
Brakk ... !
Emosi Mama Ratri tak terbendung lagi. Kepalan tangannya mendarat pada sebuah meja makan di hadapannya. Hanifa masih tenang, usai menidurkan putrinya.
Perlahan dia tutup pintu kamar Regina. Berharap putri kecilnya tidak mendengar keributan yang bakalan terjadi sebentar lagi.
Langkah kakinya gontai, mendekat ke arah Mama Ratri. Mungkin, saat ini dia harus banyak diam dan mendengarkan. Tidak ada lagi yang perlu dia jelaskan. Semua sudah jelas dan sudah dia jelaskan pada saat mereka berkumpul di kediaman Alfatih beberapa saat yang lalu.
"Mama tidak habis pikir Ifa." Ucapnya tertahan. Seolah ada yang mengganjal di hatinya.
Sengaja Mama Ratri menahan amarahnya, sejak dalam perjalanan pulang dari kediaman Kamandanu. semua itu, beliau lakukan, karena ada Regina diantara mereka.
"Masih beruntung, seorang Alfatih yang kamu dekati. Coba jika itu bukan Al ... " Lanjutkan terhenti. Tangis Mama Ratri pecah, ada perasaan kecewa dan sedih di sana.
"Ma, maafkan Ifa Ma." Ucapnya lirih. Air mata yang keluar menandakan sebuah penyesalan yang mendalam.
Mama Ratri hanya bisa menggelengkan kepala, tidak disangka putrinya akan berbuat hal yang sangat memalukan seperti ini.
"Memalukan, demi sebuah reputasi kamu kesampingkan harga diri Hanifa !" Lanjut maki Mama Ratri.
"Tapi, Ifa tidak ada maksud akan merusak rumah tangga mereka. Ifa hanya_"
"Cukup, Mama tidak mau dengar apapun alasanmu !" Bentaknya.
Entah pembelaan apa yang akan Hanifa sampaikan. Namun semua itu dia urungkan, karena Mama Ratri lebih dulu memotong ucapannya.
"Siapa dan apa yang membuatmu seperti ini Nak. Mama malu, malu dengan keluarga Kamandanu." Kali ini suara Mama Ratri sedikit mereda.
"Maafkan Ifa Ma." Lagi-lagi hanya kata maaf yang berani dia ucapkan.
"Ingat Ifa, status kamu saat ini seorang janda. Apa kata orang kalau tahu hal semacam itu kamu lakukan." Sesal Mama Ratri.
Hanifa hanya bisa merunduk sembari menguras air matanya.
"Mereka akan mencibirmu sebagai perempuan yang haus belaian laki-laki, penggoda suami orang, atau perempuan matre yang menggoda karena himpitan ekonomi. Mau kamu dikatakan seperti itu !" Bentak Mama lagi.
Suara Mama terdengar sesak. Matanya berkaca-kaca, memandang tajam ke arah putrinya. Sedangkan yang dimaki, masih tetap merunduk, menggelengkan kepala. Sesekali dia seka air mata yang mengalir di pipinya.
"Ifa janji Ma, Ifa tidak akan mengulanginya lagi." Lirihnya.
"Mama tidak butuh janji Ifa, Mama hanya ingin Ifa Mama yang dulu lagi."
Kalimat terakhir yang beliau ucapkan, mempunyai makna yang besar. Perlahan tapi pasti Mama Ratri meninggalkan Hanifa yang masih terduduk merenungi perbuatannya.
'Kenapa aku tidak berfikir seribu kali sebelum menuruti perintah Pak Anton.' Sesalnya dalam hati.
'Apa sebenarnya yang kamu cari Ifa, betapa bodohnya dirimu saat ini, belum lagi rasa malu yang harus kamu tanggung jika suatu hari kamu bertemu keluarga Alfatih.' Makinya dalam hati.
Malam semakin larut, tangis Hanifa masih tak tertahan, ada rasa sesal yang tidak bisa lagi dia ungkapkan.
Bukan hanya Hanifa yang tidak bisa memejamkan mata malam ini. Mama Tatri juga masih terjaga. Pikirannya kacau saat ini, teringat kembali dengan apa yang terjadi usai makan malam di rumah Alfatih.
__ADS_1
Betapa malunya dia harus melihat kenyataan yang putrinya perbuat.
"Maaf Jeng Ratri, saya kumpulkan di tempat ini, bukan bermaksud mempermalukan keluarga Jeng Ratri, namun saya hanya ingin meluruskan semuanya. Terutama demi keutuhan rumah tangga putra saya." Kata Bunda Arum kala itu.
Memang benar, demi menjaga nama baik keluarga Hanifa, pertemuan itu Bunda lakukan usai acara makan malam di rumah nya, di sebuah ruangan tertutup dan hanya dihadiri keluarga inti beserta asisten pribadi Alfatih saja.
Terekam kembali memory pahit yang pernah Mama Ratri alami beberapa tahun silam, sebelum Hanifa dilahirkan.
*Flashback On
Plakk ... !
"Ampun Pak, semua diluar kendali Ratri, Ratri juga tidak mau ini terjadi." Rengeknya mohon ampun.
"Memalukan, mau ditaruh dimana muka Bapak, kamu yang selama ini Bapak banggakan, bisa-bisanya mencoreng nama baik keluarga." Teriaknya beliau panjang lebar.
"Maafkan Ratri Pak." Pintanya sekali lagi.
"Apalagi yang bisa kamu lakukan selain menggoda suami orang !" Bentak beliau geram.
"Bapak, cukup Pak." Kali ini Ibu Ratri ikut bicara.
"Tapi semua terjadi bukan hanya kesalahan Ratri Pak." Ucap Ratri membela diri.
"Masih saja membantah, kalau kamu tidak bertingkah, apa mungkin semua ini terjadi !"
"Tapi Ratri_"
Plakk ... !
"Sudah Pak, sudah. Jangan sakiti Ratri lagi, semua sudah terlanjur terjadi." Naluri seorang Ibu yang tak tahan melihat putrinya kesakitan.
"Bu, maafkan Ratri Bu. Ratri akan menanggung nya sendiri." Lirihnya.
"Tidak Nduk, kamu anak Ibu, kamu bagian dari keluarga ini. Apapun yang terjadi kita selesaikan bersama, kita tanggung bersama." Kata Ibu menenangkan.
"Bapak tidak mau tahu, kalau sampai laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab, hanya ada dua pilihan untukmu. Gugurkan kandungan itu atau kamu keluar dari rumah ini." Gertaknya marah.
Sebuah kalimat yang menyakitkan, lebih sakit dari sebuah tamparan.
Sejak kejadian itu, Mama Ratri memilih pergi meninggalkan kota kelahirannya dan menetap di kota pelajar ini. Dengan ketulusan hati seorang ibu, dia melahirkan dan membesarkan Hanifa seorang diri.
Tanpa didampingi seorang suami. Bahkan, sampai sebelum Hanifa melepas masa lajangnya, Hanifa tidak pernah menanyakan siapa dan dimana ayahnya.
*Flashback Off
Sayup-sayup masih terdengar lirih suara tangisnya, diantara sunyinya malam.
"Ifa, maafkan Mama Nak. Mama tahu kamu bukan perempuan seperti itu. Tapi Mama harus tegaskan, agar kamu tahu dan tidak akan ada lagi kejadian seperti tiga puluh lima tahun silam." Ucap Mama Ratri lirih, hampir tak terdengar.
Jika Alfatih bukan lahir dari keluarga terhormat, mungkin kejadian di masa silam akan terulang pada putrinya. Beruntung, Al masih punya iman dan ketulusan hati seorang suami yang setia terhadap istrinya.
__ADS_1
***
"Ma." Sapa Hanifa saat bertemu Mama Ratri di meja makan.
"Hhmmm." Jawab Beliau enggan.
Suasana canggung masih terlihat pada keduanya.
"Ifa sudah putuskan, hari ini Ifa akan mundur dari perusahaan." Ucapnya lirih.
Mama Ratri meletakkan sendok yang tadi sudah siap untuk menyantap.
"Mama tidak akan menghalangi kamu berkarir. Tapi Mama hanya ingin kamu berhati-hati dalam bertindak. Jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan." Nasehat beliau tegas.
"Ifa paham Ma, Ifa salah. Ifa akan bertanggungjawab, Ifa akan mundur dari proyek yang Pak Anton berikan. Tapi jika hal itu mengharuskan Ifa untuk resign, Ifa akan lakukan." Jawabnya meyakinkan.
"Jika itu tindakan terakhir yang menurutmu baik, lakukanlah. Mama tidak akan menghalangi. Semua hal yang baik atau buruk untukmu, hanya kamu sendiri yang tahu." Lanjutkan beliau.
"Iya Ma."
"Ingat Ifa, penghasilan Mama di toko, masih cukup untuk menopang biaya hidup dan sekolah Regina." Kata Mama Ratri.
Ketekunan dan kerja keras Mama Ratri, sebenarnya menurun kepada Hanifa. Semenjak berpisah dari keluarga besarnya, Beliau berusaha keras mencari nafkah untuk kebutuhan hidup.
Mulai dari berjualan pakaian keliling sampai akhirnya sekarang mempunyai toko busana sendiri dan bisa memperkerjakan beberapa karyawan di tokonya. Namun, entah hal apa yang membuat Hanifa harus melakukan satu kesalahan, sehingga hampir mempermalukan keluarga.
"Ifa paham Ma, kalau begitu Ifa berangkat dulu Ma." Pamitnya.
"Kamu tidak habiskan sarapanmu ?"
"Ifa sudah kenyang Ma."
"Gina, Mama berangkat dulu ya Nak."
"Mama berangkat pagi sekali ?"
Siapapun orangnya pasti akan merasakan resah yang sama seperti yang Hanifa rasakan. Makan tak enak, bahkan beraktivitas pun terasa tak nyaman.
'Maafkan Mama Nak, Mama yakin kamu kuat menghadapi semua ini.' Lirihnya dalam hati.
"Oma, Gina sudah siap." Suara manja Regina memecah suasana.
"Oke, kita berangkat."
Apapun yang sedang orang tua alami, jangan sampai mempengaruhi masa-masa indah anak-anak.
______________________
______________________
______________________
__ADS_1