
Pagi yang cerah, sesuai janjinya, Anita telah menyelesaikan pesanan Bosnya pagi ini. Semalaman dia tidak tidur, demi kepuasan pelanggan.
Begitupun Nia, yang ikut disibukkan dengan mengantarkan parcel - parcel kue tradisional kepada klien - klien 'Kamandanu Group'.
"Ini masih satu tampah besar, mau dibawa kemana Ta ?" Tanya Nia, saat melihat satu parcel ukuran besar juga tertata cantik di tempatnya.
"Ini mau saya bawa ke kantor." Jawabnya.
"Kamu mau masuk hari ini ?"
"Iya Mbak."
"Hei, lihat dirimu. Ingat kesehatan wong ayu. Kamu gak tidur lo semalaman."
Ada rasa khawatir pada nada yang terucap dari bibir Nia.
"Gakpapa Mbak, aku cuma mau antar ini saja. Lagipula inikan hari sabtu, kantor buka setengah hari saja, jadi masih banyak waktu untuk istirahat. Sekalian mengucapkan terimakasih kepada Pak Al. Setelah itu, langsung pulang." Jawabnya menerangkan panjang kali lebar.
"Okelah kalau begitu, terserah kamu saja. Saya lanjutkan delyveri dulu ya. Selesai itu, saya juga langsung pulang. Laporan pengiriman via cukup via online saja." Kata Nia tak kalah panjangnya.
"Siap Mbak, hati - hati di jalan."
"Iya Putri Ayu." Candanya.
Nia segera menyelesaikan tugasnya, sedangkan Tata pergi ke kantor setelah merapikan dirinya.
Kali ini dia datang tanpa seragam kerjanya. Pak Alfatih sudah memberikan izin untuk istirahat setelah menyelesaikan pesanannya.
"Mama !"
Lagi-lagi teriakan Nindya mengagetkan nya.
Tubuh mungilnya memeluk erat kaki Anita yang masih berdiri tegak dengan satu paket parcel kue tradisional di tangannya.
"Oh, maaf - maaf. Biar saya bantu." Kata Reza yang menyadari kalau perempuan yang Dya panggil Mama itu hampir hilang keseimbangan.
Al juga menyadari akan hal itu, entah karena kaget mendengar teriakan Nindya, atau karena kelelahan lembur membuat pesanan darinya.
"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Al spontan.
"Tidak apa-apa Pak. Saya cuma kaget saja." Jawabnya bohong.
"Dya, ayo sini."
"Enggak mau, Dya mau sama Mama." Jawabnya kekeh.
Pelukannya semakin erat, semakin tak mau dilepas.
'Jadi ini anak Pak Al. Tapi kenapa dari kemaren anak ini manggilku mama ?' Beberapa pertanyaan singgah di pikirannya.
Anita segera merunduk, setelah melihat tubuh mungil Nindya masih bergelayut di kakinya.
"Sayang, sini cantik. Kita duduk si sana yuk." Rayu Anita, karena sejujurnya dia sudah tidak mampu berdiri.
Nindya menurut apa yang Anita katakan.
"Mamanya siapa sayang ?"
"Ini Dya Mama."
"Iya Dya, kita kenalan yuk. Nama Kakak, Kakak Anita atau kalau mau Dya bisa panggil Mbak Ata." Pintanya dengan tutur kata yang halus.
"Enggak mau, Dya maunya Mama." Ucapnya menolak.
__ADS_1
"Tapi ini bukan Mama."
"Pokoknya Dya mau Mama."
Anita kehabisan kata-kata lagi, dan tidak tahu lagi apa yang akan dia ucapkan. Pandangan matanya tertuju kepada Alfatih yang masih berdiri tegak memperhatikan percakapan mereka.
'Mereka memang benar-benar mirip, seperti ibu dan anak yang sempat terpisah.' Komentarnya dalam hati.
Menyadari bahwa Anita memandang ke arahnya, Al segera mendekat. Seolah menyadari tatapan kosong seorang Anita yang mengatakan, bantu aku.
"Dya, sini ikut Papa. Biarkan Mama istirahat dulu. Mama kelihatannya capek banget ya Ma."
Dya memandang bergantian dari arah Anita kemudian beralih ke wajah papa angkatnya.
"Ayo Ma, kita istirahat di ruang kerja Papa."
Nindya menarik tangan Anita dengan sekuat tenaga.
"Za, apa menurutmu ini tidak berlebihan ?"
Tanya Al meminta pendapat.
"Saya rasa tidak Pak, Nindya masih kecil. Sikapnya yang seperti itu, menunjukkan bahwa dia merindukan kasih sayang seorang Ibu." Jawab Reza mencoba mencerna peristiwa yang baru saja terjadi.
"Iya ... Tapi ..."
"Saya rasa, tidak ada salahnya kalau Nindya bersikap seperti itu. Namanya juga anak-anak. Syukur - syukur kalau Pak Al sendiri segera mencari tambatan hati."
Pernyataan yang sangat menusuk hati Al, meskipun itu memang pada kenyataannya.
"Papa ayo !" Teriakkan Nindya nyaring terdengar.
Al berlari kecil, mengikuti kemana perginya. Sikap Nindya benar-benar membutuhkan Al kewalahan melarangnya.
Anita pun terpaksa harus menuruti kemauan bocah yang baru berusia empat tahun berjalan itu.
"Ughht... Maaf Pak." Jalan Anita mulai sempoyongan.
"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Al perhatian.
"Saya, saya sedikit agak pusing Pak."
Efek dari kurang tidur, membuat Anita hampir jatuh berkali-kali.
"Mama sakit ?" Celoteh Nindya ingin tahu.
"Mbak Ata agak kurang enak badan. Dya main dulu sama Papa ya, Mbak Ata istirahat dulu sebentar."
Berharap lolos dari genggaman anak kecil yang baru dia kenal dengan sebutan Nindya.
Belum lagi Nindya sempat menjawab permintaan Anita, rasa limbung dan mual mulai menggelitik perasaannya.
"Anita, kamu kenapa ? Anita."
Sayup-sayup suara merdu Al masih terdengar di dalam benaknya, meskipun berangsur-angsur menghilang.
Anita jatuh pingsan, Al mengangkat tubuh mungilnya ke atas ranjang tempat dia beristirahat di kantor. Dia panggil dokter yang sudah lama melayani keluarga Kamandanu sebagai dokter pribadi.
"Tidak apa-apa, kelihatannya dia cuma sedikit kelelahan saja. Tapi untuk mengetahui hasilnya lebih lanjut, bisa kita lakukan pemeriksaan ulang di klinik." Pinta dokter Ridwan.
Al hanya menganggukkan kepala.
'Sakit apa sebenarnya dia ? apa mungkin ini karena kesalahanku ? bukankah wajar kalau aku memesan sesuatu dalam bentuk partai.' Pikirnya tanpa menghiraukan perkataan Dokter Ridwan.
__ADS_1
"Untuk sementara biarkan dia istirahat dulu." Sambungnya kembali.
"Baik Dok." Jawab Al singkat.
Masih dengan sikap yang sama, dengan sebelah tangan di depan dada dan satu tangan yang lain mengusap dagu dan bibirnya.
"Papa, Mama kenapa ?" Rengek Nindya di pangkuan Al. Dia menerobos masuk diikuti Reza, setelah kepergian Dokter Ridwan.
"Dya, dengerin Papa. Mbak Tata sedang sakit. Dya pulang diantarkan Om Reza dulu ya. Nanti kalau Mbak Tata sudah sembuh, Dya bisa maen lagi." Terang Al mencoba memberikan pengertian.
"Tapi Mama tidak apa-apa kan ?"
"Hhhhmmmm..."
Al menghela nafas panjang, seperti apapun dia memberikan contoh dan pengertian, tetap saja Nindya memanggil Anita dengan sebutan Mama.
"Gakpapa sayang, Mbak Tata baik-baik saja." Jawab Al kembali menegaskan.
Reza sempat tersenyum mendengar percakapan Bos dan keponakannya.
"Za."
"Iya Pak."
"Tolong antarkan Nindya pulang. Saya akan tunggu dia siuman."
"Baik Pak. Ayo sayang, kita pulang ke rumah eyang." Ajaknya.
Nindya berpindah dari gendongan Al berganti ke gendongan Reza.
"Saya permisi dulu Pak."
"Ya, hati - hati."
Sudah hampir dua jam Al menunggu Anita yang masih belum sadarkan diri. Bahkan kantor sudah mulai sepi, belum ada tanda-tanda dia siuman.
_________________
_________________
_________________
~
~
~
Hallo semua...š¤
Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya...š
Maaf, masih banyak yang harus diperbaiki...šš
Cek juga cerita Author yang lain ea..š„°š
Jangan lupa Like, Koment n Vote nya...šš„°š
Tambahkan juga ā¤ļø ea... Terimakasih...šš
š
š
__ADS_1
š