
Dua minggu telah berlalu, sejak kejadian pingsan yang dialami Anita waktu itu. Rasa malu karena adanya desas-desus yang tak sedappun sempat dia dengar. Bahkan sampai memaksanya harus menghindar dari Bosnya.
Pagi itu, enggan sekali dia berangkat kerja. Kalau bukan karena kebutuhan, ingin rasanya dia keluar dari tempat kerjanya.
"Cie - cie, yang lagi dekat sama Bos." Begitulah kira-kira ejekan kecil yang dilontarkan langsung kepadanya.
Namun ada juga yang terdengar menghina, membuat panas telinga.
"Bagai pungguk merindukan bulan, hahhaha.."
"Bukan pungguk lagi, tapi tak tau diri. Uppsss...maaf sengaja."
Begitulah kira-kira obrolan mereka di depan Anita. Bukan lagi diam-diam di belakang, mereka bahkan terang-terangan menyampaikan.
Anita masih duduk termenung, mengingat kembali hal kecil yang membuat sakit hatinya.
"Kenapa Nduk ? Sudah hampir siang, kenapa belum siap-siap berangkat kerja ?" Tanya Bu Ranti tidak biasa melihat Anita patah semangat dalam bekerja.
"Gakpapa Bu, Tata hanya sedikit lelah saja. Tata mau izin dulu untuk beberapa hari." Jawabnya.
"Ibu paham betul bagaimana kamu. Bukan sifatmu diam seperti ini, kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu." Berharap bisa meringankan beban gadis yang sangat berjasa dalam hidupnya ini.
"Iya Bu, tapi Tata baik-baik saja." Ucapnya sembari menunjukkan senyumnya yang paling manis.
"Tata ke kamar dulu ya Buk."
Bu Ranti mengangguk, Beliau yakin ada sesuatu yang dia pendam. Tapi Beliau tidak mau memaksa, biarkan suatu hari nanti dia bercerita sendiri.
***
Beberapa kali terdengar nada dering handphone dari dalam kamar Anita. Tapi dibiarkan tanpa ada yang menjawabnya.
"Nduk, cah ayu." Panggil Bu Ranti yang kebetulan lewat di depan kamarnya.
"Dalem Buk."
Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Ada telfone, ini panggilannya berkali-kali."
Dilihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal.
Tutt ... tutt ... tutt ...
"Hallo ! Kamu ini kemana saja sih, ditelfon dari tadi tidak diangkat. Tidak tahu apa kalau penting !" Teriak seorang wanita dari sebrang.
'Idih, lagipula siapa yang tahu ini penting apa tidak.' gerutu Anita dalam hati.
"Maaf, ini dengan siapa ya ?" Tanya Tata yang masih belum mengerti dengan makian barusan.
"Gitu ya, mentang-mentang sudah hidup enak, lupa sama kita !" Nadanya begitu ketus.
"Hallo, maaf ya Mbak. Saya_"
"Ini Astrid, Mbak di suruh ke rumah. Bapak terus-terusan manggil-manggil nama Mbak !" Selanya.
'Paklek, ada apa dengan Paklek.' Pikiran Anita menerawang entah kemana.
"Bapak kenapa Astrid ?"
"Bapak jatuh dari lantai dua." Jawabnya singkat, masih dengan nada yang tidak bersahabat.
"Astagfirullah."
"Sudah, gak usah banyak tanya. Lekas ke sini !"
Tut tut tut tut ...
Astrid menutup sambungan teleponnya tanpa mengucapkan salam.
"Kebiasaan ni anak, dari dulu sampai sekarang gak ada sopan-sopannya." Omel Tata lirih.
"Ada apa Nduk ? Kelihatannya ada hal yang penting ?" Tanya Bu Ranti yang sejak tadi masih diam mendengarkan.
"Paklek Bu, barusan Astrid yang telfon. Katanya Paklek mengalami kecelakaan kerja." Terangnya.
"Astagfirullah, lalu bagaimana keadaannya ?"
"Tata belum tahu Bu, ini Tata mau ke sana. Untuk memastikan keadaan Paklek baik-baik saja."
"Iya Nduk, apa perlu Ibu temani ? Ibu takut kamu kenapa-kenapa." Resahnya.
"Tidak perlu Bu, Insha Allah Tata bisa jaga diri." Jawabnya meyakinkan.
"Kalau begitu, Tata pamit dulu ya Buk."
"Iya Nak, hati-hati di jalan ya Nak."
"Inggih, Ibuk. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sebelum berangkat menuju rumah Paklek, Tata mampir dulu ke sebuah toko buah. Dia belikan satu paket buah segar untuk Pakleknya.
__ADS_1
"Berapa mbak ?"
"Semuanya jadi seratus lima puluh ribu Mbak."
Tata memberikan dua lembar uang ratusan ribu kepada penjual buah tersebut.
"Ini kembaliannya Mbak."
"Terimakasih."
"Terimakasih kembali."
Dengan langkah terburu-buru, dia keluar dari toko buah 'Segar Sari'.
"Tata !"
Belum genap dua langkah dia keluar dari kios buah, seseorang memanggil namanya.
Tata menoleh dan memastikan siapa pemilik suara yang memanggilnya.
"Mas Andri ?"
"Hei, apa kabar ?" Ucapnya mengulurkan tangan.
'Ya Allah, ini beneran Mas Andri.' komentarnya dalam hati.
"Hei, kok bengong." Kata Andri sembari melambaikan tangan ke wajah Anita.
"Mas Andri apa kabar ?"
"Hahahah...aku tanya kok balik bertanya." "Alhamdulillah aku sehat mas, Mas sendiri apa kabar ?"
"Ya, seperti yang kamu lihat."
Lama sekali sejak kepergian dari rumahnya sendiri beberapa tahun yang lalu, bisa dipastikan kalau mereka tidak pernah bertemu sama sekali.
Lagipula, sejak saat itu juga Andri melanjutkan kuliahnya di luar kota. Dan baru beberapa hari yang lalu dia kembali.
"Oh ya, kamu tinggal dimana ? Lalu ini mau kemana ?" Berondong Andri.
"Saya, saya mau ke rumah Paklek Mas."
"Paklek Arman ?"
"Iya."
"Kebetulan sekali, saya juga mau arah pulang. Boleh sekalian saya antar ?"
Tawaran yang kebetulan Tata butuhkan. Tapi dia tidak mau kejadian yang telah lalu terulang lagi.
"Hei, kamu ini ngomong apa sih ? Tidak ada yang direpotkan." Pinta Andri meyakinkan.
"Iya, tapi saya masih ada acara ke tempat lain dulu." Jawab anita mencari alasan.
"Tidak apa-apa, aku akan antarkan kemanapun kamu mau." Ucapnya memaksa.
'Ya Allah, pertanda apa lagi ini ?' Resahnya dalam hati.
"Ayolah, kita kan sudah lama tidak bertemu." Lagi-lagi Andri memaksa.
"Tapi Mas, saya_"
"Hei Ta, sudah lama nunggunya ?"
Tiba-tiba Alfatih datang, dan menghentikan ucapan anita sebelum bisa dia selesaikan.
"Hei, lumayan lah. Cukup membuat saya sedikit stress. Heheheh." Jawabnya cengengesan.
"Bisa saja kamu." Balas Al sembari mengacak rambut Anita.
'Uppsss...Pak Al bukan sih ini, aneh banget. Gayanya itu lo cooll...' Pujinya dalam hati.
"Kok bengong, hayuk kita pergi." Ajak Al lagi.
Andri yang sejak kedatangan Al dibuat bingung olehnya.
"Oh ya Mas, kenalin. Ini Mas Andri tetangga aku di rumah lama."
"Oh ya, Hei. Alfatih."
"Andri."
Kata mereka saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
"Sudah selesai urusannya, kita segera jalan yuk." Ajak Al mengakhiri dilema yang ada.
"Oh ya Mas Andri, saya duluan ya."
"Eh, iya."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Al merangkul Anita sembari berjalan meninggalkan Andri yang terlihat bengong melihat keakraban mereka berdua.
"Anita, betapa bodohnya aku melepaskanmu begitu saja." Gumamnya jengkel pada dirinya sendiri.
"Pak Al, lepaskan Pak." Bisik anita lirih setelah dirasa situasi sudah aman.
"Sudah diam, masuk ke dalam mobil." Kata Al lebih memaksa.
Al menutup pintu mobilnya dengan keras dan duduk di kemudinya.
"Kamu mau kemana ?"
"Saya mau ke rumah Paklek saya Pak."
"Kenapa kamu menghindar dariku ?" Tanya Al langsung ke pokok permasalahan.
"Saya tidak menghindar dari Bapak."
"Lalu, kenapa kamu tidak terlihat di kantor ? Apa kamu sudah tidak mau lagi bekerja di perusahaan saya ?" Kata Al datar tanpa jeda.
"Maaf Pak, tolong turunkan saya di ujung jalan sana."
"Tidak Ta, urusan kita belum selesai."
"Urusan apa Pak ? Urusan saya lebih penting."
Anita tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Al kali ini.
"Tolong Pak, Paklek saya membutuhkan kedatangan saya. Beliau baru saja mengalami kecelakaan kerja." Welasnya kepada Al.
"Oke, aku turunkan kamu. Tapi ingat, ada yang masih harus kita bicarakan."
'Ya Allah, apa lagi ini ?' Keluhnya untuk kesekian kalinya.
Seperti permintaan Anita, Al menghentikan mobilnya di ujung jalan. Bersamaan dengan keluarnya mobil Reza dari gang yang sama.
"Reza."
"Pak Al."
"Dari mana kamu ?"
"Ini Pak, saya baru saja dari rumah Pak Arman, memberikan santunan dari perusahaan untuk karyawan kita yang mengalami kecelakaan kerja beberapa minggu yang lalu." Kata Reza memberikan keterangan.
"Pak Arman ? Jadi selama ini Paklek bekerja di perusahaan Bapak juga ?" Tanya Anita yang mendengar percakapan mereka.
"Jadi, Pak Arman ini Paklek kamu ?"
"Iya."
"Kalau begitu, ikut saya kembali ke sana Za."
"Baik Pak, silahkan duluan."
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Anita kembali masuk ke dalam mobil Alfatih untuk menuju rumah Paklek.
Terlihat dari jauh, di depan rumah sudah ada Bulek Rukmini dan Astrid yang sedang berbincang.
"Pak Al, maaf sebaiknya saya turun di sini." Pintanya.
"Kenapa ?"
"Tidak apa-apa Pak, tapi saya mohon turunkan saya di sini."
"Tapi_"
"Pak Al, saya mohon." Pintanya lebih tegas.
"Oke, oke."
Al menghentikan mobilnya dan membiarkan Anita jalan terlebih dahulu.
~
~
~
Hallo semua....š¤
Masih stay di sini ea...š
Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya...š
Cek juga karya Author yang lain ea... dijamin bikin geregetan...š
Jangan lupa like n vote š„°š
Kritik & sarannya juga kami tunggu...šš„°š
Miss u all....š„°š„°š„°šš
_______________
__ADS_1
_______________
_______________