
Hari kedua liburan bersama. Tidak seperti kebanyakan orang yang menikmati liburannya dengan tenang. Al masih saja berlibur sambil bekerja.
Dia pantau kondisi kantor dari lokasi dimana mereka berada. Sesekali dia hubungi Reza asistennya, untuk memastikan semua baik-baik saja.
"Aman Pak, cuma hari ini ada sedikit kegaduhan. Tapi semua sudah teratasi." Begitu kata Raza melaporkan.
"Kegaduhan ? Kegaduhan apa ?" Tanya Al meminta penjelasan.
"Oh, tidak begitu penting Pak. Cuma hal kecil yang dibuat Mbak Bella tadi di lobi depan." Jawabnya tanpa penjelasan.
'Bella lagi, Bella lagi. Ternyata, Dia masih belum mau menyerah' Gumam Al dalam hati.
"Apa ada hal serius yang dia lakukan ?" Tanya Al datar.
"Tidak Pak, cuma sedikit emosi, saat kami informasikan kalau Pak Al sedang tidak ada di kantor hari ini." Kata Reza mulai menjelaskan.
"Mau apa dia mencariku lagi."
"Kurang tahu Pak. Yang jelas, Mbak Bella sempat marah dan menggebrak meja resepsionis. Dia juga teriak-teriak memanggil nama Pak Al, tidak percaya dengan informasi yang kami berikan." Cerita Reza.
"Ya sudah, urus dia. Jangan sampai dia buat onar dan mempermalukan nama baik perusahaan kita." Pinta Al kepada Asistennya.
"Baik Pak."
Masih terngiang betapa marahnya Bella, saat Al menolak cintanya untuk yang kedua kalinya.
*Flashback On
"Maaf Bella, aku tidak bisa. Lebih baik kita berteman saja." Jawab Al waktu Bella mengutarakan isi hatinya.
"Al, aku sudah jauh-jauh datang ke Indonesia, bukan untuk kamu tolak. Apa semua ini karena perempuan miskin yang ada di rumahmu itu." Ucapnya mencoba menebak.
"Jangan menyalahkan orang lain, semua ini murni dari hatiku. Aku memang tidak pernah mencintaimu. Jadi, tidak ada hubungannya dengan dia."
Apa yang Al ucapkan, membuat Bella naik pitam. Wajahnya memerah, matanya melotot kesal dengan apa yang Al ungkapkan.
"Ingat Al, aku tidak akan melepaskanmu dan aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain." Ancamnya waktu itu.
Bella pergi dengan perasaan kecewa, meninggalkan Al yang berdiam diri di belakang meja kerjanya.
*Flashback Off
Al mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, saat mengingat apa yang Bella lakukan di kantornya.
"Ada apa Mas Al ? Apa ada masalah ?" Tanya Tata yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya dengan secangkir kopi hitam.
"Oh, tidak ada masalah. Masalahku seqkarang cuma kamu." Jawabnya mengalihkan perhatian.
"Ya ... kalau saya sumber dari masalahmu, kenapa tidak kamu lepaskan saja." Kata Anita datar tanpa ekspresi, membuat Al merasa salah mengucapkan kalimat.
Tata beranjak dari tempat duduknya, usai berkata seperti itu.
"Hei." Refleks, dengan cepat Al meraih pergelangan tangan anita, yang mengakibatkan dia hilang keseimbangan.
__ADS_1
Bbbrrrruuukkk ...
Tata jatuh tepat di pangkuan Al. Sakit, tapi rasa sakit itu hilang seketika saat dia berhasil menangkap bidadari hatinya dalam dekapan.
"Jangan suka ngambek, karena setiap senyum yang hilang dari bibirmu membuat hatiku tergerak untuk terus mendekatimu." Bisik Al serius.
Tata segera berdiri sesaat setelah merasa pegangan tangan Al mulai kendor.
"Apa semua wanita yang tergila-gila dengan Mas, karena mendapat rayuan gombal seperti itu ?" Tanya Tata menyelidik.
"Berarti memang kita belum saling mengenal Tata, kamu tidak tahu seperti apa aku. Tapi sedikit banyak aku lebih mengenal bagaimana dirimu." Jawab Al mulai serius.
"Memang, apa yang belum aku ketahui darimu Mas ? Karena apa yang aku lihat, itulah yang aku tahu."
"Jujur, aku tidak pernah setakluk ini terhadap perempuan." Jawabnya.
"Termasuk Bella ?"
"Ya, sama sekali tidak. Beda dengan dirimu."
"Kenapa saya ? Apa karena saya mirip dengan Almarhumah Mbak Kinan ?" Pertanyaan Tata bukan tidak beralasan.
Tata pernah mendengar cerita itu langsung dari Bunda. Rasa sayang Al terhadap adiknya itu melebihi rasa sayang seorang laki-laki kepada lawan jenisnya.
"Awalnya begitu, tapi kalian berbeda." Jawab Al lirih.
Tata menghela nafas panjang.
"Maaf Mas, saya tidak mau jika apa yang Mas utarakan kepada saya, semua karena masa lalu." Ucapnya tak kalah lirih.
"Tunggu Ta."
Dia hentikan langkah kakinya, saat mendengar namanya dipanggil kembali.
Namun belum sempat Tata menoleh, Al sudah terlebih dahulu memeluk tubuhnya dari belakang.
"Apa yang aku sampaikan tulus dari dalam hatiku, bukan karena masa lalu." Bisiknya lirih.
"Lepaskan Mas, kamu membuatku susah bernafas." Keluh Tata berharap Al segera melepaskan pelukannya.
"Aku tidak akan melepasmu, sebelum aku mendengar jawaban atas pertanyaanku kemaren." Pinta Al mendesak. Bahkan pelukannya lebih erat dari yang tadi Tata rasakan.
"Ini namanya memaksa." Gerutunya.
"Iya, aku memang memaksamu. Ayo jawab, iya atau tidak, aku akan terima dengan lapang dada." Pinta Al lagi, memohon.
"Jika aku menjawabnya tidak, bagaimana ?"
"Aku akan segera melepasmu, atau mungkin bahkan tidak akan pernah menyentuhmu lagi." Bisiknya lemas.
"Tapi jika kau jawab iya, aku akan memelukmu lebih erat, bahkan tidak akan aku lepaskan lagi." Kata Al yakin dengan pilihan jawaban yang kedua.
"Yakin amat ?"
__ADS_1
"Harus yakin."
"Lekas, keburu kesemutan."
"Iya, iya."
"Iyes." Al memeluknya lebih erat.
"Idih, memang saya sudah menjawabnya ?" Tanya Tata menggoda.
"Ya itu tadi, iya."
"Orang maksudnya mau bilang iya sebentar lepasin dulu."
"Enggak, sudah terlanjur iya." Kata Al, masih berada di belakang Tata.
Al merasa nyaman, menyandarkan kepalanya pada bahu sebelah kiri kekasih hatinya.
'Ternyata, dibalik sikapnya yang jaim dan keras kepala, ada sisi lain yang lembut dan menyenangkan.' Puji Tata dalam hati.
"Jangan begitu Mas, nanti Dya melihat kita."
"Tidak apa-apa, Dya akan terbiasa melihat Papa dan Mamanya berpelukan nanti." Jawab Al penuh percaya diri.
Semuanya terasa begitu cepat, dan hari ini Allah mengabulkan permohonannya.
'Tapi, bagaimana jika Bunda mengetahui hubunganku dengan Mas Al. Apa Beliau tidak marah nantinya ?' Pikirnya dalam hati.
"Mas."
"Hhmmmm."
"Bagaimana jika_"
"Mama, Papa !"
Teriakan Nindya menghentikan pertanyaan yang akan Tata sampaikan kepada Al.
Begitu juga Al yang segera melepaskan pelukannya, demi menyapa kembali putri kecilnya.
'Bunda baik, tapi apa mungkin Beliau bisa menerima ku yang hanya seorang anak yatim-piatu yang gak punya apa-apa. Ah sudahlah, uatu saat akan aku sampaikan. Tapi untuk sementara, aku akan bersikap seperti biasanya saja.' Kata hati Tata.
"Kenapa sayang ?" Tanya Tata mengalihkan perhatian.
"Mainan Dya lusak, tadi jatuh di sana." Ucapnya menunjuk suatu tempat.
"Sini, biar Papa perbaiki."
Al menggendong Nindya ke tempat duduk yang ada dipinggir kolam. Tata mengikutinya dari belakang, di dalam hatinya tak henti-henti mengucap syukur atas semua yang telah dia terima.
Pasti ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Itu yang membuat Tata kuat menghadapi semua ujian hidup, hingga saat ini.
________________
__ADS_1
________________
________________