
Sore ini, Al terlihat sangat sibuk. Entah apa yang sedang dia simak dalam layar handphone tujuh inci di tangannya.
"Al."
"Iya Bunda."
"Apa kamu sudah dapat kabar tentang Pamannya Anita ?" Tanya Bunda juga ingin tahu.
"Iya Bunda, kemaren Al dapat info dari Reza, kalau Pak Arman sedang di rawat di rumah sakit."
"Di rumah sakit ? Sakit apa ? Kenapa tidak ada kabar dari keluarga ? Lalu Tata, apa dia sudah tahu tentang hal ini ?" Tanya Bunda ingin tahu lebih detail.
"Belum Bunda, sengaja Al belum menyampaikan hal ini, karena memang semua belum jelas."
"Belum jelas bagaimana ?"
"Al merasa ada hal yang ganjal Bunda. Malam sebelum hari H, Al masih sempat ngobrol dengan Pak Arman. Lancar tidak ada masalah, Beliau juga tidak ada keluhan sama sekali. Tapi kenapa tiba-tiba, keesokan harinya Beliau tidak hadir dan sudah berada di rumah sakit." Ucap Al menerka apa sebenarnya yang terjadi.
"Apa Mas ? Paklek Arman di rumah sakit ?" Tanya Tata yang tanpa sengaja mendengar percakapan suami dan ibu mertuanya.
"Tata." Sapa Bunda kaget.
"Begini sayang, aku baru mendengar kabar dari Reza, dan itupun juga belum akurat. Jadi aku belum berani bilang sama kamu."
"Kenapa Mas ? Mas tahu kalau aku sangat cemas. Semalaman tidak bisa tidur hanya memikirkan keberadaan Beliau. Tapi malah mas menyembunyikan keadaan Beliau yang sebenarnya." Ucapnya kecewa.
"Bukan begitu Ta, Mas hanya belum yakin saja." Jawab Al mencoba menenangkan.
"Tapi, minimal Mas cerita sama Tata. Biar Tata tidak dirudung rasa khawatir yang dalam." Keluhnya lagi.
"Maaf sayang, maaf kalau Bunda harus ikut campur dalam hal ini. Sebaiknya, agar semua jelas, alangkah baiknya jika kalian pergi saja ke tempat dimana Pak Arman di rawat, seperti yang Reza sampaikan." Kata Bunda memberikan saran.
"Sebaiknya begitu Bunda, biar Tata jalan sendiri saja. Mungkin Mas Al malu jalan berdua dengan pengasuh putrinya." Jawab Tata yang mulai merasa tersinggung dengan sikap Al.
"Tata, apa yang kamu katakan Nak, itu tidak baik. Bunda tidak mau mendengar hal itu lagi. Kalian berdua suami istri, tidak seharusnya kamu bicara begitu."
"Maafkan Tata Bunda." Jawabnya menyesal.
"Sudah, jangan diperpanjang. Pergilah, kalian luruskan semua permasalahan yang ada." Kata Bunda bijak.
Tata pamit ke kamarnya untuk bersiap.
"Al, susul dia." Pinta Bunda.
'Hhhhmmm ... Pengantin baru, mereka masih terlalu dini untuk saling mengenal.' Gumam Bunda dalam hati, saat Al mulai beranjak dari tempat duduknya.
Ceklekk...
"Mas, kenapa gak ketuk pintu dulu." Gerutu Tata, sembari menutupi sebagian tubuhnya yang belum tertutup pakaian.
Al terpaku melihat pemandangan di depan matanya. Dia sandarkan punggungnya pada daun pintu. Kedua tangannya bersedekap di depan dada.
__ADS_1
Memang, sejak hari pernikahan kemaren, Al belum sempat menyentuh istrinya. Tapi hari ini, tanpa sengaja dia melihat sebagian dari peta tubuhnya.
'Mengagumkan, ternyata seindah itu karunia yang Allah berikan untukku.' Gumamnya dalam hati.
Bahkan, dia sampai menelan ludah, matanya tak berkedip sama sekali.
"Mas, stop Mas, aku..." Ucap Tata bingung saat perlahan Al mulai mendekat.
Ingin dia raih kemejanya di ranjang, tapi kedua tangannya takut terlepas dari kedua buah dada yang dia tutupi.
Semakin lama, Al semakin lebih mendekat, Bahkan Al lebih dekat dengan kemejanya.
"Aku tahu kamu belum siap, apalagi sedang badmood. Aku tidak akan memaksa." Bisik Al sembari menelangkupkan kemeja istrinya yang sempat dia sambar.
"Eemmmm...buk, bukan begitu maksudku Mas, aku, aku_"
"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap melakukan itu untukku." Selanya sebelum Tata menyelesaikan ucapannya.
***
"Tata titip Dya sebentar Bunda." Pamitnya saat Al sudah siap menunggu di dalam mobilnya.
"Hati-hati di jalan Nak, salam buat keluarga Pak Arman."
"Insha Allah, nanti Tata sampaikan."
"Al, jaga istrimu." Pesan Bunda, saat melihat raut wajah putranya yang datar tanpa senyum.
"Hallo Za, ada perkembangan ?" Tanya Al melalui seluler genggamnya.
"Ada Pak, ada yang harus saya tunjukkan kepada Pak Al." Jawabnya.
"Nanti kita ketemu di kantor. Saya sedang menuju rumah sakit bersama dengan istri saya."
"Baik Pak, Pak Al memang harus melihat ini sendiri. Atau perlu saya kirimkan saja Pak ?"
"Tidak usah, saya akan langsung ke kantor terlebih dahulu." Jawab Al, menyudahi percakapannya.
"Kita ke kantor terlebih dahulu." Kata Al tanpa dijawab oleh Tata.
Rasa penasaran, membuat Al memutuskan menuju kantor terlebih dahulu sebelum akhirnya menjenguk Pak Arman di rumah sakit.
"Selamat Siang Pak Al, selamat siang Mbak Tata." Sapa seorang karyawan.
"Selamat siang." Jawab Tata ramah.
Berbeda dengan Al yang hanya mengangguk sambil berlalu.
"Maaf, saya ke dalam dulu ya." Pamitnya.
"Silahkan Mbak."
__ADS_1
Di dalam ruang kerja Al, sudah ada Reza yang menunjukkan sesuatu kepada bosnya.
"Jadi benar dugaan saya." Gumam Al sendiri.
'Apa yang Reza perlihatkan kepada Mas Al ? Mereka kelihatannya serius. Apa itu ada hubungannya dengan Paklek Arman ? Atau sekedar urusan pekerjaan ?' Tanya Tata dalam hati yang belum berani ikut campur.
"Sini Ta, kamu perlu tahu akan hal ini." Panggil Al meminta istrinya duduk di sebelahnya.
β’On video
"Bagaimana ini Mas, saya tidak punya uang buat bayar rumah sakit. Kamu harus bantu saya." Kata seorang wanita yang pastinya sangat dia kenal
"Kamu tenang saja, aku akan bantu. Tapi sebagian." Jawab lawan bicaranya.
"Mana bisa begitu, aku lakukan semua ini juga demi kamu Mas." Sanggahnya.
"Mana ada begitu, ini semua kan ide kamu."
"Iya, tapi atas permintaan kamu juga. Kamu yang minta agar pernikahan Tata gagal."
"Ssaatttt ... Diam kamu, kamu juga ingin dekat dengan pria kaya itu kan ?"
"Tapi bukan dengan mengorbankan Bapakku juga Mas."
"Nih, jangan banyak omong. Kekurangannya kamu tanggung sendiri, lagipula semua gagal. Tata sudah menjadi milik orang. Sudah tidak ada lagi kesempatan untukku bisa mendekati dia."
Kata laki-laki itu dan segera pergi meninggalkan wanita yang dia ajak berdebat usai menyerahkan sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar ratusan ribu.
"Mas Andri, ini mana cukup ! Kemana aku akan mencari kekurangannya !" Teriaknya lagi.
"Bukan urusanku." Jawab laki-laki yang dia panggil Andri, sambil berlalu melambaikan tangan.
"Awas kamu Mas, aku akan laporkan semua ini sama Tata !" Ancamnya.
"Terserah, yang ada kamu juga terlibat." Jawabnya tanpa memperdulikan ancaman yang dia dengar.
----------------------------------
"Astagfirullah, Astrid." Komentar Tata lirih. Dia bungkam mulutnya sendiri, tidak menyangka, sepupunya akan senekat itu kepada Bapaknya sendiri.
Ya, video yang mereka lihat, adalah percakapan Andri dan Astrid, sepupunya sendiri. Entah apa yang dia lakukan hingga Bapaknya masuk rumah sakit.
"Apa yanh dia lakukan kepada Paklek Mas ?"
"Ada kemungkinan, Mbak Astrid memasukkan sesuatu ke makanan atau minuman Pak Arman, sehingga Beliau masuk rumah sakit. Karena, saya sempat mencari info, dari hasil pemeriksaan diketahui kalau beliau mengalami sakit perut, mual muntah dan diare akut." Kali ini Reza yang pegang kendali untuk menjawabnya.
"Ya Allah Astrid, keterlaluan kamu." Gerutu Tata geram dengan kelakuan sepupunya sendiri.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________