Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 75. Rahasia Terpendam


__ADS_3

Dua hari sejak bertemunya kembali dua sahabat beda generasi itu, mereka sudah saling berkomunikasi bahkan sudah sering bertemu disaat keduanya sama-sama mengantar cucunya ke sekolah.


Untuk mempererat tali silaturahim diantara keduanya, Bunda Arum punya niat untuk mengundang keluarga Hanifa ke rumahnya.


"Al, bagaimana jika akhir minggu ini, kita undang Hanifa dan Mamanya untuk datang ke rumah ? Itung-itung kita reunian. Lagipula sudah lama sekali kita tidak bertemu." Tanya Bunda meminta pendapat.


"Saya setuju Bunda, biar Nindya dan Regina juga bisa lebih akrab." Komentar Tata mendahului.


"Iya, betul sekali. Bagaimana Al ?"


"Terserah Bunda saja." Jawab Al kurang bersemangat.


"Baik, Bunda akan atur semuanya." Kata Bunda mengambil keputusan.


Sedangkan Al masih sama seperti tadi, cuek dan masa bodoh.


'Ada apa dengan Mas Al, tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Apa yang sedang Mas Al pikirkan, apa ada hal yang kurang beres di kantor.' Pikir Tata dalam hati.


Ingin rasanya Tata bertanya, tapi takut kalau pertanyaannya malah akan menambah beban suaminya lebih berat. Jadi untuk saat ini, Tata memilih untuk tetap diam. Meskipun dia tahu dan sudah jafal betul dengan sikap suminya saat sedang ada masalah.


"Aku berangkat dulu ya." Pamit Al usai menyelesaikan sarapannya.


"Iya Mas, hati-hati di jalan." Jawab Anita sembari mencium punggung tangan suaminya, sebelum akhirnya duduk di belakang kemudi mobilnya.


"Oh ya, jika Bunda perlu sesuatu, minta tolong Pak Slamet untuk mengantarkan Beliau kemana-mana."


"Iya Mas."


"Satu lagi, jangan kemana-mana, jaga kandunganmu baik-baik." Pinta Al sebelum berangkat.


"Iya Mas." Hanya jawaban itu yang sejak tadi keluar dari bibirnya.


Hari ini memang Nindya tidak masuk sekolah, sengaja diliburkan, karena ada penilaian dari instansi pemerintah terkait. Jadi Tata bisa lebih berlama-lama bermain dengan Nindya di rumah.


Sejak Al berangkat ke kantor, Bunda sudah sibuk dengan handphone nya. Entah siapa yang Beliau telfon, yang jelas mereka terlihat begitu sangat akrab.


"Iya, iya, aku tunggu lo ya, jangan sampai tidak datang."


Bagitu sepenggal kalimat yang sempat Tata dengar tanpa sengaja.


"Oke, aku dan Hanifa pasti datang." Jawabnya seseorang dari sebrang, yang tak lain adalah Oma Ratri, Ibunya Hanifa.


***


Berbagai persiapan, untuk makan siang telah disiapkan. Hidangan lezat dan minumam segar sudah selesai disiapkan.

__ADS_1


Tinggal menunggu waktu yang telah mereka sepakati, untuk bisa sampai disini.


"Hallo, Regina sayang. Mbak Hanifa, Oma Ratri." Sapa Anita saat mereka sudah datang.


"Hallo Tante, Nindya mana Tante ?" Balas Regina bertanya.


"Ada di dalam sayang, ayo kita masuk. Mari silahkan Oma, Mbak Hanif."


"Iya, terimakasih."


Sebuah perjamuan makan siang yang begitu hangat. Meskipun tanpa kehadiran Al. Bukan sengaja menghindar, tapi memang hari ini Al ada acara ke luar kota untuk urusan bisnisnya.


"Arum, Al mana ?" Tanya Oma Ratri yang sejak tadi belum melihat keberadaan Alfatih.


'Mama sudah mewakili isi hatiku, sejak tadi aku juga belum melihat Al disini.' Komentar Hanifa dalam hati.


"Mohon maaf, Al tidak bisa ikut makan siang bersama kita. Kebetulan dia ada pekerjaan di luar kota."


Namun jawaban Bunda Arum membuat Hanifa sedikit merasa kecewa. Sesudah sekian lama, tidak mendengar kabarnya, Hanifa berharap bisa melihat sekilas wajah pria yang pernah menjadi cinta pertamanya itu.


"Iya, tidak apa-apa. Sejak dulu Al memang seorang pekerja keras." Komentar Oma Ratri.


Demi menyembunyikan rasa dan menjaga perasaan seorang Tata yang belum mengetahui kisahnya di masa lalu, Hanifa tersenyum memandangi perempuan cantik di sampingnya itu.


Perempuan yang berhasil merebut hati pria yang pernah mengisi hatinya dulu. Meskipun Al dulu cuek dengan perhatian yang dia berikan. Namun setidaknya itu sudah memberikan sebuah kenangan di hatinya.


"Ini rujaknya sudah siap." Kata Mbak Watik sembari membawa satu baskom rujak ice cream kesukaan Tata.


Entah karena memang suka atau mungkin hawanya orang hamil yang maunya segar-segar.


"Waoo ... Seger ini, dulu waktu aku hamil Gina, bawaannya juga pengen yang seger-seger begini nih." Kata Hanifa mengingat masa lalunya.


Hanifa banyak cerita tentang persahabatan dia dengan Almarhumah Kinanti. Banyak kenangan manis dan pahit pernah mereka lalui bersama.


Tidak jarang, keduanya terbawa emosi hingga menitikkan air mata.


"Semua sudah takdir yang Allah berikan Mbak, mungkin ini juga cara Allah mempertemukan aku dengan Mas Al." Kata Tata.


"Aku juga heran, waktu pertama kali melihatmu, aku seperti melihat kembali sahabatku itu. Dan yang membuat aku lebih heran, ternyata kamu bagian dari keluarga yang aku sayangi ini." Komentar Hanifa.


Seakan ada kecocokan pada keduanya, obrolan itu mengalir alami begitu saja. Tanpa ada hal yang ditutup tutupi lagi. Meskipun Hanifa masih belum menyinggung tentang memorinya pribadi dengan Al di masa lalu.


Sedangkan Bunda Arum dan Oma Ratri berada di taman samping. Entah apa yang mereka obrolkan. Terkadang serius, terkadang terdengar canda tawa kecil di sela-sela obrolannya.


"Ayo Mbak, dilanjutkan dulu. Ini tugas Mbak Watik juga harus ikut menghabiskan." Kata Anita yang sudah merasa puas menikmati rujak ice cream buatan Mbak Watik.

__ADS_1


"Lah, Mbak Ata mau kemana ?" Tanya Mbak Watik.


"Ke kamar kecil dulu, beser ini. Maklum BuMil." Jawabnya sembari berusaha berdiri.


"Iya lekas sana, jangan ditahan." Ucap Hanifa.


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


Handphone Tata bergetar, saat dia akan kembali lagi berkumpul dengan Hanifa dan yang lain.


Terlihat nama suaminya di layar handphonenya. Namun belum sempat dia angkat sudah terlanjur mati. Mungkin deringnya sudah terlalu lama, sejak dia masih berada di kamar mandi.


Dia berhenti sejenak, untuk kembali menghubungi suaminya. Namun, sebuah kalimat yang mewakili perasaan seorang ibu, tidak sengaja dia dengar ketika melintasi ruang dimana Bunda dan Oma Ratri berbincang, membuat Tata mengurungkan niatnya untuk menghubungi suaminya.


Bukan bermaksud untuk nguping, tapi rasa penasaran yang menarik hatinya untuk berhenti.


"Coba jika dulu Al dan Hanifa berjodoh ya Rum. Mungkin kita tidak akan putus komunikasi." Kata Oma Ratri.


"Semua sudah takdir yang Allah berikan Tri, kita orang tua hanya bisa berharap, Allah yang menentukan segala sesuatu."


Begitu sekiranya yang Tata dengar. Sebuah kalimat yang sedikit mengejutkan.


'Jadi, dulu Hanifa bukan hanya sekedar sahabat bagi Kinanti, tapi juga dekat dengan Mas Al.' Komentarnya dalam hati.


Entah kenapa ada perasaan aneh melintas di hatinya. Apa ini juga salah satu rasa cemburu ?


Tapi apa lagi yang harus dia takutkan, bukankah Al sudah sepenuhnya menjadi miliknya ?


Lalu bagaimana jika cinta itu bersemi kembali ?


'Tidak-tidak, aku tidak boleh berfikir yang macam-macam.'


Kembali Anita menata hati dan pikirannya untuk lebih berfikir logis. Bukan mengandalkan emosi sesaat. Meskipun ada rasa canggung di dalam hatinya saat berkumpul kembali bersama Hanifa, namun dia tetap berusaha untuk ramah.


"Sayang, sudah sore, kita pamit dulu yuk." Ajak Oma Ratri.


"Kenapa buru-buru Oma, belum terlalu sore ini." Ucap Tata basa-basi.


"Lain kali kita main lagi, atau gantian kita ngumpul di rumah Oma." Pinta Beliau.


"Siap Oma." Jawab Tata kembali, mencoba untuk bersikap biasa saja.


____________________


____________________

__ADS_1


____________________


__ADS_2