Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 58. Rumah Sakit


__ADS_3

Rumah sakit sehat waras, lagi-lagi dia harus menginjakkan kakinya disini. Dulu, Tata pernah melarikan diri dari rumah sakit ini, demi menghindar dari Al. Tidak disangka, sekarang pria yang dia hindari, akan ada seterusnya di samping dia.


"Selamat siang Ibu, ada yang bisa kami bantu ?" Sapa seorang petugas informasi.


"Selamat siang Mbak, mohon info, ruang rawat inap atas nama Bapak Arman dimana ya ?" Tanya Tata santai.


"Baik, mohon ditunggu sebentar."


Sembari menunggu, Tata melayangkan pandangannya ke sekeliling. Dia lihat suaminya sedang berbincang dengan seorang dokter. Entah siapa dan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mohon maaf, lama menunggu Ibu. Atas nama Bapak Arman, saat ini masih di rawat di kamar melati nomor tiga."


"Melati nomor tiga, baik terimakasih infonya."


"Sama-sama Ibu."


Tata meninggalkan suaminya yang masih asyik mengobrol, setelah sempat berpamitan. Dia berjalan sendiri, menelusuri lorong sepi, mencari kamar melati nomor tiga sesuai informasi yang dia dapatkan.


"Ini dia." Gumamnya sendiri.


"Assalamu'alaikum." Sapa Tata setelah memastikan benar ruang itu yang dia cari.


"Wa'alaikumsalam, Tata. Masuk Nak." Jawab Bulek ramah.


"Bulek, bagaimana keadaan Paklek ?" Tanya Tata, saat mendapati Pakleknya masih tertidur pulas.


"Sudah mendingan, isi perutnya harus dikuras karena sepertinya Paklekmu mengalami keracunan." Jawab Bulek Rukmini.


"Keracunan ? Memangnya apa yang Paklek makan, sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit ?" Tanya Tata berlagak heran.


"Bulek juga tidak tahu, yang jelas usai makan makanan yang kamu kirimkan, Paklekmu tiba-tiba merasa mual dan muntah." Jawab Bulek.


"Mungkin memang ada yang sengaja membuat seperti itu Buk." Celetuk Astrid yang sejak tadi hanya terdiam.


"Maksud kamu, kamu menuduh kami melakukan itu Astrid ?" Tanya Tata gemas.


"Ya barangkali saja, salah sasaran." Celotehnya bikin geregetan.


Tata masih bisa menahan emosinya, apalagi mengingat ini sedang berada di rumah sakit.


"Nduk, Tata." Panggil Paklek Arman berusaha bangun dari tidurnya.


"Paklek, maafkan Tata yang membuat Paklek terbangun." Jawabnya kepada Paklek Arman yang belum sempat dia sapa.


"Tidak apa-apa Nduk, kamu sama siapa ? Mana Nak Al ?" Tanya Paklek Arman yang mendapati keponakannya itu sendiri.


"Ada Paklek, saya sama Mas Al. Tapi Mas Al masih di belakang. Sebentar lagi juga menyusul." Jawab Tata yang memang meninggalkan Al sendiri.


"Maafkan Paklek Nduk, Paklek tidak bisa hadir di hari pentingmu." Ucapnya tersedu-sedu.


"Tidak apa-apa Paklek, itu sudah berlalu."

__ADS_1


"Paklek menyesal, Paklek merasa berdosa Nduk." Isaknya semakin keras.


"Sudah Paklek, jangan dipikirkan. Alhamdulillah, semua sudah berjalan lancar." Kata Tata mencoba menenangkan kegundahan Paklek Arman.


"Paklek sendiri juga tidak tahu, kenapa jadi seperti ini. Disaat situasi yang penting, Allah memberikan ujian seperti ini."


"Sudah Paklek, yang penting sekarang, Paklek fokus dengan kesehatan Paklek." Ucap Tata sembari melihat ke arah Astrid yang masih merunduk di belakang ibunya.


"Assalamu'alaikum." Sapa Al memecahkan suasana.


"Wa'alaikumsalam, Nak Al." Jawab Paklek masih dengan linangan air mata.


"Apa kabar Pak Arman ?"


"Alhamdulillah, sudah mendingan ini Nak. Maafkan Paklek ya Nak ? Paklek tidak bisa menyerahkan langsung keponakan Paklek kepadamu. Paklek sangat berdosa, Paklek tidak bisa mengemban amanah terakhir Almarhum Mas Har untuk menikahkanmu." Sesalnya tiada akhir.


"Sudah Pak Arman, semua sudah berjalan lancar dan kami sudah sah menjadi suami istri." Jawab Al.


"Alhamdulillah, Paklek senang mendengarnya. Paklek merestui kalian. Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian."


"Aamiin."


"Bu Arman, maaf saya sampai tidak menyapa." Kata Al basa-basi.


"Tidak apa-apa Nak Al, terimakasih sudah berkunjung." Jawab Bulek Rukmini.


Sedangkan Astrid masih mengekor di belakangnya.


"Oh ya Paklek, Tata minta maaf, jika makanan yang kemaren Tata kirim kurang higienis, sehingga membuat Paklek jadi diare." Kata anita sedikit memberikan sindiran kepada sepupunya yang tadi sempat menuduh sakitnya Pak Arman akibat makan makanan yang Tata kirimkan.


"Tidak Nduk, bukan karena itu. Paklek sendiri juga heran, kenapa Paklek sendiri yang mengalami hal ini. Kalau semua berasal dari makanan, seharusnya Bulekmu dan Astrid juga ikut diare, atau bahkan seluruh orang yang ada dalam hajatan juga mengalaminya." Kata Paklek menyangkal ucapan Tata.


"Mungkin suatu saat nanti ada yang akan menjelaskannya Paklek." Kata Al yang membuat Astrid semakin tersindir.


Lagi-lagi Bulek Rukmini dibuat curiga dengan apa yang Al dan Tata sampaikan.


Tok ... tok ...


Disaat yang bersamaan, seorang perawat datang menyapa.


"Selamat siang Bapak, Ibu semuanya. Pak Arman bagaimana kabarnya ?"


"Alhamdulillah, sudah baikan Sus."


"Syukurlah kalau begitu, ini hasil cek kesehatan Bapak. Alhamdulillah, semua dalam keadaan baik. Dan dokter sudah mengizinkan Pak Arman untuk pulang hari ini. Silahkan dari pihak keluarga untuk menyelesaikan administrasi." Kata Suster memberikan berkas-berkas administrasi kepada Bulek Rukmini.


"Terimakasih banyak Sus." Jawab Bulek dengan wajah pucat pasi.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Mari semuanya." Ucapnya ramah.


Tata dan Al masih duduk santai di tempatnya. Sedangkan Bulek kelihatan kebingungan setelah melihat berapa biaya rawat inap dan perawatan yang harus mereka bayar selama tiga hari oknam di rumah sakit.

__ADS_1


Dia meraih pergelangan tangan Astrid dan mengajaknya bicara diluar.


"Astrid, bagaimana ini ?" Bisiknya kebingungan.


"Astrid tidak tahu, Astrid cuma punya ini." Jawabnya sembari menyerahkan amplop coklat yang dia terima dari Andri kemaren.


"Satu juta ? Kita harus membayar lima juta delapan ratus Trid, kemana ibu mencari uang sebanyak itu ?" Keluhnya lagi.


"Ibu pinjam saja ke siapa gitu, atau kalau perlu, ibu minta saja surat keterangan miskin dari desa kek." Jawabnya enteng.


"Kamu itu ya, kalau ngomong gak pake dipikir dulu." Gerutu Bulek marah.


Sebenarnya di dekat mereka ada sumber dana yang bisa di harapkan sewaktu-waktu. Tapi Bulek malu bahkan tidak mampu untuk memintanya.


Apalagi jika mengingat apa yang tadi Al dan Tata sampaikan. Di dalam setiap langkah yang Astrid lakukan, pasti ada campur tangan dia juga. Tapi, mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.


'Bagaimana ini ? Apa sebaiknya aku beranikan diri untuk bilang sama Tata.' pikir Bulek dalam hati. Mau tidak mau, terpaksa dia harus menyampaikan kekurangannya.


"Ada apa Buk ?" Tanya Paklek saat Bulek datang mendekati mereka.


"Begini Pak, baru saja ibu dari loket pembayaran. Dan ibu, itu, anu..." Ucapnya belepotan.


"Ada apa Buk, bicara yang jelas." Gertak Paklek.


"Bu Arman kekurangan dana untuk membayar biaya rumah sakit ?" Tanya Al memotong.


"Oh, itu, iya Nak Al. Sebenarnya ibu sudah punya tabungan lebih. Tapi karena suatu kebutuhan mendesak, jadi terpaksa kami gunakan, jadi kami keteteran untuk membayar administrasi rumah sakit." Jawab Bulek bertele-tele.


Pak Arman hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Harapan satu-satunya tinggal pada keponakannya.


"Saya bersedia membantu, asalkan istri saya menyetujuinya." Kata Al melimpahkan keputusan kepada Tata istrinya.


"Bagaimana Nduk, Bulek minta tolong." Pinta Bulek Rukmini.


"Apapun untuk Paklek, akan Tata berikan." Jawabnya.


"Oh ... syukurlah Nduk, terimakasih." Kata Bulek lega.


"Tapi, ada satu permintaan saya Bulek."


"Apa itu Nduk ?"


"Nanti akan saya sampaikan, setelah kita sampai di rumah." Jawab Tata menimbulkan rasa penasaran.


'Apa yang akan bocah ini minta ? Apa dia akan meminta rumahnya kembali ?' Pikir Bulek dalam hati.


Tapi apapun itu, akan dia pikirkan belakangan. Yang penting sekarang Bulek lega karena suaminya sudah bisa pulang tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.


__________________


__________________

__ADS_1


__________________


__ADS_2