Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 08. Misteri 'Putri Ayu' 2


__ADS_3

Satu pekan sudah Reza berkeliling di sela-sela kesibukannya, masih dengan misi yang sama.


"Maaf Pak Reza, saya sudah berkeliling ke seluruh lapak penjual jajan pasar, tapi tidak ada kue puthu yang lebelnya Putri Ayu." Keterangan Siska ketika Reza memintanya untuk membelikan kue yang dimaksud waktu itu.


Akhirnya, Reza sendiri yang turun tangan untuk mencari dengan cara berkeliling di sekitar taman kota. Karena di sana banyak orang yang menjajakan berbagai makanan.


Apalagi kalau hari minggu tiba. Semua jenis makanan ada. Mulai dari jajan tradisional sampai yang ke barat - baratan.


Namun sama seperti Siska waktu itu. Apa yang dia cari belum dia temukan. Bahkan semua penjual tidak tahu dengan nama lebel tersebut.


"Disini semua jajanan tradisional tidak ada lebelnya Mas, tapi rasanya dijamin bikin ketagihan." Kata salah seorang ibu penjual jajanan tradisional waktu Reza menanyakan apa yang dia cari.


"Monggo, silahkan yang lainnya saja Mas. Masih banyak macamnya, semua kue tradisional ada." Begitu jawab seorang lagi.


Dan untuk mengurangi rasa kecewa seorang pedagang, Rezapun membeli satu persatu kue tradisional yang mereka jajakan.


Rasa lelah menghampiri dan dengan duduk bersandar pada salah satu kursi yang ada di taman kota, sudah mengurangi penat yang dia rasakan.


"Om, boleh minta tolong bukain ?"


Kata seorang anak kecil yang tiba-tiba menghampiri dan menyerahkan sebuah kue dengan warna hijau bertabur kelapa muda parut di atasnya.


Dan sama seperti yang bos mudanya punya, Adek itu membawa kue puthu berlebelkan Putri Ayu.


"Adek, boleh om tanya. Kue ini dapat dari mana ?" Tanya Reza berharap mendapatkan jawaban.


"Tadi dikasih sama kakak cantik di sebelah sana." Jawabnya menunjuk ke suatu tempat.


Reza mengamati arah yang diberikan si bocah yang datang seolah sudah direncanakan itu.


Dia kembali berlari bersama teman-temannya, setelah mendapatkan kembali kue puthu ayunya.


Perlahan, sambil melayangkan pandangan, Reza menyapu bersih setiap sudut taman kota. Berharap apa yang dia cari, dia dapatkan hari ini.


"Mana ? Tidak ada seorangpun yang sedang membagikan kue ?" Gumamnya sendiri.


"Enak ya Ma, besok aku mau lagi Ma." Kata seorang anak kecil kepada ibunya, yang kebetulan lewat di samping Reza berdiri.


"Maaf, Ibu." Panggil Reza ingin menanyakan sesuatu.


"Iya Mas, ada apa ?"


"Maaf, apa saya boleh tanya, darimana Ibu dapatkan kue itu ?" Tanya Reza sembari menunjuk sebuah kue yang sedang dimakan si anak.


Takut jajanannya diminta, anak kecil sekitar usia lima tahun itu, bersembunyi di belakang pantat ibunya, saat Reza menunjuk ke arahnya.


"Maaf sayang, Om orang baik kok." Kata Reza menyadari ada yang ketakutan melihatnya.


"Gakpapa, Om ini cuma tanya, dimana Nisa mendapatkan kue ini." Kata ibunya menenangkan.


"Ini kan Nisa dapat dari Kakak cantik tadi Bu, bukan beli." Terangnya menggemaskan.


"Iya Mas, ini tadi kebetulan ada seorang gadis muda yang sedang membagikan takjil Jumat berkah di sekitar taman kota ini." Kata si ibu memperjelas keterangan putrinya.


"Apa ibu tahu siapa gadis itu dan dimana tempat tinggalnya ?"


"Waduh, maaf kami tidak kenal. Tapi kami sering lihat dia menjajakan dagangannya di sekitar sini. Dan setiap hari Jum'at, dia memberikan sedekah seperti kali ini."


"Baik, terimakasih sekali infonya."


"Sama - sama Mas."

__ADS_1


"Maaf ya Dik, telah membuat adik takut."


"Gakpapa Om, kata Ibu gak boleh dekat-dekat sama orang yang tidak kita kenal." Ocehnya lagi.


"Iya betul sekali."


"Om mau kue ini ya, mau Nisa bagi ?"


"Tidak - tidak, terimakasih. Om sudah kenyang, habiskan untuk dik Nisa saja."


"Terimakasih Om."


Reza tersenyum gemas memandangi polah tingkah bocah itu.


"Kalau begitu kami permisi dulu Mas."


"Oh, iya Bu, terimakasih banyak. Mohon maaf telah mengganggu aktivitasnya."


"Tidak sama sekali, mari."


"Silahkan."


Misinya kali ini belum berhasil.


'Apa aku tunggu besok Jumat lebih awal, agar aku bisa segera mendapatkan jawaban.' Pikirnya dalam hati.


"Ya, mungkin lebih baik begitu." Gumamnya sendiri.


Meskipun belum mendapatkan hasil, tapi Reza memberanikan diri untuk melaporkan kejadian apa yang dia dapat hari ini.


"Jadi, setiap hari dia berjualan di sekitar taman kota ?"


Alfatih menganggukkan kepalanya, mendengar keterangan dari Reza.


"Maaf Pak Al, kalau boleh saya tahu, ada apa sebenarnya sehingga Pak Al ingin bertemu dengan penjual kue puthu ayu itu ?" Tanya Reza memberanikan diri.


"Hhhhmmmm..." Al menghela nafas panjang.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus mengetahui tentang dia. Tapi yang membuat saya penasaran, karena_"


Tok .. tok .. tok ..


"Iya masuk."


Belum selesai Alfatih memberikan jawabannya, tertunda karena ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Selamat siang Pak Al, Pak Reza."


"Ada apa Sis ?" Tanya Reza.


"Ini Pak, klien kita sudah menunggu. Beliau ingin bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan kita." Terang Siska.


"Klien yang mana ?" Tanya Al masih belum nyambung.


"Itu Pak Al, yang mengambil beberapa unit kapling dari 'Kamandanu Properti'." Jawab Reza.


"Oh ya, oke. Sebentar lagi kami ke sana."


"Baik Pak Al, saya permisi dulu."


Belum sempat Alfatih melanjutkan ceritanya, harus kembali terpotong dengan hadirnya tamu di kantor.

__ADS_1


'Uffhh...tamu hadir disaat yang kurang tepat. Apa coba yang akan Pak Al ceritakan ?'


Penasaran yang Reza rasakan, membuat dia tidak bisa konsentrasi saat berbincang mengenai pekerjaan dengan kliennya.


"Baik kalau begitu, kita dil ya Pak, saya ambil lima unit sekaligus dengan diskon sepuluh persen dari total keseluruhan. Bukan begitu Pak Reza ?"


"Oh, eh, iya betul Pak." Jawab Reza gugup.


"Kamu kenapa Za ?"


"Oh maaf, tidak apa-apa Pak. Hanya sedikit kurang konsentrasi." Jawab Reza sekenanya.


"Ahahaha...Saya salut dengan anda berdua, masih muda, ganteng dan mempunyai semangat sukses yang tinggi." Puji kliennya.


"Terimakasih Pak." Jawab Reza.


Sedangkan Al, dia lebih memilih diam, karena sejujurnya, dia paling pantang dengan pujian.


"Ada kemungkinan Pak Reza sedang memikirkan sesuatu, lawan jenis mungkin." Kelakarnya.


"Tidak - tidak, saya hanya kurang istirahat saja." Lagi - lagi Reza mencari alasan.


"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu. Semoga kerjasama kita berjalan lancar."


"Amien."


"Mari Pak Al, sukses terus untuk 'Kamandanu Group'."


"Terimakasih Pak."


"Saya permisi dulu."


"Mari, silahkan."


Usai mengantar kepergian tamunya, Reza berniat untuk kembali ke ruang kerjanya.


"Reza."


"Iya Pak."


"Apa benar kamu kurang istirahat ?"


"Oh, tidak Pak. Saya hanya bercanda tadi."


"Saya kasih kamu cuti untuk sedikit berlibur dan bebas dari pekerjaan."


"Tidak perlu Pak, saya benar-benar tidak apa-apa."


"Oke, kalau begitu lanjutkan misimu. Sebelum ada tugas lain lebih banyak menantimu."


"Siap Pak."


Usai berkata begitu, Al meninggalkan Reza dan kantornya. Al sudah berjanji untuk pulang lebih cepat hari ini.


Sudah beberapa hari, Al melewatkan makan malam dengan Bunda dan si Memoy Nindya.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2