


Perlahan, tangan Al mulai menyisir rambut Tata yang di biarkan tergerai. Dia sisipkan sebagian rambut yang menutupi wajahnya di balik daun telinga.


Pancaran kecantikan mulai terlihat di balik remang cahaya lampu tidur.


"Apa kamu sudah siap ?"


Pertanyaan Al semakin membuat Tata gugup, telapak kakinya dingin, lemas lunglai tak kuasa menopang tubuhnya, saat Al mulai mengangkat dagunya, melihat lebih jelas wajah cantik di depan matanya.

__ADS_1


"Mas ... " Ucapnya semakin tertahan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Al menggendong tubuh mungil Anita. Ditaruhnya perlahan di atas ranjangnya.


Tata menutup matanya saat Al mulai mendekatkan wajahnya.


"Tidurlah, sudah terlalu larut, aku tahu kamu sangat lelah." Bisiknya lirih dan ikut berbaring di sisihnya usai menutup tubuh istrinya dengan selembar kain bedcover.


'Maafkan aku Mas, aku belum bisa tunaikan tugasku.' bisik Tata dalam hati. Perlahan matanya mengatup, membiarkan alam bawah sadarnya menguasai tubuhnya.


Al tahu apa yang sedang dirasakan istrinya. Hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Tidak etis rasanya jika dia nikmati sendiri apa yang seharusnya mereka rasakan bersama.


"Tidak untuk malam ini sayang, tapi nanti jika kamu sudah benar-benar siap, aku akan ada setiap saat." Bisik Al, saat memastikan istrinya sudah memejamkan mata.


Meskipun tidak ada malam pertama, tapi bagi Al malam-malam berikutnya akan lebih berarti.


***


"Selamat pagi sayang ? Bagaimana istirahatnya semalam ?" Sap Bunda, saat melihat menantunya sudah berada di dapur.


"Alhamdulillah, tidur Tata nyenyak Bunda." Jawabnya sembari menyibukkan diri dengan menata sarapan di meja makan.


Entah apa yang sedang Bunda lihat. Yang pasti, Tata merasa Bunda sedang memperhatikan sikapnya pagi ini.


'Kelihatannya, Tata sudah mandi, tapi kok tidak basah ya ?' Terka Bunda dalam hati.


Mandi, tapi kok tidak basah ?


Mungkin maksud Bunda, rambut Tata yang tidak basah terkena guyuran air waktu mandi.


'Apa memang belum, tapi kenapa ? mungkin karena mereka terlalu capek, karena kegiatan beberapa hari ini memang sangat menguras tenaga.' Pikir Bunda lagi.


"Pagi sayang, hhhmmm ... sudah wangi."


"Iya, kata Eyang, Dya harus belajar mandiri."


"Pinter anak Mama."


Ucapnya, sembari mendaratkan ciuman di pipi gembulnya berkali-kali.


"Sini sayang, Dya duduk di sebelah Eyang. Biar Mama bikinkan susu hangat untuk Dya." Pinta Eyang, segera dilakukan.


"Al mana ? kok belum kelihatan ? apa dia belum bangun ?" Tanya Bunda Arum.


"Tadi sudah bangun untuk sholat subuh Bunda, mungkin tidur lagi. Sebentar, biar saya panggil dulu Bunda."


Sudah menjadi kebiasaan buruk Al, jika tidak ada kegiatan, dia selalu tidur lagi usai subuh.


"Mas Al." Panggil Tata lirih, saat mendapati suaminya masih meringkuk di dalam bedcover.


"Mas, bangun, sudah siang." Bisiknya lagi.


"Hhhhmmmm ... "


"Ayo, jangan malas-malasan. Bunda sudah menunggu di meja makan."


"Gggrrrrrr ..." Ucapnya mengagetkan.


Dia berpura-pura tidur demi untuk membuat istrinya tertawa.


"Aaauuu, apaan sih Mas. Kaget tahu !"

__ADS_1


Bukan tawa ceria yang dia dapatkan, tapi cubitan kecil di pinggangnya yang dia rasakan.


"Sakit sayang."


"Biarin."


"Oh ... Ternyata istri aku bisa ngambek juga ya."


Al membalasnya dengan gelitikan di sekitar pinggangnya.


"Mas, sudah, ampun, jangan bikin aku ngompol di tempat." Ocehnya di iringi gelak tawa.


"Nah begitu dong, aku lebih suka melihatmu tertawa terbahak, dari pada merengut tanpa senyum."


Tata terjatuh tepat di atas ranjang. Sangat memudahkan bagi Al untuk mengunci tubuhnya.


Kalau saja tidak sedang Bunda tunggu di meja makan, ingin rasanya dia lahap hidangan segar di depan matanya saat itu juga.


Wajah mereka begitu dekat, hingga Tata bisa merasakan kehangatan hembusan nafasnya. "Mama !" Teriakan Nindya menyadarkan, kalau ini sudah terlalu siang.


"Iya sayang." Jawab Tata masih berdiam diri di bawah kuasa tubuh kekar Alfatih.


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


"Sssiiiitttt, apa lagi ini !" Gerutu Al saat handphonenya bergetar.


Padahal, sedikit lagi bibir keduanya saling beradu.


"Angkat Mas, jangan-jangan penting." Kata Tata mengingatkan.


Terpaksa Al melepaskan dekapannya. Nampak di layar handphone, tertulis nama Reza.


Selagi Al sibuk dengan handphonenya, Tata keluar kamar terlebih dahulu, untuk menuju ke ruang makan.


"Hallo Za, ada kabar apa ?" Tanya Al langsung pada pokok permasalahan.


"Saya sudah tahu dimana Pak Arman berada Pak." Jawabnya.


"Oh ya, dimana Pak Arman ? apakah dia baik-baik saja ?" Tanya Al tidak sabar.


"Beliau saat ini sedang di rawat di rumah sakit."


"Di rumah sakit ? kenapa dia Za ?"


"Saya sendiri belum tahu pasti Pak, yang jelas sesuai info yang saya dapatkan, kalau awalnya Pak Arman mengalami diare akut."


"Cari tahu apa penyebabnya dan bagaimana bisa mendadak seperti itu."


"Siap Pak, ini saya baru saja akan menuju ke rumah sakit dimana Pak Arman di rawat."


"Terimakasih Za, saya tunggu info lebih lanjut."


'Pak Arman mengalami diare akut, aneh sekali ? Bukannya, malam sebelum hari H aku sempat bicara melalui sambungan telepon, dan Beliau kelihatan baik-baik saja. Atau tidak ada keluhan sama sekali.' pikir Al mengingat kejadian sebelum ketidakhadiran Paman Tata itu.


'Sebaiknya aku tidak kabarkan hal ini ke Tata. Biar Reza cari tahu kebenarannya terlebih dahulu.' Gumamnya sendiri.


_________________


_________________


_________________

__ADS_1


__ADS_2