Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 53. Wali Pengganti


__ADS_3

Panas terasa terik, saat Tata mulai berjalan di pinggir trotoar. Sesekali dia meloncat mencari perlindungan dari teriknya matahari.


"Hhhuuuff ... " Keluhnya saat persendian tangannya mulai lelah. Mungkin karena pengaruh dari barang bawaan yang dia tenteng.


Din ... din ...


Suara klakson terdengar mengagetkan, tepat berada di belakangnya.


'Apaan sih, orang sudah minggir juga.' Gerutu Tata dalam hati.


"Kamu ngapain panas-panas jalan sendirian ?" Tanya seseorang yang sudah pasti sangat dia kenali suaranya.


"Mas Al." Gumamnya dengan senyum mengembang.


"Naik." Perintah Al yang tidak mungkin akan dia abaikan.


"Siapa suruh panas-panas jalan kaki sendirian !" Tanya Al dengan nada sedikit meninggi.


"Tadi kan saya _"


"Sudah berapa kali saya harus bilang, kalau mau pergi bilang, biar ada yang mengantarkan." Kata Al memotong penjelasan Tata.


"Iya, tapi tadi_"


"Saya belum selesai bicara." Kata Al tanpa memberikan peluang bicara kepada calon istrinya ini.


'Hhhuuuufff .... Sudah mau jadi suami istri, masih saja jutek.' pikir Tata dalam hati.


"Saya bukannya jutek, tapi khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Orang kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana ?" Omel Al sepanjang jalan tol, seolah tahu apa yang tadi Tata pikirkan.


Demi menghindari sebuah perdebatan, Tata memutuskan untuk diam tanpa menjawab apa yang Al tanyakan.


"Kenapa diam ?" Tanya Al sembari melirik ke arah lawan bicaranya.


"Kamu tidak dengar, apa yang saya katakan ?" Tanyanya lagi.


"Tadi kata Mas Al, saya suruh diam." Jawab Tata datar.


"Siapa yang menyuruh diam, saya cuma bilang, kalau saya belum selesai bicara." Kata Al mengulangi.


"Ah, tau ach." Ucap Tata mulai jengkel.


Perdebatan-perdebatan kecil sering mewarnai hubungan mereka. Berawal dari hal-hal sepele yang terkadang merembet kemana-mana.


"Kenapa begitu komentarnya ?"


Kali ini nada tanya Al lebih halus. Mungkin karena Al merasa Tata mulai memperlihatkan kekesalannya.


"Mau koment apa lagi Mas ? Alasan apapun, kalau menurut Mas Al tidak tepat, ya pasti yang ada salah terus." Kata Tata jengkel.


"Oke, kita akhiri perdebatan, sekarang saya mau tanya, kamu dari mana atau mau kemana, dengan barang bawaan sebanyak itu ?"


"Saya mau ke rumah Paklek Arman Mas."


"Buat apa ?"


"Buat minta pertimbangan mengenai hubungan kita."


Memang benar, hanya Paklek Arman satu-satunya keluarga yang Tata miliki. Dan beliau adalah adik dari ayah kandung anita, yang nantinya berkewajiban menggantikan ayahnya sebagai wali saat akad nikah.


"Kenapa kamu tidak bicarakan dulu kepadaku ?" Tanya Al dengan nada kecewa.


"Tapi, tadi aku sudah pamit sama Bunda Mas."


"Iya, tapi kalau kamu bicara sama aku, minimal aku bisa antar kamu. Tidak harus jalan kaki sendiri, panas-panas begini."


Entah kenapa kali ini Al sedikit posesif dan masih saja ngomel sendiri.

__ADS_1


"Kecuali kalau kamu memang ingin berangkat sendiri, biar bisa bertemu seseorang." Ucapnya lirih. Ada nada cemburu di dalamnya.


"Hhhhmmmm ... Ceritanya Mas cemburu ini." Ledek anita memecah suasana yang tadi sempat canggung.


"Enggak."


"Kalau enggak gak sayang dong."


"Tau ach." Kata-kata itu yang sering Tata pakai saat dia ngambek.


Anita tersenyum sendiri sembari membuang muka menyembunyikan senyum manisnya.


Tadi sebenarnya dia mau bercerita, kalau motor ojek online yang dia pesan mogok, jadi terpaksa dia lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Selain bisa santai, bisa lebih menghemat biaya juga. Lagipula rumah Paklek tidak begitu jauh dari kediaman Alfatih.


Memang, kalau belum terbiasa berjalan kaki, pasti capek dan kaki terasa pegal. Tapi tidak untuk Tata, yang terbiasa berjalan kaki. Bahkan akan lebih pegal kalau dia tidak melatih kakinya lagi untuk berjalan kemana-mana.


"Kamu mau disini terus, atau mau turun mungkin ?" Pertanyaan aneh Al lontarkan.


"Eh, sudah sampai ya ? hehehehe ..." Jawab Tata tak kalah aneh.


Dengan sikapnya yang selalu mengayomi, Al membantu calon istrinya membawa oleh-oleh untuk Paklek Arman dan keluarganya


"Sssuuuttt ... " Panggil Al memberi kode.


"Apa lagi Mas ?"


"Kamu tidak mau menggandeng tanganku ?"


"Apaan sih, ada-ada saja."


Langkah Tata sempat terhenti saat pandangan matanya tertuju pada suatu tempat. Ternyata, apa yang Al tanyakan bukan tanpa maksud. Dari kejauhan terlihat ada Andri dan Astrid yang sedang duduk berdua di teras depan rumahnya.


"Kenapa ?" Tanya Al yang sudah menduga, kenapa langkah kakinya terhenti.


"Sini Mas."


Tata mengambil barang bawaan yang ada di tangan Al. Dia tenteng dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya merangkul lengan kekar Alfatih.


"Hhhhmmmm... mau buat mantan kekasih kamu cemburu ya ?" Bisik Al meledek.


"Diam Mas, aku gak pernah punya mantan kekasih." Jawabnya geram.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab dua insan yang sedang duduk berdua di teras depan.


"Paklek ada Trid ?"


"Ada." Jawab Astrid singkat.


Astrid segera masuk ke dalam rumah, memberikan kabar kepada kedua orangtuanya, kalau ada tamu di depan.


"Pak Al, Tata, ap kabar ?" Sapa Andri, sembari menjabat tangan keduanya.


"Alhamdulillah, sehat Mas." Tata yang menjawab.


"Pak Al, Nduk, masuk Nak. Mari silahkan masuk Pak Al." Kata Paklek yang menyambut bahagia kedatangan mereka.


"Assalamu'alaikum Paklek."


"Wa'alaikumsalam Nduk, ayo masuk Nak. Silahkan Pak Al."


"Iya Pak."


"Bulek tindak, Paklek ?" Tanya Tata yang sejak kedatangannya belum melihat keberadaan Buleknya.

__ADS_1


"Ada Nduk, sebentar. Buk, Ibuk, ada Tata dan Pak Al datang berkunjung." Panggil Paklek kepada Bulek Rukmini.


"Iya, iya, sudah tahu Pak." Jawab Bulek.


Mungkin bulek sedang memasak atau bersih-bersih di belakang dan mencuci tangannya sebelum menghampiri Al dan Tata, kelihatan dari kebiasaannya mengeringkan telapak tangan dengan rok yang dia kenakan.


"Pak Al, Nduk, pie kabarmu cah ayu ?" Sapa Bulek usai menjabat tangan mereka.


"Alhamdulillah sehat Bulek."


"Syukurlah kalau begitu, lama kita tidak bertemu. Bulek jadi kangen." Ucapnya basa-basi.


'Tumben Bulek berbicara halus hari ini.' Komentar Tata dalam hati.


'Huusss... tidak boleh su'udzon.' Kata sisi hatinya.


"Mohon maaf Pak Arman, kalau kedatangan kami mendadak tanpa memberitahukan terlebih dahulu." Kata Al mengawali pembicaraan.


"Tidak apa-apa Pak Al. Kami senang Bapak mau berkunjung ke tempat kami." Jawab Paklek dengan bahasa yang masih formal.


"Maksud kedatangan kami, ingin menyampaikan bahwa dalam waktu dekat kami akan menghalalkan hubungan kami." Begitu kata Al.


'Tidak kusangka, dibalik sikap juteknya ada tutut kata yang santun. Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan aku seorang jodoh yang sempurna di mataku.' hampir saja Tata menitikkan air mata, seiring ungkapan hatinya.


"Alhamdulillah, Paklek senang mendengarnya Nduk." Komentar Paklek mendengar kabar dari Al.


"Kami juga mohon Pak Arman bersedia menjadi wali nikah untuk kami, menggantikan almarhum ayahnya." Permintaan Al dan Tata.


"Tentu Pak, tentu saya bersedia." Jawab Paklek bahagia.


"Apa ! Jadi kalian mau menikah !" Teriak Astrid yang tiba-tiba nyelonong masuk ke ruang tamu.


Mungkin awalnya atas perintah Bulek, dia mau menyuguhkan air minum untuk tamunya. Tapi karena mendengar apa maksud kedatangan mereka, Astrid hanya keluar membawa baki saja.


"Astrid, yang sopan kalau bicara." Cegah Paklek.


"Tidak Pak, kenapa dia selalu beruntung sedangkan aku tidak !" Keluhnya.


"Astrid, kamu ini bicara apa ? Bukannya ada Nak Andri di luar." Maki Bulek setengah berbisik.


"Aku gak perduli Buk." Usai berkata begitu, Astrid langsung berlari menuju kamarnya. Sedangkan Andri, dia buru-buru pamit pulang.


"Maafkan Astrid ya Nak." Kata Bulek saat Andri pamit.


"Tidak apa-apa Bu, saya permisi dulu."


"Iya Nak."


Bulek kembali ke tempat duduknya, diam dan tidak bicara apa-apa. Sejak tahu siapa Al, Bulek memang tidak berani banyak komentar.


"Lalu, kapan niat baik itu kalian laksanakan ?" Tanya Paklek tidak sabar.


"Secepatnya Paklek, nanti Tata kabari kembali, setelah Mas Al selesai mengurus segala sesuatunya." Kali ini Tata yang menjawab.


"Paklek bahagia sekali Nak, semoga apa yang menjadi niat kalian di ridhoi Allah."


"Amin."


"Pak Al, saya titip keponakan saya. Hanya dia satu-satunya harta peninggalan Almarhum kakak saya." Air mata Paklek mulai mengalir.


"Tentu Pak Arman, dan mulai saat ini, Bapak jangan panggil saya Pak, karena sebentar lagi, saya juga bagian dari keluarga Bapak."


"Iya Nak Al. Paklek bahagia sekali, sangat bahagia." Ucapnya dengan derai air mata.


"Sudah, jangan terlalu lebay." Komentar Bulek lirih, tidak berani berkata lebih keras.


______________

__ADS_1


______________


______________


__ADS_2